Menulis itu telah menjadi kebiasaan di kehidupan sekarang. Apalagi semenjak adanya dunia maya, semua bisa "dilampiaskan" ke dalam catatan harian berbentuk digital, dinding Facebook. meski yang dituliskan dalam catatan digital itu hanya curhatan-curhatan receh, tetapi itu adalah salah satu merawat tulisan-tulisan yang kita hasilkan. Apalagi di dinding Facebook, Mark Zuckerberg memberi
. Menjadi hal yang wajar jika semacam wall di dalam media sosial di(ber)isi ocehan-ocehan yang terkadang hal-hal yang perlu diklarifikasi tentang kebenarannya (hoaks) dan hanya sedikit informatif, inspiratif.
Media sosial itu seperti ladang basah yang wajib dikerumuni, digarap dan dimanfaatkan oleh para penggunannya. Mereka memerlukan media sosial itu sesuai dengan kepentingan masing-masing. Aplikasi atau akun Facebook misalnya, dengan wall yang tidak membatasi spasi karakter tulisan itu membuat kita leluasa menuliskan, mencurahkan, menceritakan dan menghimbau siapa teman kita sebagai sesama penikmat media sosial (Facebook). Begitupun dengan Twitter, meski memiliki spasi terbatas, Twitter memiliki ruang yang cukup leluasa dalam melakukan diskusi atau twitwar-twitwar.
Meski demikian, pihak Facebook juga menyediakan kenangan apa yang telah kita tulis tersebut. Media sosial kini telah banyak lagi selain Facebook yang bisa dimanfaatkan. Di wall atau dinding Facebook kita jumpai, bahwa apapun bisa lampiaskan pada sebuah tulisan. Di Facebook kita akan ditawari bahwa pagimu harus menuliskan di dinding Facebook. "Apa yang sedang Anda pikirkan?" Sebuah pertanyaan atau tawaran yang harus Anda utarakan dalam bentuk tulisan di dalam dinding Facebook. Itu soal Facebook, Twitter, blog dan berbagai macam akun dan media lainnya. Semua akun media sosial menawarkan kesempatan sama untuk menerbitkan tulisan.
Beberapa hari ini, saya tidak melakukan aktifitas dalam hal tulis-menulis. Saya lebih fokus pada sebuah buku yang saya beli kemarin. Saya memiliki keinginan untuk mengkhatamkan buku tersebut supaya dosa tersebut gugur dan rasa bersalah itu tidak selalu mengikuti setiap saya membawa buku baru yang lain. Buku yang berada di tumpukan rak, atau di pojokan itu seolah mengayunkan judulnya dan melambai-lambai supaya segera dijamah dan dibaca. Namun karena manusia itu lebih memilih membeli dan suka menumpuk, membiarkan kegiatan produktif seperti membaca.
Dampaknya untuk mengawali tulisan itu beratnya minta ampun. Jadi menulis itu berat, bila tak dibiasakan menulis dan diawali dengan keseriusan.
Selain itu, keberadaan buku-buku di pojokan itu tanpa saya ziarahi rasanya kok berdosa, gini ya? Apalagi buku-buku kemarin tak kalah menggiurkan dengan buku yang saya beli hari ini. Sebenarnya saya tertarik dengan buku yang bisa meningkatkan rasa keingintahuan saya terhadap sesuatu. Kalau tidak begitu saya tertarik dengan buku yang bisa membangkitkan motivasi saya terhadap sebuah profesi tertentu.
Buku adalah Menjadi Guru Inspiratif karya Dr. Ngainun Naim. Buku ini menjadi salah satu buku yang mampu membangkitkan kemauan saya terhadap profesi yang sangat dekat dengan masyarakat di desa. Kalau bukan profesi favorit di desa di zaman Oemar Bakri apalagi? Ya menjadi seorang guru di desa. Namun bukan sekadar profesi yang monoton tanpa saling menginspirasi. Di mana menjadi seorang guru maupun murid yang saling inspiratif.
Menjadi seseorang yang menginspirasi itu memang membanggakan. Menjadi seorang peserta didik harus memiliki daya yang luar biasa atas perbedaan dari peserta lain.
Selepas membaca buku tersebut, saya seolah mendapat wejangan atau gugahan dalam hipernasi saya beberapa saat kemarin. Buku tersebut mengajak saya bangun dari tidur panjang.
Ketika kita lagi istirahat sebentar lantas tidak merasa aman dan nyaman. Kenapa ini tergugah cuma karena tulisan? Patut kita cermati. Apa penyebabnya. Pertama, saya merasa tergugah karena merasa terpanggil untuk mengikuti jejaknya. Jejak orang yang menulis diberanda Facebook. Karena tulisannya selalu menginspirasi banyak orang. Walau cuma catatan-catatan ringan namun bisa menggugah banyak orang untuk mengikutinya.
Kedua, merasa tidak nyaman. Tidak nyaman dari keadaan kusekarang yang akhir-akhir "mati suri" tidak menulis catatan. Yang ketiga, saya merasa "sebal dan mangkel". Mangkel apabila saya tidak menulis. Karena menulis bagiku telah menjadikan hidup bahagia dan penuh makna. Senang sekal rasanya manakala tiap hari, bahkan mendapat siraman kata-kata dan motivasi dalam ranah dunia literasi.
Dari teman dan sahabati Prof. Naim tersebut, saya mencermati terinspirasi oleh tulisan-tulisan Beliau. Dan sayapun tergugah untuk menulis di beberapa catatan, bahkan di catatan ringan di blog ini. Walau tulisan ini belum seberapa tetapi melalui tulisan saya bisa mengoptimalkan gagasan yang saya punya. Banyak pertemanan dan manfaat dari menulis itu. Itu pasti dan nyata pula. Tidak percaya? Lakukan sekarang juga. Banyak tokoh-tokoh besar abadi karena tulisan. Serta pemikirannya yang diabadikan bisa menggugah kita untuk mengikuti. Itu semua karena terinspirasi oleh yang namanya tulisan.
Bandung, Tulungagung, 28 Februari 2014
Media sosial itu seperti ladang basah yang wajib dikerumuni, digarap dan dimanfaatkan oleh para penggunannya. Mereka memerlukan media sosial itu sesuai dengan kepentingan masing-masing. Aplikasi atau akun Facebook misalnya, dengan wall yang tidak membatasi spasi karakter tulisan itu membuat kita leluasa menuliskan, mencurahkan, menceritakan dan menghimbau siapa teman kita sebagai sesama penikmat media sosial (Facebook). Begitupun dengan Twitter, meski memiliki spasi terbatas, Twitter memiliki ruang yang cukup leluasa dalam melakukan diskusi atau twitwar-twitwar.
Meski demikian, pihak Facebook juga menyediakan kenangan apa yang telah kita tulis tersebut. Media sosial kini telah banyak lagi selain Facebook yang bisa dimanfaatkan. Di wall atau dinding Facebook kita jumpai, bahwa apapun bisa lampiaskan pada sebuah tulisan. Di Facebook kita akan ditawari bahwa pagimu harus menuliskan di dinding Facebook. "Apa yang sedang Anda pikirkan?" Sebuah pertanyaan atau tawaran yang harus Anda utarakan dalam bentuk tulisan di dalam dinding Facebook. Itu soal Facebook, Twitter, blog dan berbagai macam akun dan media lainnya. Semua akun media sosial menawarkan kesempatan sama untuk menerbitkan tulisan.
Beberapa hari ini, saya tidak melakukan aktifitas dalam hal tulis-menulis. Saya lebih fokus pada sebuah buku yang saya beli kemarin. Saya memiliki keinginan untuk mengkhatamkan buku tersebut supaya dosa tersebut gugur dan rasa bersalah itu tidak selalu mengikuti setiap saya membawa buku baru yang lain. Buku yang berada di tumpukan rak, atau di pojokan itu seolah mengayunkan judulnya dan melambai-lambai supaya segera dijamah dan dibaca. Namun karena manusia itu lebih memilih membeli dan suka menumpuk, membiarkan kegiatan produktif seperti membaca.
Dampaknya untuk mengawali tulisan itu beratnya minta ampun. Jadi menulis itu berat, bila tak dibiasakan menulis dan diawali dengan keseriusan.
Selain itu, keberadaan buku-buku di pojokan itu tanpa saya ziarahi rasanya kok berdosa, gini ya? Apalagi buku-buku kemarin tak kalah menggiurkan dengan buku yang saya beli hari ini. Sebenarnya saya tertarik dengan buku yang bisa meningkatkan rasa keingintahuan saya terhadap sesuatu. Kalau tidak begitu saya tertarik dengan buku yang bisa membangkitkan motivasi saya terhadap sebuah profesi tertentu.
Buku adalah Menjadi Guru Inspiratif karya Dr. Ngainun Naim. Buku ini menjadi salah satu buku yang mampu membangkitkan kemauan saya terhadap profesi yang sangat dekat dengan masyarakat di desa. Kalau bukan profesi favorit di desa di zaman Oemar Bakri apalagi? Ya menjadi seorang guru di desa. Namun bukan sekadar profesi yang monoton tanpa saling menginspirasi. Di mana menjadi seorang guru maupun murid yang saling inspiratif.
Menjadi seseorang yang menginspirasi itu memang membanggakan. Menjadi seorang peserta didik harus memiliki daya yang luar biasa atas perbedaan dari peserta lain.
Selepas membaca buku tersebut, saya seolah mendapat wejangan atau gugahan dalam hipernasi saya beberapa saat kemarin. Buku tersebut mengajak saya bangun dari tidur panjang.
Ketika kita lagi istirahat sebentar lantas tidak merasa aman dan nyaman. Kenapa ini tergugah cuma karena tulisan? Patut kita cermati. Apa penyebabnya. Pertama, saya merasa tergugah karena merasa terpanggil untuk mengikuti jejaknya. Jejak orang yang menulis diberanda Facebook. Karena tulisannya selalu menginspirasi banyak orang. Walau cuma catatan-catatan ringan namun bisa menggugah banyak orang untuk mengikutinya.
Kedua, merasa tidak nyaman. Tidak nyaman dari keadaan kusekarang yang akhir-akhir "mati suri" tidak menulis catatan. Yang ketiga, saya merasa "sebal dan mangkel". Mangkel apabila saya tidak menulis. Karena menulis bagiku telah menjadikan hidup bahagia dan penuh makna. Senang sekal rasanya manakala tiap hari, bahkan mendapat siraman kata-kata dan motivasi dalam ranah dunia literasi.
Dari teman dan sahabati Prof. Naim tersebut, saya mencermati terinspirasi oleh tulisan-tulisan Beliau. Dan sayapun tergugah untuk menulis di beberapa catatan, bahkan di catatan ringan di blog ini. Walau tulisan ini belum seberapa tetapi melalui tulisan saya bisa mengoptimalkan gagasan yang saya punya. Banyak pertemanan dan manfaat dari menulis itu. Itu pasti dan nyata pula. Tidak percaya? Lakukan sekarang juga. Banyak tokoh-tokoh besar abadi karena tulisan. Serta pemikirannya yang diabadikan bisa menggugah kita untuk mengikuti. Itu semua karena terinspirasi oleh yang namanya tulisan.
Bandung, Tulungagung, 28 Februari 2014
Posting Komentar