Rista merupakan salah satu inspirasi dalam menumbuhkan ide. Kelucuan-kekonyolan polah tingkahnya tak habis aku ceritakan hari ini dan yang akan datang. Setiap aksinya pasti tak luput dari keluguan dan kepolosannya. Wajarlah lucu, rambutnya yang—maaf—ikal, mirip si biang kerok, dalam dalam satu pemeran di sinetron televisi, membuatku, rista ini aku posisikan yang subur, mirip lahan emas di tengah gersang inspirasi.
Anak seusianya, memang mengundang gelak tawa manakala polah tingkah di luar akal orang dewasa. Aku sadar, aku juga pernah melakukan hal serupa, seperti apa yang dilakukan anak kecil, seusia Rista. Misalnya, merengek minta uang jajan sekolah. Aku ingat, dulu, waktu masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah, aku merengek minta uang jajan tambahan. Tidak hanya ketika kecil, seusiaku sekarang saja, aku masih—kadang—merengek minta uang saku tambahan. Kalau uang jajan tidak ditambah, tak mau pergi sekolah. Itu hal yang umum dilakukan anak-anak kecil, tidak dipungkiri aku juga iya.
Dulu, ketika sekolah di Madrasah Ibtidayah, yang jaraknya dari rumha sekitar tiga menit jika naik sepeda, lima menit jika berjalan kaki, jika tidak dikasih uang jajan lebih dari apa yang aku utarakan di atas, atau lebih dari pada yang kemarin, aku pasti akan merengek minta tambah. Ujung-ujungnya begot, menangis dan tidak sekolah. Begitupun yang dilakukan oleh Rista. Rista adalah adik bungsu. Anak terakhir dari tiga saudara.
Untuk itulah, aku tersenyum-senyum sendiri, dan kadang juga heran mengingat masa lampau dulu, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Apa yang aku lakukan dulu, mirip apa yang dilakukan oleh Rista. Hal tersebut aku sebut diplomasi cantik ala Rista.
Tak mustahil apa yang dilakukan oleh Rista juga dilakukan dari kebanyakan anak-anak kampung semacam, Rista dan anak-anak lain seusianya. Diplomasi yang dilakukan oleh anak-anak seusia itu aku namakan sebagai diplomasi cantik. Karena, banyak jurus-jurus yang dikeluarkan oleh anak-anak seusia mereka, yang tentunya Rista.
Baca Juga: Di Desa dan Kelakar Seorang Sahabat
Baca Juga: Bunga Asoka Kaya Zat dan Manis Dihisap Anak-anak
Lain cerita dengan uang saku sekolah. Tentu masih banyak trik atau diplomasi yang dilanggengkan untuk mempermudah dalam “membidik” keinginannya. Intinya, apapun yang ada dipikirannya harus secepat kita ada di depannya, dan jadi kenyataan. Maka setelah melakukan diplomasi, tawar-menawar, dialog bersama ibu dan bapak, maka ibu pun akan mengeluarkan filosofi jawa, yang jika didengar akan terasa wagu, “sek ngenteni orong-orong gendong gong, bar ngunu gong e dijaluk,” (menunggu hewan orong-orong (hewan yang hidup di dalam tanah), memanggul gong,(emas) setelah itu emasnya diminta.” Pepatah wagu ini selalu keluar dari mulut wanita paruh baya itu.
Pepatah itu tak membuat Rista sedikit bergeming, tetapi malah semakin menjadi-jadi. Ia malah semakin menemukan ramuan berkhasiat untuk meluruskan kemampuannya. Kemampuan satu-satunya tidak lebih, yaitu menangis. Dari jurusnya itulah, baru ibu akan kalah dalam diplomasi. Selang satu, dua hari permintaan itu akan terkabul, dengan ucapan omelan-omelan, bahasa kerennya punisment atau reward, jika meminta hal sesuatu, yang sifatnya “agak mahal”.
Kala meminta perlengkapan kreativitas dan aktivitasnya. Misal, sepeda lipat, yang katanya buatan dan mrek Jepang, nyatanya dibuat di Indonesia, ini jadi sasaran selanjutnya untuk menunjang aktivitasnya dalam sehari-hari.
Diplomasi cantik dilakukan kala meminta sepeda tersebut. Memang, di antara anak-anak kecil yang ada di lingkungan—aku pikir hanya Rista saja yang belum memiliki sepeda lipat, kala itu. Rista pun melakukan diplomasi dengan Ibu dan bapak. Diplomasi ini aku pikir yang lebih alot tinimbang diplomasi-diplomasi yang pernah dia lakukan. Karena harga sepeda lipat ini, yaaa! Lumayan mahallah untuk ukuran keluarga kami, yang bagetnya kurang lebih satu setengah sampai, dua hingga tiga juta.
Harga segitu, bagi sebagaian orang kampung tentunya mahal bin banget. Karena banyak kebutuhan lain yang lebih penting dari sepeda. Selain mikir fungsi sepeda lipat, keluarga kami harus memikirkan kebutuhan yang paling urgens di antara kebutuhan lain, yakni tidak lain, tidak bukan urusan “nabi usus”.
Ibu sebagai bendahara keluarga juga sebagai pemangku kebijakan akan pemasukan dan pengeluaran yang ada di keluarga kami. Jadi, jika melakukan diplomasi harus melalui rentenir ibu dulu. Kebijakan ibu selalu membuat aku, rista serta keluarga di rumah mengeluarkan segenap tumpah darah kemampuan berdiplomasi jika ingin usulan atau permohonan pencairan dana mengalir, flow seperti air. Ibu bukanlah orang yang pelit, tetapi ibu adalah bagain dari demokrasi independent dalam republik rumah tangga kami.
Pertama, ritme maju-mundur. Lagu Syahrini itu aku pikir penting diterapkan dalam diplomasi, oh, mbak Syahrini ini loh, aku sebut sampeyan dalam hal kecantikan. Trik maju mundur ini penting dilakukan untuk melancarkan diplomasi. Oleh karena itu, perhatikan ya anak-anak. Sampeyan jangan terlalu ambisi jika meminta sesuatu kepada kedua orang tuamu. Tarik ulur dulu. Tak perlu spaneng dalam menlancarkan pemintaan. Sekali-kali ngotot, sekali-kali menurunkan tensi ngotot tersebut.
Kedua, puji orang tua. Hal yang paling paling disukai orang Jawa adalah dipuji. Maka dari itu pujilah kedua orang tua. Selain misi menyenangkan kedua orang tua, karena memuji dan menyayang kedua orang tua, rezeki dari kedua orangtua juga ikut mengalir. Dalam hal ini berarti sambil menyelam minum susu. Sembari menyenangkan kedua orangtua, uang saku atau permintaan akan dipermudah dan sejalan dengan bungahnya hati orang tua.
Ketiga, Belajar yang giat. Berkembangnya era digitalisasi tidak diimbangi minat belajar pada pelajar. Aku menangkap fenomena yang luar biasa, khususnya di kalangan pelajar. Sekalipun pelajar Sekolah Dasar—mereka telah menikmati fasilitas super canggih ini dengan masif. Saking asiknya dengan dunia baru ini, dunia gadget, ia sering lupa dengan belajarnya. Secara otomatis, kedua orangtua kamu akan menyetop anggaran belanja daerah kamu. Terlebih urusan meminta dengan badget di atas goceng. Maka dari itu, perlulah sampeyan, anak-anak untuk balance belajar dengan keasyikan dunia lain.
Trik ini sangat mendasar dilakukan kita semua, sekali lagi bagi anak-anak yang masih di bawah umur, yang kerjaanya masih meminta kedua orangtuanya. Rista perlulah ndok, sampeyan mengaplikasikan saran dari kakakmu ini. supaya sampeyan disayang ibu bapak, uang saku atau permintaanmu pun juga ikut berkah, di atas keberkahan anak sholaeh dan sholehah tentunya. Waallahu a’alam.
Anak seusianya, memang mengundang gelak tawa manakala polah tingkah di luar akal orang dewasa. Aku sadar, aku juga pernah melakukan hal serupa, seperti apa yang dilakukan anak kecil, seusia Rista. Misalnya, merengek minta uang jajan sekolah. Aku ingat, dulu, waktu masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah, aku merengek minta uang jajan tambahan. Tidak hanya ketika kecil, seusiaku sekarang saja, aku masih—kadang—merengek minta uang saku tambahan. Kalau uang jajan tidak ditambah, tak mau pergi sekolah. Itu hal yang umum dilakukan anak-anak kecil, tidak dipungkiri aku juga iya.
Dulu, ketika sekolah di Madrasah Ibtidayah, yang jaraknya dari rumha sekitar tiga menit jika naik sepeda, lima menit jika berjalan kaki, jika tidak dikasih uang jajan lebih dari apa yang aku utarakan di atas, atau lebih dari pada yang kemarin, aku pasti akan merengek minta tambah. Ujung-ujungnya begot, menangis dan tidak sekolah. Begitupun yang dilakukan oleh Rista. Rista adalah adik bungsu. Anak terakhir dari tiga saudara.
Untuk itulah, aku tersenyum-senyum sendiri, dan kadang juga heran mengingat masa lampau dulu, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Apa yang aku lakukan dulu, mirip apa yang dilakukan oleh Rista. Hal tersebut aku sebut diplomasi cantik ala Rista.
Tak mustahil apa yang dilakukan oleh Rista juga dilakukan dari kebanyakan anak-anak kampung semacam, Rista dan anak-anak lain seusianya. Diplomasi yang dilakukan oleh anak-anak seusia itu aku namakan sebagai diplomasi cantik. Karena, banyak jurus-jurus yang dikeluarkan oleh anak-anak seusia mereka, yang tentunya Rista.
Baca Juga: Di Desa dan Kelakar Seorang Sahabat
Baca Juga: Bunga Asoka Kaya Zat dan Manis Dihisap Anak-anak
Lain cerita dengan uang saku sekolah. Tentu masih banyak trik atau diplomasi yang dilanggengkan untuk mempermudah dalam “membidik” keinginannya. Intinya, apapun yang ada dipikirannya harus secepat kita ada di depannya, dan jadi kenyataan. Maka setelah melakukan diplomasi, tawar-menawar, dialog bersama ibu dan bapak, maka ibu pun akan mengeluarkan filosofi jawa, yang jika didengar akan terasa wagu, “sek ngenteni orong-orong gendong gong, bar ngunu gong e dijaluk,” (menunggu hewan orong-orong (hewan yang hidup di dalam tanah), memanggul gong,(emas) setelah itu emasnya diminta.” Pepatah wagu ini selalu keluar dari mulut wanita paruh baya itu.
Pepatah itu tak membuat Rista sedikit bergeming, tetapi malah semakin menjadi-jadi. Ia malah semakin menemukan ramuan berkhasiat untuk meluruskan kemampuannya. Kemampuan satu-satunya tidak lebih, yaitu menangis. Dari jurusnya itulah, baru ibu akan kalah dalam diplomasi. Selang satu, dua hari permintaan itu akan terkabul, dengan ucapan omelan-omelan, bahasa kerennya punisment atau reward, jika meminta hal sesuatu, yang sifatnya “agak mahal”.
Kala meminta perlengkapan kreativitas dan aktivitasnya. Misal, sepeda lipat, yang katanya buatan dan mrek Jepang, nyatanya dibuat di Indonesia, ini jadi sasaran selanjutnya untuk menunjang aktivitasnya dalam sehari-hari.
Diplomasi cantik dilakukan kala meminta sepeda tersebut. Memang, di antara anak-anak kecil yang ada di lingkungan—aku pikir hanya Rista saja yang belum memiliki sepeda lipat, kala itu. Rista pun melakukan diplomasi dengan Ibu dan bapak. Diplomasi ini aku pikir yang lebih alot tinimbang diplomasi-diplomasi yang pernah dia lakukan. Karena harga sepeda lipat ini, yaaa! Lumayan mahallah untuk ukuran keluarga kami, yang bagetnya kurang lebih satu setengah sampai, dua hingga tiga juta.
Harga segitu, bagi sebagaian orang kampung tentunya mahal bin banget. Karena banyak kebutuhan lain yang lebih penting dari sepeda. Selain mikir fungsi sepeda lipat, keluarga kami harus memikirkan kebutuhan yang paling urgens di antara kebutuhan lain, yakni tidak lain, tidak bukan urusan “nabi usus”.
Ibu sebagai bendahara keluarga juga sebagai pemangku kebijakan akan pemasukan dan pengeluaran yang ada di keluarga kami. Jadi, jika melakukan diplomasi harus melalui rentenir ibu dulu. Kebijakan ibu selalu membuat aku, rista serta keluarga di rumah mengeluarkan segenap tumpah darah kemampuan berdiplomasi jika ingin usulan atau permohonan pencairan dana mengalir, flow seperti air. Ibu bukanlah orang yang pelit, tetapi ibu adalah bagain dari demokrasi independent dalam republik rumah tangga kami.
***
Anak-anak memang jagonya melakukan diplomasi. Karena anak seusia mereka, termasuk usia Rista 8-9 tahun, memang tak semua bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu perlulah melakukan diplomasi cantik, secantik princes syahrini, cantik dari mana coba, syahrini itu. Hahaha, maaf, mbak syahrini ini hanya guyonan anak kampung saja. Maka diperlukan beberapa trik untuk melancarkan diplomasi cantik itu.Pertama, ritme maju-mundur. Lagu Syahrini itu aku pikir penting diterapkan dalam diplomasi, oh, mbak Syahrini ini loh, aku sebut sampeyan dalam hal kecantikan. Trik maju mundur ini penting dilakukan untuk melancarkan diplomasi. Oleh karena itu, perhatikan ya anak-anak. Sampeyan jangan terlalu ambisi jika meminta sesuatu kepada kedua orang tuamu. Tarik ulur dulu. Tak perlu spaneng dalam menlancarkan pemintaan. Sekali-kali ngotot, sekali-kali menurunkan tensi ngotot tersebut.
Kedua, puji orang tua. Hal yang paling paling disukai orang Jawa adalah dipuji. Maka dari itu pujilah kedua orang tua. Selain misi menyenangkan kedua orang tua, karena memuji dan menyayang kedua orang tua, rezeki dari kedua orangtua juga ikut mengalir. Dalam hal ini berarti sambil menyelam minum susu. Sembari menyenangkan kedua orangtua, uang saku atau permintaan akan dipermudah dan sejalan dengan bungahnya hati orang tua.
Ketiga, Belajar yang giat. Berkembangnya era digitalisasi tidak diimbangi minat belajar pada pelajar. Aku menangkap fenomena yang luar biasa, khususnya di kalangan pelajar. Sekalipun pelajar Sekolah Dasar—mereka telah menikmati fasilitas super canggih ini dengan masif. Saking asiknya dengan dunia baru ini, dunia gadget, ia sering lupa dengan belajarnya. Secara otomatis, kedua orangtua kamu akan menyetop anggaran belanja daerah kamu. Terlebih urusan meminta dengan badget di atas goceng. Maka dari itu, perlulah sampeyan, anak-anak untuk balance belajar dengan keasyikan dunia lain.
Trik ini sangat mendasar dilakukan kita semua, sekali lagi bagi anak-anak yang masih di bawah umur, yang kerjaanya masih meminta kedua orangtuanya. Rista perlulah ndok, sampeyan mengaplikasikan saran dari kakakmu ini. supaya sampeyan disayang ibu bapak, uang saku atau permintaanmu pun juga ikut berkah, di atas keberkahan anak sholaeh dan sholehah tentunya. Waallahu a’alam.
wuaduhh tiap detiiikkk aku ini lhoooh, harus berhadapan dg diplomasi cantik ala Adiba mungilkuu, hingga aku maju mundur selalu, hingga cantikku melebihi syahrinii...
BalasHapusAnak kecil itu memang sudah diajari untuk melakukan diplomasi, ya, bu? Hiks semoga di sekolah bisa bersosialisasi atau setidaknya berdiplomasi dengan gurunya…
BalasHapusPosting Komentar