Siang itu, cuaca di Kota Patria panas. Teriknya mentari membuat kami menepi dan mencari pelepas dahaga. Sambil menunggu teman, kami pesan minuman, yang berada di seberang jalan. Penjual menyalakan blender dan meracik minuman sachet-an. Di sela-sela mengemas minuman, saya bertanya lokasi yang bagus, yang berada di Blitar. Ia menyarankan di perkebunan kopi.
“Dari sini jaraknya 5 kilometer, Mas. Kebun kopi itu peninggalan zaman Londo, (Belanda),” ujar penjual minuman.
Minuman itu tandas, tinggal setengah. Teman saya pun datang. Ia saya tanya seperti penjual minuman tadi. Sama seperti penjual tadi, ia menyarankan di kebun kopi Karanganyar.
“Awak e neng kebun kopi karanganyar ae seng lagi rame, (untuk tidak menyebut ngehits),” terang Andika.
Kemudian, kami (saya, Ella dan Andika) menggeber kendaraan menuju kebun kopi Karanganyar. Sampai di pertigaan Pasar Penataran, kami ambil kanan ke arah Desa Modangan. Sampai perempatan Kantor Desa Modangan ambil kiri searah dengan petunjuk arah menuju Kampoeng Melon. Lokasinya cukup strategis. Terletak di Nglegok, tepatnya di Karanganyar, Blitar, Jawa Timur. Lokasinya juga tidak jauh dengan tempat wisata lain, seperti Candi Penataran, Kampung Anggrek, Kampung Melon maupun Gunung Kelud.
Arah menuju lokasi merupakan jalur ke pemukiman. Selang beberapa menit, kami disambut ucapan Selamat Datang pada gapura masuk yang terbuat dari kayu dan genteng dari ijuk. Kami mencari tempat parkir. Selesai memastikan kendaraan aman, kami masuk dengan biaya loket sepuluh ribu perorang. Suasana pada saat itu agak ramai. Banyak kendaraan pribadi maupun bus teparkir. Oh, ternyata ada acara join operation Airsoftgun.
Sampai di lokasi, saya sempat kagum. "Wah, ini tempat menarik," batin saya. Tanpa perintah, Ella meminta untuk mengabadikan gambarnya di sudut taman, berlatar tulisan berbahasa Belanda, De Karanganjar Koffieplatage, NV Harta Mulia.
Tulisan itu mengingatkan saya pada Bangsa Belanda tentang kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel). Selain teh, tembakau, tebu dan cokelat, kopi adalah salah satu tanaman budidaya dalam sistem tanam paksa. Di mana bangsa Indonesia menjadi buruh di tanah sendiri.
Di sisi kiri taman berdiri bangunan berarsitektur serupa. Bangunan itu bergaya etnic. Ia masih berdiri kokoh dan tentunya bernilai historis. Selembar kayu yang menempel tembok gerbang bertuliskan rumah Loji lengkap dengan waktu kunjungan. Sementara, di teras rumah, ada 2 ibu duduk, entah mereka menunggu giliran masuk atau istirahat.
Tak lama berselang, saat saya menginjakkan kaki di teras loji, kami dipersilakan masuk oleh laki-laki berusia lanjut berpakaian Hansip. “Terima kasih, pak,” ucap saya.
Ternyata di dalam ada beberapa orang yang mengikuti seorang perempuan. Ia adalah seorang pemandu rumah loji. Kami bertiga diminta bergabung dengan rombongan tadi. Perempuan itu menjelaskan sejarah, koleksi dan isi rumah loji. Menurutnya, "rumah (bangunan) loji ini dulu adalah kantor perkebunan, dibangun orang Belanda pada 1876," terang Indah pemandu rumah loji.
Sejurus kemudian, tangan perempuan itu menunjuk lukisan berukuran besar yang tertempel pada dinding, letaknya berada di antara dua pintu kamar warna kuning. Lukisan sepasang pria dan wanita berusia setengah baya, yang masing-masing memopong bayi laki-laki. Pria itu adalah Alm. Pak Denny Moch Roshadi dan istri, yang tak lain adalah mantan kepala perkebunan kopi Karanganyar.
Indah mengajak untuk mengetahui isi dan koleksi kamar loji. Di loji ada tiga kamar, namun hanya dua kamar yang bisa diakses oleh pengunjung. Ada kamar Proklamator RI, Ir. Soekarno, kamar Pak Deni, dan satunya kamar yang tidak boleh diakses oleh pengunjung.
Sebelum menjelaskan koleksi dan isi kamar, perempuan itu mewanti-wanti untuk tidak mengambil gambar dalam kamar Soekarno. Ada banyak koleksi Bung Karno, namun yang dapat saya ingat ada buku karya Bung Karno yang berjudul Di bawah Bendera Revolusi.
"Barang itu sebagian besar merupakan barang menang lelang," terang pemandu rumah loji itu.
Saat berkunjung di Blitar, Bung Karno sempat mengunjungi rumah Loji ini dan berisitirahat di kamar salah satu rumah loji. “Kebetulan saat menjadi presiden dan berkunjung ke Blitar, Bung Karno pernah mampir ke rumah Loji ini dan beristirahat di kamar ini,” ujar gadis berkerudung itu.
Di sebelah kamar Bung Karno, ada sebuah kamar dengan ukuran tidak kalah besar dengan motif ukiran Jepara. Kamar itu merupakan kamar si empunya rumah. Yaitu Denny Moch Roshadi. Ia merupakan mantan kepala perkebunan kopi Karanganyar. Dialah “peletak batu pertama” perkebunan kopi di Karanganyar.
Dalam penjelasannya, perempuan itu mengatakan bahwa luas perkebunan kopi Karanganyar mencapai 250 hektare dengan 20 hektare. Termasuk kawasan kantor, rumah loji, gudang, dan pabrik penggilingan kopi yang kini beralih fungsi menjadi lokasi wisata. "Pada tahun 1960, Denny membeli seluruh saham perkebunan, lalu mendirikan PT Harta dan berganti nama PT Harta Mulia di tahun 1983," ceritanya.
Saya sedari tadi mendengar dan mengingat-ingat angka di keyword telepon genggam. Kedua teman membantu saya untuk mengingat-ingat angka supaya tak salah informasi. Katanya, "Saat itu, produksi biji kopi robusta perkebunan Karanganyar mencapai ribuan ton sekali panen. Namun sekarang sekali panen hanya tinggal 50 ton. Ini pengaruh daya produksi tanaman kopi sudah jauh berkurang."
Di dalam rumah loji, banyak sekali koleksi lukisan, termasuk lukisan para Bupati Blitar dari berbagai periode, termasuk lukisan Herry Nugroho. Belum selesai menjelaskan isi dan koleksi serta sejarah rumah loji, perempuan itu minta maaf. Ia harus memandu pengunjung lain.
Kami pun menyisir ruang sebelah tanpa pemandu. Kami melihat-lihat koleksi lukisan beberapa benda antik lain. Banyak koleksi miniatur beraneka karakter di almari di ruangan sebelah. Sebentarnya kami menunggu pemandu itu untuk melanjutkan memandu lagi. Menjelaskan sejarah-sejarah yang lain. Namun ia tak kunjung tiba. Alhasil, kami putuskan untuk keluar rumah loji dan melanjutkan di beberapa tempat lain yang tak kasih menarik.
Akhirnya kami memutari beberapa museum tanpa pemandu. Ada tiga museum yang sempat kami kunjungi. Yakni, museum pusaka, museum purna bakti, dan terbaru museum mBlitaran. Menurut informasi, Museum pusaka ini sebagai tempat menyimpan benda-benda keramat milik keluarga pengelola perkebunan sekarang yang juga mantan Bupati Blitar, Herry Nugroho.
Selain bangunan rumah Loji tadi, banyak bangunan kuno lain, yang ada di perkebunan. Misal, bangunan yang dulu menjadi gudang dan perkantoran milik perkebunan kopi itu disulap menjadi museum, kafe, dan restoran. Saya tak sempat masuk dan mencicipi kopi asli Karanganyar itu. Sebuah dosa yang harus dibayar dengan berkunjung kembali.
Tanpa sempat menikmati seduhan secangkir kopi di cafe perkebunan kopi karanganyar, kami pamit. Namun, saya wajib senang telah mencecap sejarah di kebun kopi De Karanganjar Koffieplatage.[]
“Dari sini jaraknya 5 kilometer, Mas. Kebun kopi itu peninggalan zaman Londo, (Belanda),” ujar penjual minuman.
Minuman itu tandas, tinggal setengah. Teman saya pun datang. Ia saya tanya seperti penjual minuman tadi. Sama seperti penjual tadi, ia menyarankan di kebun kopi Karanganyar.
“Awak e neng kebun kopi karanganyar ae seng lagi rame, (untuk tidak menyebut ngehits),” terang Andika.
Kemudian, kami (saya, Ella dan Andika) menggeber kendaraan menuju kebun kopi Karanganyar. Sampai di pertigaan Pasar Penataran, kami ambil kanan ke arah Desa Modangan. Sampai perempatan Kantor Desa Modangan ambil kiri searah dengan petunjuk arah menuju Kampoeng Melon. Lokasinya cukup strategis. Terletak di Nglegok, tepatnya di Karanganyar, Blitar, Jawa Timur. Lokasinya juga tidak jauh dengan tempat wisata lain, seperti Candi Penataran, Kampung Anggrek, Kampung Melon maupun Gunung Kelud.
Arah menuju lokasi merupakan jalur ke pemukiman. Selang beberapa menit, kami disambut ucapan Selamat Datang pada gapura masuk yang terbuat dari kayu dan genteng dari ijuk. Kami mencari tempat parkir. Selesai memastikan kendaraan aman, kami masuk dengan biaya loket sepuluh ribu perorang. Suasana pada saat itu agak ramai. Banyak kendaraan pribadi maupun bus teparkir. Oh, ternyata ada acara join operation Airsoftgun.
Sampai di lokasi, saya sempat kagum. "Wah, ini tempat menarik," batin saya. Tanpa perintah, Ella meminta untuk mengabadikan gambarnya di sudut taman, berlatar tulisan berbahasa Belanda, De Karanganjar Koffieplatage, NV Harta Mulia.
Tulisan itu mengingatkan saya pada Bangsa Belanda tentang kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel). Selain teh, tembakau, tebu dan cokelat, kopi adalah salah satu tanaman budidaya dalam sistem tanam paksa. Di mana bangsa Indonesia menjadi buruh di tanah sendiri.
Di sisi kiri taman berdiri bangunan berarsitektur serupa. Bangunan itu bergaya etnic. Ia masih berdiri kokoh dan tentunya bernilai historis. Selembar kayu yang menempel tembok gerbang bertuliskan rumah Loji lengkap dengan waktu kunjungan. Sementara, di teras rumah, ada 2 ibu duduk, entah mereka menunggu giliran masuk atau istirahat.
Tak lama berselang, saat saya menginjakkan kaki di teras loji, kami dipersilakan masuk oleh laki-laki berusia lanjut berpakaian Hansip. “Terima kasih, pak,” ucap saya.
Ternyata di dalam ada beberapa orang yang mengikuti seorang perempuan. Ia adalah seorang pemandu rumah loji. Kami bertiga diminta bergabung dengan rombongan tadi. Perempuan itu menjelaskan sejarah, koleksi dan isi rumah loji. Menurutnya, "rumah (bangunan) loji ini dulu adalah kantor perkebunan, dibangun orang Belanda pada 1876," terang Indah pemandu rumah loji.
Sejurus kemudian, tangan perempuan itu menunjuk lukisan berukuran besar yang tertempel pada dinding, letaknya berada di antara dua pintu kamar warna kuning. Lukisan sepasang pria dan wanita berusia setengah baya, yang masing-masing memopong bayi laki-laki. Pria itu adalah Alm. Pak Denny Moch Roshadi dan istri, yang tak lain adalah mantan kepala perkebunan kopi Karanganyar.
Indah mengajak untuk mengetahui isi dan koleksi kamar loji. Di loji ada tiga kamar, namun hanya dua kamar yang bisa diakses oleh pengunjung. Ada kamar Proklamator RI, Ir. Soekarno, kamar Pak Deni, dan satunya kamar yang tidak boleh diakses oleh pengunjung.
Sebelum menjelaskan koleksi dan isi kamar, perempuan itu mewanti-wanti untuk tidak mengambil gambar dalam kamar Soekarno. Ada banyak koleksi Bung Karno, namun yang dapat saya ingat ada buku karya Bung Karno yang berjudul Di bawah Bendera Revolusi.
"Barang itu sebagian besar merupakan barang menang lelang," terang pemandu rumah loji itu.
Saat berkunjung di Blitar, Bung Karno sempat mengunjungi rumah Loji ini dan berisitirahat di kamar salah satu rumah loji. “Kebetulan saat menjadi presiden dan berkunjung ke Blitar, Bung Karno pernah mampir ke rumah Loji ini dan beristirahat di kamar ini,” ujar gadis berkerudung itu.
Di sebelah kamar Bung Karno, ada sebuah kamar dengan ukuran tidak kalah besar dengan motif ukiran Jepara. Kamar itu merupakan kamar si empunya rumah. Yaitu Denny Moch Roshadi. Ia merupakan mantan kepala perkebunan kopi Karanganyar. Dialah “peletak batu pertama” perkebunan kopi di Karanganyar.
Dalam penjelasannya, perempuan itu mengatakan bahwa luas perkebunan kopi Karanganyar mencapai 250 hektare dengan 20 hektare. Termasuk kawasan kantor, rumah loji, gudang, dan pabrik penggilingan kopi yang kini beralih fungsi menjadi lokasi wisata. "Pada tahun 1960, Denny membeli seluruh saham perkebunan, lalu mendirikan PT Harta dan berganti nama PT Harta Mulia di tahun 1983," ceritanya.
Saya sedari tadi mendengar dan mengingat-ingat angka di keyword telepon genggam. Kedua teman membantu saya untuk mengingat-ingat angka supaya tak salah informasi. Katanya, "Saat itu, produksi biji kopi robusta perkebunan Karanganyar mencapai ribuan ton sekali panen. Namun sekarang sekali panen hanya tinggal 50 ton. Ini pengaruh daya produksi tanaman kopi sudah jauh berkurang."
Di dalam rumah loji, banyak sekali koleksi lukisan, termasuk lukisan para Bupati Blitar dari berbagai periode, termasuk lukisan Herry Nugroho. Belum selesai menjelaskan isi dan koleksi serta sejarah rumah loji, perempuan itu minta maaf. Ia harus memandu pengunjung lain.
Kami pun menyisir ruang sebelah tanpa pemandu. Kami melihat-lihat koleksi lukisan beberapa benda antik lain. Banyak koleksi miniatur beraneka karakter di almari di ruangan sebelah. Sebentarnya kami menunggu pemandu itu untuk melanjutkan memandu lagi. Menjelaskan sejarah-sejarah yang lain. Namun ia tak kunjung tiba. Alhasil, kami putuskan untuk keluar rumah loji dan melanjutkan di beberapa tempat lain yang tak kasih menarik.
Akhirnya kami memutari beberapa museum tanpa pemandu. Ada tiga museum yang sempat kami kunjungi. Yakni, museum pusaka, museum purna bakti, dan terbaru museum mBlitaran. Menurut informasi, Museum pusaka ini sebagai tempat menyimpan benda-benda keramat milik keluarga pengelola perkebunan sekarang yang juga mantan Bupati Blitar, Herry Nugroho.
Selain bangunan rumah Loji tadi, banyak bangunan kuno lain, yang ada di perkebunan. Misal, bangunan yang dulu menjadi gudang dan perkantoran milik perkebunan kopi itu disulap menjadi museum, kafe, dan restoran. Saya tak sempat masuk dan mencicipi kopi asli Karanganyar itu. Sebuah dosa yang harus dibayar dengan berkunjung kembali.
Tanpa sempat menikmati seduhan secangkir kopi di cafe perkebunan kopi karanganyar, kami pamit. Namun, saya wajib senang telah mencecap sejarah di kebun kopi De Karanganjar Koffieplatage.[]
Masuk ke museum pusaka,museum purnabakti,museum Blitar bayarnya berapa Mas?
BalasHapusTiketnya sekali masuk untuk senua tempat mbak....
BalasHapusPosting Komentar