Sejak menikah, kehidupan saya mulai berubah. Mulai dari hal yang sederhana sampai dengan hal terumit telah mengalami penyesuaian. Hal yang jamak terjadi adalah sebagai pendatang pasangan baru tentu kolaborasi antar-dua sosok manusia; saya dan istri tak bisa dipisahkan. Kita selalu tampil barsama dan selalu nempel bareng seperti prangko. Kemana-mana harus terlihat berdua dan bersama.
Kebersamaan, kehadiran, selalu ada saat dibutuhkan, diperlukan seperti pahlawan tanpa absen di semua permintaan istri adalah yang membuat pasangan baru nampak harmonis. Bagaimana tugas seorang suami, memasang tampang selalu ada di saat istri memerlukan merupakan sebuah keniscayaan. Karena salah satu tugas seorang suami di depan istri adalah menjaga dan selalu ada di saat istri memerlukan bantuan, baik yang sifatnya sederhana maupun terberat sekali pun.
Apalagi umur hubungan pasangan tersebut baru seumur jagung. Seperti kami ini yang baru saja melangsungkan pernikahan beberapa bulan yang lalu. Saya yang baru "menjabat" seorang suami jelas menjadi beban yang berat bagi saya. Bila di suatu hari saya bisa lenggang, kini hadirnya seorang istri, bila di suatu malam ia sedang batuk misal atau minta air minum di dapur, setidaknya saya harus bangun malam dan mengambilkan air minum tersebut di dapur dalam kondisi masih ngantuk. Itu soal sederhananya.
Selain itu sebagai suami istri baru tampil bak sarimbit adalah sebuah keniscayaan. Karena kesatuan dalam rumah tangga adalah menyatukan persepsi, pandangan, pemikiran dan pendapat yang tidak sama.
Kebersamaan dalam kondisi sedang sedih, maupun suka dan duka merupakan kunci keharmonisan sebuah rumah tangga. Kita tidak perlu menolak bahwa sepasang suami istri yang baru menikah ke mana-mana akan selalu tampil mesra dan bareng. Misalkan saja adalah perkara mencari cemilan pentol atau cilok yang jaraknya selemparan batu satu genggaman saja, ia harus ikut. Pokoknya kemana pun harus bergandengan. Wong truk aja gandengan masa kamu nggak? Mungkin begitu emosi yang mengikat tersebut. Atau dalam ungkapan yang sering kita dengar adalah dunia serasa milik berdua, yang lain pada ngontrak. Hahaha...
Perubahan setelah menikah memang sangat mencolok. Dari awal yang biasa ke mana-mana hanya sendiri, kini saat keluar entah mau ke mana selalu ada yang mendampingi. Ini soal gandeng menggandeng, soal lain adalah ada teman yang saling bantu membantu. Sebut saja mencuci baju. Jika dahulu saya masih ngucek atau kalau sedang malas-malasan atau mager, baju saya tumpuk di cantolan hingga berhari-hari atau paling sering adalah ibu saya adalah obat mujarab dalam mencuci dan memasak hingga menghidangkan.
Kini, saat beristri sudah ada yang saya mintai tolong mencuci baju. Sebelum menikah, saya tak bisa memisahkan urusan apapun dari dan tanpa tangan mulus ibu. Ibu memang seorang penyebar dan selalu telaten saat anak-anaknya meminta saya yang sabar itu. Kini baju saya sedikit rapi di dalam almari. Sebab, jika dahulu ibu saya dengan sabar dan telaten dalam urusan rumah tangga. Mencuci melipat baju adalah skill tidak perlu diragukan. Karena saya memiliki rasa kasihan, kadang urusan menyetrika baju saya sendiri itu tanggung jawab saya sendiri. Atau kalau saya sedang bolong udel e, biasa saya yang melipat sekadarnya yang kemudian saya taruh di dalam lemari begitu saja.
Sekarang mulai kaos, baju kerah dan Hem sudah beda letaknya dan nampak sangat rapi dan teratur. Selain nampak rapi dan teratur, perkara lipatan dan susunan baju yang dilipat dari atas sampai bawah pun juga sangat kelihatan simetris. Seolah tersusun sedemikian rupa rapinya. Ini adalah keahlian istri saya yang begitu prigel dalam urusan tata menata. Dan saya yakin bersama istri saya ini saya bisa membangun dan menata rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah wal barokah.
Namun dari suka dan kegembiraan dalam rumah tangga tentu ada dukanya. Selalu ada kerikil-kerikil kecil yang biasa menghiasi bahtera rumah tangga. Hal biasa terjadi di rumah tangga saya adalah menyamakan keinginan, kemauan dan pandangan. Kita juga harus memaklumi sifat seorang laki-laki bahwa seorang suami tersebut memiliki sifat yang apa adanya. Sifat simpel tak terlalu mengatur-atur perkara ribet-ribetan. Misalkan saja adalah melipat selimut tempat tidur. Hal tersebut juga sempet terjadi di rumah tangga. Karena dasarnya seorang laki-laki, saya melipat selimut sekedarnya saja. Tetapi bagi istri saya, melipat dan menata tempat tidur harus rapi dan teratur. Di sini biasa kami saling egois, saya biasa cekcok kecil.
Hal lain juga ada, misalkan saja adalah jika saya keluar tanpa memakai alas kaki, atau keponakan kecil saya yang bernama Muhammad Athafaris Al-Fahrezi itu keluar rumah tanpa memakai sandal yang kemudian tidak membersihkan kaki kami, maka ia menjadi orang yang terdepan dalam benteng kebersihan dan kesucian tempat yang bersih itu. Jika Anda pernah melihat episode di kartun Upin dan Ipin, saat Kak Ros memarahi adik-adiknya tersebut dengan nada yang cukup besar, jika di-aminasi-kan adegan saya memopong Ezi yang kakinya kotor karena bedu dari luar rumah masuk ke dalam rumah, maka reka bentuk ekspresi dan nada dan sewotnya mirip dengan Kak Ros itu. Hahaha.
Kadang saya juga jengkel juga dengan ekspresi tersebut. Maksud saya, ekspresi itu yang datar saja, gak usah ngomel-ngomel dengan ekspresi wajah yang hemsss... Meski begitu saya baru sadar ketika ia berujar terkait kesucian tempat atau rumah dan tentang kebersihan. Selain itu atau mungkin dia lupa tidak memberi tahu kepada saya ini juga penting mengajarkan kepada anak-anak kita nanti bahwa kebersihan lingkungan menggambarkan kebersihan dan kesucian diri. Termasuk kebersihan dalam membangun rumah tangga.
Hal tersebut termasuk mempengaruhi jalan pikiran saya dan saya juga turut mengikuti kehendaknya selamanya itu benar dan memang benar. Hal-hal kecil itu saya sesuaikan dalam diri demi menyamakan persepsi antara saya dan istri saya. Menjadikan sebuah pelajaran dalam hidup di rumah tangga tersebut membuat saya belajar menghargai di antara kita, yang banyak berbeda tersebut. Semoga kita bisa membangun rumah tangga ini dengan selamat dunia akhirat. Amin
Di rumah Banjarsari, 28-7-2019
Kebersamaan, kehadiran, selalu ada saat dibutuhkan, diperlukan seperti pahlawan tanpa absen di semua permintaan istri adalah yang membuat pasangan baru nampak harmonis. Bagaimana tugas seorang suami, memasang tampang selalu ada di saat istri memerlukan merupakan sebuah keniscayaan. Karena salah satu tugas seorang suami di depan istri adalah menjaga dan selalu ada di saat istri memerlukan bantuan, baik yang sifatnya sederhana maupun terberat sekali pun.
Apalagi umur hubungan pasangan tersebut baru seumur jagung. Seperti kami ini yang baru saja melangsungkan pernikahan beberapa bulan yang lalu. Saya yang baru "menjabat" seorang suami jelas menjadi beban yang berat bagi saya. Bila di suatu hari saya bisa lenggang, kini hadirnya seorang istri, bila di suatu malam ia sedang batuk misal atau minta air minum di dapur, setidaknya saya harus bangun malam dan mengambilkan air minum tersebut di dapur dalam kondisi masih ngantuk. Itu soal sederhananya.
Selain itu sebagai suami istri baru tampil bak sarimbit adalah sebuah keniscayaan. Karena kesatuan dalam rumah tangga adalah menyatukan persepsi, pandangan, pemikiran dan pendapat yang tidak sama.
Kebersamaan dalam kondisi sedang sedih, maupun suka dan duka merupakan kunci keharmonisan sebuah rumah tangga. Kita tidak perlu menolak bahwa sepasang suami istri yang baru menikah ke mana-mana akan selalu tampil mesra dan bareng. Misalkan saja adalah perkara mencari cemilan pentol atau cilok yang jaraknya selemparan batu satu genggaman saja, ia harus ikut. Pokoknya kemana pun harus bergandengan. Wong truk aja gandengan masa kamu nggak? Mungkin begitu emosi yang mengikat tersebut. Atau dalam ungkapan yang sering kita dengar adalah dunia serasa milik berdua, yang lain pada ngontrak. Hahaha...
Perubahan setelah menikah memang sangat mencolok. Dari awal yang biasa ke mana-mana hanya sendiri, kini saat keluar entah mau ke mana selalu ada yang mendampingi. Ini soal gandeng menggandeng, soal lain adalah ada teman yang saling bantu membantu. Sebut saja mencuci baju. Jika dahulu saya masih ngucek atau kalau sedang malas-malasan atau mager, baju saya tumpuk di cantolan hingga berhari-hari atau paling sering adalah ibu saya adalah obat mujarab dalam mencuci dan memasak hingga menghidangkan.
Kini, saat beristri sudah ada yang saya mintai tolong mencuci baju. Sebelum menikah, saya tak bisa memisahkan urusan apapun dari dan tanpa tangan mulus ibu. Ibu memang seorang penyebar dan selalu telaten saat anak-anaknya meminta saya yang sabar itu. Kini baju saya sedikit rapi di dalam almari. Sebab, jika dahulu ibu saya dengan sabar dan telaten dalam urusan rumah tangga. Mencuci melipat baju adalah skill tidak perlu diragukan. Karena saya memiliki rasa kasihan, kadang urusan menyetrika baju saya sendiri itu tanggung jawab saya sendiri. Atau kalau saya sedang bolong udel e, biasa saya yang melipat sekadarnya yang kemudian saya taruh di dalam lemari begitu saja.
Sekarang mulai kaos, baju kerah dan Hem sudah beda letaknya dan nampak sangat rapi dan teratur. Selain nampak rapi dan teratur, perkara lipatan dan susunan baju yang dilipat dari atas sampai bawah pun juga sangat kelihatan simetris. Seolah tersusun sedemikian rupa rapinya. Ini adalah keahlian istri saya yang begitu prigel dalam urusan tata menata. Dan saya yakin bersama istri saya ini saya bisa membangun dan menata rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah wal barokah.
Namun dari suka dan kegembiraan dalam rumah tangga tentu ada dukanya. Selalu ada kerikil-kerikil kecil yang biasa menghiasi bahtera rumah tangga. Hal biasa terjadi di rumah tangga saya adalah menyamakan keinginan, kemauan dan pandangan. Kita juga harus memaklumi sifat seorang laki-laki bahwa seorang suami tersebut memiliki sifat yang apa adanya. Sifat simpel tak terlalu mengatur-atur perkara ribet-ribetan. Misalkan saja adalah melipat selimut tempat tidur. Hal tersebut juga sempet terjadi di rumah tangga. Karena dasarnya seorang laki-laki, saya melipat selimut sekedarnya saja. Tetapi bagi istri saya, melipat dan menata tempat tidur harus rapi dan teratur. Di sini biasa kami saling egois, saya biasa cekcok kecil.
Hal lain juga ada, misalkan saja adalah jika saya keluar tanpa memakai alas kaki, atau keponakan kecil saya yang bernama Muhammad Athafaris Al-Fahrezi itu keluar rumah tanpa memakai sandal yang kemudian tidak membersihkan kaki kami, maka ia menjadi orang yang terdepan dalam benteng kebersihan dan kesucian tempat yang bersih itu. Jika Anda pernah melihat episode di kartun Upin dan Ipin, saat Kak Ros memarahi adik-adiknya tersebut dengan nada yang cukup besar, jika di-aminasi-kan adegan saya memopong Ezi yang kakinya kotor karena bedu dari luar rumah masuk ke dalam rumah, maka reka bentuk ekspresi dan nada dan sewotnya mirip dengan Kak Ros itu. Hahaha.
Kadang saya juga jengkel juga dengan ekspresi tersebut. Maksud saya, ekspresi itu yang datar saja, gak usah ngomel-ngomel dengan ekspresi wajah yang hemsss... Meski begitu saya baru sadar ketika ia berujar terkait kesucian tempat atau rumah dan tentang kebersihan. Selain itu atau mungkin dia lupa tidak memberi tahu kepada saya ini juga penting mengajarkan kepada anak-anak kita nanti bahwa kebersihan lingkungan menggambarkan kebersihan dan kesucian diri. Termasuk kebersihan dalam membangun rumah tangga.
Hal tersebut termasuk mempengaruhi jalan pikiran saya dan saya juga turut mengikuti kehendaknya selamanya itu benar dan memang benar. Hal-hal kecil itu saya sesuaikan dalam diri demi menyamakan persepsi antara saya dan istri saya. Menjadikan sebuah pelajaran dalam hidup di rumah tangga tersebut membuat saya belajar menghargai di antara kita, yang banyak berbeda tersebut. Semoga kita bisa membangun rumah tangga ini dengan selamat dunia akhirat. Amin
Di rumah Banjarsari, 28-7-2019
Posting Komentar