Masyarakat Pesisir Selatan, Pantai Prigi Trenggalek menggelar Larung Sembonyo di Pantai Prigi, Rabu (24/7). Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat nelayan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki yang melimpahnya atas hasil laut di pesisir Pantai Prigi. Sedekah laut dengan melarung buceng dan ube rampenya tersebut diyakini telah berlangsung lebih dari dua dasawarsa. Larung Sembonyo ini digelar juga sebagai menjaga kearifan lokal dan mengenang jasa nenek moyang atau leluhur.
Larung sembonyo digelar setahun sekali tiap bulan Selo, penanggalan Jawa. Mereka meyakini dengan menggelar sedekah laut ini hasil laut kian melimpah. “Ini sebagai wujud syukur kami warga sekitar pantai,” kata Nurkawit, Ketua Panitia Larung Sembonyo.
Selain dilaksanakan pada bulan Selo, Larung Sembonyo dilarung saat para nelayan tidak sedang melaut. Karena para nelayan sedang tidak ada aktivitas nelayan sekaligus masyarakat juga bisa menikmati kemeriahan Larung Sembonyo.
Bukan hanya nilai kesakralan yang menyita perhatian wisatawan, prosesi arak-arakan buceng serta larungnya juga menjadi daya tarik sehingga larung sembonyo juga menjadi wisata budaya tahunan. "Kegiatan ini juga berimbas banyaknya wisatawan yang datang ingin melihat,"jelasnya.
Nelayan yang tinggal di sekitar pantai tetap menjaga adat istiadat yang sudah berlangsung turun temurun. Di antaranya adalah larangan melaut tiga hari sebelum puncak rangkaian yaitu larung sembonyo. Bahkan warga menerapkan aturan adat bagi nelayan yang nekad melaut. "Kita hormati kegiatan sampai pada puncak rangkaian, kalau ada yang nekad melaut hasilnya kita rampas," akunya.
Buceng atau tumpeng itu tingginya tiga meter. Tumpeng inilah yang dilarung di laut, lepas dari bibir pantai. Sebelum dilarung, tumpeng yang terdiri dari tumpeng agung dan sesaji itu akan diarak oleh warga dari Kantor Kecamatan Watulimo menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Prigi.
"Kalau isinya lauk pauk, hasil sedekah bumi dan lain-lain," ujarnya sembari menjelaskan maknanya.
Pada kesempatan tersebut hadir pula Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. Ia sangat mengapresiasi adanya tradisi larung sembonyo ini. Mas Ipin saat memberi sambutan berharap, tradisi ini terus dilestarikan di tengah perkembangan zaman. Selain nguri-nguri atau melestarikan budaya, tradisi ini menjadi daya tarik wisatawan. "Kegiatan ini harus terus dilestarikan," ujar Mas Ipin.
Bukan hanya larung sembonyo yang dilakukan masyarakat Desa Tasikmadu di Kecamatan Watulimo, Mas Ipin berharap tradisi lainnya seperti kupatan massal di Kecamatan Durenan, takir plontang di Kecamatan Dongko beserta tradisi daerah lainnya di Trenggalek terus dilestarikan. Sebab kearifan lokal ini juga jadi daya tarik selain sektor wisata alam. "Ini bukan musrik, semata-mata bersyukur," pungkasnya.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari. Rangkaian kegiatannya di antaranya meliputi seni tiban, lomba mancing mania hingga puncaknya pegelaran wayangan. Sebelum tumpeng agung dan sesaji dilarung pasca-diarak, terdapat prosesi sakral meliputi prosesi"temanten", menggambarkan sejarah terdahulu saat babat Teluk Prigi.
"Selain kisah babad, makna lain dari larung sembonyo ini adalah peringatan pernikahan Adipati Yudha Negara dengan Gambar Inten melalui sedekah laut. Gambar Inten dari Kerajaan Andong Biru dan Adipati Yudha Negara dari Mataram," kata Yaman, sesepuh masyarakat pesisir Pantai Prigi, mengutip cerita turun temurun. (12kim)
Posting Komentar