Masjid Al-Munawar merupakan salah satu masjid terbesar yang berada di tengah-tengah kota di Kabupaten Tulungagung. Lokasinya berada di timur alun-alun kabupaten. Masjid ini tidak hanya ramai saat masuk waktu salat saja, di waktu-waktu tertentu masjid ini juga nampak ramai oleh pengunjung.
Di siang itu, masjid nampak ramai seperti biasa. Jamaah lalu lalang. Datang dan pergi. Sebagian tidur-tiduran di selasar masjid, Sebagiannya lagi khusyuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan ada juga yang asyik mansyuk dengan dunia mayanya (gadgetnya) di ruang depan. Meski begitu, suasana di masjid siang itu nampak lebih ramai dibanding dengan suasana di luar. Hal itu memang wajar, karena di depan masjid ada taman bermain bertama alun-alun itu.
Berbeda dengan masjid yang berada di dekat petilasan-petilasan atau makam ulama atau kyai, yang biasa diziarahi oleh para pengunjung yang memang bertujuan berdoa di masjid tersebut. Di masjid jamek yang letaknya di tengah-tengah kota dan keberadaanya berdekatan dengan pusat keramaian tersebut memang hal wajar.
Sampai ada sebuah postingan di media sosial, yang membuat dahi saya sedikit ngernyit. Bahwa keramaian di depan masjid itu seharusnya juga menjalar sampai di pelataran masjid, serambi masjid dan ruang depan masjid. Kalimat tersebut merupakan unggahan akun ig @kacamata_tulungagung, yang menuliskan, "Luur, masjid e wes apik. Ayo diramekan. Aja kalah karo tempat sebelah." Begitu kalau tidak salah postingan tersebut.
Saya rasa tak ada yang aneh dari selarik posting-an tersebut. Namun jika kita telaah lebih dalam lagi, postingan tersebut sebenarnya kita sedang diingatkan dan (atau) sedang diberi tahu bahwa masjid juga perlu diramaikan dan dimakmurkan. Namun tak dipungkiri, manusia itu memang sukanya bersenang-senang. Oleh karena itu, di saat belum masuk waktu azan atau jadwal salat keramaian belum begitu tampak. Bukan apa-apa. Karena tempat sebelah itu adalah alun-alun yang biasanya ramai dan sebagai tempat liburan dan hiburan masyarakat sekitar.
Masjid Tiga Zaman
Namun keberadaan Masjid Al-Munawwar tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab menurut informasi yang berkembang, masjid ini oleh masyarakat disebut masjid 3 zaman. Masjid ini mengalami transisi perubahan bangunan selama 3 periode yakni, masa Kadipatinan Ngrowo (awal), masa transisi, masa modern (sekarang).
Masjid Al Munawwar terletak masih di kawasan Taman Kusuma Wicitra dan diresmikan tanggal 17 September 1992. Jadi masjid ini kurang lebih telah berdiri kokoh selama 26 tahun lebih. Jika dilihat dengan seksama, masjid ini memiliki keunikan tersendiri dibanding masjid yang lain. Masjid ini tidak memiliki kubah yang bulat, tetapi segitiga. Mencerminkan perpaduan arsitektur Arab dengan Jawa (joglo).
Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi, dan renovasinya yang terbaru seperti penambahan lis pintu utama yang mungkin mengadaptasi arsitektur masjid-masjid khas timur tengah, diperkuat dengan warna ornamennya yang semakin menguatkan kesan timur tengah. Sayangnya, renovasi ini terlalu berdampak bagi ruang yang terlalu sempit. Sehingga dengan adanya penambahan hiasan dan renovasi ini, masjid Al Munawar jadi terlihat sempit dan kurang lega.
Setelah dibangun menara di depan itu, tampilan dari masjid terlihat modern dan megah. Masjidnya sendiri memiliki arsitektur gaya masjid di Timur Tengah. Masjid ini jadi salah satu masjid kebanggaan warga Tulungagung. Di hari-hari besar Islam, jamaahnya sampai di pelataran dan ramai sekali.
Oase di Tengah Keramaian
Saat saya melangkah semakin ke dalam, di dekat dengan lorong atau gapura masuk ruang depan, meja yang bertuliskan Security yang bersebelahan dengan bedug ini memudahkan kita untuk mencari informasi. Baik informasi letak tempat wudlu atau informasi lainnya. Saya menaruh keyakinan adanya masjid-masjid tengah kota ini memiliki filosofis yang cukup mendalam. Bila kita sedang berada di luar sana sedang panas dan ramai, saat kita sedang di pelataran atau serambi masjid kita seolah kita sedang berada di oase yang cukup segar.
Semakin menyusuri ke bagian-bagian masjid, kita atau sebagian orang berpendapat bahwa tidak terlalu istimewa. Sebab desain yang digunakan sudah terlalu umum atau mainstream di desain-desai masjid lain. Cuma saya berhasil mengambil blueprint masjid yang dibingkai seperti sebuah lukisan yang berada di dinding sebelah Selatan.
Banyak obyek yang saya ambil, dan yang berkesan menurut saya adalah tempat wudhunya sangat bagus desainnya. Lantai ditaburi batu sungai (watu kali red.) terasa sangat natural. Acapkali, selesai wudlu, saya terapi dulu sebelum mendirikan sholat di serambi maupun di teras masjid.
Masjid ini terlihat megah dengan adanya menara di bagian depan yang berfungsi sebagai tempat speaker ( mimbran ).Sebagai penyejuk hati dan penyejuk penglihatan , terdapat juga air mancur di depan masjid ini. Namun sepertinya air mancur itu telah direnovasi beberapa bulan belakangan ini, yang kemudian ada perubahan sedikit dengan berdirinya menara
Selain itu bagian dalam bangunan masjid juga terasa sejuk dengan batu marmer sebagai lantai dan di bantu dengan saluran udara yang begitu terbuka , sehingga udara bisa leluasa keluar masuk masjid.Masjid Al Munawar sendiri mempunya 2 lantai.Kapasitas maksimal yang dapat ditampung masjid ini juga belum tau secara pasti , namun melihat bangunan masjid yang begitu luas dapat di simpulkan dapat menampung hingga 3000 Jama'ah atau bahkan lebih.
Tempat ibadah ini berada di pusat kota Tulungagung dan memiliki keunikan berupa arsitektur modern yang digabungkan dengan klasik. Meski bentuk bangunannya baru, masjid ini terbilang tua. Hal tersebut dapat dilihat dari bedugnya yang terlihat sudah berumur. Nah, saat mampir ke sini, kamu tidak hanya bisa ibadah dengan tenang, tapi bisa jalan-jalan di alun-alun yang letaknya tempat di depan Masjid Agung Al Munawar.
Sumber:
http://kokonat-tulungagung.blogspot.com/2011/03/masjid-al-munawar-tulungagung.html
https://www.majalahmadani.com/2017/08/masjid-agung-al-munawwar-tulungagung.html
http://asrofims.blogspot.com/2015/06/masjid-agung-al-munawar-di-tulungagung.html
Di siang itu, masjid nampak ramai seperti biasa. Jamaah lalu lalang. Datang dan pergi. Sebagian tidur-tiduran di selasar masjid, Sebagiannya lagi khusyuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan ada juga yang asyik mansyuk dengan dunia mayanya (gadgetnya) di ruang depan. Meski begitu, suasana di masjid siang itu nampak lebih ramai dibanding dengan suasana di luar. Hal itu memang wajar, karena di depan masjid ada taman bermain bertama alun-alun itu.
Berbeda dengan masjid yang berada di dekat petilasan-petilasan atau makam ulama atau kyai, yang biasa diziarahi oleh para pengunjung yang memang bertujuan berdoa di masjid tersebut. Di masjid jamek yang letaknya di tengah-tengah kota dan keberadaanya berdekatan dengan pusat keramaian tersebut memang hal wajar.
Sampai ada sebuah postingan di media sosial, yang membuat dahi saya sedikit ngernyit. Bahwa keramaian di depan masjid itu seharusnya juga menjalar sampai di pelataran masjid, serambi masjid dan ruang depan masjid. Kalimat tersebut merupakan unggahan akun ig @kacamata_tulungagung, yang menuliskan, "Luur, masjid e wes apik. Ayo diramekan. Aja kalah karo tempat sebelah." Begitu kalau tidak salah postingan tersebut.
Saya rasa tak ada yang aneh dari selarik posting-an tersebut. Namun jika kita telaah lebih dalam lagi, postingan tersebut sebenarnya kita sedang diingatkan dan (atau) sedang diberi tahu bahwa masjid juga perlu diramaikan dan dimakmurkan. Namun tak dipungkiri, manusia itu memang sukanya bersenang-senang. Oleh karena itu, di saat belum masuk waktu azan atau jadwal salat keramaian belum begitu tampak. Bukan apa-apa. Karena tempat sebelah itu adalah alun-alun yang biasanya ramai dan sebagai tempat liburan dan hiburan masyarakat sekitar.
Masjid Tiga Zaman
Namun keberadaan Masjid Al-Munawwar tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab menurut informasi yang berkembang, masjid ini oleh masyarakat disebut masjid 3 zaman. Masjid ini mengalami transisi perubahan bangunan selama 3 periode yakni, masa Kadipatinan Ngrowo (awal), masa transisi, masa modern (sekarang).
Masjid Al Munawwar terletak masih di kawasan Taman Kusuma Wicitra dan diresmikan tanggal 17 September 1992. Jadi masjid ini kurang lebih telah berdiri kokoh selama 26 tahun lebih. Jika dilihat dengan seksama, masjid ini memiliki keunikan tersendiri dibanding masjid yang lain. Masjid ini tidak memiliki kubah yang bulat, tetapi segitiga. Mencerminkan perpaduan arsitektur Arab dengan Jawa (joglo).
Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi, dan renovasinya yang terbaru seperti penambahan lis pintu utama yang mungkin mengadaptasi arsitektur masjid-masjid khas timur tengah, diperkuat dengan warna ornamennya yang semakin menguatkan kesan timur tengah. Sayangnya, renovasi ini terlalu berdampak bagi ruang yang terlalu sempit. Sehingga dengan adanya penambahan hiasan dan renovasi ini, masjid Al Munawar jadi terlihat sempit dan kurang lega.
Setelah dibangun menara di depan itu, tampilan dari masjid terlihat modern dan megah. Masjidnya sendiri memiliki arsitektur gaya masjid di Timur Tengah. Masjid ini jadi salah satu masjid kebanggaan warga Tulungagung. Di hari-hari besar Islam, jamaahnya sampai di pelataran dan ramai sekali.
Oase di Tengah Keramaian
Saat saya melangkah semakin ke dalam, di dekat dengan lorong atau gapura masuk ruang depan, meja yang bertuliskan Security yang bersebelahan dengan bedug ini memudahkan kita untuk mencari informasi. Baik informasi letak tempat wudlu atau informasi lainnya. Saya menaruh keyakinan adanya masjid-masjid tengah kota ini memiliki filosofis yang cukup mendalam. Bila kita sedang berada di luar sana sedang panas dan ramai, saat kita sedang di pelataran atau serambi masjid kita seolah kita sedang berada di oase yang cukup segar.
Semakin menyusuri ke bagian-bagian masjid, kita atau sebagian orang berpendapat bahwa tidak terlalu istimewa. Sebab desain yang digunakan sudah terlalu umum atau mainstream di desain-desai masjid lain. Cuma saya berhasil mengambil blueprint masjid yang dibingkai seperti sebuah lukisan yang berada di dinding sebelah Selatan.
Banyak obyek yang saya ambil, dan yang berkesan menurut saya adalah tempat wudhunya sangat bagus desainnya. Lantai ditaburi batu sungai (watu kali red.) terasa sangat natural. Acapkali, selesai wudlu, saya terapi dulu sebelum mendirikan sholat di serambi maupun di teras masjid.
Masjid ini terlihat megah dengan adanya menara di bagian depan yang berfungsi sebagai tempat speaker ( mimbran ).Sebagai penyejuk hati dan penyejuk penglihatan , terdapat juga air mancur di depan masjid ini. Namun sepertinya air mancur itu telah direnovasi beberapa bulan belakangan ini, yang kemudian ada perubahan sedikit dengan berdirinya menara
Selain itu bagian dalam bangunan masjid juga terasa sejuk dengan batu marmer sebagai lantai dan di bantu dengan saluran udara yang begitu terbuka , sehingga udara bisa leluasa keluar masuk masjid.Masjid Al Munawar sendiri mempunya 2 lantai.Kapasitas maksimal yang dapat ditampung masjid ini juga belum tau secara pasti , namun melihat bangunan masjid yang begitu luas dapat di simpulkan dapat menampung hingga 3000 Jama'ah atau bahkan lebih.
Tempat ibadah ini berada di pusat kota Tulungagung dan memiliki keunikan berupa arsitektur modern yang digabungkan dengan klasik. Meski bentuk bangunannya baru, masjid ini terbilang tua. Hal tersebut dapat dilihat dari bedugnya yang terlihat sudah berumur. Nah, saat mampir ke sini, kamu tidak hanya bisa ibadah dengan tenang, tapi bisa jalan-jalan di alun-alun yang letaknya tempat di depan Masjid Agung Al Munawar.
Sumber:
http://kokonat-tulungagung.blogspot.com/2011/03/masjid-al-munawar-tulungagung.html
https://www.majalahmadani.com/2017/08/masjid-agung-al-munawwar-tulungagung.html
http://asrofims.blogspot.com/2015/06/masjid-agung-al-munawar-di-tulungagung.html
Posting Komentar