Hadir dari pelosok desa di pesisir selatan kota, bulan Agustus dimeriahkan oleh pagelaran acara Watulimo Culture Expo 2019. WCE ini telah digelar (2-4/8), merupakan even kedua setelah sukses di tahun 2018 kemarin. Mengusung tema culture perdesaan--sepertinya mengusung perdesaan itu--hadir menyapa masyarakat perdesaan di desa sekitar Kecamatan Watulimo, seperti desa Tasikmadu dan Karanggandu dan sekitarnya. Berbagai instansi pendidikan dan instansi pemerintahan dan beberapa UMKM dan komunitas ikut memeriahkan pagelaran WCE tahun 2019 ini
Bulan Agustus adalah bulan peringatan, bulan memaknai, bulan refleksi, bulan lomba, bulan keramaian, bulan tontonan dan bulan delapan dari dua belas bulan di kalender Masehi. Karena di bulan Agustus mulai awal sampai akhir kita akan disuguhi pernak-pernik ornamen merah dan putih di berbagai wilayah. Lebih dari itu, perayaan dan pagelaran lomba dan karnaval jamak kita temui di kota maupun di desa.
Oleh karena itu di bulan Agustus ini kita diperingatkan kembali bahwa rasa saling menghargai, saling berbagi, saling tolong menolong serta membantu dan menggelontorkan semangat demi memperingati dan memaknai perjuangan para pahlawan kita dahulu demi merah putih, yang telah mengorbankan nyawa demi kemenangan dan kemerdekaan Republik Indonesia yang tercinta ini.
Di awal tanggal di bulan Agustus, masyarakat di sekitar pesisir pantai Prigi disungguhi acara bertajuk Watulimo Culture Expo. Even yang membangun dan mengangkat culture orang desa. Dengan konsep yang sedikit perdesaan dan kolaborasi dengan pernak-pernik future kekinian menjadikan even tersebut terlihat meriah.
Yang tidak bisa lepas di semua stand adalah warna merah putihnya. Dekorasi stand yang ciamik, menarik dan unik membuat suasana even tersebut tambah menarik. Apalagi ditambahi barang dan produk yang dijual dari barang-barang langka. Tentunya even tersebut menjadi tambah terlihat perdesaannya dan terlihat sangat culture.
Suasana yang merah dan putih dari suguhan dari depan sampai belakang menggambarkan bahwa sajian ini atau pertunjukan maupun gelaran tersebut mengemas produk semangat tujuh belasan pada umumnya. Tetapi kesan kebudayaan atau culture-nya sedikit tidak nampak. Entah tertutup oleh beberapa dekorasi modernisasi atau memang kalah dengan warna merah dan putih di stand-stand itu.
Saya membayangkan bagaimana konsep eksposisi yang digelar ini kalau tidak bisa sama minimal ada sentuhannya dengan gaya eksposisi yang dahulu pernah digelar. Seperti, jika stand tersebut yang jualan adalah stand dari pendidikan atau sekolah maka barang yang dijual adalah barang-barang dari hasil kesenian murid-murid. Ya, sebut saja seperti sapu ijuk, sapu sepet dan lain sebagainya.
Meski begitu saya bisa memaklumi dunianya memang sudah modern. Semua diukur oleh kemajuan teknologi dan informasi. Tetapi manakala even tersebut mengatasnamakan culture maka saya ingin even tersebut mengingatkan dan menyuguhkan sesuatu hal di masa lalu atau tempo doeloe. Ini adalah saran dan kritikan yang saya tujukan bagi kita semua, termasuk diri saya pribadi yang telah banyak melupakan ke-Jawa-an sebagai identitas diri.
Meski begitu, saya memperoleh sedikit sesuatu yang mempresentasikan bahwa ini adalah hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Misalnya perlombaan-perlombaan tradisional. Ini tentu mengingatkan kita akan permainan yang dilakukan oleh masyarakat desa jaman dahulu bukan permainan jaman sekarang termasuk game apa itu namanya.
Lanjut, saya juga terkesima dengan satu dua stand yang memamerkan produknya menawarkan tempo doeloe. Adalah sepeda Turonggo atau sepeda Unto orang dulu bilang. Sepada Turonggo ini dipajang turut menggambarkan bahwa culture orang desa dahulu saat beraktivitas bukan seperti sekarang ini. Orang desa saat akan pergi ke sawah maka kendaraan yang setia mengantar dan menjemputnya adalah sepeda Unto ini. Saya berterima kasih kepada semua pihak termasuk komunitas yang merawat sepeda Unto ini jadi tidak punah. Tetapi sayangnya, saat itu saya lupa tidak menjepret dalam bentuk foto. Tetapi saya foto waktu karnaval sepeda hias. (Okelah anggap saja ini terselamatkan).
Terkait budaya ada beberapa spot atau pos yang dihiasi tentang budaya orang Jawa. Itu pun tidak banyak. Saya pertama datang memang sangat terkesan terhadap gapura yang ditampilkan oleh para panitia. Gapura dengan lighting memang menarik dan meriah. Lighting, dekorasi gapura masuk dan runtutan rundown telah memeriahkan malam di awal bulan Agustus. Tetapi sayang, saya belum menemukan gagasan yang disampaikan sesuai dengan tema dari nama Watulimo Culture Expo.
Saya dan istri sekali dua menghadapkan mata kamera di depan gapura itu. Saya harus berterima kasih kepada penggagas dan perancang gapura ini. Gapura ini sungguh menarik. Namun untuk menilai ini adalah sebuah sajian kebudayaan atau lebih entengnya mengangkat kearifan lokal yang ada di Jawa umumnya atau kearifan masyarakat Prigi sepertinya kurang maksimal. Namun saya bisa menangkap apa yang ingin diinginkan oleh para panitia bahwa di awal pembukaan pengunjung atau para penjual yang mendagangkan jajanannya di stand-stand menggunakan pakaian adat Jawa.
Namun sebenarnya saya adalah salah satu panitia di dalamnya, karena ada beberapa sebab saya tak aktif di kegiatan tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang ikut memeriahkan acara tersebut mengenakan pakaian batik lurik, bayak dan pakaian Jawa lainnya. Ini satu capaian yang penting diapresiasi. Saya sangat respek terhadap para panitia penggagas ini dan sangat apresiatif terhadap gelaran tersebut. Semoga untuk even ke depan, teman-teman bisa menghias even tersebut dengan baik dan meriah.
Saya dua atau tiga kali muter-muter di stand eksposisi yang digelar di acara WCE tidak acara sajian yang menawarkan stand yang menjual sajian kuliner yang mengarah tempo dulu. Kalaupun ada hanya ada satu dua yang jualan menu makanan tradisional jaman dulu. Minimal makanan atau jajanan pasar yang sekarang sulit kita jumpai di pasar. Atau pernak-pernik yang telah langka kita temui di sekitar kita. Semoga kedepannya even ini terus berjalan dan menonjolkan kebudayaan seperti di Kota Malang dan Blitar dalam acara Malang Tempoe Doeloe atau Blitar Tempoe Doeloe. Wassalam
Bulan Agustus adalah bulan peringatan, bulan memaknai, bulan refleksi, bulan lomba, bulan keramaian, bulan tontonan dan bulan delapan dari dua belas bulan di kalender Masehi. Karena di bulan Agustus mulai awal sampai akhir kita akan disuguhi pernak-pernik ornamen merah dan putih di berbagai wilayah. Lebih dari itu, perayaan dan pagelaran lomba dan karnaval jamak kita temui di kota maupun di desa.
Oleh karena itu di bulan Agustus ini kita diperingatkan kembali bahwa rasa saling menghargai, saling berbagi, saling tolong menolong serta membantu dan menggelontorkan semangat demi memperingati dan memaknai perjuangan para pahlawan kita dahulu demi merah putih, yang telah mengorbankan nyawa demi kemenangan dan kemerdekaan Republik Indonesia yang tercinta ini.
Di awal tanggal di bulan Agustus, masyarakat di sekitar pesisir pantai Prigi disungguhi acara bertajuk Watulimo Culture Expo. Even yang membangun dan mengangkat culture orang desa. Dengan konsep yang sedikit perdesaan dan kolaborasi dengan pernak-pernik future kekinian menjadikan even tersebut terlihat meriah.
Yang tidak bisa lepas di semua stand adalah warna merah putihnya. Dekorasi stand yang ciamik, menarik dan unik membuat suasana even tersebut tambah menarik. Apalagi ditambahi barang dan produk yang dijual dari barang-barang langka. Tentunya even tersebut menjadi tambah terlihat perdesaannya dan terlihat sangat culture.
Suasana yang merah dan putih dari suguhan dari depan sampai belakang menggambarkan bahwa sajian ini atau pertunjukan maupun gelaran tersebut mengemas produk semangat tujuh belasan pada umumnya. Tetapi kesan kebudayaan atau culture-nya sedikit tidak nampak. Entah tertutup oleh beberapa dekorasi modernisasi atau memang kalah dengan warna merah dan putih di stand-stand itu.
Saya membayangkan bagaimana konsep eksposisi yang digelar ini kalau tidak bisa sama minimal ada sentuhannya dengan gaya eksposisi yang dahulu pernah digelar. Seperti, jika stand tersebut yang jualan adalah stand dari pendidikan atau sekolah maka barang yang dijual adalah barang-barang dari hasil kesenian murid-murid. Ya, sebut saja seperti sapu ijuk, sapu sepet dan lain sebagainya.
Meski begitu saya bisa memaklumi dunianya memang sudah modern. Semua diukur oleh kemajuan teknologi dan informasi. Tetapi manakala even tersebut mengatasnamakan culture maka saya ingin even tersebut mengingatkan dan menyuguhkan sesuatu hal di masa lalu atau tempo doeloe. Ini adalah saran dan kritikan yang saya tujukan bagi kita semua, termasuk diri saya pribadi yang telah banyak melupakan ke-Jawa-an sebagai identitas diri.
Meski begitu, saya memperoleh sedikit sesuatu yang mempresentasikan bahwa ini adalah hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Misalnya perlombaan-perlombaan tradisional. Ini tentu mengingatkan kita akan permainan yang dilakukan oleh masyarakat desa jaman dahulu bukan permainan jaman sekarang termasuk game apa itu namanya.
Lanjut, saya juga terkesima dengan satu dua stand yang memamerkan produknya menawarkan tempo doeloe. Adalah sepeda Turonggo atau sepeda Unto orang dulu bilang. Sepada Turonggo ini dipajang turut menggambarkan bahwa culture orang desa dahulu saat beraktivitas bukan seperti sekarang ini. Orang desa saat akan pergi ke sawah maka kendaraan yang setia mengantar dan menjemputnya adalah sepeda Unto ini. Saya berterima kasih kepada semua pihak termasuk komunitas yang merawat sepeda Unto ini jadi tidak punah. Tetapi sayangnya, saat itu saya lupa tidak menjepret dalam bentuk foto. Tetapi saya foto waktu karnaval sepeda hias. (Okelah anggap saja ini terselamatkan).
Terkait budaya ada beberapa spot atau pos yang dihiasi tentang budaya orang Jawa. Itu pun tidak banyak. Saya pertama datang memang sangat terkesan terhadap gapura yang ditampilkan oleh para panitia. Gapura dengan lighting memang menarik dan meriah. Lighting, dekorasi gapura masuk dan runtutan rundown telah memeriahkan malam di awal bulan Agustus. Tetapi sayang, saya belum menemukan gagasan yang disampaikan sesuai dengan tema dari nama Watulimo Culture Expo.
Saya dan istri sekali dua menghadapkan mata kamera di depan gapura itu. Saya harus berterima kasih kepada penggagas dan perancang gapura ini. Gapura ini sungguh menarik. Namun untuk menilai ini adalah sebuah sajian kebudayaan atau lebih entengnya mengangkat kearifan lokal yang ada di Jawa umumnya atau kearifan masyarakat Prigi sepertinya kurang maksimal. Namun saya bisa menangkap apa yang ingin diinginkan oleh para panitia bahwa di awal pembukaan pengunjung atau para penjual yang mendagangkan jajanannya di stand-stand menggunakan pakaian adat Jawa.
Namun sebenarnya saya adalah salah satu panitia di dalamnya, karena ada beberapa sebab saya tak aktif di kegiatan tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang ikut memeriahkan acara tersebut mengenakan pakaian batik lurik, bayak dan pakaian Jawa lainnya. Ini satu capaian yang penting diapresiasi. Saya sangat respek terhadap para panitia penggagas ini dan sangat apresiatif terhadap gelaran tersebut. Semoga untuk even ke depan, teman-teman bisa menghias even tersebut dengan baik dan meriah.
Saya dua atau tiga kali muter-muter di stand eksposisi yang digelar di acara WCE tidak acara sajian yang menawarkan stand yang menjual sajian kuliner yang mengarah tempo dulu. Kalaupun ada hanya ada satu dua yang jualan menu makanan tradisional jaman dulu. Minimal makanan atau jajanan pasar yang sekarang sulit kita jumpai di pasar. Atau pernak-pernik yang telah langka kita temui di sekitar kita. Semoga kedepannya even ini terus berjalan dan menonjolkan kebudayaan seperti di Kota Malang dan Blitar dalam acara Malang Tempoe Doeloe atau Blitar Tempoe Doeloe. Wassalam
Posting Komentar