Media masa semakin hari semakin kolektif dan mudah didapat. Berbeda ketika zaman (orba) orde baru, ketika itu, penerbitan buku atau koran dibredel, dibatasi dan diawasi penerbitannya. Tidak semudah sekarang ini—kita dengan gampang jumpai setiap hari—pagi, siang, sore hingga malam bebas tertampang di depan lapak pedagang. Tukang koran pun banyak kita temui di perempatan jalan atau kios-kios buku dan majalah. Semua ada dan menjadi satu di situ. Dari loper atau kios koran, kita dengan mudah membeli sesuka hati. Tanpa harus ada tendensius atau rasa takut memilih dan membaca koran.
Koran adalah media bacaaan setelah buku. Bedanya dengan buku, koran memuat berita yang setiap hari berganti. Ragam berita ditampakkan dengan jelas. Berita-berita yang sekiranya tidak terjamah oleh media lain, kita bisa membacanya lewat koran yang dituliskan para koresponden wartawanya. Koran juga media pengetahuan yang efektif untuk kita. Dengan membacanya kita telah menambah dan mengetahui berita secara majemuk. Semua terangkum faktual setiap hari. Diantaranya: peristiwa, ekonomi, bisnis, pendidikan, teknologi, pembangunan hingga kuliner. Semua tersaji di halaman pertama hingga halaman terakhir.
Dari terbitnya koran setiap hari, masih banyak yang menganggap usianya hanya setengah hari. Setelah kelar dibaca, koran telah habis masanya. Selanjutnya masuk ke ranjang dan di bawah meja, dan kemudian menjadi bungkus kacang atau bungkus makanan di Warung Tegal (Warteg). Tidak banyak yang memahami koran, sejatinya, adalah informasi (guru) yang mudah kita jumpai setelah guru di sekolah. Informasi mengenai masalah-masalah—baik pengetahuan populer atau peristiwa penting yang terjadi di masa kini dan masa lalu—dengan mudah kita pelajari. Salah satunya dengan membuat kreativitas dengan mengclipping. Menggunting koran (informasi) yang sekiranya kita anggap penting, kemudian mengoleksi dibendel sesuai ramuan (kelompok) genrenya. Tidak dimungkiri, kita dapat belajar dari penulis-penulis yang tulisan sudah lewat meja redaksi editor.
Mengklipping koran, sebenarnya sudah diajarkan oleh guru bahasa Indonesia saya ketika di duduk di bangku MTs (SMP). Dan mengklipping koran-koran bekas tersebut, baru saya lakukan beberapa bulan yang lalu. Saya mengumpulkan esai-esai yang dimuat oleh media massa untuk bahan referensi-referensi menulis esai dan menulis buku di kemudian hari kelak. Selain itu untuk menambah pengetahuan, juga untuk kepentingan referensi. Terkait kepentingan referensi, lembaran-lembaran koran ini menjadi spirit menulis yang bijak. Karena “tidak ada sekolah menulis. Yang ada hanya adalah berbagi menulis..., dan belajar menulis dari para penulis senior,” demikian kata Pepih Nugroho, founding Kompasiana dalam kata pengantarnya di bukunya Much Khoiri, Top Rahasia Menulis tersebut.
Namun terlepas dari aktivitas mengclipping dan membaca koran. Kegiatan membaca dan mengclipping koran dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Terbukti dari terbitnya beberapa buku lantaran bersinggungan langsung dengan koran.
Dalam novel yang ditulis N. Mursidi yang berjudul Tidur Berbantal Koran: Kisah inspiratif penjual koran menjadi wartawan (2013) adalah kisah dia sendiri yang tidak mampu melanjutkan kuliah lantaran himpitan ekonomi. Bermodal menjadi loper koran, N. Mursidi menjadi wartawan dan penulis. Ia belajar dengan lembaran-lembaran koran yang ia jadikan bantal dan alas tidurnya. Dan ia belajar dari kerasnya hidup selama menjadi mahasiswa. Paginya ia manfaatkan menjadi loper koran, siangnya ia gunakan untuk kuliah.
Terbukti sebuah novel dari kisah nyata (true story), mampu ia bukukan. Suka duka, pahit manis, dan perjuangan menjadi loper koran hingga menjadi penulis ia tulis. Semua pergulatan batinnya, ia rekam menjadi novel yang inspiratif tersebut. Hingga, ia mampu merubah hidupnya yang bermula dari situasi yang tidak menentu menjadi terang benderang. Semua bermuara dari pelajaran dari lembaran koran sisa pembaca, dan belajar dari kerasnya sekolah kehidupan menjadi seorang loper koran.
Setali tiga uang dengan N. Mursidi. HD. Haryo Sasongko dalam bukunya yang berjudul Dengan Guntingan Koran Merintis Hari Depan (1982) ini memberi pelajaran untuk kita semua. Tidak kecuali para mahasiswa, atau yang berkecimpung di dunia pendidikan dan seorang yang ingin menjadi penulis. “Setiap orang mempunyai bakat sendiri-sendiri. Tidak semua berbakat menjadi penulis. Tapi belajar melalui clipping adalah salah satu jalan yang baik lagi murah biayanya, dan kita patut mencobanya dan merasakan sensasin,” demikian kata HD.Haryo Sasongko. Karena belajar dengan koran adalah langkah utama untuk mencapai cita-cita menjadi wartawan dan penulis, dan kolumnis. Tidak dimungkiri merubah hidup yang lebih baik.
Mulanya ia putus sekolah (SMA) karena ketiadaan biaya. Sehingga, ia memutuskan berhenti sekolah kemudian berkiprah menjadi loper koran. Namun perjalanannya menjadi loper koran, ia merambah ke dunia kepenulisan. Hingga akhirnya ia menjadi wartawan, dan mendapat julukan “wartawan muda.” Itu semua berawal dari kegemarannya mengoleksi sisa koran yang tidak habis terjual. Lantas ia dokumnetasikan sesuai keinginannya, dan kelompok genrenya. Dari kumpulan clipping koran tersebut, ia dapat belajar berbagai berita, esai, puisi dan hingga mampu menembus koran nasional.
Seperti pepatah bijak, “buah kelapa yang semakin tua semakin berminyak,” demikian juga HD. Haryo Sasongko. Selama hampir dua tahun bergelut dengan guntingan koran bekas, dan peralatan clipping yang lain. Ia mampu merambah ke dunia surat kabar. Beberapa kali esainya di muat disurat kabar, seperti: Kompas, Sinar Harapan dll.
Saya sendiri menulis dan dimuat di salah satu koran terbitan Surabaya Duta Masyarakat (2014) juga merasakan dampak yang positif. Kehidupan saya sekarang menjadi semakin bermakna. Yang biasanya hanya bisa mengeluh tanpa ada hasil yang positif, semenjak dimuatnya resensi buku tersebut, saya semakin meningkatkan taraf dan martabat hidup ini. Bukan karena saya menulis dan meresensi buku kemudian dibayar. Tidak. Saya menulis atau meresensi buku tersebutmalah tidak ada honor yang masuk dalam rekening saya. Namun, saya harus patut berterimakasih atas editor yang telah masuk dalam seleksi meja editor lalu dimuat di media massa. Sehingga kehabagiaan semakin lengkap, tulisan resensi saya dibaca oleh khalayak umum. Indah memang.
Seperti sabda nabi “tidak akan merubah nasib kaumnya, apabila kaum itu sendiri tidak merubahnya.” Dari kegemarannya belajar dengan sekolah kehidupan, kita mampu merubah nasib kita sendiri. “Tidak ada batu permata menjadi berkilap tanpa gesekan; demikian juga dengan manusia; tidakakan bisa menjadi baik tanpa cobaan,” demikian kata William Shakerpeare. (*)
Tasikmadu, Trenggalek, 16 Januari 2015
Koran adalah media bacaaan setelah buku. Bedanya dengan buku, koran memuat berita yang setiap hari berganti. Ragam berita ditampakkan dengan jelas. Berita-berita yang sekiranya tidak terjamah oleh media lain, kita bisa membacanya lewat koran yang dituliskan para koresponden wartawanya. Koran juga media pengetahuan yang efektif untuk kita. Dengan membacanya kita telah menambah dan mengetahui berita secara majemuk. Semua terangkum faktual setiap hari. Diantaranya: peristiwa, ekonomi, bisnis, pendidikan, teknologi, pembangunan hingga kuliner. Semua tersaji di halaman pertama hingga halaman terakhir.
Dari terbitnya koran setiap hari, masih banyak yang menganggap usianya hanya setengah hari. Setelah kelar dibaca, koran telah habis masanya. Selanjutnya masuk ke ranjang dan di bawah meja, dan kemudian menjadi bungkus kacang atau bungkus makanan di Warung Tegal (Warteg). Tidak banyak yang memahami koran, sejatinya, adalah informasi (guru) yang mudah kita jumpai setelah guru di sekolah. Informasi mengenai masalah-masalah—baik pengetahuan populer atau peristiwa penting yang terjadi di masa kini dan masa lalu—dengan mudah kita pelajari. Salah satunya dengan membuat kreativitas dengan mengclipping. Menggunting koran (informasi) yang sekiranya kita anggap penting, kemudian mengoleksi dibendel sesuai ramuan (kelompok) genrenya. Tidak dimungkiri, kita dapat belajar dari penulis-penulis yang tulisan sudah lewat meja redaksi editor.
Mengklipping koran, sebenarnya sudah diajarkan oleh guru bahasa Indonesia saya ketika di duduk di bangku MTs (SMP). Dan mengklipping koran-koran bekas tersebut, baru saya lakukan beberapa bulan yang lalu. Saya mengumpulkan esai-esai yang dimuat oleh media massa untuk bahan referensi-referensi menulis esai dan menulis buku di kemudian hari kelak. Selain itu untuk menambah pengetahuan, juga untuk kepentingan referensi. Terkait kepentingan referensi, lembaran-lembaran koran ini menjadi spirit menulis yang bijak. Karena “tidak ada sekolah menulis. Yang ada hanya adalah berbagi menulis..., dan belajar menulis dari para penulis senior,” demikian kata Pepih Nugroho, founding Kompasiana dalam kata pengantarnya di bukunya Much Khoiri, Top Rahasia Menulis tersebut.
Namun terlepas dari aktivitas mengclipping dan membaca koran. Kegiatan membaca dan mengclipping koran dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Terbukti dari terbitnya beberapa buku lantaran bersinggungan langsung dengan koran.
Dalam novel yang ditulis N. Mursidi yang berjudul Tidur Berbantal Koran: Kisah inspiratif penjual koran menjadi wartawan (2013) adalah kisah dia sendiri yang tidak mampu melanjutkan kuliah lantaran himpitan ekonomi. Bermodal menjadi loper koran, N. Mursidi menjadi wartawan dan penulis. Ia belajar dengan lembaran-lembaran koran yang ia jadikan bantal dan alas tidurnya. Dan ia belajar dari kerasnya hidup selama menjadi mahasiswa. Paginya ia manfaatkan menjadi loper koran, siangnya ia gunakan untuk kuliah.
Terbukti sebuah novel dari kisah nyata (true story), mampu ia bukukan. Suka duka, pahit manis, dan perjuangan menjadi loper koran hingga menjadi penulis ia tulis. Semua pergulatan batinnya, ia rekam menjadi novel yang inspiratif tersebut. Hingga, ia mampu merubah hidupnya yang bermula dari situasi yang tidak menentu menjadi terang benderang. Semua bermuara dari pelajaran dari lembaran koran sisa pembaca, dan belajar dari kerasnya sekolah kehidupan menjadi seorang loper koran.
Setali tiga uang dengan N. Mursidi. HD. Haryo Sasongko dalam bukunya yang berjudul Dengan Guntingan Koran Merintis Hari Depan (1982) ini memberi pelajaran untuk kita semua. Tidak kecuali para mahasiswa, atau yang berkecimpung di dunia pendidikan dan seorang yang ingin menjadi penulis. “Setiap orang mempunyai bakat sendiri-sendiri. Tidak semua berbakat menjadi penulis. Tapi belajar melalui clipping adalah salah satu jalan yang baik lagi murah biayanya, dan kita patut mencobanya dan merasakan sensasin,” demikian kata HD.Haryo Sasongko. Karena belajar dengan koran adalah langkah utama untuk mencapai cita-cita menjadi wartawan dan penulis, dan kolumnis. Tidak dimungkiri merubah hidup yang lebih baik.
Mulanya ia putus sekolah (SMA) karena ketiadaan biaya. Sehingga, ia memutuskan berhenti sekolah kemudian berkiprah menjadi loper koran. Namun perjalanannya menjadi loper koran, ia merambah ke dunia kepenulisan. Hingga akhirnya ia menjadi wartawan, dan mendapat julukan “wartawan muda.” Itu semua berawal dari kegemarannya mengoleksi sisa koran yang tidak habis terjual. Lantas ia dokumnetasikan sesuai keinginannya, dan kelompok genrenya. Dari kumpulan clipping koran tersebut, ia dapat belajar berbagai berita, esai, puisi dan hingga mampu menembus koran nasional.
Seperti pepatah bijak, “buah kelapa yang semakin tua semakin berminyak,” demikian juga HD. Haryo Sasongko. Selama hampir dua tahun bergelut dengan guntingan koran bekas, dan peralatan clipping yang lain. Ia mampu merambah ke dunia surat kabar. Beberapa kali esainya di muat disurat kabar, seperti: Kompas, Sinar Harapan dll.
Saya sendiri menulis dan dimuat di salah satu koran terbitan Surabaya Duta Masyarakat (2014) juga merasakan dampak yang positif. Kehidupan saya sekarang menjadi semakin bermakna. Yang biasanya hanya bisa mengeluh tanpa ada hasil yang positif, semenjak dimuatnya resensi buku tersebut, saya semakin meningkatkan taraf dan martabat hidup ini. Bukan karena saya menulis dan meresensi buku kemudian dibayar. Tidak. Saya menulis atau meresensi buku tersebutmalah tidak ada honor yang masuk dalam rekening saya. Namun, saya harus patut berterimakasih atas editor yang telah masuk dalam seleksi meja editor lalu dimuat di media massa. Sehingga kehabagiaan semakin lengkap, tulisan resensi saya dibaca oleh khalayak umum. Indah memang.
Seperti sabda nabi “tidak akan merubah nasib kaumnya, apabila kaum itu sendiri tidak merubahnya.” Dari kegemarannya belajar dengan sekolah kehidupan, kita mampu merubah nasib kita sendiri. “Tidak ada batu permata menjadi berkilap tanpa gesekan; demikian juga dengan manusia; tidakakan bisa menjadi baik tanpa cobaan,” demikian kata William Shakerpeare. (*)
Tasikmadu, Trenggalek, 16 Januari 2015
yups benar! aku suka mengclipping capingnya mas goenawan mohamad hehehehe
BalasHapusWaaah keren. Sering beli majalah Tempo?
BalasHapusnggak juga si kwn, tergantung kalau ada uang di dompet hehehehe lebih banyak masuk keluar rumah orang ngumpulin majalah tempo lama yg menumpuk di lantai. biasanya mereka rela menyerahkan semua "harta" itu kpd saya hehehehe
BalasHapusWaaah rezeki itu bang...
BalasHapusPosting Komentar