“Ketika kamu berbicara, kata-kata mu hanya bergaung ke seberang ruangan atau sepanjang koridor. Tapi ketika menulis kata-katamu bergaung sepanjang zaman.” Bud GardnerBanyak orang yang bingung ketika akan menulis. Ada yang bingung cara memulainya. Ada juga yang bingung apa yang akan ditulis. Memang, menulis tidak bisa dianggap enteng untuk para pemula. Butuh kerjasama antara otak dan otot. Namun, menulis tidak boleh dianggap terlalu berat juga.
Semua sebenarnya ada formula dan ada kuncinya. Salah tiga kunci yang digunakan adalah PEMBIASAAN, PENGULANGAN dan KESINAMBUNGAN.
Semakin sering kita menulis, semakin terbiasa pula untuk menulis. Pengulangan diperlukan untuk menjadi kebiasaan dan pembiasaan. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, maka akan jadi biasa. Proses pengulangan merupakan jalan untuk menuju pembiasaan.
Dan yang terakhir adalah kesinambungan atau kontinuitas. Yang dilakukan secara bertahap dan lanjut. Barangkali bisa dilakukan setiap hari di waktu yang ajeg, atau dilakukan di waktu yang sama pula.
Menulis harus dilakukan tanpa ada rasa khawatir terhadap tulisan kita berbobot atau tidak, bombastis atau tidak. Menulislah mengalir seperti air yang selalu mengalir dengan tenang.
Menulis itu bukan hal yang sulit, asal ada kemauan dan tekad yang tinggi.
Untuk mengukir sejarah lewat sebuah karya yaitu tulisan juga tak mustahil. Menulislah! Kata perintah yang tak asing bagi kita. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ukir mengenai sejarah lewat tulisan.
Meski begitu sudah banyak juga sejarah yang telah saya tinggalkan. “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Begitu pesan Bung Karno kepada rakyat Indonesia. Karena menurutnya, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah”.
Petikan Soekarno itu saya rasa seperti apa yang dikatakan oleh Bud Gudnerd “Ketika kamu berbicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau sepanjang koridor. Tapi ketika menulis kata-katamu bergaung sepanjang zaman”.
Menulislah! Maka dunia akan mengenal kita. Jangan berbangga diri terhadap apa yang kita omongkan, tetapi juga harus dilengkapi dengan menulis. Lewat tulisan sejarah kita akan diikat di tulisan itu. Menulislah maka kita akan dikenal banyak orang. Kenapa kita harus menulis? apa keuntungan yang kita dapat?
Dengan menulis saya ingin rasanya meluapkan kerinduan terhadap sejarah yang dahulu. Memang sejarah yang saya tinggal sudah tidak bisa kuulangi, melainkan hanya bisa kutuliskan dan saya yakin akan dibaca oleh pembaca.
Ya, saya akan mencoba menulis seperti halnya orang-orang Jepang lakukan. Di negeri Sakura, siapa pun dia—public figure atau hanya rakyat biasa—selalu ingin menuliskan kisah hidupnya.
Tingginya budaya tulis mereka karena laerning society (masyarakat senang belajar) dan well-informed (terbuka dengan segala informasi) yang sudah terbangun sama tingginya dengan buaya membaca (literate society) dan tulis.
Apa pun yang kelihatannya remeh temeh mampu menggerakkan mereka untuk menulisnya. Dalam budaya yang well-informed itu, mereka yakin apa yang ditulisnya akan dibaca pembaca.
Menulis bukan hak para penulis profesional, melainkan juga para penulis pemula juga. Menulis adalah bagian dari hak setiap individu dalam menyampaikan gagasan dan isi pikirannya.
Memang kebanyakan dari masyarakat kita, menulis hikayat hidupnya adalah rasa malu, dan bahkan ada yang berpendapat menulis kisah hidupnya adalah aib.
Memang, menulis kisah hidup kita sendiri itu sama artinya dengan bekerja dalam ranah perspektif kita sendiri. Saya keringat kata bijak yang sering dikutip banyak orang “Sangat jarang orang Indonesia yang mau menuliskan kisah hidupnya atau pekerjaannya.” Kata Garin Nugroho dalam sebuah seminar perfilmanan tahun 2001.
Misal Andrea Hirata, ia menulis kisah hidup dan teman-teman di kampung halamannya, karena kecintaannya dengan tanah kelahirannya. Ia menulis sebagai wujud dari kerinduan terhadap kampung halamannya.
Dari kisah dari kampung halamannya, ia kemudian bukukan cerita yang ia tulis. Seperti yang kita tahu dalam novel atau film Laskar Pelangi. Kisah Laskar Pelangi adalah berkisah dari kampung Andrea Hirata.
Berawal dari apa yang ia tuliskan tersebut menjadi novel dengan predikat the best seller. Hingga difilmkan dan diterjemahkan di berbagai bahasa di dunia.
Betul juga. Coba bayangkan apa manfaat dari menulis tersebut? Bayangkan saja, kalau semua orang Indonesia mau menulis seperti halnya orang Jepang. Apa pun ditulis. Misalnya, tukang kue serabi berkisah tentang hidupnya serta resep-resepnya. Tukang pahat dari Jepara menuliskan cara-cara memahat dan jenis kayu yang cocok sesuai dengan kayunya.
Dengan demikian, para anak muda yang ingin belajar apa yang dikehendakinya, maka bisa belajar secara otodidak tentang bagaimana belajar mendalami kecintaannya dengan membaca buku. Sehingga budaya membaca akan tertanam sedemikian kokohnya. Sekali lagi, bayangkan! Betapa akan cerdas dan kritisnya generasi muda negeri ini.
Menulis adalah bagian dari sejarah. Seperti kata-kata bijak yang sering dipakai oleh orang-orang. “Aku menulis maka aku ada” dengan menulis, kita sudah mengaktualisasi terhadap zaman. Dan menulislah suatu hari nanti kita akan dikenang oleh jaman. Sehingga jangan ragu untuk menulis. karena menulis adalah tindakkan produktif yang harus diteruskan dari generasi ke generasi.
*Sebagian catatan di atas disarikan dari buku Gong Gola "Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku, 2006"
Wow. Perlu diterapkan nih 3 kunci untuk menulis tadi. Hehehe
BalasHapusHehehe. Terima kasih, Mas. Hiks.,, Semoga konsisten menulis ya. Tulisan mas Hendro lebih berbobot padahal..,
BalasHapusSemua sama-sama berbobot mas, dari perspektif masing-masing sesuai minat kita. 😃
BalasHapusIya mas. Tapi kalao punya e mas e lebih mantap... keren pokoknya
BalasHapusAku liat banyak juga buku yg udah di resensi sama kamu ya. Aku masih dua. Harus nambah lagi nih. Hehe
BalasHapusIya mas, Harus digenjot menulisnya berarti. Hehehe
BalasHapusPosting Komentar