Sebagai orang perantau rasanya kurang lengkap bila tidak mengunjungi tempat yang menjadi kebanggaan warga dan kota itu. Apalagi tempat itu memiliki pengakuan pemerintah, baik nasional maupun internasional. Tentu bisa berkunjung di tempat tersebut merupakan kebanggan tersendiri bagi saya. Karena malam kemarin kami menyempatkan diri berkunjung dan mengelilingi taman tersebut. Taman tersebut adalah Taman Bungkul yang letaknya berada di tengah kota, tepatnya berada di Jalan Raya Darmo.
Taman ini memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal sementara kami. Jaraknya kurang lebih sekitar 15 menit. Karena suntuk dengan suasana malam yang begitu-begitu saja dan panasnya Kota Surabaya yang tak bisa ditolerir, maka kami putuskan untuk keluar mencari suasana baru dengan udara segar.
Malam itu suhu di Kota Surabaya--seperti tertera di layar smartphone--mencapai suhu 45°C. Sebuah suhu yang cukup membuat manusia yang terbiasa iklim dingin khas pegunungan sedikit kepanasan. Panasnya seolah 'membakar' tubuh hingga pakaian basah dan kipas angin harus bertahan dengan gerak tolah-toleh. Alasan lain, karena kami belum banyak tahu tentang tempat-tempat bersejarah maupun instagramable di Kota Surabaya dengan suasana malam. Malam kemarin saya rasa malam yang tepat untuk berkunjung di Taman Bungkul. Menikmati malam di kota orang adalah suatu kebebasan atas kesenangan. Pilihan lain karena memang atas dasar rekomendasi seorang kerabat yang sudah lama hidup di Surabaya.
Saat kami sampai di tempat parkir, di sebelah selatan landmark bertuliskan Taman Bungkul, kami langsung masuk di pelataran taman itu. Seolah ada sesuatu yang segera saya lihat dari badan taman tersebut. Di pelataran yang membentuk huruf O luas, yang terkontruksi seperti tribun stadion, orang-orang menikmati malam dengan caranya sendiri. Saya yang seolah-olah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Ayo foto sek neng ngarep landmark Taman Bungkul," ajak saya.
"Iya, ayo," jawabnya sambil jalan ke arah spot itu.
Kami meluncur di landmark Taman Bungkul dan berswafoto. Saat saya mau mengambil gambar dengan background landmark itu, di sana ternyata ada tiga pemuda yang mengabadikan momennya dengan ber-selfie ria. Saya putuskan menunggu untuk menghasilkan full bidikan Taman Bungkul. Setelah menunggu cukup lama, kurang lebih 10 menit, akhirnya saya bisa membidik landmark itu dengan sorotan lampu warna-warni dari tempat lain.
Setelah selesai, kami akhirnya menikmati badan taman tersebut dengan mengelilinginya. Malam itu memang ramai. Taman ini dikenal ramai di hari biasa. Tambah ramai lagi di akhir pekan. Kami memutari bangunan itu dengan keterbukaan. Memang penting berkunjung suatu tempat dengan keterbukaan diri dan keinginantahuan yang besar, sehingga keinginan untuk mengelilingi beberapa tempat cukup tinggi.
Sebenarnya taman ini tidak terlalu asing di telinga saya. Taman Bungkul merupakan satu dari sekian banyak taman yang berasal dari inisiatif Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Dahulu tahun 2016, waktu ada pelatihan di hotel dekat dengan taman ini saya sempat jalan-jalan dan mencari makan di sekitar taman ini. Namun karena dulu fokus mengurusi persoalan domistik--perut, saya tak keliling di sekitar taman ini. Kali ini saya bisa datang langsung dan menikmati malam dengan suasana yang asik dengan beberapa hiasan lampu dan pernak-pernik yang ada di taman ini.
Taman Bungkul malam itu memang ramah untuk kami. Teman saya menyarankan untuk mencari tempat duduk sambil mencari camilan dan minum yang dingin. Seperti yang sudah saya bilang di atas, sewaktu masih di kos, suhu Kota Surabaya malam itu membuat kami dehidrasi. Salah satu cara untuk menghilangkan haus itu ya menengak air. Tetapi kami tak langsung memesan minum yang ditawarkan oleh para pejalan yang menawarkan minum itu.
Saat saya sampai suatu tempat bermain anak-anak muda langsung ditawari segelas es kopi sachet-an oleh pedagang keliling. Seorang ibu menentang plastik putih dengan beberapa air mineral kemasan botol dan selembar daftar menu dingin dia tawarkan kepada kami. Kami pun menyerah dan menerima tawaran itu dengan dua gelas es Good Day--bukan iklan. Setelah menandaskan es itu persis setengah gelas dan menikmati aktivitas skate board dari beberapa anak muda.
Dengan anggukan ibu penjual tadi sebagai petanda mengiyakan pesanan kami lalu ia meninggalkan kami dari balik malam. Saya heran dengan ibu tadi, padahal kami hanya pesan 2 gelas es Good Day, tapi ibu tadi mempercayai kami untuk menunggu beberapa air mineral di plastik tanpa ada rasa curiga dan rasa takut.
Setelah ibu tadi hilang di balik sebuah tenda yang entah tempat apa, kami kemudian saling pandang dan bicara tentang rencana ke depan, tentang Surabaya yang panas, dan rencana menikmati kuliner di Taman Bungkul, yang memiliki kuliner yang khas. Malam itu kami tidak bisa kuliner. Karena sebelum berangkat, kami sudah makan malam.
Tapi sebelum menerima tawaran seorang ibu tadi, kami sudah menolak beberapa tawaran pedagang dan menikmati arena refleksi di atas batu kecil-kecil. Selepas melepas sandal dan mencoba menginjak-ijak di batu kecil itu rasanya enak kaki dan badan saya terasa enak. Selain jalur relaksasi itu ada banyak fasilitas lain. Seperti kateboard track dan BMX track, jogging track, plaza (panggung untuk live performance berbagai jenis entertainment), zona akses Wi-Fi gratis, telepon umum, area green park dengan kolam air mancur tapi sayang air mancurnya tidak berfungsi, taman bermain anak-anak hingga pujasera.
Di taman ini di berbagai sudut varietas tanaman yang tumbuh dan hidup sangat banyak. Saya tak bisa menghitung ada berapa varietas tanaman yang menghijaukan, mengindahkan taman dan menyuplai oksigen sebagai paru-paru kota. Oleh karena itu, taman ini sangat cocok buat rekreasi dan refreshing bersama keluarga, komunitas maupun teman. Kami datang bukan malam Minggu atau akhir pekan, tapi banyak anak muda, komunitas dan kelurga yang menikmati malam Surabaya.
Terlihat banyak komunitas-komunitas yang melingkar, membuat obrolan masing-masing. Dari lingkaran itu sepertinya mereka sedang mendiskusikan tentang masa depannya, baik pergerakan komunitasnya maupun agenda yang akan dilakukan ke depan. Tidak jauh dari anak muda itu banyak keluarga dan orang-orang menjajakan dagangannya ke pengunjung. Ditambah dengan kelap-kelip lampu yang menyorot membuat taman ini jadi sangat menarik dan indah.
Kita tahu, taman ini di tahun 2013 mendapat penghargaan sebagai taman kota terbaik se-Asia. Sebuah pengakuan yang datang dari luar negeri tentang tata kelola taman. Yang harus kita jaga dan kita rawat supaya taman ini nampak indah dan tetap yang terbaik. Namun selang satu tahun, tepatnya 14 Mei 2014 taman ini sempat mengalami kerusakan yang cukup parah.
Namun terlepas dari fasilitas, penghargaan yang diterima masyarakat Kota Surabaya atas Taman Bungkul, maupun masalahnya, ternyata penamaan Taman Bungkul ini merupakan salah satu gelar yang diterima oleh seorang tokoh berpengaruh dalam penyebaran Islam di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Tokoh tersebut adalah Ki Ageng Supo yang mendapat gelar Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul, Makamnya berada di belakang taman ini dan makamnya juga sering diziarahi para pengunjung.
Menikmati Taman Bungkul dengan penataan tumbuhan yang luar biasa banyak setidaknya meredam panasnya Kota Surabaya. Menikmati malam dengan celorot lampu warna-warni khas kota terasa seperti terkompres oleh sejuk dan segarnya angin malam khas di taman setelah seharian tubuh ditimba oleh pekerjaan. Santai sejenak di taman ini seolah meralat keruwetan Kota Surabaya yang begitu panas.
Malam itu kami menikmati Taman Bungkul dengan keterbukaan, kesejukannya seolah melipur cuaca yang begitu panas. Menelusuri taman dengan berjalan kaki merupakan cara yang baik menikmati malam di taman. Setelah capek berjalan kaki, suatu hari nanti saya akan datang ke taman ini dan akan kuliner yang tempatnya tidak jauh dari taman ini. Kuliner itu adalah Rawon Kalkulor. Keinginan untuk ber-kuliner tertunda dan cukup memastikan dengan survei lokasi Rawon Kalkulor saja. Semoga suatu hari nanti bisa datang dan menikmati kuliner di sekitar Taman Bungkul ini. Semoga
Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Bungkul/
Taman ini memang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal sementara kami. Jaraknya kurang lebih sekitar 15 menit. Karena suntuk dengan suasana malam yang begitu-begitu saja dan panasnya Kota Surabaya yang tak bisa ditolerir, maka kami putuskan untuk keluar mencari suasana baru dengan udara segar.
Malam itu suhu di Kota Surabaya--seperti tertera di layar smartphone--mencapai suhu 45°C. Sebuah suhu yang cukup membuat manusia yang terbiasa iklim dingin khas pegunungan sedikit kepanasan. Panasnya seolah 'membakar' tubuh hingga pakaian basah dan kipas angin harus bertahan dengan gerak tolah-toleh. Alasan lain, karena kami belum banyak tahu tentang tempat-tempat bersejarah maupun instagramable di Kota Surabaya dengan suasana malam. Malam kemarin saya rasa malam yang tepat untuk berkunjung di Taman Bungkul. Menikmati malam di kota orang adalah suatu kebebasan atas kesenangan. Pilihan lain karena memang atas dasar rekomendasi seorang kerabat yang sudah lama hidup di Surabaya.
Saat kami sampai di tempat parkir, di sebelah selatan landmark bertuliskan Taman Bungkul, kami langsung masuk di pelataran taman itu. Seolah ada sesuatu yang segera saya lihat dari badan taman tersebut. Di pelataran yang membentuk huruf O luas, yang terkontruksi seperti tribun stadion, orang-orang menikmati malam dengan caranya sendiri. Saya yang seolah-olah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Ayo foto sek neng ngarep landmark Taman Bungkul," ajak saya.
"Iya, ayo," jawabnya sambil jalan ke arah spot itu.
Kami meluncur di landmark Taman Bungkul dan berswafoto. Saat saya mau mengambil gambar dengan background landmark itu, di sana ternyata ada tiga pemuda yang mengabadikan momennya dengan ber-selfie ria. Saya putuskan menunggu untuk menghasilkan full bidikan Taman Bungkul. Setelah menunggu cukup lama, kurang lebih 10 menit, akhirnya saya bisa membidik landmark itu dengan sorotan lampu warna-warni dari tempat lain.
Setelah selesai, kami akhirnya menikmati badan taman tersebut dengan mengelilinginya. Malam itu memang ramai. Taman ini dikenal ramai di hari biasa. Tambah ramai lagi di akhir pekan. Kami memutari bangunan itu dengan keterbukaan. Memang penting berkunjung suatu tempat dengan keterbukaan diri dan keinginantahuan yang besar, sehingga keinginan untuk mengelilingi beberapa tempat cukup tinggi.
Sebenarnya taman ini tidak terlalu asing di telinga saya. Taman Bungkul merupakan satu dari sekian banyak taman yang berasal dari inisiatif Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Dahulu tahun 2016, waktu ada pelatihan di hotel dekat dengan taman ini saya sempat jalan-jalan dan mencari makan di sekitar taman ini. Namun karena dulu fokus mengurusi persoalan domistik--perut, saya tak keliling di sekitar taman ini. Kali ini saya bisa datang langsung dan menikmati malam dengan suasana yang asik dengan beberapa hiasan lampu dan pernak-pernik yang ada di taman ini.
Taman Bungkul malam itu memang ramah untuk kami. Teman saya menyarankan untuk mencari tempat duduk sambil mencari camilan dan minum yang dingin. Seperti yang sudah saya bilang di atas, sewaktu masih di kos, suhu Kota Surabaya malam itu membuat kami dehidrasi. Salah satu cara untuk menghilangkan haus itu ya menengak air. Tetapi kami tak langsung memesan minum yang ditawarkan oleh para pejalan yang menawarkan minum itu.
Saat saya sampai suatu tempat bermain anak-anak muda langsung ditawari segelas es kopi sachet-an oleh pedagang keliling. Seorang ibu menentang plastik putih dengan beberapa air mineral kemasan botol dan selembar daftar menu dingin dia tawarkan kepada kami. Kami pun menyerah dan menerima tawaran itu dengan dua gelas es Good Day--bukan iklan. Setelah menandaskan es itu persis setengah gelas dan menikmati aktivitas skate board dari beberapa anak muda.
Dengan anggukan ibu penjual tadi sebagai petanda mengiyakan pesanan kami lalu ia meninggalkan kami dari balik malam. Saya heran dengan ibu tadi, padahal kami hanya pesan 2 gelas es Good Day, tapi ibu tadi mempercayai kami untuk menunggu beberapa air mineral di plastik tanpa ada rasa curiga dan rasa takut.
Setelah ibu tadi hilang di balik sebuah tenda yang entah tempat apa, kami kemudian saling pandang dan bicara tentang rencana ke depan, tentang Surabaya yang panas, dan rencana menikmati kuliner di Taman Bungkul, yang memiliki kuliner yang khas. Malam itu kami tidak bisa kuliner. Karena sebelum berangkat, kami sudah makan malam.
Tapi sebelum menerima tawaran seorang ibu tadi, kami sudah menolak beberapa tawaran pedagang dan menikmati arena refleksi di atas batu kecil-kecil. Selepas melepas sandal dan mencoba menginjak-ijak di batu kecil itu rasanya enak kaki dan badan saya terasa enak. Selain jalur relaksasi itu ada banyak fasilitas lain. Seperti kateboard track dan BMX track, jogging track, plaza (panggung untuk live performance berbagai jenis entertainment), zona akses Wi-Fi gratis, telepon umum, area green park dengan kolam air mancur tapi sayang air mancurnya tidak berfungsi, taman bermain anak-anak hingga pujasera.
Di taman ini di berbagai sudut varietas tanaman yang tumbuh dan hidup sangat banyak. Saya tak bisa menghitung ada berapa varietas tanaman yang menghijaukan, mengindahkan taman dan menyuplai oksigen sebagai paru-paru kota. Oleh karena itu, taman ini sangat cocok buat rekreasi dan refreshing bersama keluarga, komunitas maupun teman. Kami datang bukan malam Minggu atau akhir pekan, tapi banyak anak muda, komunitas dan kelurga yang menikmati malam Surabaya.
Terlihat banyak komunitas-komunitas yang melingkar, membuat obrolan masing-masing. Dari lingkaran itu sepertinya mereka sedang mendiskusikan tentang masa depannya, baik pergerakan komunitasnya maupun agenda yang akan dilakukan ke depan. Tidak jauh dari anak muda itu banyak keluarga dan orang-orang menjajakan dagangannya ke pengunjung. Ditambah dengan kelap-kelip lampu yang menyorot membuat taman ini jadi sangat menarik dan indah.
Kita tahu, taman ini di tahun 2013 mendapat penghargaan sebagai taman kota terbaik se-Asia. Sebuah pengakuan yang datang dari luar negeri tentang tata kelola taman. Yang harus kita jaga dan kita rawat supaya taman ini nampak indah dan tetap yang terbaik. Namun selang satu tahun, tepatnya 14 Mei 2014 taman ini sempat mengalami kerusakan yang cukup parah.
Namun terlepas dari fasilitas, penghargaan yang diterima masyarakat Kota Surabaya atas Taman Bungkul, maupun masalahnya, ternyata penamaan Taman Bungkul ini merupakan salah satu gelar yang diterima oleh seorang tokoh berpengaruh dalam penyebaran Islam di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Tokoh tersebut adalah Ki Ageng Supo yang mendapat gelar Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul, Makamnya berada di belakang taman ini dan makamnya juga sering diziarahi para pengunjung.
Menikmati Taman Bungkul dengan penataan tumbuhan yang luar biasa banyak setidaknya meredam panasnya Kota Surabaya. Menikmati malam dengan celorot lampu warna-warni khas kota terasa seperti terkompres oleh sejuk dan segarnya angin malam khas di taman setelah seharian tubuh ditimba oleh pekerjaan. Santai sejenak di taman ini seolah meralat keruwetan Kota Surabaya yang begitu panas.
Malam itu kami menikmati Taman Bungkul dengan keterbukaan, kesejukannya seolah melipur cuaca yang begitu panas. Menelusuri taman dengan berjalan kaki merupakan cara yang baik menikmati malam di taman. Setelah capek berjalan kaki, suatu hari nanti saya akan datang ke taman ini dan akan kuliner yang tempatnya tidak jauh dari taman ini. Kuliner itu adalah Rawon Kalkulor. Keinginan untuk ber-kuliner tertunda dan cukup memastikan dengan survei lokasi Rawon Kalkulor saja. Semoga suatu hari nanti bisa datang dan menikmati kuliner di sekitar Taman Bungkul ini. Semoga
Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Bungkul/
Posting Komentar