Materi pembelajaran (instructional material) adalah bentuk bahan atau seperangkat substansi pembelajaran untuk membantu guru/instruktur dalam kegiatan belajar mengajar yang disusun secara sistematis dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.
Namun dahulu, saat masih mendapat mata kuliah PPL, saya mendapat program ajar mengajar di luar kelas bersama satu atau dua teman. Karena saya pegang kelas luar, sebagai mahasiswa PPL olahraga sekaligus saat itu mata pelajaran atletik, saat mengandaikan sebuah tontonan yang sedang ngehit dengan mata pelajaran atletik.
Materi minggu ketiga selama saya dan teman-teman PPL di SMPN 1 Papar adalah Atletik, dimana Sprint atau lari cepat dipraktikkan. Namun, ada gurauan yang menggelitik ketika saya dan teman memberi materi praktek atlit di lapangan pada hari rabu kemarin (17/9), (entah siapa namanya saya lupa). Materi atlit ini memang mudah-mudah sulit. Lantaran mudah bagi siswa yang memang sudah sejak sekolah dasar maupun kelas VI sudah benar-benar mempraktikkan awalan dalam berlari dan sikap badan ketika digaris finish.
Sedang apa yang diucapkan oleh siswa adalah apa yang ia ketahui. Saya yakin yang ia ketahui itu akan membangkit daya jelajah imajinasi dari seorang siswa. Sehingga, hal ini menjadi bahan inspirasi saya untuk memberi semangat bagi murid-murid kelas VII yang melakukan uji praktik tersebut.
Salah satu murid saya itu menyebutkan judul sinetron yang biasa tayang di salah satu stasiun televisi swasta, yakni Ganteng-Ganteng Srigala. Saya tidak tahu persis sinetron itu bagaimana ceritanya. Bahkan, saya jarang mengonsumsi sinetron-sinetron seperti itu. Namun, saya mengambil sisi positifnya saja dari sinetron tersebut, yakni yang ada berhubungan dengan materi praktek lari cepat (spint). Seperti seseorang yang larinya itu mirip memiliki aji-aji sapu angin, lhap langsung jauh diujung sana.
Memang pelajaran olahraga sangat disukai oleh kebanyakan semua siswa. Lantas, apa hubungannya materi spint itu dengan GGS (Ganteng-Ganteng Srigala)? Rasanya konyol sekali. Ada materi olahraga dihubungkan dengan sinetron. Sinetron yang biasanya menampilkan adegan-adegan gramor, adegan yang tak mendidik untuk para pelajar di Indonesia. Namun, ada korelasi dengan materi spint dengan judul sinetron tersebut, yakni gerak atau larinya artis tersebut. Bagaimana seorang artis tersebut berlari dengan kekuatan yang ia miliki dengan sekuat tenaga supaya ia dengan cepat menuju yang ia inginkan.
Yang harus diperhatikan oleh semua siswa saya, pertama langkah awal yang diperdalam dari adalah sikap awalan dari aba-aba “bersedia” bagaimana sikap badan, tangan dan kaki tersebut. Seorang siswa harus mengetahui posisi tangan atau jari, jari atau ibu jari membentuk hufur “V” kemudian badan serileks mungkin. Lalu kaki ditekuk kurang lebih 100-120 derajat. Pandangan harus menghadap kedepan kira-kira 5 meter. Hal pokok inilah yang harus diperhatikan oleh semua olahragawan dalam pengertian dalam bidang olahraga, khususnya atltik.
Bayangan saya—apabila seorang murid diberi gambaran tentang materi pelajaran yang biasa ia lihat dalam kehidupannya sehari-hari—mereka akan cepat meresponnya, dengan senang hati mereka akan mengerjakannya dengan tulus. Sebagaimana seorang aktor tersebut berlari dengan cepatnya dari tempat awal hingga sampai tujuannya (finish). Para murid-murid saya yang baik hati dan anak-anak yang pandai serta aktif dan kritis. Berlarilah kalian mengejar prestasi yang ada diujung dunia sekalipun. Untuk semua murid-murid saya, kejarlah cita-cita kalian dengan ilmu yang kamu dapat.
Teruntuk semua murid-murid saya, jangan lupa persiapkan mental dan psikis kalian, jngan lupa kita tes dan pengambilan nilai untuk atletik. Berlarilah sekencang angin berhembus ke utara, ke Payak. Hehehe. Seolah mempunyai aji-aji sapu angin. Yang berlari dari sini, (garis start) dengan lhap dengan kedipan, jauh nan dimata hingga diujung garis finish dengan selebrasi kebanggaan kalian semua. Sukses untuk anak-anak UPTD SMPN 1 Papar, Kediri.
Tasikmadu, Trenggalek, 17/09/2014
Namun dahulu, saat masih mendapat mata kuliah PPL, saya mendapat program ajar mengajar di luar kelas bersama satu atau dua teman. Karena saya pegang kelas luar, sebagai mahasiswa PPL olahraga sekaligus saat itu mata pelajaran atletik, saat mengandaikan sebuah tontonan yang sedang ngehit dengan mata pelajaran atletik.
Materi minggu ketiga selama saya dan teman-teman PPL di SMPN 1 Papar adalah Atletik, dimana Sprint atau lari cepat dipraktikkan. Namun, ada gurauan yang menggelitik ketika saya dan teman memberi materi praktek atlit di lapangan pada hari rabu kemarin (17/9), (entah siapa namanya saya lupa). Materi atlit ini memang mudah-mudah sulit. Lantaran mudah bagi siswa yang memang sudah sejak sekolah dasar maupun kelas VI sudah benar-benar mempraktikkan awalan dalam berlari dan sikap badan ketika digaris finish.
Sedang apa yang diucapkan oleh siswa adalah apa yang ia ketahui. Saya yakin yang ia ketahui itu akan membangkit daya jelajah imajinasi dari seorang siswa. Sehingga, hal ini menjadi bahan inspirasi saya untuk memberi semangat bagi murid-murid kelas VII yang melakukan uji praktik tersebut.
Salah satu murid saya itu menyebutkan judul sinetron yang biasa tayang di salah satu stasiun televisi swasta, yakni Ganteng-Ganteng Srigala. Saya tidak tahu persis sinetron itu bagaimana ceritanya. Bahkan, saya jarang mengonsumsi sinetron-sinetron seperti itu. Namun, saya mengambil sisi positifnya saja dari sinetron tersebut, yakni yang ada berhubungan dengan materi praktek lari cepat (spint). Seperti seseorang yang larinya itu mirip memiliki aji-aji sapu angin, lhap langsung jauh diujung sana.
Memang pelajaran olahraga sangat disukai oleh kebanyakan semua siswa. Lantas, apa hubungannya materi spint itu dengan GGS (Ganteng-Ganteng Srigala)? Rasanya konyol sekali. Ada materi olahraga dihubungkan dengan sinetron. Sinetron yang biasanya menampilkan adegan-adegan gramor, adegan yang tak mendidik untuk para pelajar di Indonesia. Namun, ada korelasi dengan materi spint dengan judul sinetron tersebut, yakni gerak atau larinya artis tersebut. Bagaimana seorang artis tersebut berlari dengan kekuatan yang ia miliki dengan sekuat tenaga supaya ia dengan cepat menuju yang ia inginkan.
Yang harus diperhatikan oleh semua siswa saya, pertama langkah awal yang diperdalam dari adalah sikap awalan dari aba-aba “bersedia” bagaimana sikap badan, tangan dan kaki tersebut. Seorang siswa harus mengetahui posisi tangan atau jari, jari atau ibu jari membentuk hufur “V” kemudian badan serileks mungkin. Lalu kaki ditekuk kurang lebih 100-120 derajat. Pandangan harus menghadap kedepan kira-kira 5 meter. Hal pokok inilah yang harus diperhatikan oleh semua olahragawan dalam pengertian dalam bidang olahraga, khususnya atltik.
Bayangan saya—apabila seorang murid diberi gambaran tentang materi pelajaran yang biasa ia lihat dalam kehidupannya sehari-hari—mereka akan cepat meresponnya, dengan senang hati mereka akan mengerjakannya dengan tulus. Sebagaimana seorang aktor tersebut berlari dengan cepatnya dari tempat awal hingga sampai tujuannya (finish). Para murid-murid saya yang baik hati dan anak-anak yang pandai serta aktif dan kritis. Berlarilah kalian mengejar prestasi yang ada diujung dunia sekalipun. Untuk semua murid-murid saya, kejarlah cita-cita kalian dengan ilmu yang kamu dapat.
Teruntuk semua murid-murid saya, jangan lupa persiapkan mental dan psikis kalian, jngan lupa kita tes dan pengambilan nilai untuk atletik. Berlarilah sekencang angin berhembus ke utara, ke Payak. Hehehe. Seolah mempunyai aji-aji sapu angin. Yang berlari dari sini, (garis start) dengan lhap dengan kedipan, jauh nan dimata hingga diujung garis finish dengan selebrasi kebanggaan kalian semua. Sukses untuk anak-anak UPTD SMPN 1 Papar, Kediri.
Tasikmadu, Trenggalek, 17/09/2014
Posting Komentar