Nama kang Arul. Sebuah nama yang tidak sementereng nama-nama penulis yang biasa saya temui di toko-toko buku. Namanya, barangkali, kalah moncer dengan Ahmad Rifa’i Rif’an, Gol A Gong, Aguk Irawan MN, dan sederet nama lain. Namun, belakanganya namanya Kang Arul saya jumpai di salah satu blog (saya lupa namanya) sedang mengisi seminar jurnalistik. Kang Arul sendiri juga mendirikan literary agent MENULISYUK KOMUNIKATA. Sebuah komunitas yang dikhususkan untuk para penulis pemula.
Sedangkan, saya sendiri mengetahui nama Kang Arul, ketika saya menemukan buku yang berjudul A Complete for Writerpreneurship, di bazar buku di Kediri, kala itu. Tanpa berpikir panjang, saya membawa ke kasir untuk membelinya. Bagi saya, memiliki buku ini seperti membaca panduan dalam menulis.
Buku ini semacam panduan praktis menulis. Bahwa penulis bukan hanya sekedar menulis saja, namun lebih dari itu. Ada hal yang perlu dilakukan setelahnya, misal, berjejaring maupun mempromosikan. Oleh karena itu, buku ini patut dibaca, dipahami serta diaplikasikan teori ilmu menulis.
Penting seorang penulis atau seseorang yang ingin belajar menulis untuk menerapkan delapan kunci yang dirancang oleh Kang Arul tersebut. Bagi Kang Arul, yang telah menulis lebih dari 200 buku, menjadi penulis tidak semudah seperti Aladin mengusap lampu ajab yang mengeluarkan jin dan bisa mengabulkan tiga permintaan langsung. Bukan pula karena gelar akademis atau tinggi indeks prestasi akademik yang diraih. Juga, tidak kerena jabatan atau status yang sedang dipegang.
Seorang penulis bisa menghasilkan karya yang monumental karena telah memiliki kekuatan, dan kontinu yang dibentuk dan dibina sejak lama. Maka, kultur atau kebiasaan dan tradisi sangat penting dalam merawat tradisi menulis. Oleh karena itu, delapan kunci tersebut penting untuk dirawat dalam diri. Berikut ini delapan kunci menulis ala Kang Arul:
Baca Juga: Buku dan Lakon Seorang Pembaca
Baca Juga: Kejutan Literasi dengan Berbagi Buku
Selain itu, seorang penulis juga harus membangun kultur membaca yang kuat. Seperti yang banyak orang yakini, bahwa seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kiranya itu semacam rumus yang disyahkan oleh banyak penulis. Seorang yang tidak memiliki kultur membaca yang tidak baik, maka tulisannya pun—bisa dipastikan—akan garing, kaku, dan tidak berkembang.
Seorang penulis haruslah memiliki kultur yang baik, sehingga terbangunnya kultur yang baik akan menumbuhkan jam terbang yang tinggi pula. Seorang penulis senior atau gaek, jelas sebelum ia menuju ke puncak kesuksesan, ia pasti berdarah-darah menjadikan menulis dan membaca sebagai kultur dalam hidupnya sehari-hari.
Sekecil apapun itu, jika dilakukan setiap hari dengan ajeg dalam menumbuhkan budaya menulis, akan menjadi jalan ke-konsistensi-an diri seseorang. Sekalipun penulis tersebut telah menghasilkan karya, jika tidak merawat konsistensi akan menjumpai kepuasan dan tidak menulis lagi. Saya memiliki kolega—saya sebut guru, karena ia pernah jadi dosen saya—setiap hari menulis dengan sistem perepisode. Setiap segmen yang dihasilkan adalah setiap hal yang pernah ia jalani, pendek kata, menulis pengalamannya. Bagi saya hal tersebut salah satu merawat konsistensi dalam tradisi menulis.
Delapan kunci menulis dari kang Arul sangat penting untuk kita pahami. Sejatinya, rahasia menulis ada dalam delapan kunci menulis itu. Meski dalam menulis itu yang terpenting memiliki kertas dan pena, namun memiliki panduan dalam menulis atau motivasi menulis juga penting untuk menguatkan kemandirian dalam menulis []
Sedangkan, saya sendiri mengetahui nama Kang Arul, ketika saya menemukan buku yang berjudul A Complete for Writerpreneurship, di bazar buku di Kediri, kala itu. Tanpa berpikir panjang, saya membawa ke kasir untuk membelinya. Bagi saya, memiliki buku ini seperti membaca panduan dalam menulis.
Buku ini semacam panduan praktis menulis. Bahwa penulis bukan hanya sekedar menulis saja, namun lebih dari itu. Ada hal yang perlu dilakukan setelahnya, misal, berjejaring maupun mempromosikan. Oleh karena itu, buku ini patut dibaca, dipahami serta diaplikasikan teori ilmu menulis.
Penting seorang penulis atau seseorang yang ingin belajar menulis untuk menerapkan delapan kunci yang dirancang oleh Kang Arul tersebut. Bagi Kang Arul, yang telah menulis lebih dari 200 buku, menjadi penulis tidak semudah seperti Aladin mengusap lampu ajab yang mengeluarkan jin dan bisa mengabulkan tiga permintaan langsung. Bukan pula karena gelar akademis atau tinggi indeks prestasi akademik yang diraih. Juga, tidak kerena jabatan atau status yang sedang dipegang.
Seorang penulis bisa menghasilkan karya yang monumental karena telah memiliki kekuatan, dan kontinu yang dibentuk dan dibina sejak lama. Maka, kultur atau kebiasaan dan tradisi sangat penting dalam merawat tradisi menulis. Oleh karena itu, delapan kunci tersebut penting untuk dirawat dalam diri. Berikut ini delapan kunci menulis ala Kang Arul:
- Kultur.
Baca Juga: Buku dan Lakon Seorang Pembaca
Baca Juga: Kejutan Literasi dengan Berbagi Buku
Selain itu, seorang penulis juga harus membangun kultur membaca yang kuat. Seperti yang banyak orang yakini, bahwa seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Kiranya itu semacam rumus yang disyahkan oleh banyak penulis. Seorang yang tidak memiliki kultur membaca yang tidak baik, maka tulisannya pun—bisa dipastikan—akan garing, kaku, dan tidak berkembang.
Seorang penulis haruslah memiliki kultur yang baik, sehingga terbangunnya kultur yang baik akan menumbuhkan jam terbang yang tinggi pula. Seorang penulis senior atau gaek, jelas sebelum ia menuju ke puncak kesuksesan, ia pasti berdarah-darah menjadikan menulis dan membaca sebagai kultur dalam hidupnya sehari-hari.
- Konsistensi.
Sekecil apapun itu, jika dilakukan setiap hari dengan ajeg dalam menumbuhkan budaya menulis, akan menjadi jalan ke-konsistensi-an diri seseorang. Sekalipun penulis tersebut telah menghasilkan karya, jika tidak merawat konsistensi akan menjumpai kepuasan dan tidak menulis lagi. Saya memiliki kolega—saya sebut guru, karena ia pernah jadi dosen saya—setiap hari menulis dengan sistem perepisode. Setiap segmen yang dihasilkan adalah setiap hal yang pernah ia jalani, pendek kata, menulis pengalamannya. Bagi saya hal tersebut salah satu merawat konsistensi dalam tradisi menulis.
- Konsep.
- Kreativitas.
- Kompetisi.
- Kredibel.
- Fokus pada Klien.
- Fokus pada Networking.
Delapan kunci menulis dari kang Arul sangat penting untuk kita pahami. Sejatinya, rahasia menulis ada dalam delapan kunci menulis itu. Meski dalam menulis itu yang terpenting memiliki kertas dan pena, namun memiliki panduan dalam menulis atau motivasi menulis juga penting untuk menguatkan kemandirian dalam menulis []
Super sekali kang
BalasHapusTerima kasih, Mas.
BalasHapusSaya belum memenuhi semua kriteria tuh 😞
BalasHapusSama. Saya juga belum, Mas. Mari belajar bareng-bareng...
BalasHapusTulisan saya masih kesana kemari gak jelas.
BalasHapusMarilah ..😃
Apalagi saya mas. Saya hanya sekadar nulis.
BalasHapusPosting Komentar