“Membacalah menghidupkan kembali semangat membaca para mahaguru peradaban.” Suherman (2010).
Di akhir-akhir perkuliahan tidak jarang jam mata kuliah semakin tidak efektif. Memang benar adanya, seperti yang saya rasakan ini. Biasanya di akhir semester, tugas yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya, semakin banjir saja. Seperti musim hujan tepat pada waktunya. Entah sejak kapan tradisi ini di mulai? Tetapi fakta ini sudah ada sejak saya duduk di bangku perkuliahan. Salah satu yang biasanya diberikan dosen ke mahasiswanya adalah kerajinan yang kreatif yaitu makalah, walau tidak semua dosen memberikan kerajinan tersebut dan masih varian banyak tugas yang lain.
Sebenarnya, kalau boleh jujur. Mengerjakan itu semua adalah malas. “maaf” malas saya bukan karena alasan. Tetapi bagaimana pun juga, kerajinan tersebut memang sebagai alasan klasik. Sebagai alasan alat unutk pendongkrak nilai. Bilamana nilainya kurang dari standar dengan yang ditentukan. Tidak banyak dari mahasiswa, cuma main copas (copy paste), tanpa menyantumkan sumber referensi dan siapa penulis dari artikel yang di unduh dari internet. Itu terjadi ketika musim akhir semester, boro-boro mau membacanya, yang penting langsung tempel dan selesai tugas tersebut, dan ada rasa aman setelah mengerjakan. Dari sini, dosen diharapakan lebih objektif terhadap apa yang ditawarkan oleh mahasiswanya. Tentu, dosen memberikan nilai kepada mahasiswa tidak asal tempel dan tidak main tulis, tetapi ada alasan tertentu, sebagai alat pertimbangan yang menguatkan penilaiannya.
Dan pada dasarnya, pada pertemuan di akhir semester perkuliahan, semakin tidak kondusif. Itu terbukti. Ya, seperti yang lakukan dan kita lihat pada Universitas-Universitas masing-masing, walau masih ada banyak dosen yang selalu konsisten terhadap tanggung jawabnya. Tetapi itu semua, setali tiga uang. Semua dosen pasti ada alasan masing-masing ketika meninggalkan tanggung jawabnya tersebut. Dan tidak sedikit para mahasiswa juga larut dalam haru dan senang ketika mendapati perkuliahan yang ternyata kosong. Bukan rahasia lagi hal tersebut terjadi ketika di akhir semester.
Tugas pun tidak bisa dihindarkan, padahal seperti yang biasa saya jalani. Pemberian tugas di akhir-akhir kuliah, menurut saya “Tidaklah efisien dan produktif”. Karena apa? Karena, ya! Menurut pengalaman yang saya alami. Ketika perkuliahan di akhir semester kurang lah diperhatikan secara bersama. Contoh yang simpel saja. Pemberian tugas yang berbentuk makalah ini adalah idak produktif. Karena mahasiswa yang ‘katakanlah’ males, sudah pasti tidak akan mengerjakan tugas tersebut. Bilamana mengerjakan pasti dengan cara yang “asal comot” dari literatur-literatur tanpa menampangkan sumber referensinya, sepertinya kita mendengungkan plagiatisme. Sudah pasti, kegiatan seperti itu tidaklah produktif di tambah lagi rasa males yang menggelayuti ketika mengerjakan tugas.
Sebenarnya dampak atas kerajinan tugas melalui makalah tersebut, kita di cetak menjadi pendidik yang suka akan dunia tulis dan selalu membaca dari apa saja yang ditugaskan kepada kita untuk menjadi sumber referensi dan tambahan pengetahuan dan wawasan kita. Tetapi hal tersebut di sikapi negatif pada mahasiswa.
Akan tetapi, semakin hari semakin berkurang semangat dalam menempuh perkuliahan, penyebabnya adalah tidak lebih dari kondisi perkuliahan itu sendiri. Tidak di pungkiri, rasa malas yang menyerang mahasiswa semester akhir menjadi alasan yang konvensional. Lantaran di akhir perkuliahan, sejatinya di pupuk pada semester awal dengan keadaan dan suasana kampus tak ada perubahan dan cara pembelajarannya masih mempertahankan cara ‘klasik’. Saya katakan klasik, karena tetap monoton tanpa ada inovasi yang ditampilkan. Tidak rahasia lagi metode guru atau dosen sentris masih dipertahanakan, walau tidak semua dosen menggunakan seperti itu dan tidak semua informasi datang dari dosen mata kuliah.
Saya rasa, dosen yang seperti itu perlu sekali sebelum memberi materi ajar, harus mempersiapkan dengan sedemikian menariknya dalam wadah kemasan. Sehingga tak nampak seperti yang saya gambarkan diatas. Seorang guru atau dosen harus punya pakem atau pemikiran yang idealis, untuk memajukan prestasi mahasiswa, sehingga dosen tersebut sebelum yang akan memberi pengetahuan, menarik untuk dicermati dan di ikuti.
Ini berlebihan atau tidak, tetapi ini menurut pengamatan saya kepada salah satu dosen mata kuliah tertentu yang selama satu tahun setelah masuk dan mengajar di kelas saya. (mohon maaf) “Ini tidak menjelek-jelekan”. Pada awal masuk sedikit gagap dalam berbicara. Tetapi setelah satu tahun berlangsung perubahan seperti itu, sudah berrganti menjadi motivasi para mahasiswa. Dan harusnya seperti itu seorang dosen tersebut, walau tidak semua dosen seperti tadi. Dan harus di tiru mahasiswa sekaligus. “Persiapan, persiapan dan persiapan” katanya dalam perkuliahan. “Berkat membaca buku, dan mempraktekkan dihadapan sebuah kaca”. Imbuhnya.
“Membaca adalah sumber belajar yang paling lengkap, paling tersedia, paling murah, paling cepat dan paling mutkhir”. Kata Ralph Besse. Memang membaca adalah salah satu alat untuk melawan kebebalan. Sehingga orang yang terjun dalam dunia pendidikan, seharusnya terus mendekatkan dengan buku-buku untuk terus mendalami pengetahuan dan wawasan. Untuk meningkat khazanah pengetahuan kosa kata kita.
Namun demikian, tampaknya dunia pendidikan juga belum terlalu dekat dengan tradisi membaca. Dosen atau guru ternyata belum banyak yang membaca secara tekun. Padahal, bagi pendidik—baik dosen maupun guru—membaca merupakan sarana yang paling efektif untuk memperkaya wawasan, khususnya pada materi pelajaran yang diampu. Coba bayangkan apa jadinya jika seorang dosen atau guru yang tidak pernah mau membaca buku dan menambah wawasannya secara terus menerus? Dosen atau guru semacam ini sesungguhny atidak banyak berbeda dengan “maaf” kaset. Apa yang dia sampaikan akan mengulang terus apa yang dia sampaikan kepada para muridnya. Setiap mulai pelajaran, ya hanya itu-itu saja yang disampaikan, begitu terus sampai dia pensiun. (The power of reading, hal. 6).
Mengutip pernyatan dalam bukunya Ngainun Naim The Power Of reading menyatakan pada realitas yang ada, tampakya tingkat plagiatisme yang terjadi sudah sedimikan parah. Justru di sinilah sebenarnya akar persoalan kebobrokan moralitas yang sekarang ini semakin mewabah. Begitu juga dengan kasus plagiat. Katika tahun 1997 seorang dosen senior UI gagal menjadi guru besarkarena menjiplak 22 karya mahasiswanya, perhatiann segera tertuju ke kasus tersebut. Berhari-hari media menyorotinya. Pada akhirnya harus menerima nasib pahit: gelar doktornya dicabut. Namun sesungguhnya yang lebih menyakitkan adalah habislah reputasi dan nama baiknya dalam kancah kehidupan sosial masyarakatnya.
Apa jadinya jika guru kondisinya semacam itu? Ya sudah pasti muridnya hanya akan menerima informasi yang juga itu-itu saja dari waktu ke waktu. Dan kalanhgan mahasiswa dan murid juga setali tiga uang. Juga harus meningkatkan kualitas belajarnya dengan memperbanyak membaca. Sehingga terdapat pembelajaran yang dinamis dalam kelas.[]
Di akhir-akhir perkuliahan tidak jarang jam mata kuliah semakin tidak efektif. Memang benar adanya, seperti yang saya rasakan ini. Biasanya di akhir semester, tugas yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya, semakin banjir saja. Seperti musim hujan tepat pada waktunya. Entah sejak kapan tradisi ini di mulai? Tetapi fakta ini sudah ada sejak saya duduk di bangku perkuliahan. Salah satu yang biasanya diberikan dosen ke mahasiswanya adalah kerajinan yang kreatif yaitu makalah, walau tidak semua dosen memberikan kerajinan tersebut dan masih varian banyak tugas yang lain.
Sebenarnya, kalau boleh jujur. Mengerjakan itu semua adalah malas. “maaf” malas saya bukan karena alasan. Tetapi bagaimana pun juga, kerajinan tersebut memang sebagai alasan klasik. Sebagai alasan alat unutk pendongkrak nilai. Bilamana nilainya kurang dari standar dengan yang ditentukan. Tidak banyak dari mahasiswa, cuma main copas (copy paste), tanpa menyantumkan sumber referensi dan siapa penulis dari artikel yang di unduh dari internet. Itu terjadi ketika musim akhir semester, boro-boro mau membacanya, yang penting langsung tempel dan selesai tugas tersebut, dan ada rasa aman setelah mengerjakan. Dari sini, dosen diharapakan lebih objektif terhadap apa yang ditawarkan oleh mahasiswanya. Tentu, dosen memberikan nilai kepada mahasiswa tidak asal tempel dan tidak main tulis, tetapi ada alasan tertentu, sebagai alat pertimbangan yang menguatkan penilaiannya.
Dan pada dasarnya, pada pertemuan di akhir semester perkuliahan, semakin tidak kondusif. Itu terbukti. Ya, seperti yang lakukan dan kita lihat pada Universitas-Universitas masing-masing, walau masih ada banyak dosen yang selalu konsisten terhadap tanggung jawabnya. Tetapi itu semua, setali tiga uang. Semua dosen pasti ada alasan masing-masing ketika meninggalkan tanggung jawabnya tersebut. Dan tidak sedikit para mahasiswa juga larut dalam haru dan senang ketika mendapati perkuliahan yang ternyata kosong. Bukan rahasia lagi hal tersebut terjadi ketika di akhir semester.
Tugas pun tidak bisa dihindarkan, padahal seperti yang biasa saya jalani. Pemberian tugas di akhir-akhir kuliah, menurut saya “Tidaklah efisien dan produktif”. Karena apa? Karena, ya! Menurut pengalaman yang saya alami. Ketika perkuliahan di akhir semester kurang lah diperhatikan secara bersama. Contoh yang simpel saja. Pemberian tugas yang berbentuk makalah ini adalah idak produktif. Karena mahasiswa yang ‘katakanlah’ males, sudah pasti tidak akan mengerjakan tugas tersebut. Bilamana mengerjakan pasti dengan cara yang “asal comot” dari literatur-literatur tanpa menampangkan sumber referensinya, sepertinya kita mendengungkan plagiatisme. Sudah pasti, kegiatan seperti itu tidaklah produktif di tambah lagi rasa males yang menggelayuti ketika mengerjakan tugas.
Sebenarnya dampak atas kerajinan tugas melalui makalah tersebut, kita di cetak menjadi pendidik yang suka akan dunia tulis dan selalu membaca dari apa saja yang ditugaskan kepada kita untuk menjadi sumber referensi dan tambahan pengetahuan dan wawasan kita. Tetapi hal tersebut di sikapi negatif pada mahasiswa.
Akan tetapi, semakin hari semakin berkurang semangat dalam menempuh perkuliahan, penyebabnya adalah tidak lebih dari kondisi perkuliahan itu sendiri. Tidak di pungkiri, rasa malas yang menyerang mahasiswa semester akhir menjadi alasan yang konvensional. Lantaran di akhir perkuliahan, sejatinya di pupuk pada semester awal dengan keadaan dan suasana kampus tak ada perubahan dan cara pembelajarannya masih mempertahankan cara ‘klasik’. Saya katakan klasik, karena tetap monoton tanpa ada inovasi yang ditampilkan. Tidak rahasia lagi metode guru atau dosen sentris masih dipertahanakan, walau tidak semua dosen menggunakan seperti itu dan tidak semua informasi datang dari dosen mata kuliah.
Saya rasa, dosen yang seperti itu perlu sekali sebelum memberi materi ajar, harus mempersiapkan dengan sedemikian menariknya dalam wadah kemasan. Sehingga tak nampak seperti yang saya gambarkan diatas. Seorang guru atau dosen harus punya pakem atau pemikiran yang idealis, untuk memajukan prestasi mahasiswa, sehingga dosen tersebut sebelum yang akan memberi pengetahuan, menarik untuk dicermati dan di ikuti.
Ini berlebihan atau tidak, tetapi ini menurut pengamatan saya kepada salah satu dosen mata kuliah tertentu yang selama satu tahun setelah masuk dan mengajar di kelas saya. (mohon maaf) “Ini tidak menjelek-jelekan”. Pada awal masuk sedikit gagap dalam berbicara. Tetapi setelah satu tahun berlangsung perubahan seperti itu, sudah berrganti menjadi motivasi para mahasiswa. Dan harusnya seperti itu seorang dosen tersebut, walau tidak semua dosen seperti tadi. Dan harus di tiru mahasiswa sekaligus. “Persiapan, persiapan dan persiapan” katanya dalam perkuliahan. “Berkat membaca buku, dan mempraktekkan dihadapan sebuah kaca”. Imbuhnya.
“Membaca adalah sumber belajar yang paling lengkap, paling tersedia, paling murah, paling cepat dan paling mutkhir”. Kata Ralph Besse. Memang membaca adalah salah satu alat untuk melawan kebebalan. Sehingga orang yang terjun dalam dunia pendidikan, seharusnya terus mendekatkan dengan buku-buku untuk terus mendalami pengetahuan dan wawasan. Untuk meningkat khazanah pengetahuan kosa kata kita.
Namun demikian, tampaknya dunia pendidikan juga belum terlalu dekat dengan tradisi membaca. Dosen atau guru ternyata belum banyak yang membaca secara tekun. Padahal, bagi pendidik—baik dosen maupun guru—membaca merupakan sarana yang paling efektif untuk memperkaya wawasan, khususnya pada materi pelajaran yang diampu. Coba bayangkan apa jadinya jika seorang dosen atau guru yang tidak pernah mau membaca buku dan menambah wawasannya secara terus menerus? Dosen atau guru semacam ini sesungguhny atidak banyak berbeda dengan “maaf” kaset. Apa yang dia sampaikan akan mengulang terus apa yang dia sampaikan kepada para muridnya. Setiap mulai pelajaran, ya hanya itu-itu saja yang disampaikan, begitu terus sampai dia pensiun. (The power of reading, hal. 6).
Mengutip pernyatan dalam bukunya Ngainun Naim The Power Of reading menyatakan pada realitas yang ada, tampakya tingkat plagiatisme yang terjadi sudah sedimikan parah. Justru di sinilah sebenarnya akar persoalan kebobrokan moralitas yang sekarang ini semakin mewabah. Begitu juga dengan kasus plagiat. Katika tahun 1997 seorang dosen senior UI gagal menjadi guru besarkarena menjiplak 22 karya mahasiswanya, perhatiann segera tertuju ke kasus tersebut. Berhari-hari media menyorotinya. Pada akhirnya harus menerima nasib pahit: gelar doktornya dicabut. Namun sesungguhnya yang lebih menyakitkan adalah habislah reputasi dan nama baiknya dalam kancah kehidupan sosial masyarakatnya.
Apa jadinya jika guru kondisinya semacam itu? Ya sudah pasti muridnya hanya akan menerima informasi yang juga itu-itu saja dari waktu ke waktu. Dan kalanhgan mahasiswa dan murid juga setali tiga uang. Juga harus meningkatkan kualitas belajarnya dengan memperbanyak membaca. Sehingga terdapat pembelajaran yang dinamis dalam kelas.[]
Posting Komentar