Selepas sholat subuh, waktu itu (19/12/2016), kami (saya dan Mahmudi) menggeber motor dari daerah Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang menuju Stasiun Rawa Buntu. Dari stasiun Rawa Buntu, kami naik Commuter Line menuju Stasiun Bogor Paledang. Bagi saya, waktu itu, adalah perjalanan dan pengalaman pertama. Dan tentu saja, ini merupakan perjalanan yang amat sangat menyenangkan, karena kota ini belum pernah saya disinggahi sebelumnya.
Kami di Bogor bukan acara main atau jalan-jalan. Saya di Kota Hujan ini karena ada tugas yang saya laksanakan, yaitu mendokumentasikan ujian Triwulan di salah satu Politeknik, di Bogor tempat mahasiswa melaksanakan ujian. Salah satu yang saya kerjakan adalah meliput dan mengambil gambar; mulai dari persiapan ujian sampai season finishing. Semua didokumentasi melalui gambar, dan sedikit melalui tulisan.
Setelah 3 jam perjalanan, kami sampai di tempat tujuan. Kami pun langsung menikmati suasana di kampus yang terletak di Jalan Bina Marga No. 19. Kami langsung masuk di kelas. Dari balik kaca jendela hujan turun begitu deras. Akibatnya, hujan itu menambah rasa kantuk semakin bergelayut. Dinginnya udara semakin berasa.
Jujur saja, selama mengikuti dan meliput ujian, saya diliputi rasa kantuk yang luar biasa berat. Mungkin, kantuk itu disebabkan udara yang dingin, ditambah berangkat dari Tangerang pagi buta. Selain itu, saat di stasiun maupun di atas kereta, kami desak-desakan dengan penumpang lain. Jadi sampai di Kota Bogor, kelopak mata dan bola mata tak lagi bersahabat. Ingin rasanya memejamkan mata sejenak dan menikmati sejuknya Kota Bogor.
Saat mata diserang kantuk dan suasana dingin, paling afdol adalah ada teman yang bisa mengusir kantuk sekaligus menghangatkan badan.
“Saya harus keluar mencari kopi di kantin ini,” pikir saya.
Saat saya bilang kepada Pak Mahmudi, bahwa saya terserang kantuk, seketika itu pula salah satu mahasisawa menyahut dan menawarkan produk kopi asli Bogor.
“Nah, ini yang saya tunggu-tunggu,” batin saya.
Dengan kerendahan hati, Husin Alatas, membuka laci dan mengambil kopi simpanannya untuk kami berdua (saya dan pak Mahmudi).
Seketika itu juga, Pak Mahmudi mengambil gelas cangkir dan sendok. Kopi Bah Sipit pun dituangkan dalam gelas dan dianduknya. Saya pun mengikuti gerakan Pak Mahmudi. Saya mengambil gelas cangkir dan menuangkan kopi di dalam cangkir.
Sebelum menuangkan kopi, saya berpikir; apabila saya minum kopi, perut saya bakal kembung. Atau dengan minum kopi, saya harus menanggung konsekwensi bekerja dalam tekanan menahan sakit perut, oh tidak!
Tanpa pikir panjang, bayangan tentang kopi yang bikin kembung perut buyar setelah adukan beberapa kali dan jari telunjuk saya lingkarkan di kuping gelas cangkir, dan mengangkatnya.
Pada sruputan pertama hingga menyentuh ujung lidah, timbul rasa manis dan rasa gurih pun timbul. Dari tegukan pertama sampai tegukan selanjutnya tak ada sinyal yang bakal memberontak dari dalam perut. Kopi Bah Sipit ini berbeda dengan kopi pada umumnya. Apalagi dengan kopi sachet-an. Setelah saya menikmati segelas kopi, Husin Alatas pun dengan bangga bercerita tentang Kopi Bah Sipit. Kopi Bah Sipit ini hanya ada di Bogor, di Jalan Empang, No. 27, Bogor.
“Kopi Bah Sipit ini berbeda dengan kopi-kopi di tempat lain, apalagi kopi sachet-an. Kopi Bah Sipit ini tak perlu pakai pemanis atau gula, rasa kopi sudah manis,” katanya.
Mahasiswa kelahiran Jakarta Timur ini menambahkan, “Kopi Bah Sipit itu manis. Bila Kopi Bah Sipit ini dibiarkan saja tanpa dilipat atau dibungkus, semut bakal datang.” Ia menambahkan, “Yang membedakan lagi adalah kopi ini sangat enak dan bersahabat dengan tenggorokan karena tidak pahit,” pungkasnya. Saya pun mengejar keterangan Husin Alatas di sela-sela ia memasak.
Asumsi saya ini adalah keterangan yang luar biasa lengkap. Ini menarik dan sebagai bahan pengetahuan mengenali produk-produk kopi dari berbagai wilayah lain. Maklumlah, sebagai penikmat kopi amatiran dan penggemar situs minumkopi.com, keterangan-keterangan seperti itu sangat amat penting.
Tanpa terasa, kopi Bah Sipit itupun tandas sebelum ujian selesai. Lambung pun tidak meronta-ronta. Kopi ini memang sangat cocok untuk mengembalikan mata yang sempat sipit karena ngantuk. Dan yang paling penting bagi saya adalah Kopi Bah Sipit aman dan nyaman untuk lambung.[]
Kami di Bogor bukan acara main atau jalan-jalan. Saya di Kota Hujan ini karena ada tugas yang saya laksanakan, yaitu mendokumentasikan ujian Triwulan di salah satu Politeknik, di Bogor tempat mahasiswa melaksanakan ujian. Salah satu yang saya kerjakan adalah meliput dan mengambil gambar; mulai dari persiapan ujian sampai season finishing. Semua didokumentasi melalui gambar, dan sedikit melalui tulisan.
Setelah 3 jam perjalanan, kami sampai di tempat tujuan. Kami pun langsung menikmati suasana di kampus yang terletak di Jalan Bina Marga No. 19. Kami langsung masuk di kelas. Dari balik kaca jendela hujan turun begitu deras. Akibatnya, hujan itu menambah rasa kantuk semakin bergelayut. Dinginnya udara semakin berasa.
Jujur saja, selama mengikuti dan meliput ujian, saya diliputi rasa kantuk yang luar biasa berat. Mungkin, kantuk itu disebabkan udara yang dingin, ditambah berangkat dari Tangerang pagi buta. Selain itu, saat di stasiun maupun di atas kereta, kami desak-desakan dengan penumpang lain. Jadi sampai di Kota Bogor, kelopak mata dan bola mata tak lagi bersahabat. Ingin rasanya memejamkan mata sejenak dan menikmati sejuknya Kota Bogor.
Saat mata diserang kantuk dan suasana dingin, paling afdol adalah ada teman yang bisa mengusir kantuk sekaligus menghangatkan badan.
“Saya harus keluar mencari kopi di kantin ini,” pikir saya.
Saat saya bilang kepada Pak Mahmudi, bahwa saya terserang kantuk, seketika itu pula salah satu mahasisawa menyahut dan menawarkan produk kopi asli Bogor.
“Nah, ini yang saya tunggu-tunggu,” batin saya.
Dengan kerendahan hati, Husin Alatas, membuka laci dan mengambil kopi simpanannya untuk kami berdua (saya dan pak Mahmudi).
Seketika itu juga, Pak Mahmudi mengambil gelas cangkir dan sendok. Kopi Bah Sipit pun dituangkan dalam gelas dan dianduknya. Saya pun mengikuti gerakan Pak Mahmudi. Saya mengambil gelas cangkir dan menuangkan kopi di dalam cangkir.
Sebelum menuangkan kopi, saya berpikir; apabila saya minum kopi, perut saya bakal kembung. Atau dengan minum kopi, saya harus menanggung konsekwensi bekerja dalam tekanan menahan sakit perut, oh tidak!
Tanpa pikir panjang, bayangan tentang kopi yang bikin kembung perut buyar setelah adukan beberapa kali dan jari telunjuk saya lingkarkan di kuping gelas cangkir, dan mengangkatnya.
Pada sruputan pertama hingga menyentuh ujung lidah, timbul rasa manis dan rasa gurih pun timbul. Dari tegukan pertama sampai tegukan selanjutnya tak ada sinyal yang bakal memberontak dari dalam perut. Kopi Bah Sipit ini berbeda dengan kopi pada umumnya. Apalagi dengan kopi sachet-an. Setelah saya menikmati segelas kopi, Husin Alatas pun dengan bangga bercerita tentang Kopi Bah Sipit. Kopi Bah Sipit ini hanya ada di Bogor, di Jalan Empang, No. 27, Bogor.
“Kopi Bah Sipit ini berbeda dengan kopi-kopi di tempat lain, apalagi kopi sachet-an. Kopi Bah Sipit ini tak perlu pakai pemanis atau gula, rasa kopi sudah manis,” katanya.
Mahasiswa kelahiran Jakarta Timur ini menambahkan, “Kopi Bah Sipit itu manis. Bila Kopi Bah Sipit ini dibiarkan saja tanpa dilipat atau dibungkus, semut bakal datang.” Ia menambahkan, “Yang membedakan lagi adalah kopi ini sangat enak dan bersahabat dengan tenggorokan karena tidak pahit,” pungkasnya. Saya pun mengejar keterangan Husin Alatas di sela-sela ia memasak.
Asumsi saya ini adalah keterangan yang luar biasa lengkap. Ini menarik dan sebagai bahan pengetahuan mengenali produk-produk kopi dari berbagai wilayah lain. Maklumlah, sebagai penikmat kopi amatiran dan penggemar situs minumkopi.com, keterangan-keterangan seperti itu sangat amat penting.
Tanpa terasa, kopi Bah Sipit itupun tandas sebelum ujian selesai. Lambung pun tidak meronta-ronta. Kopi ini memang sangat cocok untuk mengembalikan mata yang sempat sipit karena ngantuk. Dan yang paling penting bagi saya adalah Kopi Bah Sipit aman dan nyaman untuk lambung.[]
Wah keren baristanya 😁
BalasHapusHehehe. Iya, tapi tak ada baristanya loh. Hehehe...
BalasHapusLo mcrokhim barista kan? 😂
BalasHapusHahahah. Sa bukan barista, Mas. Sa ini petani di desa loh. Hehehe...
BalasHapusPngen nyobain juga. Untuk penderita maag aman ga sih?
BalasHapusAman mbak. Dulu saya pernah nyoba lambungku gak bermasalah, malah kaya orang haus aja waktu minumnya. 😂
BalasHapusPosting Komentar