Kecamatan Watulimo merupakan point view-nya wisata air di Kabupaten Trenggalek. Wisata yang terkenal tentunya wisata air, dengan beberapa Pantai yang memanjang di garis bibir Teluk Prigi. Pantai Pasir Putih, Pantai Prigi dan pantai Cengkrong dengan ikon tumbuhan Mangrove atau lebih dikenal Jembatan Galau merupakan tempat wisata yang paling moncer di kawasan Watulimo.
Jika bicara tentang Pantai, tak sekadar Pasir Putih dan Cengkrong. Di Kecamatan Watulimo ada pantai yang belum tersentuh oleh masyarakat luar maupun warga sekitar Watulimo sendiri. Pantainya masih asri. Selain Pantai Watulunyu, Pantai Cilik atau pantai Bango’an, pantai di Barat Pantai Damas ini tak kalah mengagumkan.
Sebagaimana nama-nama pantai di atas, pantai yang baru saya dengar—barangkali juga kalian semua—dan saya baru mendaratkan kaki pada sore itu. Pantai tersebut adalah Pantai Tiluh. Sebuah nama yang asing dan jarang dilafadkan oleh masyarakat sekitar saya.< Bagi masyarakat Watulimo tak banyak yang mengetahui Pantai Tiluh ini. Pantai Tiluh sendiri terletak di ujung Pantai Damas. Lokasinya bersebelahan dengan Pantai Wonojoyo, salah satu pantai di Karanggandu, tentunya selain Pantai Damas sendiri. Sebagai informasi, di Pantai Damas telahh banyak dihuni oleh masyarakat, baik pendatang maupun penduduk setempat. Ada puluhan Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di pesisir Damas ini. Sebelum bercerita panjang lebar tentang Pantai Tiluh, pantai sebelah Barat Pantai Damas, Desa Karanggandu ini, kami (bertiga) meluncur dari arah yang berbeda. Saya mengawali perjalanan dari rumah, sementara mereka (Surur dan Trigus) dari Desa Slawe, (salah satu Desa yang ada di Kecamatan Watulimo). Saya dipesan via SMS. Bahwa ia menunggu saya di Pantai Damas. Namun faktanya terbalik. Saya yang malah menunggu. Saya menunggu beberapa menit sebelum mereka menampakkan batang hidung dan menyapa.
Setelah lama saya tunggu beberapa menit (sekitar setengah jam), ternyata mereka telah duluan sampai. Mereka singgah di salah satu warung milik warga, dan mencari informasi tentang letak dan arah menuju Pantai Tiluh.
Setelah merasa arah-arah sudah bisa dimengerti dan ‘bekal’ ngopi sudah tandasa, maka kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi Pantai Tiluh. Perjalanan itu ke arah Barat. Sebelumnya kami harus menyisir Pantai Damas dengan medan tanah bercampur pasir. Sehingga ban motor kami agak berat dan sendat-sendat. Sampai di ujung Pantai Damas (bukan ujung Pantai) kami belok ke Utara melewati jembatan Mangrove. Jembatan yang kami lewati dibuat dari kayu yang dipaku seadanya, sebab tak terlalu dirawat. Saat kami dilewati keluar bunyi.
Perjalanan menuju Pantai Tiluh sangat menguras tenaga dan dibutuhkan kehati-hatian. Pasalnya kontur tanahnya berpasir bercampur tanah mengakibatkan jalan menjadi ledok gedeng (berlubang-lubang), sehingga motor berat untuk melaju. Ini merupakan satu-satunya akses para petani menuju ladang atau hutan Damas. Namun sedikit terbantu kendaraan para petani memakai ban roda tracak.
Di Pantai Damas pohon kelapa milik masih tumbuh. Selepas melwati jembatan itu, di selatan jalan tumbuh tanaman Mangrove. Ini merupakan salah satu peninggalan POKMASWAS dahulu yang menanam pohon penahan abrasi laut. Sebelah selatannya Mangrove ada terusan sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Tumbuhan petani yang berada di sisi utara dikerumuni semak-semak belukar.
Semakin ke Barat kontur tanah sedikit lubang-lubang. Kami lewat dua jembatan lagi. Kami menemui jalan yang lumayan mudah—jalan rabat dengan lebar setengah meter. Jalan inilah—yang menurut pemilik warung tadi—merupakan salah satu jalan menuju Pantai Tiluh. Menurutnya, letaknya di totokan (ujung) jalan rabat.
Di pantai sebelum Pantai Tiluh, yang entah apa namanya? jadi tempat preweed oleh pasangan pengantin muda. Setelah menyasikan pemotretan dan saya rujuk dengan Trigus, yang sebelumnya panas. Sore sebentar lagi menyapa, Tiluh juga belum dipandang. Kami melanjutkan lagi. Menjelajahi Pantai Tiluh merupakan hal yang mengasikkan. Tak perlu berjalan kaki hingga lokasi. Tak perlu capek-capek menuju lokasi. Tinggal mengikuti arah jalan rabat, lewati tebing-tebing sedikit curam. Topografi pantai ini mirip Pantai Pasir Putih. Yang membedakan adalah pasirnya hitam.
Menurut saya, Pantai Tiluh ini memiliki ke-khas-an sendiri dibanding pantai-pantai yang ada di Watulimo. Tiluh ini berpasirkan hitam ke-cokelat-cokelat-an dan pasirnya lembut. Hamparan pasir yang membentang sepanjang bibir pantai nampak tak ada bekas limbah macam plastik atau limbah yang lain. Hanya ada beberapa lembar daun yang warnanya telah kecokelatan, sisa diterbangkan angin.
Melihat sisa atau jejak di pasir pantai ini memang benar-benar masih “perawan”. Hanya orang trutusan turut pereng (pemancing di tebing-tebing pantai) yang telah menjamah. Selebihnya para petani yang memiliki pekarangan atau lahan ini. Mendatangi pantai Tiluh ini semacam mengenang keromantisan sepasang kekasih yang sedang dipadu kasih. Gulungan ombak dari selatan dirindukan di utara, para pendatang. Begitu kiranya...
Jika bicara tentang Pantai, tak sekadar Pasir Putih dan Cengkrong. Di Kecamatan Watulimo ada pantai yang belum tersentuh oleh masyarakat luar maupun warga sekitar Watulimo sendiri. Pantainya masih asri. Selain Pantai Watulunyu, Pantai Cilik atau pantai Bango’an, pantai di Barat Pantai Damas ini tak kalah mengagumkan.
Sebagaimana nama-nama pantai di atas, pantai yang baru saya dengar—barangkali juga kalian semua—dan saya baru mendaratkan kaki pada sore itu. Pantai tersebut adalah Pantai Tiluh. Sebuah nama yang asing dan jarang dilafadkan oleh masyarakat sekitar saya.< Bagi masyarakat Watulimo tak banyak yang mengetahui Pantai Tiluh ini. Pantai Tiluh sendiri terletak di ujung Pantai Damas. Lokasinya bersebelahan dengan Pantai Wonojoyo, salah satu pantai di Karanggandu, tentunya selain Pantai Damas sendiri. Sebagai informasi, di Pantai Damas telahh banyak dihuni oleh masyarakat, baik pendatang maupun penduduk setempat. Ada puluhan Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di pesisir Damas ini. Sebelum bercerita panjang lebar tentang Pantai Tiluh, pantai sebelah Barat Pantai Damas, Desa Karanggandu ini, kami (bertiga) meluncur dari arah yang berbeda. Saya mengawali perjalanan dari rumah, sementara mereka (Surur dan Trigus) dari Desa Slawe, (salah satu Desa yang ada di Kecamatan Watulimo). Saya dipesan via SMS. Bahwa ia menunggu saya di Pantai Damas. Namun faktanya terbalik. Saya yang malah menunggu. Saya menunggu beberapa menit sebelum mereka menampakkan batang hidung dan menyapa.
Setelah lama saya tunggu beberapa menit (sekitar setengah jam), ternyata mereka telah duluan sampai. Mereka singgah di salah satu warung milik warga, dan mencari informasi tentang letak dan arah menuju Pantai Tiluh.
Setelah merasa arah-arah sudah bisa dimengerti dan ‘bekal’ ngopi sudah tandasa, maka kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi Pantai Tiluh. Perjalanan itu ke arah Barat. Sebelumnya kami harus menyisir Pantai Damas dengan medan tanah bercampur pasir. Sehingga ban motor kami agak berat dan sendat-sendat. Sampai di ujung Pantai Damas (bukan ujung Pantai) kami belok ke Utara melewati jembatan Mangrove. Jembatan yang kami lewati dibuat dari kayu yang dipaku seadanya, sebab tak terlalu dirawat. Saat kami dilewati keluar bunyi.
Perjalanan menuju Pantai Tiluh sangat menguras tenaga dan dibutuhkan kehati-hatian. Pasalnya kontur tanahnya berpasir bercampur tanah mengakibatkan jalan menjadi ledok gedeng (berlubang-lubang), sehingga motor berat untuk melaju. Ini merupakan satu-satunya akses para petani menuju ladang atau hutan Damas. Namun sedikit terbantu kendaraan para petani memakai ban roda tracak.
Di Pantai Damas pohon kelapa milik masih tumbuh. Selepas melwati jembatan itu, di selatan jalan tumbuh tanaman Mangrove. Ini merupakan salah satu peninggalan POKMASWAS dahulu yang menanam pohon penahan abrasi laut. Sebelah selatannya Mangrove ada terusan sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Tumbuhan petani yang berada di sisi utara dikerumuni semak-semak belukar.
Semakin ke Barat kontur tanah sedikit lubang-lubang. Kami lewat dua jembatan lagi. Kami menemui jalan yang lumayan mudah—jalan rabat dengan lebar setengah meter. Jalan inilah—yang menurut pemilik warung tadi—merupakan salah satu jalan menuju Pantai Tiluh. Menurutnya, letaknya di totokan (ujung) jalan rabat.
Di pantai sebelum Pantai Tiluh, yang entah apa namanya? jadi tempat preweed oleh pasangan pengantin muda. Setelah menyasikan pemotretan dan saya rujuk dengan Trigus, yang sebelumnya panas. Sore sebentar lagi menyapa, Tiluh juga belum dipandang. Kami melanjutkan lagi. Menjelajahi Pantai Tiluh merupakan hal yang mengasikkan. Tak perlu berjalan kaki hingga lokasi. Tak perlu capek-capek menuju lokasi. Tinggal mengikuti arah jalan rabat, lewati tebing-tebing sedikit curam. Topografi pantai ini mirip Pantai Pasir Putih. Yang membedakan adalah pasirnya hitam.
Menurut saya, Pantai Tiluh ini memiliki ke-khas-an sendiri dibanding pantai-pantai yang ada di Watulimo. Tiluh ini berpasirkan hitam ke-cokelat-cokelat-an dan pasirnya lembut. Hamparan pasir yang membentang sepanjang bibir pantai nampak tak ada bekas limbah macam plastik atau limbah yang lain. Hanya ada beberapa lembar daun yang warnanya telah kecokelatan, sisa diterbangkan angin.
Melihat sisa atau jejak di pasir pantai ini memang benar-benar masih “perawan”. Hanya orang trutusan turut pereng (pemancing di tebing-tebing pantai) yang telah menjamah. Selebihnya para petani yang memiliki pekarangan atau lahan ini. Mendatangi pantai Tiluh ini semacam mengenang keromantisan sepasang kekasih yang sedang dipadu kasih. Gulungan ombak dari selatan dirindukan di utara, para pendatang. Begitu kiranya...
kapaaan ya aku eksplorasi daerahmuuu
BalasHapusAyo Bun. Belum lengkap kalau belum ke Prigi, Trenggalek... Hehehe
BalasHapusPosting Komentar