Dipandang dari kacamata manapun, menulis tetaplah menarik. Pelan namun pasti, dunia menulis semakin hari kian bergema. Salah satunya ditandai dengan menjamurnya media online yang menawarkan pelbagai konten alternatif. Artinya, media online (baik berbasis surat kabar harian, mingguan, bulanan) yang lahir dari rahim perkembangan teknologi itu di satu sisi juga bertugas sebagai pendamping bagi penulis pemula. Maka, aneh jika sekarang masih ada yang mengeluh kesulitan mencari ruang berekspresi atau menampung karya.
Lepas dari itu, sebagian besar penulis meyakini bahwa aktivitas menulis mempunyai beragam manfaat. Salah satu diantaranya adalah memperpanjang umur. Artinya, meski si penulis sudah tiada maka karyanya akan tetap abadi selamanya. Bahkan menulis adalah suatu ikhtiar menancapkan prasasti. Hal ini telah dilakukan oleh para penulis kawakan yang telah mendahului kita, namun nama dan karyanya tetap mendapat tempat di hati pembaca. Taruhlah, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan Gus Dur, sebagai contohnya. Mereka semua adalah platform manusia produktif di zamannya.
Selain itu, ada satu tokoh bersejarah yang selama ini namanya kurang begitu akrab dalam kaitannya dengan dunia tulis menulis, ia adalah Pangeran Diponegoro. Siapa sangka, pejuang kemerdekaan yang gagah berani itu ternyata pernah menancapkan prasasti dengan menulis buku. Selain tokoh pejuang ulung, ia adalah penulis buku yang tekun. Selama dalam pengasingan di Makassar, selain menulis catatan harian, ia juga merampungkan dua naskah: Sejarah Ratu Tanah Jawa dan Hikayat Tanah Jawa (Jawa Pos, 8 Maret 2015). Oleh karena itu, olah rasa dan cipta dengan menulis sama saja kita menancapkan prasasti yang kelak akan dikenang di kemudian hari.
Anda tahu, menulis adalah kegiatan yang mengasyikkan bagi mereka yang sudah tahu dan merasakan manfaatnya. Namun, berbeda dengan orang yang belum pernah bersentuhan dengan manfaat menulis. Mereka pasti akan merasa berat sekali untuk memulai, bahkan beranggapan menulis adalah pekerjaan yang membuang-buang waktu. Anggapan itu memang tak salah. Selain membuang-buang waktu, menulis itu juga menjenuhkan. Tapi, ingat asumsi negatif hanya berlaku bagi mereka yang belum mencinta dunia tulis menulis. Bagi yang sudah mencintai, saya yakin tak mungkin ada lagi aforisme seperti demikian.
Penulis maupun orang yang tidak mau disebut penulis, namun tetap istiqomah menelurkan karya sesungguhnya adalah orang mulia. Ia adalah guru—dalam arti sesungguhnya—yang senantiasa menyebarkan ilmu pada sesama. Ia bukan hanya menulis untuk diri sendiri namun juga orang lain. Setiap buah pikirnya adalah pemantik nama bagi masa depan dan peradaban. Orang-orang sebelum kita, yang telah menuliskan riwayat atau pemikirannya itu sadar betul akan nikmat dan karunia yang akan dicapai.
Oleh karena itu, mereka dengan semangat menggelora merekam setiap pergulatan, perjalanan, hingga pemikirannya dengan tinta. Karena dengan menulis, orang bisa bebas menyampaikan protesnya, risetnya, hingga temuan yang tidak dapat ditemukan oleh orang lain. Maka tak aneh bila Pramoedya Ananta Toer sampai mengeluarkan fatwa, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Om Pram sadar betul atas statement-nya itu dan menyadari bahwa tak satupun tokoh hebat di dunia ini yang abadi tanpa sebuah karya. Bahkan bukan hanya Om Pram saja yang menganjurkan menulis, jauh sebelum itu sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali juga pernah mengeluarkan diktumnya: "Kalau kau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar maka jadilah penulis."
Oleh karena itu, menulis ibarat investasi masa depan. Layaknya sebuah investasi, pelan namun pasti manfaatnya bakal dirasakan di kemudian hari. Menulis juga bisa dianalogikan seperti menancapkan "cakar ayam" bangunan. Sebagai sebuah pondasi, kekokohan adalah syarat mutlak. Artinya, jika di awal menulis kita tidak benar-benar serius, komitmen dan konsisten maka bangunan yang kita dirikan pun tak akan kokoh. Dengan kata lain, kita hanya akan menjadi penulis berkala; kala-kala nulis, kala-kala tidak. Dengan demikian, yakinlah bahwa tidak ada hasil yang menghianati proses.[]
Dimuat portalmuda.com, Senin, 13 April 2015
Lepas dari itu, sebagian besar penulis meyakini bahwa aktivitas menulis mempunyai beragam manfaat. Salah satu diantaranya adalah memperpanjang umur. Artinya, meski si penulis sudah tiada maka karyanya akan tetap abadi selamanya. Bahkan menulis adalah suatu ikhtiar menancapkan prasasti. Hal ini telah dilakukan oleh para penulis kawakan yang telah mendahului kita, namun nama dan karyanya tetap mendapat tempat di hati pembaca. Taruhlah, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan Gus Dur, sebagai contohnya. Mereka semua adalah platform manusia produktif di zamannya.
Selain itu, ada satu tokoh bersejarah yang selama ini namanya kurang begitu akrab dalam kaitannya dengan dunia tulis menulis, ia adalah Pangeran Diponegoro. Siapa sangka, pejuang kemerdekaan yang gagah berani itu ternyata pernah menancapkan prasasti dengan menulis buku. Selain tokoh pejuang ulung, ia adalah penulis buku yang tekun. Selama dalam pengasingan di Makassar, selain menulis catatan harian, ia juga merampungkan dua naskah: Sejarah Ratu Tanah Jawa dan Hikayat Tanah Jawa (Jawa Pos, 8 Maret 2015). Oleh karena itu, olah rasa dan cipta dengan menulis sama saja kita menancapkan prasasti yang kelak akan dikenang di kemudian hari.
Anda tahu, menulis adalah kegiatan yang mengasyikkan bagi mereka yang sudah tahu dan merasakan manfaatnya. Namun, berbeda dengan orang yang belum pernah bersentuhan dengan manfaat menulis. Mereka pasti akan merasa berat sekali untuk memulai, bahkan beranggapan menulis adalah pekerjaan yang membuang-buang waktu. Anggapan itu memang tak salah. Selain membuang-buang waktu, menulis itu juga menjenuhkan. Tapi, ingat asumsi negatif hanya berlaku bagi mereka yang belum mencinta dunia tulis menulis. Bagi yang sudah mencintai, saya yakin tak mungkin ada lagi aforisme seperti demikian.
Penulis maupun orang yang tidak mau disebut penulis, namun tetap istiqomah menelurkan karya sesungguhnya adalah orang mulia. Ia adalah guru—dalam arti sesungguhnya—yang senantiasa menyebarkan ilmu pada sesama. Ia bukan hanya menulis untuk diri sendiri namun juga orang lain. Setiap buah pikirnya adalah pemantik nama bagi masa depan dan peradaban. Orang-orang sebelum kita, yang telah menuliskan riwayat atau pemikirannya itu sadar betul akan nikmat dan karunia yang akan dicapai.
Oleh karena itu, mereka dengan semangat menggelora merekam setiap pergulatan, perjalanan, hingga pemikirannya dengan tinta. Karena dengan menulis, orang bisa bebas menyampaikan protesnya, risetnya, hingga temuan yang tidak dapat ditemukan oleh orang lain. Maka tak aneh bila Pramoedya Ananta Toer sampai mengeluarkan fatwa, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Om Pram sadar betul atas statement-nya itu dan menyadari bahwa tak satupun tokoh hebat di dunia ini yang abadi tanpa sebuah karya. Bahkan bukan hanya Om Pram saja yang menganjurkan menulis, jauh sebelum itu sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali juga pernah mengeluarkan diktumnya: "Kalau kau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar maka jadilah penulis."
Oleh karena itu, menulis ibarat investasi masa depan. Layaknya sebuah investasi, pelan namun pasti manfaatnya bakal dirasakan di kemudian hari. Menulis juga bisa dianalogikan seperti menancapkan "cakar ayam" bangunan. Sebagai sebuah pondasi, kekokohan adalah syarat mutlak. Artinya, jika di awal menulis kita tidak benar-benar serius, komitmen dan konsisten maka bangunan yang kita dirikan pun tak akan kokoh. Dengan kata lain, kita hanya akan menjadi penulis berkala; kala-kala nulis, kala-kala tidak. Dengan demikian, yakinlah bahwa tidak ada hasil yang menghianati proses.[]
Dimuat portalmuda.com, Senin, 13 April 2015
Posting Komentar