Tulungagung merupakan salah satu kabupaten yang paling sering saya kunjungi dibanding kabupaten lain. Intensitasnya mengalahkan kunjungan saya terhadap kabupaten sendiri, Trenggalek. Siang itu, jam tangan menunjukkan pukul 12.15 Wib. Cuacanya panas sekali. Selepas lelah muter-muter di Kabupaten Marmer, kami berkeinginan mencari minuman penghilang dahaga. Melintasi kawasan Barat perlintasan KA sampai sebelum perempatan TT, dan sekitar Bioskop Golden, sebenarnya banyak penjual menjajakan cemilan.
Namun, es dawet Gempol menjadi pilihan. Lokasinya di sisi Selatan jalan, di Jl. Ahmad Yani Timur, tidak jauh dari Kantor Pemkab. Tulungagung. Saat kami datang, tak ada pengunjung yang andok atau membeli dan minuman di tempat. Hanya kami berdua. "Mas, dibungkus apa minum sini?" tanya pemuda penjual es dawet Gempol itu.
"Iya, diminum sini dua, Mas," jawabku.
Kesan tradisional nampak di sini. Dua wadah yang terbuat dari tanah liat, seperti gentong berada di atas gerobak. Keberadaan gentong menambah daya tarik dari segi estetika dan tentunya menambah cita rasa yang khas. Menariknya lagi, alat penuang (ladle) ujungnya berbentuk Semar dalam tokoh pewayangan, kalau tak salah sebut. Ada dua marangan berukuran sedang. Masing-masing sebagai wadah serabi dan gempol, dan baskom berwarna merah muda sebagai wadah isi pecahan es batu.
Minuman ini sedikit berbeda dengan minuman dawet lainnya, karena di dalamnya ada butir gumpalan sebesar kelereng berwarna putih. "Yang bulat ini namanya Gempol, Mas," jawab penjual itu.
Gempol berbentuk bulat kurang lebih sebesar bola pingpong atau kelereng. Ia memiliki tekstur kasar namun sangat rapuh saat masuk mulut. Bulatan gempol langsung lumat dan memberi efek rasa dingin di mulut maupun tenggorokan. Sementara, sajian serabi diiris kecil-kecil dengan potongan kotak-kotak.
Kita tahu, setiap daerah memiliki kekayaan kuliner sendiri. Di Ponorogo ada dawet Jabung, di Solo ada dawet Gempol Pleret, dan yang sangat tersohor adalah es dawet Banjarnegara. Sedangkan di Tulungagung ada Es Dawet Gempol asli Tulungagung.
Minuman dawet itu biasanya disajikan dalam bentuk minuman bersantan dengan tambahan gula aren. Namun, yang membedakan es dawet gempol ini dengan es dawet lain adalah cairan gula putih. Sedangkan, dawet terbuat dari bahan dasar tepung sagu atau tepung beras.
Untuk membuat caranya relatif mudah. Bahan dasar tepung beras itu diaduk dengan garam. Lalu diseduh dengan air panas. Adonan dibentuk bulat sebesar kelereng kecil atau seukuran bola pingpong “Setelah itu, direbus hingga siap disajikan sebagai komponen atau pengisi minuman khas yang siap saji. Agar beraroma sedap, biji gempol warna putih-putih itu dimasak kembali dengan daun pandan,” tuturnya sambil tersenyum saat saya minta izin untuk mengambil gambarnya.
Dalam satu mangkok itu ada gempol, serabi, es dawet. Untuk mendapatkan rasa yang manis, legit dan segar, saya aduk rata bersama santan dan es-nya. Manisnya pun merata dan terasa. Tidak hanya itu, rasa gempolnya gurih dan asinnya pas.
"Hmm.. rasanya segar, legit dan terasa benar gurih santannya. Pas sekali saat cuaca panas-panas kayak gini," ujar Ella, perempuan di sebelah saya itu.
Karena suasana panas, beberapa saat es dawet gempol itu tandas tak tersisa, tinggal mangkok dan sendok, sebagai pelepas dahaga. Perempuan di sebelah menawari saya untuk nambah. Saya menolak. Karena setelah ini, saya berencana menikmati rujak lontong sebagai menu utama. Sebentarnya di sebelah gerobak es dawet gempol itu ada penjual rujak buah. Namun kami urungkan untuk menikmati rujak buah itu.
Seharusnya, es dawet gempol ini cocok sekali sebagai menu penutup (dessert), karena panasnya suasaa siang itu, tidak apalah semangkok es dawet gempol jadi menu pembuka pelepas dahaga.
Ella mengeluarkan pecahan puluhan berwarna biru. "Berapa, mbak? Kini seorang perempuan yang melayani kami. Ia menerima pecahan itu dan seraya menjawab. "Dua." Lanjutnya, "Sepuluh ribu, Mbak," jawabnya seraya mencari kembalian.
Di warung itu, menu es dawet gempol serabi menjadi satu-satunya dagangan unggulan. Satu mangkok es gempol serabi dihargai Rp. 5.000.~. Kami undur diri tanpa lupa mengabadikan momen di depan gerobak itu dengan senyum yang manis. Semanis dan senikmat es dawet Gempol asli kuliner Tulungagung.
Namun, es dawet Gempol menjadi pilihan. Lokasinya di sisi Selatan jalan, di Jl. Ahmad Yani Timur, tidak jauh dari Kantor Pemkab. Tulungagung. Saat kami datang, tak ada pengunjung yang andok atau membeli dan minuman di tempat. Hanya kami berdua. "Mas, dibungkus apa minum sini?" tanya pemuda penjual es dawet Gempol itu.
"Iya, diminum sini dua, Mas," jawabku.
Kesan tradisional nampak di sini. Dua wadah yang terbuat dari tanah liat, seperti gentong berada di atas gerobak. Keberadaan gentong menambah daya tarik dari segi estetika dan tentunya menambah cita rasa yang khas. Menariknya lagi, alat penuang (ladle) ujungnya berbentuk Semar dalam tokoh pewayangan, kalau tak salah sebut. Ada dua marangan berukuran sedang. Masing-masing sebagai wadah serabi dan gempol, dan baskom berwarna merah muda sebagai wadah isi pecahan es batu.
Minuman ini sedikit berbeda dengan minuman dawet lainnya, karena di dalamnya ada butir gumpalan sebesar kelereng berwarna putih. "Yang bulat ini namanya Gempol, Mas," jawab penjual itu.
Gempol berbentuk bulat kurang lebih sebesar bola pingpong atau kelereng. Ia memiliki tekstur kasar namun sangat rapuh saat masuk mulut. Bulatan gempol langsung lumat dan memberi efek rasa dingin di mulut maupun tenggorokan. Sementara, sajian serabi diiris kecil-kecil dengan potongan kotak-kotak.
Kita tahu, setiap daerah memiliki kekayaan kuliner sendiri. Di Ponorogo ada dawet Jabung, di Solo ada dawet Gempol Pleret, dan yang sangat tersohor adalah es dawet Banjarnegara. Sedangkan di Tulungagung ada Es Dawet Gempol asli Tulungagung.
Minuman dawet itu biasanya disajikan dalam bentuk minuman bersantan dengan tambahan gula aren. Namun, yang membedakan es dawet gempol ini dengan es dawet lain adalah cairan gula putih. Sedangkan, dawet terbuat dari bahan dasar tepung sagu atau tepung beras.
Untuk membuat caranya relatif mudah. Bahan dasar tepung beras itu diaduk dengan garam. Lalu diseduh dengan air panas. Adonan dibentuk bulat sebesar kelereng kecil atau seukuran bola pingpong “Setelah itu, direbus hingga siap disajikan sebagai komponen atau pengisi minuman khas yang siap saji. Agar beraroma sedap, biji gempol warna putih-putih itu dimasak kembali dengan daun pandan,” tuturnya sambil tersenyum saat saya minta izin untuk mengambil gambarnya.
Dalam satu mangkok itu ada gempol, serabi, es dawet. Untuk mendapatkan rasa yang manis, legit dan segar, saya aduk rata bersama santan dan es-nya. Manisnya pun merata dan terasa. Tidak hanya itu, rasa gempolnya gurih dan asinnya pas.
"Hmm.. rasanya segar, legit dan terasa benar gurih santannya. Pas sekali saat cuaca panas-panas kayak gini," ujar Ella, perempuan di sebelah saya itu.
Karena suasana panas, beberapa saat es dawet gempol itu tandas tak tersisa, tinggal mangkok dan sendok, sebagai pelepas dahaga. Perempuan di sebelah menawari saya untuk nambah. Saya menolak. Karena setelah ini, saya berencana menikmati rujak lontong sebagai menu utama. Sebentarnya di sebelah gerobak es dawet gempol itu ada penjual rujak buah. Namun kami urungkan untuk menikmati rujak buah itu.
Seharusnya, es dawet gempol ini cocok sekali sebagai menu penutup (dessert), karena panasnya suasaa siang itu, tidak apalah semangkok es dawet gempol jadi menu pembuka pelepas dahaga.
Ella mengeluarkan pecahan puluhan berwarna biru. "Berapa, mbak? Kini seorang perempuan yang melayani kami. Ia menerima pecahan itu dan seraya menjawab. "Dua." Lanjutnya, "Sepuluh ribu, Mbak," jawabnya seraya mencari kembalian.
Di warung itu, menu es dawet gempol serabi menjadi satu-satunya dagangan unggulan. Satu mangkok es gempol serabi dihargai Rp. 5.000.~. Kami undur diri tanpa lupa mengabadikan momen di depan gerobak itu dengan senyum yang manis. Semanis dan senikmat es dawet Gempol asli kuliner Tulungagung.
Itu kok bentuknya mirip baso ya?bulat,putih,kenyal.
BalasHapusItu namanya Gempolnya, Mbak. Hehehe. Mirip ya??
BalasHapusKalo di daerah saya gak ada dawet khas nya sih , bentuk penyajiannya biasa saja.
BalasHapusDi daerah mas unik tuh.
Itu daerah Tetangga, Mas, kebetulan saya main di daerah itu. Lha ada makanan khas jadinya mampir...
BalasHapusWah .... jad kangen juga dengan gempol. Entah sdh berapa tahun tak makan ini.
BalasHapusKalau di kampungku dulu nyebutnya hanya "gempol" saja meskipun disajikan dengan kuah santan dan es, tapi seingatku tidak pakai cendol. Itulah mungkin sehingga tidak disebut sebagai es dawet gempol melainkan hanya gempol
Kampungnya mana bun??? Rasanya enak ya, pas di musim panas...
BalasHapusSaya di Sukoharjo- Solo.
BalasHapusTapi saat pulkam kok saya sdh tidak menemui lagi gempol ya
Wah Solo ya bun, kok sampai pindah ke Sulawesi? Hehehe
BalasHapusDulu ikut suami mas dan pekerjaan juga.
BalasHapusBahkan kerja pertama memang di sini
Waaah mantap tuh berarti bun bisa tukar kultur jawa dan sulawesi...
BalasHapusHe he suami orang jawa juga kok mas,
BalasHapustapi memang setelah 27 th tinggal di sini sedikit banyak jd tahu kultur orang sini, meskipun untuk bhs daerahnya tidak paham, krn saya tinggal di kota kabupaten yg multi etnis pakai bhs Indonesia hari2nya.
Wwwaaah hidup di Sulawesi asik gak mbak??
BalasHapusSaya membayangkan (kangen suasana kota) begitu sangat mengasikkan hidup di kota, jauh dari daerah asal...
Ya ... asik gak asik mas,
BalasHapusSemua ada kelebihan dan kekurangannya.
Yang pasti sy sdh sangat lama di sini.
Mas Rokhim, belum pernah merantau kah?
Saya baru pulang 3 bulan terakhir ini dari Tangerang, Bu. Di Tangerang, tepatnya di BSD selama 9 bulan, yang pada akhirnya balik lagi ke desa...
BalasHapusSekarang kangen suasana kota. Hehehe. Di desa sulit nyari kerja. 😂
O begitu ya mas?
BalasHapusSaya sendiri termasuk orang yang berprinsip tidak harus tinggal di kampung sendiri.
Tergantung Allah menentukan rejki kita di mana, itu pendapat saya mas
Betul, Bu. Memang harus begitu. Saya harus banyak belajar dari Bu Nur..
BalasHapusHmm .... makasih mas.
BalasHapusSaya hanya punya kelebihan umur kok dibanding mas Rokhim he he
Iya bu. Saya Perlu banyak belajar dengan jenengan...
BalasHapusMonggo mas Rokhim sebisa sy
BalasHapusTerima kasih bu
BalasHapussami2 mas
BalasHapusPosting Komentar