Membaca buku Quantum Writer, saya jadi teringat ceramah Ir. Hernowo pada kesempatan Kopdar SPN (Sahabat Pena Nusantara) kedua di Wisma Sargede, Yogjakarta itu. Kala itu, pak Hernowo memaparkan “mahzab” menulis renyah tanpa ada tekanan. Pada segmen demontrasinya, Hernowo memberikan teori—dugaan saya—terjemahan dari beberapa ilmuwan-ilmuwan top dunia. Dari teori yang diterangkan saat itu, menegaskan betapa kuat dan rakusnya ia membaca buku.
Pak Hernowo menekankan menulis bebas. Bebas sebebas-bebasnya. Tanpa adanya intervensi dari manapun dan kapanpun. Kita dibebaskan untuk menggerakkan tangan mengalir bersamaan alunan suara keyboard. Tak harus memikirkan hasil diketikan. Tak pula memikirkan perihal ejaan, tanda bahasa, dan segala peraturan yang sering membelenggu kita saat menulis. Pendeknya, menulis seperti alir mengalir di atas keyboard tanpa mempedulikan tetek bengek perihal peraturan dalam menulis.
Begitupun buku Quantum Writer ini. Buku dari Bobbi DePotter ini memang mengajarkan kita untuk menulis dengan kemampuan kita—tanpa mempedulikan peraturan kepenulisan. Bobbi DePotter merupakan salah seorang pendiri SuperCamp dan Presiden Quantum Learning Network (QLN). Ia menekankan menulis sesuai dengan fill kita. Oleh karena itu, tak berlebihan jika Bobbi DePotter memiliki banyak “murid” yang mengembangkan teori Quantum tersebut, termasuk Hernowo Hasim itu sendiri.
Buku yang berisi 84 halaman ini adalah buku bagus. Bahasa dan penuturannya khas. Jika seseorang yang gagal “move on” menulis, setelah melahap buku tersebut—saya rasa—dia akan langsung nancapkan gas menulis. Begitupun seseorang yang semangat menulisnya kendor atau mengalami penurunan, melalui buku ini ia akan mengaplikasikan dalam wadahnya, laptop maupun kertas. Buku Quantum Writer ini layak dibaca khalayak umum. Saya bisa menjamin setelah membaca buku ini, seseorang akan tersentak dan lari ke belakang—cuci muka—lalu kembali menghadap komputer maupun kertas kosong untuk memulai menulis. Buku ini semacam pelataran seseorang dalam membangun kepercayaan diri dalam menulis.
Buku yang memiliki 10 serial Quantum, salah satunya Quantum Writer ini bakal membantu menghasilkan tulisan—menulis lebih mudah, tanpa stres berlebihan. Teori yang dikembangkan oleh Bobbi DePotter ini terkenal dengan singkatan PAK!. Kita tak asing dengan teori Pak Hernowo dengan AMBaK-nya. Bobbi DePotter menggunakan sistem PAK! akronim dari Pusatkan Pikiran, Atur, Karang, Hebat!
Syarat utam seorang penulis harus mau berpikir—merancang apa yang ingin ditulis. Jika mengacu teori atau sistem yang ditegaskan oleh Bobbi DePotter dengan singkatan PAK! tadi, kita harus berani memusatkan pikiran atau gagasan yang masih “ruwet”. Gagasan yang besar biasanya lahir dari hal-hal yang abstrak. Untuk itu, seorang penulis harus mampu memusatkan pikirannya dari berbagai macam ide dengan poin-poin utama.
Jika ide sudah ditemukan, dipikirkan secepat mungkin ikat dan dituliskan. Entah di kertas kosong, di buku catatan, maupun eksekusi langsung di laptop. Di tahap abstrak ini banyak pokok-pokok ide yang perlu, tentunya, dituliskan—meminjam bahasa Ali bin Abi Thalib mengikatnya—dengan menulis.
Jika memakai sistem PAK! Pusatkan Pikiran tanpa memperhatikan peraturan dalam menulis, seorang penulis tidak akan mengalami tekanan psikologis dalam menulis. Dalam halaman 13 tertuliskan “... setelah memakai sistem kuat ini akan memperbaiki nilai, tidak membuat stres, dan lebih memberimu kendali untuk memiliki cara menghabiskan waktumu.” Dengan teori PAK! mampu membantu kita dalam ketegangan dalam menulis. Tetapi yang tidak kalah penting adalah melakukan latihan secara rutin.
Setelah memusatkan pikiran dan menuliskan secara cepat, sekarang tinggal kita mengerucutkan ke dalam khusus. Artinya kita Atur sesuai dan menata dengan otak kiri kita. Tata tulisanmu dengan menempatkan beberapa pendukung atau data yang sekiranya dibutuhkan. Misalnya, unsur atau ide utama tersebut dengan data pendukung, contoh maupun kesimpulan atau transisi. Jika kita mampu mengatur dan menata tulisan dengan baik, kita tak akan mengalami kesulitan dalam mengarang atau menulis.
Salah satu unsur yang tidak bisa ditinggal adalah kebiasaan. Seseorang yang sudah terbiasa melalui jalan yang setiap hari dilalui, ia tak akan mengalami rintangan yang terlalu. Dia tidak akan menemui hambatan dalam menapaki atau melalui tujuan yang ingin dicapai tersebut. Begitupun menulis, seseorang dibutuhkan pembiasaan yang rutin dilakukan sehari-hari. Harus diajegkan untuk menapaki menulis setiap hari. Rutin.
Hal yang terpenting dihindari saat akan memulai menulis, seorang penulis macam saya adalah menjauhi kritik dalam hati. Saat menulis terkadang dihantui topi kritik—begitu kata Bobbi DePotter—meski topi kritik tersebut sangatlah penting saat menulis. Topi kritik itu penting saat kita memakai topi imajinasi. Setelah topi imajinasi sudah terselesaikan dengan baik, baru topi kritik tersebut saya pakai. Intinya, menulis bebas dan memberdayakan. Begitu kiranya.
Bila sudah diatur gagasan yang telah dipikirkan, saatnya kita menuliskan atau Karang. Apabila ide-ide yang bergelayutan di otak kanan—yang masih belum tertata rapi dengan menuliskan secara cepat—atur dengan baik poin-poin besarnya, sudah waktunya untuk mengarang. Dalam tahap karangnya ini sudah mulai memperhatikan beberapa peraturan dalam kepenulisan. Misalnya ejaan—meski tak terlalu penting—harus diperhatikan. Kenapa tak terlalu penting. Pada tahap ini bukan tahap finising. Masih ada tahap editing yang begitu melelahkan dari pada tahap menulis itu sendiri.
Ada lima teknik yang perlu diperhatikan dalam tahap karang di sini. Pertama yang perlu dikembangkan dalam upaya mencapai hasil yang maksimal adalah gunakan bahasa terkesan alami; kuat dan memikat. Maksudnya, apabila pembaca membaca tulisan kita tanpa sadar mengingatnya. Selanjutnya suara aktif dan pasif. Penting sekali untuk ditekankan menulis memperhatikan kalimat aktif dan pasif. Dengan kalimat aktif dan memperhatikan kalimat pasif, tulisan kita akan terasa hidup dan enak dibaca. Lanjut, bahasa yang digunakan harus spesifik, singkat, jelas dan sederhana. Oleh karena hindari kalimat panjang. Usahakan menggunakan kalimat pendek-pendek. Biar terkesan tidak boros. Jelas dan sederhana. Tak terlalu mendayu-dayu yang tak jelas.
Terakhir adalah !. Tanda seru di sini adalah tindakan Hebat! Dari sistem yang dikenal dengan teori PAK!, Bobbi DePotter berujar dari ejawantah teori PAK! tadi, “hanya kamu yang bisa memutuskan kapan tulisanmu selesai.” Artinya, menulis itu adalah menuangkan huruf demi huruf hingga menjadi kata—yang enak dikunyah dan dirasa—saat menjadi kalimat dan terstruktur menjadi paragraf.
Karena menulis itu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan dengan apa yang kita rasakan. Seperti yang dikatakan oleh James Whitfield Ellison, “Mulailah menulis, jangan berpikir (saja). Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.” []
Pak Hernowo menekankan menulis bebas. Bebas sebebas-bebasnya. Tanpa adanya intervensi dari manapun dan kapanpun. Kita dibebaskan untuk menggerakkan tangan mengalir bersamaan alunan suara keyboard. Tak harus memikirkan hasil diketikan. Tak pula memikirkan perihal ejaan, tanda bahasa, dan segala peraturan yang sering membelenggu kita saat menulis. Pendeknya, menulis seperti alir mengalir di atas keyboard tanpa mempedulikan tetek bengek perihal peraturan dalam menulis.
Begitupun buku Quantum Writer ini. Buku dari Bobbi DePotter ini memang mengajarkan kita untuk menulis dengan kemampuan kita—tanpa mempedulikan peraturan kepenulisan. Bobbi DePotter merupakan salah seorang pendiri SuperCamp dan Presiden Quantum Learning Network (QLN). Ia menekankan menulis sesuai dengan fill kita. Oleh karena itu, tak berlebihan jika Bobbi DePotter memiliki banyak “murid” yang mengembangkan teori Quantum tersebut, termasuk Hernowo Hasim itu sendiri.
Buku yang berisi 84 halaman ini adalah buku bagus. Bahasa dan penuturannya khas. Jika seseorang yang gagal “move on” menulis, setelah melahap buku tersebut—saya rasa—dia akan langsung nancapkan gas menulis. Begitupun seseorang yang semangat menulisnya kendor atau mengalami penurunan, melalui buku ini ia akan mengaplikasikan dalam wadahnya, laptop maupun kertas. Buku Quantum Writer ini layak dibaca khalayak umum. Saya bisa menjamin setelah membaca buku ini, seseorang akan tersentak dan lari ke belakang—cuci muka—lalu kembali menghadap komputer maupun kertas kosong untuk memulai menulis. Buku ini semacam pelataran seseorang dalam membangun kepercayaan diri dalam menulis.
Buku yang memiliki 10 serial Quantum, salah satunya Quantum Writer ini bakal membantu menghasilkan tulisan—menulis lebih mudah, tanpa stres berlebihan. Teori yang dikembangkan oleh Bobbi DePotter ini terkenal dengan singkatan PAK!. Kita tak asing dengan teori Pak Hernowo dengan AMBaK-nya. Bobbi DePotter menggunakan sistem PAK! akronim dari Pusatkan Pikiran, Atur, Karang, Hebat!
Syarat utam seorang penulis harus mau berpikir—merancang apa yang ingin ditulis. Jika mengacu teori atau sistem yang ditegaskan oleh Bobbi DePotter dengan singkatan PAK! tadi, kita harus berani memusatkan pikiran atau gagasan yang masih “ruwet”. Gagasan yang besar biasanya lahir dari hal-hal yang abstrak. Untuk itu, seorang penulis harus mampu memusatkan pikirannya dari berbagai macam ide dengan poin-poin utama.
Jika ide sudah ditemukan, dipikirkan secepat mungkin ikat dan dituliskan. Entah di kertas kosong, di buku catatan, maupun eksekusi langsung di laptop. Di tahap abstrak ini banyak pokok-pokok ide yang perlu, tentunya, dituliskan—meminjam bahasa Ali bin Abi Thalib mengikatnya—dengan menulis.
Jika memakai sistem PAK! Pusatkan Pikiran tanpa memperhatikan peraturan dalam menulis, seorang penulis tidak akan mengalami tekanan psikologis dalam menulis. Dalam halaman 13 tertuliskan “... setelah memakai sistem kuat ini akan memperbaiki nilai, tidak membuat stres, dan lebih memberimu kendali untuk memiliki cara menghabiskan waktumu.” Dengan teori PAK! mampu membantu kita dalam ketegangan dalam menulis. Tetapi yang tidak kalah penting adalah melakukan latihan secara rutin.
Setelah memusatkan pikiran dan menuliskan secara cepat, sekarang tinggal kita mengerucutkan ke dalam khusus. Artinya kita Atur sesuai dan menata dengan otak kiri kita. Tata tulisanmu dengan menempatkan beberapa pendukung atau data yang sekiranya dibutuhkan. Misalnya, unsur atau ide utama tersebut dengan data pendukung, contoh maupun kesimpulan atau transisi. Jika kita mampu mengatur dan menata tulisan dengan baik, kita tak akan mengalami kesulitan dalam mengarang atau menulis.
Salah satu unsur yang tidak bisa ditinggal adalah kebiasaan. Seseorang yang sudah terbiasa melalui jalan yang setiap hari dilalui, ia tak akan mengalami rintangan yang terlalu. Dia tidak akan menemui hambatan dalam menapaki atau melalui tujuan yang ingin dicapai tersebut. Begitupun menulis, seseorang dibutuhkan pembiasaan yang rutin dilakukan sehari-hari. Harus diajegkan untuk menapaki menulis setiap hari. Rutin.
Hal yang terpenting dihindari saat akan memulai menulis, seorang penulis macam saya adalah menjauhi kritik dalam hati. Saat menulis terkadang dihantui topi kritik—begitu kata Bobbi DePotter—meski topi kritik tersebut sangatlah penting saat menulis. Topi kritik itu penting saat kita memakai topi imajinasi. Setelah topi imajinasi sudah terselesaikan dengan baik, baru topi kritik tersebut saya pakai. Intinya, menulis bebas dan memberdayakan. Begitu kiranya.
Bila sudah diatur gagasan yang telah dipikirkan, saatnya kita menuliskan atau Karang. Apabila ide-ide yang bergelayutan di otak kanan—yang masih belum tertata rapi dengan menuliskan secara cepat—atur dengan baik poin-poin besarnya, sudah waktunya untuk mengarang. Dalam tahap karangnya ini sudah mulai memperhatikan beberapa peraturan dalam kepenulisan. Misalnya ejaan—meski tak terlalu penting—harus diperhatikan. Kenapa tak terlalu penting. Pada tahap ini bukan tahap finising. Masih ada tahap editing yang begitu melelahkan dari pada tahap menulis itu sendiri.
Ada lima teknik yang perlu diperhatikan dalam tahap karang di sini. Pertama yang perlu dikembangkan dalam upaya mencapai hasil yang maksimal adalah gunakan bahasa terkesan alami; kuat dan memikat. Maksudnya, apabila pembaca membaca tulisan kita tanpa sadar mengingatnya. Selanjutnya suara aktif dan pasif. Penting sekali untuk ditekankan menulis memperhatikan kalimat aktif dan pasif. Dengan kalimat aktif dan memperhatikan kalimat pasif, tulisan kita akan terasa hidup dan enak dibaca. Lanjut, bahasa yang digunakan harus spesifik, singkat, jelas dan sederhana. Oleh karena hindari kalimat panjang. Usahakan menggunakan kalimat pendek-pendek. Biar terkesan tidak boros. Jelas dan sederhana. Tak terlalu mendayu-dayu yang tak jelas.
Terakhir adalah !. Tanda seru di sini adalah tindakan Hebat! Dari sistem yang dikenal dengan teori PAK!, Bobbi DePotter berujar dari ejawantah teori PAK! tadi, “hanya kamu yang bisa memutuskan kapan tulisanmu selesai.” Artinya, menulis itu adalah menuangkan huruf demi huruf hingga menjadi kata—yang enak dikunyah dan dirasa—saat menjadi kalimat dan terstruktur menjadi paragraf.
Karena menulis itu adalah pekerjaan yang harus dikerjakan dengan apa yang kita rasakan. Seperti yang dikatakan oleh James Whitfield Ellison, “Mulailah menulis, jangan berpikir (saja). Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.” []
Posting Komentar