Menyulap Brantas menjadi sungai yang lebih 'beradab' memang tak bisa dilakukan satu kali sentuhan. Tak bisa dilakukan dalam sekali kampanye. Melainkan terus menerus berkesinambungan tanpa lelah. Apalagi menyerahkan. Tidak akan dapati Kediri dan Berantas sedemikian rupa. Untuk mengetahui Berantas yang sedemikian berganti wajah, alangkah baiknya kita menelusuri Berantas tempo doeloe.
Membaca buku Brantas: Dari Pesantren hingga Lokalisasi (Laporan Jurnalistik Ekspedisi Brantas Radar Kediri) memberikan kesempatan untuk mengangkat dan menguak kembali tabir di balik Brantas. Saya--melalui buku Tim ekspedisi Radar Kediri--akan menyisir dari selatan dengan wilayah utama Kabupaten Kediri. Yaitu, sejak Kras (timur sungai) atau Mojo (barat sungai) hingga masuk ke Kota Kediri. Tim ekspedisi Radar Kediri menyusuri sungai terpanjang di Jawa Timur itu guna memetakan kerusakan lingkungan yang terjadi. Memang, penambang pasir mekanik masih menjadi "musuh utama". Sebab, ulah mereka yang eksploitatiflah yang selama ini menjadi penyebab rusaknya lingkungan di sekitar.
Ikan-ikan yang populasinya terus menurun karena habitatnya rusak, plengsengan dan jembatan yang ambrol akibat dasar sungai yang turun, tanah-tanah pekarangan atau rumah milik warga yang ambrol terkikis, hingga sawah-sawah yang tak bisa terairi karena irigasinya mati akibat air Sungai Brantas tak mampu naik lagi. Tidak hanya milik warga atau umum, kerusakan juga menimpa sejumlah pesantren yang berdiri di tepian Sungai Brantas.
Salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Ploso, Mojo, Kediri. Sungai Brantas terletak persis di belakang Ponpes Al Falah. Tempo doeloe, sungai ini sering menjadi tempat bermain Gus Miek--panggilan akrab--KH Hamim Thohari, ya, sebagian dari hidupnya memang lekat dengan Sungai Brantas. Dia dikenal suka memancing di Sungai Brantas ini. Sosok yang terkenal dengan metode dakwah yang nyeleneh ini, yang judi dan sikap nyeleneh yang lain ini adalah sosok yang 'out of the box' ini juga sempat hilang di Sungai Brantas itu. Bahkan, sebagian besar inspirasi Gus Miek berawal dari Sungai Brantas.
Senada dengan Gus Miek--sekaligus menuju ke utara--ke arah Kota Kediri, KH. Abdul Hamid Madjid (Gus Hamid), putra keenam KH. Abdul Madjid Ma'roef, penerus sekaligus dikenal sebagai pusat penyiar salawat Wahidiyah ini juga tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Sungai Brantas. Pasalnya, keberadaan Ponpes Kedunglo, Bandar Lor, Mojoroto hanya berjarak beberapa ratus meter, di tepian Sungai Brantas. Putra keempat KH. Abdul Madjid Ma'roef tidak bisa jauh dari Berantas--bisa jadi--masa kecilnya banyak dihabiskan di Sungai Brantas.
Saking dekatnya dengan Sungai Brantas, konon, Gus Hamid sangat jago berenang. Ketangkasannya dalam berenang tidak ada yang mengalahkan ketika itu, selain karena putra kiai. Dan, ya, dibanding sekolah dan Masjid, Gus Hamid lebih banyak menghabiskan waktunya di sungai, yang letaknya persis di sebelah timur Ponpes Kedunglo itu. Justru itu, dengan seringnya bermain di Sungai Brantas, Gus Hamid lebih banyak mengenal warga sekitar, dan lebih banyak bergaul dengan kawula alit di sekitar pondok. Karena itu, boleh dikatakan "Berantaslah yang ikut membentuk karakter Gus Hamid, (hal. 102). Berantas pulalah yang sempat menginspirasi Gus Hamid untuk membuat buku tentang sejarah Brantas--seperti Bandar, Masjid Agung, Kelenteng, dan Jembatan Lama. "Brantas kaya dengan sejarah," kata Gus Hamid.
Berdiri Icon-Icon Kota
Berbicara tentang Brantas, tidak bisa dilepaskan dari beberapa icon-icon bangunan dan tata ruang suatu wilayah. Misal, bangunan beberapa Pondok Pesantren yang ada di Kabupaten Kediri, hingga masuk Kota Kediri: Ponpes Al Falah, Ploso, Mojo, Ponpes Bustanul Arifin, Batokan, Petok, Mojo, Ponpes Al-Ishlah, Mojoroto, Kota Kediri, Ponpes Kedunglo, Bandarlor, Mojoroto, Kota Kediri. Selain itu, setiap kota, di tengah-tengah kota pasir terdapat masjid yang menjadi lakon spiritual masyarakat kota. Berdirinya Masjid Agung Kota Kediri tidak bisa lepas dari Sungai Brantas. Karena letaknya di belakang Masjid Agung tersebut. Dan satu lagi yang mungkin kontroversial tapi tidak bisa dinafikan adalah keberadaan sebuah tempat yang begitu terkenal dan sulit dilepaskan dari Brantas adalah lokalisasi Semampir.
Beberapa icon-icon tersebut tidak bisa dilepaskan eksistensinya dengan keberadaan Sungai Brantas itu sendiri. Misal, Masjid Agung. Secara geografis, Masjid Agung Kota Kediri ada disebelah Timur Sungai Brantas. Artinya, keberadaan Masjid Agung di jl Panglima Sudirman No 160 Kauman, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota Kediri tidak bisa diabaikan oleh Sungai Brantas. Yang diyakini berdirinya Masjid Agung Kota Kediri setelah abad 14 Masehi, seiring mundurnya kekuasaan Hindu-Budha di Jawa digantikan oleh Kekuasaan Islam. Terutama, setelah mundurnya Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
Berdirinya Masjid Agung ini juga menjadi salah satu pembentukan karakter masyarakat kota, sehingga letaknya dilalui aliran sungai terpanjang di Jawa timur ini. Aliran sungainya memang memutus di tengah-tengah urat nadi perekonomian masyarakat kota. Sehingga wilayah kota menjadi terbagi di Timur sungai dan Barat sungai.
"Dengan keberadaan Sungai Brantas yang bermuara di pesisir utara Jawa--yang menjadi pintu masuk Islam di Jawa--bukan tidak mungkin para saudagar Islam masa lalu sudah masuk ke Kediri jauh sebelum masa pemerintahan bupati pertama Kediri. Seperti diketahui l, Brantas adalah jalur transportasi utama yang menghubungkan antarwilayah pada masa lalu."
Memang, keberadaan Sungai Brantas sangat penting bagi perekonomian masyarakat Kota Kediri. Barangkali, Sungai Brantas ini pula sebagai corong pembangunan yang ada di Kota Kediri pada masa lalu.
Sungai Brantas memang menawarkan keeksotisan tersendiri. Seeksotis nama yang ada di jembatan di tepian sungai itu. Apalagi kalau bukan semampir. Bagi kebanyakan orang, mendengar kata Semampir pasti tertuju pada lokalisasi. Keberadaan lokalisasi semampir ini tidak begitu saja ada. Ada nilai sejarah dengan Sungai Brantas. Laku lokalisasi semampir tidak dinafikan keberadaan di Kota Kediri dan kontroversial di mata masyarakat luar.
Membentuk Karakter
Berantas yang indah dengan berbagai macam biotanya. Menyimpan banyak kenangan dan sejarah. Dan Brantas ini pula, lakon dan pribadi masyarakat terbentuk. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Gus Miek, misalnya, ia beraktivitas dan besar tidak jauh dari kata Brantas. Ia mencari dan belajar dan bahkan karena sungai itu.
Sungai Brantas telah membantu membentuk karakter masyarakat Kota Kediri. Masyarakat yang memiliki ciri khas dengan jiwa membangunnya terue berevolusi menjadi masyarakat yang madani, berjiwa sosial yang tinggi. Kini, masyarakat Kota Kediri terus berbenah ke arah kemajuan dan pembangunan. Membangun jembatan yang mangkrak belum diselesaikan, meski dana yang dikucurkan oleh pemerintah dikorupsi oleh wakil-wakilnya. Hahaha.
Saya sebagai orang rantau--mahasiswa di salah satu Universitas, yang kebetulan lokasi kampusnya bersebelahan dengan Brantas--mereka memiliki. Merasa nduweni. Meski tidak terlalu lama saya tinggal di Kediri, saya paling tidak telah nyumbang pendapatan masyarakat Kota Kediri itu. Saya telah ikut membangun masyarakat Kota Kediri dengan cara pendidikan itu. Dengan cara mengenyam pendidikan di Kediri, uang orang tua, saya berikan dan bagikan ke masyarakat sekitar. Saya kos dan kontrak selama 4 tahun selama study di Universitas Nusantara PGRI KEDIRI (UNP), sudah berapa puluh juta rupiah ibu saya menyumbang pendapatan masyarakat Kediri. Apakah ini orang tua, keluarga saya tidak ikut membangun masyarakat Kediri? Lantas, bagaimana dengan masyarakat Kediri sendiri? Masih memiliki jiwa kesadaran membangun atau tidak?
Ternyata jiwa atau karakter 'nduweni' tidak dipunyai oleh orang-ora yang Kediri. Revolusi Mental tidak digalakkan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat masyarakat Kota Kediri belum memiliki, sekali lagi, membangun dan nduweni. Mereka selalu ngeyel dan ndableknya tentang kerugian atau akibat dari penambangan pasir. Banyak masyarakat Kediri yang menambang pasir mekanik. Mereka menjadi 'musuh utama' dalam pembentukan karakter masyarakat Kota Kediri ini. Karena ulah mereka, eksploitasi mereka lingkungan Sungai Brantas menjadi rusak dan tidak asri seperti tempo doeloe lagie.[]
Judul: Berantas: Dari Pesantren Hingga Lokalisasi (Laporan Jurnalistik Ekspedisi Berantas Radar Kediri)
Penulis: Tauhid Wijaya, dkk.
Penerbit: PT Kediri Intermedia Pers, Kediri
Terbit: Desember, 2012
Tebal: viii x 250 hlm.
ISBN: 9-786029-8-33744
Membaca buku Brantas: Dari Pesantren hingga Lokalisasi (Laporan Jurnalistik Ekspedisi Brantas Radar Kediri) memberikan kesempatan untuk mengangkat dan menguak kembali tabir di balik Brantas. Saya--melalui buku Tim ekspedisi Radar Kediri--akan menyisir dari selatan dengan wilayah utama Kabupaten Kediri. Yaitu, sejak Kras (timur sungai) atau Mojo (barat sungai) hingga masuk ke Kota Kediri. Tim ekspedisi Radar Kediri menyusuri sungai terpanjang di Jawa Timur itu guna memetakan kerusakan lingkungan yang terjadi. Memang, penambang pasir mekanik masih menjadi "musuh utama". Sebab, ulah mereka yang eksploitatiflah yang selama ini menjadi penyebab rusaknya lingkungan di sekitar.
Ikan-ikan yang populasinya terus menurun karena habitatnya rusak, plengsengan dan jembatan yang ambrol akibat dasar sungai yang turun, tanah-tanah pekarangan atau rumah milik warga yang ambrol terkikis, hingga sawah-sawah yang tak bisa terairi karena irigasinya mati akibat air Sungai Brantas tak mampu naik lagi. Tidak hanya milik warga atau umum, kerusakan juga menimpa sejumlah pesantren yang berdiri di tepian Sungai Brantas.
Salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Ploso, Mojo, Kediri. Sungai Brantas terletak persis di belakang Ponpes Al Falah. Tempo doeloe, sungai ini sering menjadi tempat bermain Gus Miek--panggilan akrab--KH Hamim Thohari, ya, sebagian dari hidupnya memang lekat dengan Sungai Brantas. Dia dikenal suka memancing di Sungai Brantas ini. Sosok yang terkenal dengan metode dakwah yang nyeleneh ini, yang judi dan sikap nyeleneh yang lain ini adalah sosok yang 'out of the box' ini juga sempat hilang di Sungai Brantas itu. Bahkan, sebagian besar inspirasi Gus Miek berawal dari Sungai Brantas.
Senada dengan Gus Miek--sekaligus menuju ke utara--ke arah Kota Kediri, KH. Abdul Hamid Madjid (Gus Hamid), putra keenam KH. Abdul Madjid Ma'roef, penerus sekaligus dikenal sebagai pusat penyiar salawat Wahidiyah ini juga tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Sungai Brantas. Pasalnya, keberadaan Ponpes Kedunglo, Bandar Lor, Mojoroto hanya berjarak beberapa ratus meter, di tepian Sungai Brantas. Putra keempat KH. Abdul Madjid Ma'roef tidak bisa jauh dari Berantas--bisa jadi--masa kecilnya banyak dihabiskan di Sungai Brantas.
Saking dekatnya dengan Sungai Brantas, konon, Gus Hamid sangat jago berenang. Ketangkasannya dalam berenang tidak ada yang mengalahkan ketika itu, selain karena putra kiai. Dan, ya, dibanding sekolah dan Masjid, Gus Hamid lebih banyak menghabiskan waktunya di sungai, yang letaknya persis di sebelah timur Ponpes Kedunglo itu. Justru itu, dengan seringnya bermain di Sungai Brantas, Gus Hamid lebih banyak mengenal warga sekitar, dan lebih banyak bergaul dengan kawula alit di sekitar pondok. Karena itu, boleh dikatakan "Berantaslah yang ikut membentuk karakter Gus Hamid, (hal. 102). Berantas pulalah yang sempat menginspirasi Gus Hamid untuk membuat buku tentang sejarah Brantas--seperti Bandar, Masjid Agung, Kelenteng, dan Jembatan Lama. "Brantas kaya dengan sejarah," kata Gus Hamid.
Berdiri Icon-Icon Kota
Berbicara tentang Brantas, tidak bisa dilepaskan dari beberapa icon-icon bangunan dan tata ruang suatu wilayah. Misal, bangunan beberapa Pondok Pesantren yang ada di Kabupaten Kediri, hingga masuk Kota Kediri: Ponpes Al Falah, Ploso, Mojo, Ponpes Bustanul Arifin, Batokan, Petok, Mojo, Ponpes Al-Ishlah, Mojoroto, Kota Kediri, Ponpes Kedunglo, Bandarlor, Mojoroto, Kota Kediri. Selain itu, setiap kota, di tengah-tengah kota pasir terdapat masjid yang menjadi lakon spiritual masyarakat kota. Berdirinya Masjid Agung Kota Kediri tidak bisa lepas dari Sungai Brantas. Karena letaknya di belakang Masjid Agung tersebut. Dan satu lagi yang mungkin kontroversial tapi tidak bisa dinafikan adalah keberadaan sebuah tempat yang begitu terkenal dan sulit dilepaskan dari Brantas adalah lokalisasi Semampir.
Beberapa icon-icon tersebut tidak bisa dilepaskan eksistensinya dengan keberadaan Sungai Brantas itu sendiri. Misal, Masjid Agung. Secara geografis, Masjid Agung Kota Kediri ada disebelah Timur Sungai Brantas. Artinya, keberadaan Masjid Agung di jl Panglima Sudirman No 160 Kauman, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota Kediri tidak bisa diabaikan oleh Sungai Brantas. Yang diyakini berdirinya Masjid Agung Kota Kediri setelah abad 14 Masehi, seiring mundurnya kekuasaan Hindu-Budha di Jawa digantikan oleh Kekuasaan Islam. Terutama, setelah mundurnya Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
Berdirinya Masjid Agung ini juga menjadi salah satu pembentukan karakter masyarakat kota, sehingga letaknya dilalui aliran sungai terpanjang di Jawa timur ini. Aliran sungainya memang memutus di tengah-tengah urat nadi perekonomian masyarakat kota. Sehingga wilayah kota menjadi terbagi di Timur sungai dan Barat sungai.
"Dengan keberadaan Sungai Brantas yang bermuara di pesisir utara Jawa--yang menjadi pintu masuk Islam di Jawa--bukan tidak mungkin para saudagar Islam masa lalu sudah masuk ke Kediri jauh sebelum masa pemerintahan bupati pertama Kediri. Seperti diketahui l, Brantas adalah jalur transportasi utama yang menghubungkan antarwilayah pada masa lalu."
Memang, keberadaan Sungai Brantas sangat penting bagi perekonomian masyarakat Kota Kediri. Barangkali, Sungai Brantas ini pula sebagai corong pembangunan yang ada di Kota Kediri pada masa lalu.
Sungai Brantas memang menawarkan keeksotisan tersendiri. Seeksotis nama yang ada di jembatan di tepian sungai itu. Apalagi kalau bukan semampir. Bagi kebanyakan orang, mendengar kata Semampir pasti tertuju pada lokalisasi. Keberadaan lokalisasi semampir ini tidak begitu saja ada. Ada nilai sejarah dengan Sungai Brantas. Laku lokalisasi semampir tidak dinafikan keberadaan di Kota Kediri dan kontroversial di mata masyarakat luar.
Membentuk Karakter
Berantas yang indah dengan berbagai macam biotanya. Menyimpan banyak kenangan dan sejarah. Dan Brantas ini pula, lakon dan pribadi masyarakat terbentuk. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Gus Miek, misalnya, ia beraktivitas dan besar tidak jauh dari kata Brantas. Ia mencari dan belajar dan bahkan karena sungai itu.
Sungai Brantas telah membantu membentuk karakter masyarakat Kota Kediri. Masyarakat yang memiliki ciri khas dengan jiwa membangunnya terue berevolusi menjadi masyarakat yang madani, berjiwa sosial yang tinggi. Kini, masyarakat Kota Kediri terus berbenah ke arah kemajuan dan pembangunan. Membangun jembatan yang mangkrak belum diselesaikan, meski dana yang dikucurkan oleh pemerintah dikorupsi oleh wakil-wakilnya. Hahaha.
Saya sebagai orang rantau--mahasiswa di salah satu Universitas, yang kebetulan lokasi kampusnya bersebelahan dengan Brantas--mereka memiliki. Merasa nduweni. Meski tidak terlalu lama saya tinggal di Kediri, saya paling tidak telah nyumbang pendapatan masyarakat Kota Kediri itu. Saya telah ikut membangun masyarakat Kota Kediri dengan cara pendidikan itu. Dengan cara mengenyam pendidikan di Kediri, uang orang tua, saya berikan dan bagikan ke masyarakat sekitar. Saya kos dan kontrak selama 4 tahun selama study di Universitas Nusantara PGRI KEDIRI (UNP), sudah berapa puluh juta rupiah ibu saya menyumbang pendapatan masyarakat Kediri. Apakah ini orang tua, keluarga saya tidak ikut membangun masyarakat Kediri? Lantas, bagaimana dengan masyarakat Kediri sendiri? Masih memiliki jiwa kesadaran membangun atau tidak?
Ternyata jiwa atau karakter 'nduweni' tidak dipunyai oleh orang-ora yang Kediri. Revolusi Mental tidak digalakkan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat masyarakat Kota Kediri belum memiliki, sekali lagi, membangun dan nduweni. Mereka selalu ngeyel dan ndableknya tentang kerugian atau akibat dari penambangan pasir. Banyak masyarakat Kediri yang menambang pasir mekanik. Mereka menjadi 'musuh utama' dalam pembentukan karakter masyarakat Kota Kediri ini. Karena ulah mereka, eksploitasi mereka lingkungan Sungai Brantas menjadi rusak dan tidak asri seperti tempo doeloe lagie.[]
Judul: Berantas: Dari Pesantren Hingga Lokalisasi (Laporan Jurnalistik Ekspedisi Berantas Radar Kediri)
Penulis: Tauhid Wijaya, dkk.
Penerbit: PT Kediri Intermedia Pers, Kediri
Terbit: Desember, 2012
Tebal: viii x 250 hlm.
ISBN: 9-786029-8-33744
Bersih-bersih sungai Brantas memang banyak manfaatnya, sungai bersih, ga bikin banjir dan sekalian napak tilas sejarah. Salam Rochim
BalasHapusBetul mbak. Apalagi sungai biasanya diambil pasirnya.. bisa-bisa abrasi. Salam balik, Mbak Dewi.
BalasHapusPosting Komentar