Sore itu tak seperti biasanya. Segala aktivitas terhalang oleh hujan yang turun sedari siang. Sore pun tak ada kegiatan. Hanya--paling tidak--leyeh-leyeh, tidur atau menonton televisi. Tidak lebih dari itu.
Betapa tidak. Semua aktivitas yang sudah tersusun dengan rapi harus tertunda karena hujan dengan intensitas tak terlalu tinggi tetapi lama, hingga malam. Sembari menunggu hujan reda, kalau tidak tiduran, sebagaimana saya katakan di atas, paling enak ya menikmati cemilan; gorengan, menghitung air yang turun, mengenang masa lalu bersama mantan-mantan. Mengenang kembali peristiwa bersama mantan saat hujan turun ibarat membaca novel berulang-ulang dan endingnya tetap nyesek di hati.
Oh iya, ngomong-ngomong tentang novel, saya membaca novel yang inspiratif lagi nyesek di hati. Bukan roman picisan yang saya baca, tetapi novel yang bercerita tentang pencarian jati diri dan memaknai setiap ritme perjalanan diri serta hadirnya kisah cinta yang dulu pernah ada. Jika diibaratkan, ya seperti hujan yang jatuhnya seperti itu.
Novel itu berjudul Writer and Editor terbitan Gramedia yang ditulis Ria N. Badaria. Ria--sebutan akrabnya--memainkan peran seorang tokoh utama bernama Nuna R. Mirja. Seorang gadis yang baru saja selesai lulus sekolah. Ia mempunyai cita-cita sebagai seorang penulis. Namun Tuhan berkata lain. Sembari menulis naskah, ia bekerja di salah satu swalayan dekat rumahnya. Nuna menikmati hari-harinya dengan menjumpai orang-orang yang sebelumnya belum ditemui. Sehingga banyak pergulatan yang dilalui selama menjadi pelayan di sebuah toko swalayan itu.
Selama menjalani hidup sebagai seorang pelayan, ia juga menulis sebuah naskah sebuah buku. Beberapa kali naskah tersebut sudah dikirimkan ke penerbit namun menemui penolakan. Penolakan tersebut menjadikan ia semakin besar pula semakin tangguh. Tak disangka, ia mendapat kiriman surat dari editor sebuah penerbitan. Nuna pun senang sekali menerima surat itu. Tetapi bukan berita baik yang didapat. Penerbit tersebut meminta naskah tersebut untuk diubah ini itu. Sampai Nuna mengalami tekanan secara psikologis. Meski demikian, ia tetap menuruti keinginan editor tersebut. Ia menyangka bahwa penulis itu kerjaannya menulis. Setelah itu bukunya beredar di toko-toko, termasuk di stand toko buku tempat dirinya bekerja.
Seperti pepatah populer kita dengar, hidup terkadang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Nuna di atasSeperti yang dikisahkan oleh Ria N. Badaria. Sekalipun sudah diplanning, menjalani hidup ternyata tak semudah membalikkan kepingan mata uang logam. Ternyata Tuhan adalah penulis sejati dari setiap makhluknya.
Dari cerita novel di atas, tak sedikit cerita hidup seseorang yang yang telah melenceng jauh dari rencana hidup. Saya memiliki cerita yang tak kalah menarik dari cerita novel tersebut. Siapkan loyang biar air mata tak mengalir kemana-mana. Ini cerita sedih tetapi jangan terlalu diambil hati loh, takutnya kalau tak sedih sampeyan semua jadi kecil hati, menggugat, apalagi yang lebih parah menghujat. Namanya melenceng tentu tak ada keunikan atau kelucuan. Semua datar-datar saja tentunya.
Alkisah, seorang teman yang sejak kecil memiliki cita-cita sebagai prajurit kemiliteran, Tentara Republik Indonesia (TNI), ia sudah mempersiapkan dirinya dengan berlatih fisik. Setiap hari, pagi dan sore, ia berlari dengan durasi dan jarak yang lumayan jauh. Tetapi setelah fisiknya dirasa cukup ternyata ia menderita penyakit hernia. Ia pun mengurungkan niatnya untuk daftar di pasukan TNI.
Cita-cita sedari kecil sudah pupus meski ada harapan untuk tetap di jalur pendaftaran sekaligus ada kans untuk lolos, yaitu ia harus mengoperasi penyakit tersebut. Teman saya satu ini termasuk keluarga sederhana. Operasional tersebut ia urungkan, karena biaya untuk mengobati penyakit hernia tersebut tidak sedikit. Untuk itulah ia menanggalkan cita-cita tersebut.
Kemudian, ia melanjutkan sekolah dengan masuk di perguruan tinggi. Ia sejatinya memiliki darah di olahraga, tetapi ia masuk di perguruan di jurusan psikologis. Ia pun gundah dengan jurusan yang diambilnya. Setelah ia menikmati hari-harinya dengan kegundahan hati di jurusan psikologis, ia membulatkan tekad untuk keluar, meninggalkan jurusan tersebut kemudian ia mendaftar dirinya di perguruan tinggi mengambil jurusan olahraga.
Saat ditanya kenapa ia meninggalkan kampus psikologis, ia menjawab, "ya, bagaimana saya tidak gundah. Saya saja kalau mempunyai masalah, saya biasanya pusing sendiri," jawabnya.
Memang benar. Hidup terkadang tak sesuai dengan apa yang diharapkan dan direncanakan oleh manusia. Sekalipun manusia, Tuhan adalah penulis sejati dalam kehidupan manusia tersebut. Kembali ke cerita tersebut, setelah menikmati hari-hari dengan kegundahan hati yang diatasi dengan olahraga kesukaan, yakni sepak bola. Ia ternyata dominan curhat dengan tulisan. Artinya, ia menuliskan kegelisahannya dengan tulisan. Ia pun sekarang memiliki cita-cita sebagai penulis. Sekarang ia intens dengan dunia tulis-menulis. Setiap hari, ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku; apapun bukunya. Ia pun senang sekali jika bercerita dan menggali informasi tentang menulis. Jika bercanda dan ngobrol dengan sesama penulis senangnya minta ampun. Pelencengan rencana hidup yang dilalui oleh seorang Nuna R. Mirja--sebagaimana dalam novel Ria N. Badaria merupakan "pelencengan rencana hidup".
Semua orang tidak akan pernah tahu dengan apa yang ada di depan. Sebagai manusia, kita boleh berencana tetapi tuhan yang menentukan. Oleh karena itu, manusia hanya berikhtiar, berusaha, ijtihad, berdoa dan melaksanakan rencana dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Apapun namanya, termasuk manusia menganggapnya pelencengan rencana hidup, tetapi Tuhan tahu itu yang terbaik bagi makhluknya. Wallahualam Bishowab.[]
Betapa tidak. Semua aktivitas yang sudah tersusun dengan rapi harus tertunda karena hujan dengan intensitas tak terlalu tinggi tetapi lama, hingga malam. Sembari menunggu hujan reda, kalau tidak tiduran, sebagaimana saya katakan di atas, paling enak ya menikmati cemilan; gorengan, menghitung air yang turun, mengenang masa lalu bersama mantan-mantan. Mengenang kembali peristiwa bersama mantan saat hujan turun ibarat membaca novel berulang-ulang dan endingnya tetap nyesek di hati.
Oh iya, ngomong-ngomong tentang novel, saya membaca novel yang inspiratif lagi nyesek di hati. Bukan roman picisan yang saya baca, tetapi novel yang bercerita tentang pencarian jati diri dan memaknai setiap ritme perjalanan diri serta hadirnya kisah cinta yang dulu pernah ada. Jika diibaratkan, ya seperti hujan yang jatuhnya seperti itu.
Novel itu berjudul Writer and Editor terbitan Gramedia yang ditulis Ria N. Badaria. Ria--sebutan akrabnya--memainkan peran seorang tokoh utama bernama Nuna R. Mirja. Seorang gadis yang baru saja selesai lulus sekolah. Ia mempunyai cita-cita sebagai seorang penulis. Namun Tuhan berkata lain. Sembari menulis naskah, ia bekerja di salah satu swalayan dekat rumahnya. Nuna menikmati hari-harinya dengan menjumpai orang-orang yang sebelumnya belum ditemui. Sehingga banyak pergulatan yang dilalui selama menjadi pelayan di sebuah toko swalayan itu.
Selama menjalani hidup sebagai seorang pelayan, ia juga menulis sebuah naskah sebuah buku. Beberapa kali naskah tersebut sudah dikirimkan ke penerbit namun menemui penolakan. Penolakan tersebut menjadikan ia semakin besar pula semakin tangguh. Tak disangka, ia mendapat kiriman surat dari editor sebuah penerbitan. Nuna pun senang sekali menerima surat itu. Tetapi bukan berita baik yang didapat. Penerbit tersebut meminta naskah tersebut untuk diubah ini itu. Sampai Nuna mengalami tekanan secara psikologis. Meski demikian, ia tetap menuruti keinginan editor tersebut. Ia menyangka bahwa penulis itu kerjaannya menulis. Setelah itu bukunya beredar di toko-toko, termasuk di stand toko buku tempat dirinya bekerja.
Seperti pepatah populer kita dengar, hidup terkadang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Nuna di atasSeperti yang dikisahkan oleh Ria N. Badaria. Sekalipun sudah diplanning, menjalani hidup ternyata tak semudah membalikkan kepingan mata uang logam. Ternyata Tuhan adalah penulis sejati dari setiap makhluknya.
Dari cerita novel di atas, tak sedikit cerita hidup seseorang yang yang telah melenceng jauh dari rencana hidup. Saya memiliki cerita yang tak kalah menarik dari cerita novel tersebut. Siapkan loyang biar air mata tak mengalir kemana-mana. Ini cerita sedih tetapi jangan terlalu diambil hati loh, takutnya kalau tak sedih sampeyan semua jadi kecil hati, menggugat, apalagi yang lebih parah menghujat. Namanya melenceng tentu tak ada keunikan atau kelucuan. Semua datar-datar saja tentunya.
Alkisah, seorang teman yang sejak kecil memiliki cita-cita sebagai prajurit kemiliteran, Tentara Republik Indonesia (TNI), ia sudah mempersiapkan dirinya dengan berlatih fisik. Setiap hari, pagi dan sore, ia berlari dengan durasi dan jarak yang lumayan jauh. Tetapi setelah fisiknya dirasa cukup ternyata ia menderita penyakit hernia. Ia pun mengurungkan niatnya untuk daftar di pasukan TNI.
Cita-cita sedari kecil sudah pupus meski ada harapan untuk tetap di jalur pendaftaran sekaligus ada kans untuk lolos, yaitu ia harus mengoperasi penyakit tersebut. Teman saya satu ini termasuk keluarga sederhana. Operasional tersebut ia urungkan, karena biaya untuk mengobati penyakit hernia tersebut tidak sedikit. Untuk itulah ia menanggalkan cita-cita tersebut.
Kemudian, ia melanjutkan sekolah dengan masuk di perguruan tinggi. Ia sejatinya memiliki darah di olahraga, tetapi ia masuk di perguruan di jurusan psikologis. Ia pun gundah dengan jurusan yang diambilnya. Setelah ia menikmati hari-harinya dengan kegundahan hati di jurusan psikologis, ia membulatkan tekad untuk keluar, meninggalkan jurusan tersebut kemudian ia mendaftar dirinya di perguruan tinggi mengambil jurusan olahraga.
Saat ditanya kenapa ia meninggalkan kampus psikologis, ia menjawab, "ya, bagaimana saya tidak gundah. Saya saja kalau mempunyai masalah, saya biasanya pusing sendiri," jawabnya.
Memang benar. Hidup terkadang tak sesuai dengan apa yang diharapkan dan direncanakan oleh manusia. Sekalipun manusia, Tuhan adalah penulis sejati dalam kehidupan manusia tersebut. Kembali ke cerita tersebut, setelah menikmati hari-hari dengan kegundahan hati yang diatasi dengan olahraga kesukaan, yakni sepak bola. Ia ternyata dominan curhat dengan tulisan. Artinya, ia menuliskan kegelisahannya dengan tulisan. Ia pun sekarang memiliki cita-cita sebagai penulis. Sekarang ia intens dengan dunia tulis-menulis. Setiap hari, ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku; apapun bukunya. Ia pun senang sekali jika bercerita dan menggali informasi tentang menulis. Jika bercanda dan ngobrol dengan sesama penulis senangnya minta ampun. Pelencengan rencana hidup yang dilalui oleh seorang Nuna R. Mirja--sebagaimana dalam novel Ria N. Badaria merupakan "pelencengan rencana hidup".
Semua orang tidak akan pernah tahu dengan apa yang ada di depan. Sebagai manusia, kita boleh berencana tetapi tuhan yang menentukan. Oleh karena itu, manusia hanya berikhtiar, berusaha, ijtihad, berdoa dan melaksanakan rencana dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Apapun namanya, termasuk manusia menganggapnya pelencengan rencana hidup, tetapi Tuhan tahu itu yang terbaik bagi makhluknya. Wallahualam Bishowab.[]
Huft. Seloyang ir mata gegara mantan? Enggak lah yauuw...itu melenceng dari rencanaku untuk move on...ahhaaiiii
BalasHapusHiks hiks. Buat panjenengan ibu agustina gak usah pake loyang. Ini bu ada tisu. Hiks hiks... mantan itu ibarat membaca novel...
BalasHapusKataku malah begini, Lencengkan arah tujuan hidupmu sejauh-jauhnya supaya kamu paham, arah lencengan mana yang paling baik buat hidupmu.
BalasHapusNggeh mas Terigus, terimakasih atas secutan semangatnya. Terkadang lencengan itu dari passion kita.
BalasHapusPosting Komentar