Kegiatan tulis menulis di dunia media sosial semakin semarak. Terbukti dari beberapa teman di media daring (jaringan internet) membuat tulisan berbasis catatan ringan di Facebook, Blog atau media berbasis internet lain. Catatan-catatan tersebut membuat gelagat dunia literasi tambah berwarna dan bergairah tentunya.
Namun budaya hoaks yang semakin hari semakin mengkhawatirkan jadi kendala tersendiri bagi para pegiat maupun orang-orang yang akan mendalami literasi di media sosial itu. Hal tersebut tentu semua pihak itu mengantisipasi. Para pegiat literasi itu memberikan pengertian dan menuliskan hal-hal yang jauh dari kata mengadu-domba, yang mengarah pada adu domba dan pra sangka yang buruk.
Sebab bangsa kita ini kan sedang merangkak belajar literasi di internet, tapi gelombang berita palsu sungguh luar biasa di media sosial. Hal tersebut ibarat sedang--cinta-cintanya dengan akitivitas menulis di media sosial--tetapi geliat berita palsu sulit dihindari.
Sejatinya, berita sara atau hokas itu jadi biang intoleren dan kemerosotan moral di tengah-tengah kita sedang membudayakan gerakan literasi. Jika ditinjau kita dari penelitian Programme for International Student Asessement (PISA) di tahun 2012, negara Indonesia jadi salah satu negara yang sangat terpuruk di sektor literasi. Dalam penelitian tersebut menyebutkan bahwa budaya literasi negara Indonesia menempati urutan nomor dua paling buncing dari 65 negara yang disensusnya.
Ini merupakan tantangan besar bagi bangsa kita dalam menggerakkan budaya membaca dan menulis (literasi). Sebab ditinjau dari mana pun, budaya ini memang tidak mudah digerakkan di negara ini bila dibanding dengan budaya oral (budaya lisan). Kebiasaan masyarakat yang lebih mengutamakan budaya lisan jadi kendala me-melek-an budaya literasi di masyarakat. Oleh karena hal tersebut jadi tantangan sendiri di negara ini.
Namun hal tersebut perlu semua lapisan menggerakan budaya literasi. Mulai dari guru, orang tua di rumah, instansi dan komunitas-komunitas yang bergerak menyebarkan virus literasi itu. Karena dunia ini tidak bisa dipisahkan dari dunia internet, sudah selayaknya menyebarkan virus literasi di media sosial juga jadi salah satu digalakan.
Bermedia Sosial Berliterasi Teknologi
Media sosial merupakan salah satu ladang bagi siapa pun dapat mengekspresikan apa pun itu. Dengan ber-media sosial-an yang bijak, entah Facebook, blog atau pun di media apa pun itu termasuk berliterasi. Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.
Mereka bisa menuliskan dan membaca informasi yang ia butuhkan di piranti komputer maupun di smartphone yang ia pegang. Adanya digitalisasi ini tidak memungkiri banjir informasi menjadikan hoaks jadi salah satu momok yang perlu kita tumpas. Ber-media sosial dengan bijak adalah salah satu tindakan yang baik dalam membudayakan gerakan literasi.
Semaraknya dunia berliterasi di media sosial tidak lepas dari para penulis yang menebar inspirasi tentang dunia kepenulisan. Penulis yang seperti itu, saya sebut sebagai ‘pendekar pena’. Sebab pedang tajamnya (catatan-catatan di Facebook, di blog maupun website, yang setiap hari bertebaran itu mampu merangkul mereka yang membacanya.
Saya memiliki kolega atau guru menulis yang mampu menginsprasi lewat media sosial itu. Guru-guru tersebut menebar virus literasinya dari tulisan-tulisan yang menggetarkan. Sehingga melalui tulisannya yang sederhana tersebut mampu menembus sanubari dan menginspirasi kebanyakan penulis-penulis lain. Mereka lebih mengutamakan media yang mampu diakses siapa pun dan di mana pun.
Sehingga memanfaatkan jaringan internet adalah terobosan yang penting bagi siapa saja dalam menebar virus menulis dan membaca. Lantas apakah dengan berliterasi di media sosial. Berliterasi membaca buku berbentuk pdf atau eletronik itu dianggap tidak berliterasi? Mengingat dunianya memang sudah berbeda. Yang awalnya budaya cetak beralih menuju budaya eletronik.
Anak-anak lebih cepat memainkan smartphone mereka dari pada pergi ke perpustakaan. Hal tersebut sebenarnya rangsangan yang perlu kita masuki terlepas dari budaya literasi yang dinilai dari budaya cetak tersebut. Di zaman di mana informasi semakin mudah diakses, kita bisa belajar secara mudah dan gratis melalui internet. Untuk itu menulis dan membaca, berliterasi di media sosial memang tak bisa kita hindarkan. Ini merupakan perubahan zaman yang harus kita hadapi.
Karena dunia memang memudahkan kita mengakses di dunia maya. Dengan sekali pencet atau sentuh layar dalam smartphone kita mampu dibaca pada sebuah bank informasi, dan sekali pencet kita juga bisa berinteraksi on line kepada penulis tersebut. Kita juga tidak memungkiri bahwa dari anak-anak sampai orang dewasa memiliki, minimal satu akun pribadi di Facebook dalam bermedia sosial-an setiap hari.
Dari akun tersebut, tidak sedikit yang bertanya tentang kiat atau tip tentang bagaimana cara menulis yang baik? Dari mana memulai menulis? Dan bagaimana cara mendapatkan inspirasi menulis? serta masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain dari komentar-komentar yang biasa saya baca di kolom komentar dari penulis yang menebarkan virus literasi itu?
Namun budaya hoaks yang semakin hari semakin mengkhawatirkan jadi kendala tersendiri bagi para pegiat maupun orang-orang yang akan mendalami literasi di media sosial itu. Hal tersebut tentu semua pihak itu mengantisipasi. Para pegiat literasi itu memberikan pengertian dan menuliskan hal-hal yang jauh dari kata mengadu-domba, yang mengarah pada adu domba dan pra sangka yang buruk.
Sebab bangsa kita ini kan sedang merangkak belajar literasi di internet, tapi gelombang berita palsu sungguh luar biasa di media sosial. Hal tersebut ibarat sedang--cinta-cintanya dengan akitivitas menulis di media sosial--tetapi geliat berita palsu sulit dihindari.
Sejatinya, berita sara atau hokas itu jadi biang intoleren dan kemerosotan moral di tengah-tengah kita sedang membudayakan gerakan literasi. Jika ditinjau kita dari penelitian Programme for International Student Asessement (PISA) di tahun 2012, negara Indonesia jadi salah satu negara yang sangat terpuruk di sektor literasi. Dalam penelitian tersebut menyebutkan bahwa budaya literasi negara Indonesia menempati urutan nomor dua paling buncing dari 65 negara yang disensusnya.
Ini merupakan tantangan besar bagi bangsa kita dalam menggerakkan budaya membaca dan menulis (literasi). Sebab ditinjau dari mana pun, budaya ini memang tidak mudah digerakkan di negara ini bila dibanding dengan budaya oral (budaya lisan). Kebiasaan masyarakat yang lebih mengutamakan budaya lisan jadi kendala me-melek-an budaya literasi di masyarakat. Oleh karena hal tersebut jadi tantangan sendiri di negara ini.
Namun hal tersebut perlu semua lapisan menggerakan budaya literasi. Mulai dari guru, orang tua di rumah, instansi dan komunitas-komunitas yang bergerak menyebarkan virus literasi itu. Karena dunia ini tidak bisa dipisahkan dari dunia internet, sudah selayaknya menyebarkan virus literasi di media sosial juga jadi salah satu digalakan.
Bermedia Sosial Berliterasi Teknologi
Media sosial merupakan salah satu ladang bagi siapa pun dapat mengekspresikan apa pun itu. Dengan ber-media sosial-an yang bijak, entah Facebook, blog atau pun di media apa pun itu termasuk berliterasi. Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.
Mereka bisa menuliskan dan membaca informasi yang ia butuhkan di piranti komputer maupun di smartphone yang ia pegang. Adanya digitalisasi ini tidak memungkiri banjir informasi menjadikan hoaks jadi salah satu momok yang perlu kita tumpas. Ber-media sosial dengan bijak adalah salah satu tindakan yang baik dalam membudayakan gerakan literasi.
Semaraknya dunia berliterasi di media sosial tidak lepas dari para penulis yang menebar inspirasi tentang dunia kepenulisan. Penulis yang seperti itu, saya sebut sebagai ‘pendekar pena’. Sebab pedang tajamnya (catatan-catatan di Facebook, di blog maupun website, yang setiap hari bertebaran itu mampu merangkul mereka yang membacanya.
Saya memiliki kolega atau guru menulis yang mampu menginsprasi lewat media sosial itu. Guru-guru tersebut menebar virus literasinya dari tulisan-tulisan yang menggetarkan. Sehingga melalui tulisannya yang sederhana tersebut mampu menembus sanubari dan menginspirasi kebanyakan penulis-penulis lain. Mereka lebih mengutamakan media yang mampu diakses siapa pun dan di mana pun.
Sehingga memanfaatkan jaringan internet adalah terobosan yang penting bagi siapa saja dalam menebar virus menulis dan membaca. Lantas apakah dengan berliterasi di media sosial. Berliterasi membaca buku berbentuk pdf atau eletronik itu dianggap tidak berliterasi? Mengingat dunianya memang sudah berbeda. Yang awalnya budaya cetak beralih menuju budaya eletronik.
Anak-anak lebih cepat memainkan smartphone mereka dari pada pergi ke perpustakaan. Hal tersebut sebenarnya rangsangan yang perlu kita masuki terlepas dari budaya literasi yang dinilai dari budaya cetak tersebut. Di zaman di mana informasi semakin mudah diakses, kita bisa belajar secara mudah dan gratis melalui internet. Untuk itu menulis dan membaca, berliterasi di media sosial memang tak bisa kita hindarkan. Ini merupakan perubahan zaman yang harus kita hadapi.
Karena dunia memang memudahkan kita mengakses di dunia maya. Dengan sekali pencet atau sentuh layar dalam smartphone kita mampu dibaca pada sebuah bank informasi, dan sekali pencet kita juga bisa berinteraksi on line kepada penulis tersebut. Kita juga tidak memungkiri bahwa dari anak-anak sampai orang dewasa memiliki, minimal satu akun pribadi di Facebook dalam bermedia sosial-an setiap hari.
Dari akun tersebut, tidak sedikit yang bertanya tentang kiat atau tip tentang bagaimana cara menulis yang baik? Dari mana memulai menulis? Dan bagaimana cara mendapatkan inspirasi menulis? serta masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain dari komentar-komentar yang biasa saya baca di kolom komentar dari penulis yang menebarkan virus literasi itu?
Posting Komentar