Siang hari, kira-kira jam 12, saya melakukan perjalanan panjang Prigi-Tulungagung. Perjalanan ini seperti perjalanan biasanya. Memerlukan satu jam perjalanan. Tidak ada yang berbeda dengan perjalanan yang lain. Tidak ada yang mengejutkan dari perjalanan siang itu. Yang spesial, saya yang ditunggu oleh Ela (baca; someone) di perpustakaan daerah Tulungagung. Kami dan beberapa teman yang lain berencana untuk berkunjung di Sendang di tempat Epistemologi anak-anak Fuad, IAIN Tulungagung.
Karena menunggu beberapa teman, kami (saya dan Ela) menunggu di Masjid Jami', Baiturrahman, Kedungwaru, Tulungagung. Karena belum menunaikan shalat dhuhur, saya melaksanakan shalat terlebih dahulu sebelum menluncur ke tempat pelatihan. Selepas shalat, kami memesan bakso di depan masjid--yang kebetulan bakulnya melaksanakan shalat dan istirahat. Kami memesan dua mangkok bakso. Bakso tersebut untuk mengantisipasi dan sekadar mengganjal nabi usus yang meronta-rontan sedari siang. Setelah itu, kami “jual beli” bicara. Kami tenggelam dalam obrolan yang mengarah kepada seluk beluk berjualan bakso.
Penjual bakso itu bernama Jumar. Dia adalah penjual bakso, Arya Malang. Salah satu perusahaan Bakso yang terkenal di Malang. Ketika saya tanya berapa penghasilan setiap harinya. “Tidak tentu, Mas. Tinggal berapa penghasilan yang saya dapat.” Tambahnya, “Penghasilan per hari seperempat dari hasil pendapatan.” Artinya, jika penghasilan dalam sehari seratus ribu, penghasilan bersih dua puluh lima ribu.”< Awalnya, saya memanggilnya Bapak. Eh, ladalah, semakin melebar, dia mengakui bahwa dia masih single, (jawa: Joko), lajang. Belum menikah. Saya pun dengan lancang memberi saran kepada Mas Jumar. Tetapi bukan bermaksud untuk menggurui. Tetapi hanya sekadar memberi masukan yang saya ketahui saja. “Sampeyan boleh jualan keliling bersama gerobak, tetapi kalau bisa, melebarkan sayap di rumah dengan mendirikan warung dekat rumah.” Itung-itung menambah penghasilan mas Jumar. Saya melihat wajahnya, merasa senang dengan saran saya itu. Karena kami mendapat kabar via Whatsapp, kami pun berpamitan dan menyodorkan uang bergambar Pattimura.
Setengah tiga sore. Kami bertujuh menuju ke bukit Sendang. Karena kami bertujuh, Toni, Imron, Khosiyin, Lutfi, Ihsan, saya dan Ela satu rombongan menaik mobil yang dikendarai oleh Toni. Kecamatan Sendang merupakan Kecamatan paling Barat dari Kabupaten Tulungagung. Dan memiliki kontur tanah atau edaerah lebih tinggi di antaranya Kecamatan-Kecamatan Tulungagung yang lain.
Karena jalannya sedikit nanjak dan aspalnya tak begitu rata, ditambah ada mobil pick up mogok di tengah jalan, perjalanan kami di selingi dengan joki-joki khas anak muda dan tak ayal bahasa Maduroan menyelonong dari logat Imron dan Khosiyin. Mereka berdua memang memiliki DNA Meduroan, meski mereka bukan dari daerah Sapeh Kerah. Imron dari Jember, sedangkan Khosiyin dari Probolinggo. Karena logat Meduroan itu kedengaran aneh, kami berlima yang tidak memiliki aksen meduroan, kadang mendengarkan lucu dan sesekali menyela dengan bahasa yang tidak jelas pula. Karena memang aneh dan aneh dialeknya.
Karena kesibukan masing-masing, selepas lulus kuliah, pada kesempatan di perjalanan ini seakan reunian dan nostalgia tak disengaja dibangun. Saya menyebutnya napak tilas bersama teman-teman yang dulu pernah satu angkatan waktu saya kuliah di kawah candradimuka STAIN (sekarang IAIN Tulungagung) di medium 2010.
Perjalanan kurang lebih membutuhkan waktu lenih dari setengah jam dipangkas karena lupa gank jalan masuk, serta parkir mobil yang membutuhkan lahan yang cukup luas dan strategis. Perjalanan itu tak terasa telah sampai di sebelah gank ada benderanya Fakultas Ushuluddin, IAIN Tulungagung. Kami menuju tempat pelatihan epistemologi. Tempatnya di utara jalan, masuk gank yang cukup satu mobil. Di sana ada beberapa peserta atau panitia epistem, saya tak tahu persisnya, yang sedang lalu lalang melakukan aktivitas sore hari.
Kami pun memutuskan mencari parkir mobil, karena halamannya tak begitu luas. Dirasa sudah menemukan parkir yang sesuai, di halaman rumah masyarakat sekitar. Kami menuju di salah satu rumah warga yang cukup luas dengan berjalan kaki. Di teras banyak peserta sedang membentuk kelompok kecil. Saya sangat senang bisa bersua mereka. Karena, saat saya menempuh kuliah di STAIN dahulu, saya belum pernah merasakan pelatihan Epistem seperti ini.
Di sana, saya berkenalan dengan banyak mahasiswa yang tergabung dalam fakultas FUAD (Fakultas Adab dan Dakwah). Ada pak cilik, Firdaus adalah seorang aktivis dari LPM dimensi kampus, ada juga Cak Akhol, saya duga ia adalah tetua dari acara ini. Penggagas atau yang mengisi pelatihan ini. Dan beberapa panitia yang tidak asing dengan wajahnya.
Moment seperti inilah yang saya cari dan rindukan. Saya sangat kangen situasi di mana banyak kegiatan intelektual dan keseriusan dalam belajar. Meski tak ada bangku, papan tulis dan kapur tulis (spidol), melihat wajah-wajah para peserta epistem antusias, saya jadi iri. Ingin belajar dengan mereka.
Tak itu saja, mata saya mencuri situasi yang tak kalah menarik. Ada aktivitas perah susu Sapi dari si empunya rumah. Perah susu Sapi ini menarik perhatian saya untuk mengamati prosesnya yang begitu menggelikan itu. Saya tergerak untuk melihat dengan seksama. Ada Aris Thofira yang tak kalah fokus mengamati dan melihat proses perah tersebut. Saya pun mengambil foto dari beberapa angel sisi. Tak kalah aktivis yang suka memelihara rambut panjang ini juga mengambil gambar dari proses perah itu.
Si pemilik sapi tersebut adalah kakek nenek yang usianya lebih kurang delapan puluhan. Tetapi mereka sangat mahir melakukan perahan di puting sapi. Ada tiga sapi yang di miliki oleh peternak ini. Tetapi yang diperah hanya satu sapi saja. Satu sapi bisa menghasilkan sepuluhan liter dalam sehari.
Saya berasumsi, kandang sapi perah ini harus bersih, karena ketika sedang melakukan aktivitas perah, ya harus bersih dan hasilnya maksimal dan higienis. Akhirnya, kami, termasuk saya memesan satu liter susu sapi asli ini. Kami dijatah empat liter oleh ibu, entah siapa namanya, saya lupa tidak bertanya namanya. Jadi hanya empat pemesan pertama yang berhak mendapat susu murni sapi ini, Aris Thofira, Imron, Khosiyin dan saya. Ini berkat kemahiran Rizal dalam melakukan pendekatannya.
Saya mundur beberapa langkah dan larut dalam obrolan bersama teman-teman di sebelah kiri kandang Sapi itu. Saya benar-benar menghayati dan menikmati napak tilas ini. Beberapa teman saya ini, Imron, Khosiyin dan beberapa teman yang memang, (saat kuliah di strata satu, mereka mengambil aqidah filsafat) sudah tak asing dengan situasi seperti ini. tetapi saya sangat langka moment seperti ini. Karenatipikal penyuka kesunyian dan kesepian, moment tersebut saya niatkan untuk piknik di lembah kaki Gunung Wilis, Sendang.
Saya hanyut dengan nostalgia mereka. Saya mendengarkan apa yang diceritakan oleh teman-teman, dan sesekali saya menyela perbincangan dan obrolan sore itu. Obrolan teman-teman tidak membahas yang berat-berat tentang hakikat dunia atau menyoal realitas. Atau berfilsafat dengan kencang. Tetapi obrolan ringan-ringan. Sesekali nostalgia zaman berkumpul dahulu yang membekas di pikiran dan hati mereka.
Ditambah suasana yang begitu mendukung dan disambut pepohonan yang menghijau, obrolan kami tak terasa hingga sore hari. Kami tenggelam dalam obrolan yang gayeng itu meski bau kotoran sapi tak jadi penghalang. Karena saya memiliki kesibukan yang berbeda dengan mereka kesempatan bersua dengan adik-adik tingkat ini sangat saya manfaatkan dengan baik. Karena nostalgia tak harus dengan pesta yang meriah. Tak harus dengan kue-kue dengan alunan musik yang mendayu. Cukup dengan guyonan-guyonan khas, dipasangkan dengan teh atau kopi dengan cemilan-cemilan seadanya. Ini merupakan kesempatan yang langka bagi saya, yang memang tidak lagi melanjutkan perkuliahan lagi serta sudah lima tahun lebih tidak berkumpul bareng bersama teman-teman anak-anak Ushuluddin IAIN Tulungagung.Rasanya ingin belajar dan kuliah lagi seperti mereka, karena saya masih haus ilmu.
Temeram senja pun memisahkan kita. Kami memutuskan undur turun untuk pulang ke rumahnya masing. Nostalgia yang seperti inilah yang saya kangeni; berkumpul, makan cemilan, dan ngobrol ngalor-ngidul tidak ada ujungnya. Detik tak bisa berdetak kembali dan temeram semakin hilang, kami bertujuh berpamitan untuk pulang, dan saya akan selalu kangen dengan situasi dan keadaan seperti ini.[]
Karena menunggu beberapa teman, kami (saya dan Ela) menunggu di Masjid Jami', Baiturrahman, Kedungwaru, Tulungagung. Karena belum menunaikan shalat dhuhur, saya melaksanakan shalat terlebih dahulu sebelum menluncur ke tempat pelatihan. Selepas shalat, kami memesan bakso di depan masjid--yang kebetulan bakulnya melaksanakan shalat dan istirahat. Kami memesan dua mangkok bakso. Bakso tersebut untuk mengantisipasi dan sekadar mengganjal nabi usus yang meronta-rontan sedari siang. Setelah itu, kami “jual beli” bicara. Kami tenggelam dalam obrolan yang mengarah kepada seluk beluk berjualan bakso.
Penjual bakso itu bernama Jumar. Dia adalah penjual bakso, Arya Malang. Salah satu perusahaan Bakso yang terkenal di Malang. Ketika saya tanya berapa penghasilan setiap harinya. “Tidak tentu, Mas. Tinggal berapa penghasilan yang saya dapat.” Tambahnya, “Penghasilan per hari seperempat dari hasil pendapatan.” Artinya, jika penghasilan dalam sehari seratus ribu, penghasilan bersih dua puluh lima ribu.”< Awalnya, saya memanggilnya Bapak. Eh, ladalah, semakin melebar, dia mengakui bahwa dia masih single, (jawa: Joko), lajang. Belum menikah. Saya pun dengan lancang memberi saran kepada Mas Jumar. Tetapi bukan bermaksud untuk menggurui. Tetapi hanya sekadar memberi masukan yang saya ketahui saja. “Sampeyan boleh jualan keliling bersama gerobak, tetapi kalau bisa, melebarkan sayap di rumah dengan mendirikan warung dekat rumah.” Itung-itung menambah penghasilan mas Jumar. Saya melihat wajahnya, merasa senang dengan saran saya itu. Karena kami mendapat kabar via Whatsapp, kami pun berpamitan dan menyodorkan uang bergambar Pattimura.
Setengah tiga sore. Kami bertujuh menuju ke bukit Sendang. Karena kami bertujuh, Toni, Imron, Khosiyin, Lutfi, Ihsan, saya dan Ela satu rombongan menaik mobil yang dikendarai oleh Toni. Kecamatan Sendang merupakan Kecamatan paling Barat dari Kabupaten Tulungagung. Dan memiliki kontur tanah atau edaerah lebih tinggi di antaranya Kecamatan-Kecamatan Tulungagung yang lain.
Karena jalannya sedikit nanjak dan aspalnya tak begitu rata, ditambah ada mobil pick up mogok di tengah jalan, perjalanan kami di selingi dengan joki-joki khas anak muda dan tak ayal bahasa Maduroan menyelonong dari logat Imron dan Khosiyin. Mereka berdua memang memiliki DNA Meduroan, meski mereka bukan dari daerah Sapeh Kerah. Imron dari Jember, sedangkan Khosiyin dari Probolinggo. Karena logat Meduroan itu kedengaran aneh, kami berlima yang tidak memiliki aksen meduroan, kadang mendengarkan lucu dan sesekali menyela dengan bahasa yang tidak jelas pula. Karena memang aneh dan aneh dialeknya.
Karena kesibukan masing-masing, selepas lulus kuliah, pada kesempatan di perjalanan ini seakan reunian dan nostalgia tak disengaja dibangun. Saya menyebutnya napak tilas bersama teman-teman yang dulu pernah satu angkatan waktu saya kuliah di kawah candradimuka STAIN (sekarang IAIN Tulungagung) di medium 2010.
Perjalanan kurang lebih membutuhkan waktu lenih dari setengah jam dipangkas karena lupa gank jalan masuk, serta parkir mobil yang membutuhkan lahan yang cukup luas dan strategis. Perjalanan itu tak terasa telah sampai di sebelah gank ada benderanya Fakultas Ushuluddin, IAIN Tulungagung. Kami menuju tempat pelatihan epistemologi. Tempatnya di utara jalan, masuk gank yang cukup satu mobil. Di sana ada beberapa peserta atau panitia epistem, saya tak tahu persisnya, yang sedang lalu lalang melakukan aktivitas sore hari.
Kami pun memutuskan mencari parkir mobil, karena halamannya tak begitu luas. Dirasa sudah menemukan parkir yang sesuai, di halaman rumah masyarakat sekitar. Kami menuju di salah satu rumah warga yang cukup luas dengan berjalan kaki. Di teras banyak peserta sedang membentuk kelompok kecil. Saya sangat senang bisa bersua mereka. Karena, saat saya menempuh kuliah di STAIN dahulu, saya belum pernah merasakan pelatihan Epistem seperti ini.
Di sana, saya berkenalan dengan banyak mahasiswa yang tergabung dalam fakultas FUAD (Fakultas Adab dan Dakwah). Ada pak cilik, Firdaus adalah seorang aktivis dari LPM dimensi kampus, ada juga Cak Akhol, saya duga ia adalah tetua dari acara ini. Penggagas atau yang mengisi pelatihan ini. Dan beberapa panitia yang tidak asing dengan wajahnya.
Moment seperti inilah yang saya cari dan rindukan. Saya sangat kangen situasi di mana banyak kegiatan intelektual dan keseriusan dalam belajar. Meski tak ada bangku, papan tulis dan kapur tulis (spidol), melihat wajah-wajah para peserta epistem antusias, saya jadi iri. Ingin belajar dengan mereka.
Tak itu saja, mata saya mencuri situasi yang tak kalah menarik. Ada aktivitas perah susu Sapi dari si empunya rumah. Perah susu Sapi ini menarik perhatian saya untuk mengamati prosesnya yang begitu menggelikan itu. Saya tergerak untuk melihat dengan seksama. Ada Aris Thofira yang tak kalah fokus mengamati dan melihat proses perah tersebut. Saya pun mengambil foto dari beberapa angel sisi. Tak kalah aktivis yang suka memelihara rambut panjang ini juga mengambil gambar dari proses perah itu.
Si pemilik sapi tersebut adalah kakek nenek yang usianya lebih kurang delapan puluhan. Tetapi mereka sangat mahir melakukan perahan di puting sapi. Ada tiga sapi yang di miliki oleh peternak ini. Tetapi yang diperah hanya satu sapi saja. Satu sapi bisa menghasilkan sepuluhan liter dalam sehari.
Saya berasumsi, kandang sapi perah ini harus bersih, karena ketika sedang melakukan aktivitas perah, ya harus bersih dan hasilnya maksimal dan higienis. Akhirnya, kami, termasuk saya memesan satu liter susu sapi asli ini. Kami dijatah empat liter oleh ibu, entah siapa namanya, saya lupa tidak bertanya namanya. Jadi hanya empat pemesan pertama yang berhak mendapat susu murni sapi ini, Aris Thofira, Imron, Khosiyin dan saya. Ini berkat kemahiran Rizal dalam melakukan pendekatannya.
Saya mundur beberapa langkah dan larut dalam obrolan bersama teman-teman di sebelah kiri kandang Sapi itu. Saya benar-benar menghayati dan menikmati napak tilas ini. Beberapa teman saya ini, Imron, Khosiyin dan beberapa teman yang memang, (saat kuliah di strata satu, mereka mengambil aqidah filsafat) sudah tak asing dengan situasi seperti ini. tetapi saya sangat langka moment seperti ini. Karenatipikal penyuka kesunyian dan kesepian, moment tersebut saya niatkan untuk piknik di lembah kaki Gunung Wilis, Sendang.
Saya hanyut dengan nostalgia mereka. Saya mendengarkan apa yang diceritakan oleh teman-teman, dan sesekali saya menyela perbincangan dan obrolan sore itu. Obrolan teman-teman tidak membahas yang berat-berat tentang hakikat dunia atau menyoal realitas. Atau berfilsafat dengan kencang. Tetapi obrolan ringan-ringan. Sesekali nostalgia zaman berkumpul dahulu yang membekas di pikiran dan hati mereka.
Ditambah suasana yang begitu mendukung dan disambut pepohonan yang menghijau, obrolan kami tak terasa hingga sore hari. Kami tenggelam dalam obrolan yang gayeng itu meski bau kotoran sapi tak jadi penghalang. Karena saya memiliki kesibukan yang berbeda dengan mereka kesempatan bersua dengan adik-adik tingkat ini sangat saya manfaatkan dengan baik. Karena nostalgia tak harus dengan pesta yang meriah. Tak harus dengan kue-kue dengan alunan musik yang mendayu. Cukup dengan guyonan-guyonan khas, dipasangkan dengan teh atau kopi dengan cemilan-cemilan seadanya. Ini merupakan kesempatan yang langka bagi saya, yang memang tidak lagi melanjutkan perkuliahan lagi serta sudah lima tahun lebih tidak berkumpul bareng bersama teman-teman anak-anak Ushuluddin IAIN Tulungagung.Rasanya ingin belajar dan kuliah lagi seperti mereka, karena saya masih haus ilmu.
Temeram senja pun memisahkan kita. Kami memutuskan undur turun untuk pulang ke rumahnya masing. Nostalgia yang seperti inilah yang saya kangeni; berkumpul, makan cemilan, dan ngobrol ngalor-ngidul tidak ada ujungnya. Detik tak bisa berdetak kembali dan temeram semakin hilang, kami bertujuh berpamitan untuk pulang, dan saya akan selalu kangen dengan situasi dan keadaan seperti ini.[]
Posting Komentar