Letaknya tidak jauh dari tempat kerja. Hanya perlu beberapa langkah untuk menjangkau. Kira-kira meluangkan waktu setengah menit; ayunan tangan dan kaki dengan gerak ritmis, dua puluh langkah dari tempat duduk saya biasa, lalu belok kiri masuk ruangan tempat itu maka menu-menu bakal bisa pesan. Hemat kalimat, rumah makan itu bersebelahan dengan kantor saya, hanya terpisah oleh tembok penyekat atau orang Jawa menyebut gandeng gedek (bambu yang dianyam). Kalaupun pesan bisa diantar dan tak menunggu lama, dan tak perlu menyewa aplikasi online semacam go-food atau lainnya.
Meski berdekatan dan bersebelahan, saya merasakan betul kehidupan masyarakat modern yang beku itu, apalagi kalau bukan individualistik dan tak bertetangga itu. Pasalnya, meski berdekatan bukan jaminan saling kenal. Hanya lempar sapa, mangga saat papasan dan tidak tahu nama satu sama yang lain. Rasanya begitu aneh dan beku dunia ini. Semua serba rutinitas belaka, tak ada interaksi dan obrolan hangat seperti di warung-warung di desa, yang menghadirkan obrolan dan tawar-menawar. Ah, ini urusan perut kenapa dibawa-bawa di ranah sosial kultur? Kurang kerjaan aja.
***
Lokasinya Kompleks Ruko BSD, sektor 7, di Jalan Pahlawan Seribu, Blok 30, Serpong, Tangerang. Nama tempat makan tersebut adalah Resto Andatu. Bagi saya nama Resto Andatu ini mengisyaratkan dengan sebuah kata perintah atau kata tunjuk. "Anda tuh harus mampir ke sini," batin saya.
Namun Anda tak perlu menanggapi isyarat saya tadi. Rasa memang urusan domestik. Soal rasa tak ada yang mampu memanipulasi. Jika lidah merasakan (ke)hambar(an), maka ia memerintah mulut berujar bahwa rasa itu memang hambar (plain). Jika lidah merasakan (ke)pedas(an), maka secara otomatis saraf akan mengirimkan perintahnya ke mata, dan saat itu juga air mata keluar dari sela-sela mata dan badan berkeringat. Itulah rasa, begitu sensitif.
Resto Andatu menyuguhkan menu-menu tradisional. Resto ini merupakan tempat yang dicari oleh masyarakat sekitar kompleks Sektor BSD atau orang-orang telah menjadi pelanggan terhadap menu Tradisional Indonesia. Resto Andatu tidak pernah sepi pengunjung. Pagi, siang, sore bahkan malam, pengunjung hilir mudik menikmati suguhan resto Andatu. Buka Resto Andatu buka setiap hari, mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul sembilan malam.
Pada siang yang cerah di langit BSD. Saat kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kami diajak dan ditawari makan siang oleh Bu Owner Sekolah Kuliner. Bukannya langsung menjawab iya namun yang ada malah perasaan riuh rendah dalam lubuk hati tentang ke-tidak-enak-hati-an.
Perasaan dilema menghalangi tawaran itu. Bahwa menerima atau berkata tidak adalah problem eksternal saat itu. Namun ini adalah kesempatan yang pertama (kalau tiadak salah) mendapat traktiran. Jadi, saya harus berbesar hati dan menerima ajakan makan siang bersama itu.
Sebagai orang yang merantau di kota besar dengan kebutuhan pokok, terutama merupakan hal yang utama, di sisi kebutuhan lainnya. Lantas, ditolak itu sama saja kufur nikmat atau anak tidak mau diuntung. Seorang teman mengatakan "kalau diajak makan ya, diterima saja. Kan, nggak ditawari nyolong," kata Chef Mahmudi.
Tanpa pikir panjang, kami berenam (saya, Mahmudi, Taufik, Ella, Bu Ira dan Bu Chize) berkumpul. Karena saya dan Ella datang belakangan, maka kami tak semeja dengan mereka. Kami pesan sesuai dengan menu favorit masing-masing. Saya pesan Nasi Timbal Paket A dengan minuman Es Campur, Hosana. Sementara Ella pesan Rawon. Menu masakan yang difasilitasi tempat yang antik itu dan kuah yang keruh kehitam-hitaman itu, Ella nampak begitu lahap menikmati rawon itu.
Di Resto Andatu sediakan banyak menu tradisional. Nasi Timbal misalnya, ada tiga pilihan dengan varian harga yang berbeda. Nasi Timbal Komplit yang apaket A itu terdiri dari nasi pulen yang terbungkus daun pisang. Sehingga ada rasa khas pada nasi. Nasi timbel atau dalam bahasa Sunda sangu timeul adalah masakan Sunda yang populer di Jawa Barat dan Banten. Makanan ini biasanya terbuat dari beras bagolo atau beras merah campuran yang dimasak dengan bungkus daun pisang. Nasi ini sangat cocok saat perut mulai lapar. Karena pulen, sehingga makan sedikit pun tetap terasa kenyang. Apalagi berbagai macam lalapnya membuatnya menu ini jadi komplit.
Nasi Timbal Paket A dengan harga 22.000, menu yang ditawarkan di antaranya; nasi, ayam goreng/ bakar, tempe, tahu, lalapan dan sambal terasi. Sementara Nasi Timbal paket B, melengkapi paket A dengan tambahan pete dan ikan asih. Sedangkan Nasi Timbal Paket Komplit, dari paket B ditambah menu sayur asem dan empal gepuk. Tentu dengan harga yang lumayan murah, yakni 42.000.
Diselingi dengan menu dessert Es Hosana yang warnanya begitu menggoda. Menikmati makan siang dengan ruangan ber-AC dan hening serasa begitu nikmat. Tidak terasa selang setengah jam, di tengah saya menikmati berdua, satu meja dengan Ella, mereka pamit.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah makan itu, Bu Owner bilang, ya, disampaikan saja. Saya tak tahu apa maksud ungkapan tersebut? Setelah ia bener-bener keluar ruangan rumah makan itu, Mahmudi memberi tahu bahwa yang dimaksud ibunya tadi adalah, nanti disampaikan saja terima kasih. Itu adat dalam masyarakat Chinese, ujar chef Mahmudi. Dari ungkap itulah, perasaan tidak enak hati pada bu Owner terjadi beneran. Sehingga suatu saat, apabila ada tawaran makan bersama, saya sudah pasti lantang berujar, Terima Kasih Banyak, Bu atas teraktirannya.
Tulisan ini merupakan salah satu ungkapan terima kasih yang tak terhingga dari saya kepada Bu Chize yang berada di Tangerang. Salah satu Owner, sekolah kuliner, Tristar Institute BSD. Semoga Bu Chize baik-baik saja. Amin....
Meski berdekatan dan bersebelahan, saya merasakan betul kehidupan masyarakat modern yang beku itu, apalagi kalau bukan individualistik dan tak bertetangga itu. Pasalnya, meski berdekatan bukan jaminan saling kenal. Hanya lempar sapa, mangga saat papasan dan tidak tahu nama satu sama yang lain. Rasanya begitu aneh dan beku dunia ini. Semua serba rutinitas belaka, tak ada interaksi dan obrolan hangat seperti di warung-warung di desa, yang menghadirkan obrolan dan tawar-menawar. Ah, ini urusan perut kenapa dibawa-bawa di ranah sosial kultur? Kurang kerjaan aja.
***
Lokasinya Kompleks Ruko BSD, sektor 7, di Jalan Pahlawan Seribu, Blok 30, Serpong, Tangerang. Nama tempat makan tersebut adalah Resto Andatu. Bagi saya nama Resto Andatu ini mengisyaratkan dengan sebuah kata perintah atau kata tunjuk. "Anda tuh harus mampir ke sini," batin saya.
Namun Anda tak perlu menanggapi isyarat saya tadi. Rasa memang urusan domestik. Soal rasa tak ada yang mampu memanipulasi. Jika lidah merasakan (ke)hambar(an), maka ia memerintah mulut berujar bahwa rasa itu memang hambar (plain). Jika lidah merasakan (ke)pedas(an), maka secara otomatis saraf akan mengirimkan perintahnya ke mata, dan saat itu juga air mata keluar dari sela-sela mata dan badan berkeringat. Itulah rasa, begitu sensitif.
Resto Andatu menyuguhkan menu-menu tradisional. Resto ini merupakan tempat yang dicari oleh masyarakat sekitar kompleks Sektor BSD atau orang-orang telah menjadi pelanggan terhadap menu Tradisional Indonesia. Resto Andatu tidak pernah sepi pengunjung. Pagi, siang, sore bahkan malam, pengunjung hilir mudik menikmati suguhan resto Andatu. Buka Resto Andatu buka setiap hari, mulai pukul 08.00 pagi sampai pukul sembilan malam.
Pada siang yang cerah di langit BSD. Saat kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kami diajak dan ditawari makan siang oleh Bu Owner Sekolah Kuliner. Bukannya langsung menjawab iya namun yang ada malah perasaan riuh rendah dalam lubuk hati tentang ke-tidak-enak-hati-an.
Perasaan dilema menghalangi tawaran itu. Bahwa menerima atau berkata tidak adalah problem eksternal saat itu. Namun ini adalah kesempatan yang pertama (kalau tiadak salah) mendapat traktiran. Jadi, saya harus berbesar hati dan menerima ajakan makan siang bersama itu.
Sebagai orang yang merantau di kota besar dengan kebutuhan pokok, terutama merupakan hal yang utama, di sisi kebutuhan lainnya. Lantas, ditolak itu sama saja kufur nikmat atau anak tidak mau diuntung. Seorang teman mengatakan "kalau diajak makan ya, diterima saja. Kan, nggak ditawari nyolong," kata Chef Mahmudi.
Tanpa pikir panjang, kami berenam (saya, Mahmudi, Taufik, Ella, Bu Ira dan Bu Chize) berkumpul. Karena saya dan Ella datang belakangan, maka kami tak semeja dengan mereka. Kami pesan sesuai dengan menu favorit masing-masing. Saya pesan Nasi Timbal Paket A dengan minuman Es Campur, Hosana. Sementara Ella pesan Rawon. Menu masakan yang difasilitasi tempat yang antik itu dan kuah yang keruh kehitam-hitaman itu, Ella nampak begitu lahap menikmati rawon itu.
Di Resto Andatu sediakan banyak menu tradisional. Nasi Timbal misalnya, ada tiga pilihan dengan varian harga yang berbeda. Nasi Timbal Komplit yang apaket A itu terdiri dari nasi pulen yang terbungkus daun pisang. Sehingga ada rasa khas pada nasi. Nasi timbel atau dalam bahasa Sunda sangu timeul adalah masakan Sunda yang populer di Jawa Barat dan Banten. Makanan ini biasanya terbuat dari beras bagolo atau beras merah campuran yang dimasak dengan bungkus daun pisang. Nasi ini sangat cocok saat perut mulai lapar. Karena pulen, sehingga makan sedikit pun tetap terasa kenyang. Apalagi berbagai macam lalapnya membuatnya menu ini jadi komplit.
Nasi Timbal Paket A dengan harga 22.000, menu yang ditawarkan di antaranya; nasi, ayam goreng/ bakar, tempe, tahu, lalapan dan sambal terasi. Sementara Nasi Timbal paket B, melengkapi paket A dengan tambahan pete dan ikan asih. Sedangkan Nasi Timbal Paket Komplit, dari paket B ditambah menu sayur asem dan empal gepuk. Tentu dengan harga yang lumayan murah, yakni 42.000.
Diselingi dengan menu dessert Es Hosana yang warnanya begitu menggoda. Menikmati makan siang dengan ruangan ber-AC dan hening serasa begitu nikmat. Tidak terasa selang setengah jam, di tengah saya menikmati berdua, satu meja dengan Ella, mereka pamit.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah makan itu, Bu Owner bilang, ya, disampaikan saja. Saya tak tahu apa maksud ungkapan tersebut? Setelah ia bener-bener keluar ruangan rumah makan itu, Mahmudi memberi tahu bahwa yang dimaksud ibunya tadi adalah, nanti disampaikan saja terima kasih. Itu adat dalam masyarakat Chinese, ujar chef Mahmudi. Dari ungkap itulah, perasaan tidak enak hati pada bu Owner terjadi beneran. Sehingga suatu saat, apabila ada tawaran makan bersama, saya sudah pasti lantang berujar, Terima Kasih Banyak, Bu atas teraktirannya.
Tulisan ini merupakan salah satu ungkapan terima kasih yang tak terhingga dari saya kepada Bu Chize yang berada di Tangerang. Salah satu Owner, sekolah kuliner, Tristar Institute BSD. Semoga Bu Chize baik-baik saja. Amin....
Posting Komentar