Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah Kota Jakarta. Kota ini kota terbesar kedua pula yang pernah saya singgahi. Bukan sekadar singgah dalam waktu singkat. Tetapi singgah dalam waktu lama sekaligus sebagai tempat mencari rezeki.
Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan di tempat baru seperti di Kota Surabaya tidak lain adalah menyusuri jalanan dan kulinernya. Kenapa menelusuri jalanan? Tidak lain tidak bukan karena perkara kemudahan mobilisasi ke suatu tempat. Selain kemudahan menjangkau tempat tujuan, menelusuri dan menghafal jalan adalah suatu keharusan yang wajib dilakukan bagi siapa saja. Baik orang asli--lahir sampai besar di kota tersebut maupun pendatang baru.
Menghafal jalan bagi saya pribadi adalah suatu keharusan selama saya berada di kota baru ini, Kota Pahlawan. Ini menjadi titik awal mencari apa yang jadi kebutuhan berikutnya setelah bertekad jauh dari kampung halaman menuju tempat baru, yang benar-benar belum pernah saya ketahui secara spesifik.
Setelah jalur yang tidak bisa ketinggalan adalah mengagumi keindahan dan menikmati kulinernya. Perkara kuliner atau tempat nongkrong, Mbak Resti dan Mas Lukman--kebetulan mereka yang tahu Kota Surabaya dan tinggal di Surabaya--merekomendasikan Cangkir Coffee. Kali ini Cangkir Coffee yang dipilih yang berlokasi di Siwalankerto.
Sebenarnya yang terbesar, Cangkir Coffee ini berada di daerah Ngagel, yang di daerah Ngagel yang pegang adalah bapaknya. Untuk yang di daerah Siwalankerto yang jadi ownernya adalah anaknya. Namun menu dan keramaiannya sama saja. Suasananya pun juga sama saja.
Seperti yang saya tulis di atas. Kenapa saya bilang menghafal jalan. Tidak lain adalah, saya diberi ancer-ancer atau arah-arah saja untuk menuju di Cangkir Coffee itu. Saya hanya diberi ancer-ancer dari jalur yang sudah pernah saya lewati dan dipandu by phone. Hingga saya tidak memiliki pilihan selain menggunakan Google Maps untuk memantau rute yang saya lalui itu.
Baca Juga: Sarapan Sompil dan Ingatan Konyol Masa Lalu
Baca Juga: Sega Gegog Mbah Tumirah
Meski memantau via Google Maps, saya dan Ella masih tetap nyasar. Namun perkara nyasar ini adalah perkara yang kami takuti. Namun sampai kini perkara nyasar adalah hal wajar dan memiliki nilai positif. Saya jadi tahu wilayah yang saya sasari itu. Kami akhirnya ke sasar di daerah--entah di daerah apa namanya?--Surabaya Night Carnaval. Lalu saya putar balik dan menuju Siwalankerto, tempat Cangkir Coffee berada.
Kami pun akhirnya tahu lokasi tersebut dan di-track yang tepat. Namanya juga belum tahu jalan dan wilayah. Meski sesuai jalurnya, perasaan was-was tetap ada. Untuk memastikan itu, lalu kami hubungi Mas Lukman dan Mbak Resti. Akhirnya track di Google Maps benar. Dan kami akhirnya sampai juga. Terlihat dari parkiran, mereka berdua sudah pesan makanan. Kalau tidak salah lihat, Mas Lukman pesan menu penyet-an. Sementara Mbak Resti pesan nasi goreng.
Kami pun langsung ikut nyambung dan pesan makanan serta minuman di Cangkir Coffee. Tempat ini sangat representatif untuk nobar atau nongkrong bersama teman. Tempat ini sangat ramai. Sambil nunggu pesanan datang, kami ngobrol ngalor ngidul. Saya lihat di kanan kiri banyak anak muda laki-laki dan perempuan menikmati malam. Mereka asik dengan apa yang ada di depannya. Tak lupa sesekali ia seruput minuman dan menyendok makanan yang ada di atas meja mereka.
Sementara kami lagi asik mansyuk bercanda sambil menunggu pesanan datang. Saya pesan lalapan lele. Sementara Ella sama seperti Mbak Resti pesan menu nasi goreng. 15 menit pesanan datang. Kami akhirnya menikmati menu utu beserta kudapan.
Di sebelah tempat duduk kami ada beberapa anak muda laki-laki yang meracik kopi di mesin racik. Saya tak tahu persis ada berapa barista yang melayani kopi di Cangkir Coffee malam itu. Saya hanya ngobrol ngalor ngidul bersama. Namun, saat saya melirik barista itu memutar mesin racikan kopi. Dari dalam mesin itu, kopi yang sudah cair mengalir dituangkan di dalam gelas. Ia menggoyang-goyangkan gelas supaya kopi yang sudah diracik itu penuh dalam gelas.
Saya tak tahu ada berapa kopi yang tersedia di Cangkir Coffee itu. Yang jelas saat saya lihat di lembar daftar menu, yang banyak ditampilkan adalah kopi hitam atau Hot Black Coffee, Espresso, Mochacino dan Cappucino. Sepertinya di Cangkir Coffee menu-menu jadi andalan.
Sementara untuk daftar menu makanan nasi gorengnya menurut Mbak Resti enak rasanya. Selain harganya murah, porsinya juga banyak. Ella satu porsi nasi goreng tidak habis sendiri. Saya sendiri memiliki menu yang simpel, yakni lalapan lele penyet. Saya lebih menikmati malam hari itu daripada menikmati sajian menu makanan. Bukannya tak enak. Tetapi malam itu saya lebih menikmati malam dan obrolan yang tak ada ujung pangkalnya.
Kami ngobrol di Cangkir Coffee sampai larut malam. Terlihat parkiran saat saya datang ramai sekali, tapi saat kami pulang sudah agak sepi dan jumlah kendaraan di parkiran, samping jalan masuk Cangkir Coffee mulai berkurang. Cangkir Coffee merupakan tempat yang sangat rekomended bagi kalangan muda menghabiskan malam. Sajiannya cukup lengkap dengan harga yang sedikit miring. Kopi yang ditawarkan juga bervariasi.
Menikmati malam di Cangkir Coffee merupakan pertanda bahwa malam-malam selanjutnya bakal semakin banyak tempat yang bakal saya kunjungi. Dan kami akan menikmati suasana ramai khas Surabaya beserta kulinernya. Suatu hal yang wajib dilakukan saat berada di tanah perantauan. Meski masih satu provinsi. Begitu []
Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan di tempat baru seperti di Kota Surabaya tidak lain adalah menyusuri jalanan dan kulinernya. Kenapa menelusuri jalanan? Tidak lain tidak bukan karena perkara kemudahan mobilisasi ke suatu tempat. Selain kemudahan menjangkau tempat tujuan, menelusuri dan menghafal jalan adalah suatu keharusan yang wajib dilakukan bagi siapa saja. Baik orang asli--lahir sampai besar di kota tersebut maupun pendatang baru.
Menghafal jalan bagi saya pribadi adalah suatu keharusan selama saya berada di kota baru ini, Kota Pahlawan. Ini menjadi titik awal mencari apa yang jadi kebutuhan berikutnya setelah bertekad jauh dari kampung halaman menuju tempat baru, yang benar-benar belum pernah saya ketahui secara spesifik.
Setelah jalur yang tidak bisa ketinggalan adalah mengagumi keindahan dan menikmati kulinernya. Perkara kuliner atau tempat nongkrong, Mbak Resti dan Mas Lukman--kebetulan mereka yang tahu Kota Surabaya dan tinggal di Surabaya--merekomendasikan Cangkir Coffee. Kali ini Cangkir Coffee yang dipilih yang berlokasi di Siwalankerto.
Sebenarnya yang terbesar, Cangkir Coffee ini berada di daerah Ngagel, yang di daerah Ngagel yang pegang adalah bapaknya. Untuk yang di daerah Siwalankerto yang jadi ownernya adalah anaknya. Namun menu dan keramaiannya sama saja. Suasananya pun juga sama saja.
Seperti yang saya tulis di atas. Kenapa saya bilang menghafal jalan. Tidak lain adalah, saya diberi ancer-ancer atau arah-arah saja untuk menuju di Cangkir Coffee itu. Saya hanya diberi ancer-ancer dari jalur yang sudah pernah saya lewati dan dipandu by phone. Hingga saya tidak memiliki pilihan selain menggunakan Google Maps untuk memantau rute yang saya lalui itu.
Baca Juga: Sarapan Sompil dan Ingatan Konyol Masa Lalu
Baca Juga: Sega Gegog Mbah Tumirah
Meski memantau via Google Maps, saya dan Ella masih tetap nyasar. Namun perkara nyasar ini adalah perkara yang kami takuti. Namun sampai kini perkara nyasar adalah hal wajar dan memiliki nilai positif. Saya jadi tahu wilayah yang saya sasari itu. Kami akhirnya ke sasar di daerah--entah di daerah apa namanya?--Surabaya Night Carnaval. Lalu saya putar balik dan menuju Siwalankerto, tempat Cangkir Coffee berada.
Kami pun akhirnya tahu lokasi tersebut dan di-track yang tepat. Namanya juga belum tahu jalan dan wilayah. Meski sesuai jalurnya, perasaan was-was tetap ada. Untuk memastikan itu, lalu kami hubungi Mas Lukman dan Mbak Resti. Akhirnya track di Google Maps benar. Dan kami akhirnya sampai juga. Terlihat dari parkiran, mereka berdua sudah pesan makanan. Kalau tidak salah lihat, Mas Lukman pesan menu penyet-an. Sementara Mbak Resti pesan nasi goreng.
Kami pun langsung ikut nyambung dan pesan makanan serta minuman di Cangkir Coffee. Tempat ini sangat representatif untuk nobar atau nongkrong bersama teman. Tempat ini sangat ramai. Sambil nunggu pesanan datang, kami ngobrol ngalor ngidul. Saya lihat di kanan kiri banyak anak muda laki-laki dan perempuan menikmati malam. Mereka asik dengan apa yang ada di depannya. Tak lupa sesekali ia seruput minuman dan menyendok makanan yang ada di atas meja mereka.
Sementara kami lagi asik mansyuk bercanda sambil menunggu pesanan datang. Saya pesan lalapan lele. Sementara Ella sama seperti Mbak Resti pesan menu nasi goreng. 15 menit pesanan datang. Kami akhirnya menikmati menu utu beserta kudapan.
Di sebelah tempat duduk kami ada beberapa anak muda laki-laki yang meracik kopi di mesin racik. Saya tak tahu persis ada berapa barista yang melayani kopi di Cangkir Coffee malam itu. Saya hanya ngobrol ngalor ngidul bersama. Namun, saat saya melirik barista itu memutar mesin racikan kopi. Dari dalam mesin itu, kopi yang sudah cair mengalir dituangkan di dalam gelas. Ia menggoyang-goyangkan gelas supaya kopi yang sudah diracik itu penuh dalam gelas.
Saya tak tahu ada berapa kopi yang tersedia di Cangkir Coffee itu. Yang jelas saat saya lihat di lembar daftar menu, yang banyak ditampilkan adalah kopi hitam atau Hot Black Coffee, Espresso, Mochacino dan Cappucino. Sepertinya di Cangkir Coffee menu-menu jadi andalan.
Sementara untuk daftar menu makanan nasi gorengnya menurut Mbak Resti enak rasanya. Selain harganya murah, porsinya juga banyak. Ella satu porsi nasi goreng tidak habis sendiri. Saya sendiri memiliki menu yang simpel, yakni lalapan lele penyet. Saya lebih menikmati malam hari itu daripada menikmati sajian menu makanan. Bukannya tak enak. Tetapi malam itu saya lebih menikmati malam dan obrolan yang tak ada ujung pangkalnya.
Kami ngobrol di Cangkir Coffee sampai larut malam. Terlihat parkiran saat saya datang ramai sekali, tapi saat kami pulang sudah agak sepi dan jumlah kendaraan di parkiran, samping jalan masuk Cangkir Coffee mulai berkurang. Cangkir Coffee merupakan tempat yang sangat rekomended bagi kalangan muda menghabiskan malam. Sajiannya cukup lengkap dengan harga yang sedikit miring. Kopi yang ditawarkan juga bervariasi.
Menikmati malam di Cangkir Coffee merupakan pertanda bahwa malam-malam selanjutnya bakal semakin banyak tempat yang bakal saya kunjungi. Dan kami akan menikmati suasana ramai khas Surabaya beserta kulinernya. Suatu hal yang wajib dilakukan saat berada di tanah perantauan. Meski masih satu provinsi. Begitu []
Posting Komentar