Berbicara tentang filsafat, selayaknya kita cari dahulu pengertiannya. Filsafat berasal dari kata philo dan shopia—philo artinya cinta, shopia artinya kebijaksanaan—filsafat memiliki arti cinta pada kebijaksanaan. Begitu pepatah pembukaan yang disampaikan Rektor IAIN Tulungagung pada acara Institut Transvaluasi, kemarin (31/3) malam. Acara yang digagas oleh fakultas Filsafat Agama tersebut sangat menarik, karena tema yang diusung “Mentradisikan Diskusi, Merawat Akal Sehat”. Pasalnya, diskusi adalah ruh dalam dunia akademik dalam merawat akal sehat. Dari atmosfir diskusi tersebut maka akan menghasilkan pemikiran maupun perbedaan.
Menurut Dr. Maftukhin, M. Ag dari Baitul Hikmah, atau komunitas kecil maka akan melahirkan gagasan atau sesuatu yang besar. Tokoh-tokoh besar dunia, seperti atau mungkin penulis serta filsof, tidak dilahirkan dari komunitas yang besar. Namun ia lahir dari lingkup komunitas yang sangat kecil. Barangkali 5 orang atau lebih. Maftukhin bercerita tentang komunitas yang didirikan ketika masih mondok di Lirboyo, ia mentradisikan diskusi 5 atau lebih orang untuk berdiskusi.
Oleh karena itu, tidak khayal, sesuatu itu tidak dimulai dari sesuatu yang besar, tapi terlahir dari komunitas yang kecil. Jika kita menilik sejarah islam, kejayaan islam juga dibangun dari atmosfir diskusi kecil yang disebut baitul Hikmah. Mereka banyak mengkaji kitab-kitab dari Yunani, tanpa mempertanyakan latar belakang dan agama pengarangnya? Maka pada akhirnya, dari diskusi tersebut melahirkan para filosof yang termasyhur di jagad raya ini. Sebut saja Ibnu Sina, Imam Ghozali, Al-Farabi dan Al-Kindi maupun yang lainnya. Mereka lahir dari komunitas minoritas.
Rektor IAIN Tulungagung ini menyakinkan para mahasiswa filsafat, tentang asal muasal kata Republik. Kata Republik yang dipakai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, berasal dari buku Republic karya Plato. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pemimpin negara (republik) harus dari filsof. Oleh karena itu, Maftukhin di akhir sambutannya menyakinkan para mahasiswa filsafat “Jika ingin negara ini selamat, maka pemimpinnya adalah harus seorang filsafat (filosof)".
Baca Juga: Degradasi Bahasa Jawa dan Makna dalam Hanacaraka
Baca Juga: Diplomasi Cantik a la Rista
Bima dalam Islam, menurut para wali songo, merupakan simbol dari sholat. Bima memiliki nama lain, Brontoseno atau Werkudoro, (atau dalam bahasa sehari-hari, orang lebih dikenal dengan kopi Brontoseno—pemt). Bima merupakan salah satu tokoh wayang yang mampu mengislamkan orangtuanya. Bima juga salah satu titik kulminasi dari simbol toleransi—bahkan dalam lakon pewayangannya—Bima dicitrakan sebagai tokoh yang tidak bisa berbahasa jawa ‘kromo’. Karena ia menganggap semua orang sama. Tidak ada sektarian dan segmen-segmen yang menghalangi untuk berlaku dan membangun relasi sosial dengan sesama masyarakat.
Dalam lakon Bima Suci ini terdapat suatu ajaran Adi Lhuhung, yaitu ajaran Manunggaling Kawulo Gusti. Dalam kisah ini, gusti disimbolkan oleh Dewa Ruci. Jadi, jika seseorang yang ingin sampai pada gusti-Nya (Dewa Ruci), maka tidak ada jalan lain kecuali melalui Bima. Bima ini disimbolkan sholat, atau syariat Islam. Jadi titik puncak penyatuan Kawulo (Bima) dan Gusti (Dewa Ruci) tidak lain dengan menjalankan syariatnya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.
Di dalam ajaran pewayangan yang digubah oleh para wali songo, yang pada awalnya lakon dari Nawaruci dari India kemudian digubah oleh wali songo menjadi lakon Dewa Ruci. Di dalam Dewa Ruci, terdapat nilai ajaran tasawuf dalam Islam, yaitu Ittihad dati teori Ibnu ‘Arobi. “Yaitu manusia akan mampu sampai pada Tuhan-Nya dengan cara manusia itu menjalankan syariat Tuhan (manusia yang aktif). Pada perkembangannya, konsep bertranformasi seperti konsep Insan kamilnya Al-Hallaj. Yaitu, Tuhan sendiri yang akan memilih hambanya sampai kepada-Nya (manusia bersifat pasif). Oleh karena itu, ada empat tahapan untuk menuju Insan Kamil, yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat. Atau dalam serat Widatama, ada ajaran sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.
Oleh karena itu, wayang adalah karya seni yang digemari oleh orang banyak. Mulai dari Kerajaan Airlangga sampai saat ini. Wayang telah mengundang banyak manusia, kita bisa lihat sendiri bagaimana IAIN Tulungagung sudah tiga tahun menghadirkan Wayang sebagai puncak acara PSKM (Pekan Seni dan Kreativitas Mahasiswa). Karena itu, wayang sebagai media untuk berdakwah. Berdakwah kultural yang bersifat ‘ngemot’ (mampu menampung). Kelenturan budaya (kultur) dari seni pewayangan maka mudah dimasuki nilai-nilai filosofis dan agamis.
Di sesi tanya jawab dengan pengantar Akhol Firdaus, dalam konteks kekinian, sisi akulturasi antara Islam dan Jawa bisa sinkretisme dan mendapat tantangan yang serius, dalam kajian antropologi. Dalam sesi tanya jawab dapat saya simpulkan dari jawaban Dr. Teguh, bahwa Bima berasal dari Jawa bukan berasal dari India. Saat di India, ia masih bernama Nawaruci, namun setelah sampai di Jawa dan digubah oleh Wali Songo baru bertransformasi menjadi Dewa Ruci dengan nilai-nilai keagamaan. Pada masa kejayaan Mataram nama Bima baru muncul.
Kemudian dalam lakon pewayangan apa filosofis gunungan wayang? Gunungan merupakan simbol makro kosmos. Gunungan berbentuk lancip ke atas, ini menyimpulkan tujuan manusia Manunggaling Kawulo Gusti, atau dalam bahasa Ki Ngabehi Agus Sunyoto ‘Ngalah’, menuju ke Allah.[]
Menurut Dr. Maftukhin, M. Ag dari Baitul Hikmah, atau komunitas kecil maka akan melahirkan gagasan atau sesuatu yang besar. Tokoh-tokoh besar dunia, seperti atau mungkin penulis serta filsof, tidak dilahirkan dari komunitas yang besar. Namun ia lahir dari lingkup komunitas yang sangat kecil. Barangkali 5 orang atau lebih. Maftukhin bercerita tentang komunitas yang didirikan ketika masih mondok di Lirboyo, ia mentradisikan diskusi 5 atau lebih orang untuk berdiskusi.
Oleh karena itu, tidak khayal, sesuatu itu tidak dimulai dari sesuatu yang besar, tapi terlahir dari komunitas yang kecil. Jika kita menilik sejarah islam, kejayaan islam juga dibangun dari atmosfir diskusi kecil yang disebut baitul Hikmah. Mereka banyak mengkaji kitab-kitab dari Yunani, tanpa mempertanyakan latar belakang dan agama pengarangnya? Maka pada akhirnya, dari diskusi tersebut melahirkan para filosof yang termasyhur di jagad raya ini. Sebut saja Ibnu Sina, Imam Ghozali, Al-Farabi dan Al-Kindi maupun yang lainnya. Mereka lahir dari komunitas minoritas.
Rektor IAIN Tulungagung ini menyakinkan para mahasiswa filsafat, tentang asal muasal kata Republik. Kata Republik yang dipakai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, berasal dari buku Republic karya Plato. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pemimpin negara (republik) harus dari filsof. Oleh karena itu, Maftukhin di akhir sambutannya menyakinkan para mahasiswa filsafat “Jika ingin negara ini selamat, maka pemimpinnya adalah harus seorang filsafat (filosof)".
***
Setelah itu, puncak acara Institut Transvaluasi dengan membedah desertasi dari Dr. Teguh, M. Ag. Desertasinya yang berjudul “Moral Islam dalam Lakon Bima Suci” ini, ia menduga bahwa dari 124 ribu Nabi, dari 124 ribu nabi yang diseleksi menjadi 313 nabi (kalau tidak salah menyebutkan) salah satunya ajarannya ada di Nusantara ini. Dari 313 Nabi kemudian diseleksi lagi menjadi 25 Nabi, setelah itu di “seleksi alam” menjadi 5 Nabi, dari 5 nabi tersebut dipilih satu menjadi Nabi temasyhur. Dari sebanyak nabi yang tidak boleh diketahui oleh manusia tersebut. Dr. Teguh berhipotesis bahwa dari sekian banyak nabi ini pasti ada salah satu nabi yang hidup di Bumi Nusatara saat itu. Oleh karena itu, dalam lakon kearifan budaya lokal dalam Bima Suci, yang diapresiasi salah satunya adalah wayang. Di antara tokoh pencetus kearifan lokal adalah wali songo. Seperti, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kalijogo, dan para wali-wali yang lain.Baca Juga: Degradasi Bahasa Jawa dan Makna dalam Hanacaraka
Baca Juga: Diplomasi Cantik a la Rista
Bima dalam Islam, menurut para wali songo, merupakan simbol dari sholat. Bima memiliki nama lain, Brontoseno atau Werkudoro, (atau dalam bahasa sehari-hari, orang lebih dikenal dengan kopi Brontoseno—pemt). Bima merupakan salah satu tokoh wayang yang mampu mengislamkan orangtuanya. Bima juga salah satu titik kulminasi dari simbol toleransi—bahkan dalam lakon pewayangannya—Bima dicitrakan sebagai tokoh yang tidak bisa berbahasa jawa ‘kromo’. Karena ia menganggap semua orang sama. Tidak ada sektarian dan segmen-segmen yang menghalangi untuk berlaku dan membangun relasi sosial dengan sesama masyarakat.
Dalam lakon Bima Suci ini terdapat suatu ajaran Adi Lhuhung, yaitu ajaran Manunggaling Kawulo Gusti. Dalam kisah ini, gusti disimbolkan oleh Dewa Ruci. Jadi, jika seseorang yang ingin sampai pada gusti-Nya (Dewa Ruci), maka tidak ada jalan lain kecuali melalui Bima. Bima ini disimbolkan sholat, atau syariat Islam. Jadi titik puncak penyatuan Kawulo (Bima) dan Gusti (Dewa Ruci) tidak lain dengan menjalankan syariatnya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.
Di dalam ajaran pewayangan yang digubah oleh para wali songo, yang pada awalnya lakon dari Nawaruci dari India kemudian digubah oleh wali songo menjadi lakon Dewa Ruci. Di dalam Dewa Ruci, terdapat nilai ajaran tasawuf dalam Islam, yaitu Ittihad dati teori Ibnu ‘Arobi. “Yaitu manusia akan mampu sampai pada Tuhan-Nya dengan cara manusia itu menjalankan syariat Tuhan (manusia yang aktif). Pada perkembangannya, konsep bertranformasi seperti konsep Insan kamilnya Al-Hallaj. Yaitu, Tuhan sendiri yang akan memilih hambanya sampai kepada-Nya (manusia bersifat pasif). Oleh karena itu, ada empat tahapan untuk menuju Insan Kamil, yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat. Atau dalam serat Widatama, ada ajaran sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.
***
Seperti yang kita tahu bersama, wayang sangat digemari oleh masyarakat Nusantara. Bahkan dalam obrolan di warung kopi pun wayang menjadi obrolan yang menjadi unsur “menyublim” dengan masyarakat.Oleh karena itu, wayang adalah karya seni yang digemari oleh orang banyak. Mulai dari Kerajaan Airlangga sampai saat ini. Wayang telah mengundang banyak manusia, kita bisa lihat sendiri bagaimana IAIN Tulungagung sudah tiga tahun menghadirkan Wayang sebagai puncak acara PSKM (Pekan Seni dan Kreativitas Mahasiswa). Karena itu, wayang sebagai media untuk berdakwah. Berdakwah kultural yang bersifat ‘ngemot’ (mampu menampung). Kelenturan budaya (kultur) dari seni pewayangan maka mudah dimasuki nilai-nilai filosofis dan agamis.
Di sesi tanya jawab dengan pengantar Akhol Firdaus, dalam konteks kekinian, sisi akulturasi antara Islam dan Jawa bisa sinkretisme dan mendapat tantangan yang serius, dalam kajian antropologi. Dalam sesi tanya jawab dapat saya simpulkan dari jawaban Dr. Teguh, bahwa Bima berasal dari Jawa bukan berasal dari India. Saat di India, ia masih bernama Nawaruci, namun setelah sampai di Jawa dan digubah oleh Wali Songo baru bertransformasi menjadi Dewa Ruci dengan nilai-nilai keagamaan. Pada masa kejayaan Mataram nama Bima baru muncul.
Kemudian dalam lakon pewayangan apa filosofis gunungan wayang? Gunungan merupakan simbol makro kosmos. Gunungan berbentuk lancip ke atas, ini menyimpulkan tujuan manusia Manunggaling Kawulo Gusti, atau dalam bahasa Ki Ngabehi Agus Sunyoto ‘Ngalah’, menuju ke Allah.[]
Tm, 1/4/’15
Posting Komentar