Sebuah kesempatan datang itu tidak terduga-duga. Datangnya tidak ada bedanya dengan rezeki "anak sholeh". Ini bukan tentang mendapat durian runtuh atau rezeki lain. Ini soal mendapat kesempatan berbagi kesempatan dari ilmu yang saya dapat kepada anak-anak sekolah di Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.
Kesempatan kemarin (16/12), saya mendapat kehormatan untuk berbagi inspirasi tentang literasi bersama siswa-siswi SMP dan SMA Muhammadiyah se-Trenggalek. Kehormatan tersebut menjadi kesempatan yang menyenangkan sekaligus media belajar, setelah dua tahun lalu testimoni di acara bedah buku antologi teman-teman di acara ngabuburead literasi. Kali ini saya mengisi materi tentang literasibaca dan tulis yang diselenggarakan di MTs Muhammadiyah Gandusari.
Kesempatan ini sangat menyenangkan. Sebab, dunia yang saya geluti beberapa tahun ini bermanfaat kepada siswa-siswa, baik SMP maupun SMA. Namun, sebelum mendapat kehormatan tersebut, saya sempat ragu untuk menerima tawaran dari salah satu teman, Trigussalah satu penulis dan blogger termoncer di Trenggalek. Sebab, ada beberapa kendala . Pertama, laptop sedang rusak dan diopname di bengkel laptop. Kedua, kondisi fisik dan keadaan saya juga kurang fit. Saya sempat berpikir panjang untuk menerima dan mengiyakan tawaran itu.
Karena ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk menginspirasi kepada adik-adik saya tentang pentingnya literasi, maka iyakan setelah tawaran itu dialamatkan ke saya untuk kedua kalinya. Saya meng-iya-kan tawaran itu dengan konsekuensi harus berbicara apa di depan dengan keterbatasan isi materi. Hanya ngomong ngalor ngidul tanpa batas. Alhamdulillah, kendala dan keterbatasan materi itu bisa saya lalui dengan pinjam laptop dan kondisi tubuh mulai berangsur pulih, meski tidak seratus persen.
Waktu itu saya berangkat lebih awal dari jadwal yang diberikan pada panitia. Ini saya lakukan untuk istirahat setelah perjalanan satu jam dan untuk mengisi acara juga kurang satu jam. Sampai di sana, siswa-siswi baru selesai materi dan akan melakasanakan sholat Magrib. Ada jeda setengah jam untuk istirahat siswa-siswi sebelum lanjut materi lain, yakni materi literasi itu.
Bagi saya sendiri ini luar biasa. Karena apa? Baru kali ini mengisiberhadapan dengan orang laintidak ada rasa grogi atau gemeter. Barangkali ini materi yang pas bagi saya untuk berbagi inspirasi dan pengetahuan tentang literasi. Atau kali ini saya berhadapan dengan anak-anak sekolah menengah ya? Pokoknya, saat itu saya senang sekali bisa berbagi inspirasi kepada audiens.
Saat itu panitia menentukan tema “Literasi Remaja Jaman Now". Sebuah tema yang kontekstual, kekinian dan komprehensif terhadap perkembangan saat ini. Waktu menyiapkan materi, saya sempat berpikir, akan saya berikan materi apa?
"Jangan kasih materi yang berat-berat, kang," tambah Kang Taufik, "Ajak cerita-cerita tentang literasi dan motivasi supaya mereka memiliki kemauan untuk menulis."
Tanggung jawab saya besar. Saya tidak berbagi tentang teori menulis yang jlimet. Saat itu, saya hanya ingin mengenalkan dan membangkitkan semangat membaca dan menulis bagi mereka. Salah satu tip yang saya sampaikan adalah kemudahan untuk melakukan kegiatan menulis sangat mudah sekali. media dan fasilitas sangat mendukung sekali untuk menulis. Tidak ada hambatan soal menulis, namun hambatan datang dari diri kita sendiri. Kemauan dan semangat harus dipupuk dan kita bangun.
Media Jaman Now
Pada materi itu saya menitikberatkan kepada media yang konseptual. Melalui smartphone, kita bisa menulis. Sebab, kita tidak perlu menulis kemudian mengirimkan ke media cetak untuk dibaca pembaca. Sekarang, melalui media sosial saja sudah bisa dibaca oleh khalayak.
Selain itu, tulisan yang ditulis di media-media itu terdokumentasi secara surel dan langsung dikonsumsi publik. Aplikasi atau fasilitas itu bisa kita download di playstore untuk berkarya. Misal, meski bukan media baruaplikasi online, seperti Wordpress[dot]com, blogspot[dot]com, Medium, Wattpad—langsung bisa tulis di gadget kita. Melalui media itu, mereka bisa menulis dan melatih menulis setiap hari atau menuliskan langsung ketika inspirasi itu datang secara tiba-tiba.
Sebagai generasi melenial atau lebih akrab disebut anak muda jaman now mereka jelas telah melek teknologi. Berkembangnya teknologi bukan hanya digunakan untuk media untuk mengeluh, curhat murahan di media sosial. Tapi, melalui media sosial itu, mereka kudu harus memiliki dan mendokumentasikan karya yang lahir dari imajinasi dari mereka sendiri.
Jadi memiliki gadget kalau bisa jangan hanya dijadikan alat untuk mengumbar hal-hal yang tidak baik, tetapi kita juga harus memanfaatkan dalam hal nilai positifmenulis atau membuat vlog atau yang lain.
Pada kesempatan itu pula, saya bertanya kepada mereka sudah pernah menulis? Jawaban mereka terbagi duaada yang sudah pernah dan ada yang belum. Lalu saya bertanya lagi, apa yang ditulisnya? Mereka menjawab, ada yang menulis cerpen, puisi dan artikel. Mendengar kata itu, saya sangat senang. Ternyata kemauan menulis sudah tumbuh di dalam diri mereka masing-masing.
Kemudian, saya bertanya, dalam satu hari, berapa jam tangan kita tidak bisa jauh dari yang namanya gadget? Pertanyaan ini yang membuat mereka semua jadi kikuk. Saya sendiri bilang, bahwa saya tidak bisa jauh dari yang namanya smartphone. Ini saya lakukan untuk menulis di telepon genggam dan walkingblog untuk menyapa teman-teman di luar sana.
Di sisi pengalaman saya di dunia literasi hanya seumur jagung. Banyak hal suka duka selama saya berproses. Mulai bertemu dengan kolega penulis-penulis buku dengan label best seller sampai dientahi (dikritik), ditolak di media cetak dan media sosial telah saya lalui. Sampai akhirnya saya terlempar di media cetakhanya sekali muncul di media cetak, yang akhirnya beralih di dunia eletronik untuk terus belajar eksis di dunia literasi. Menulis selain sebagai menambah teman, juga mempermudah di dunia pendidikan; menyelesaikan tugas sekolah atau kuliah; makalah, skripsi, tesis, desertasi atau yang lain.
Oleh karena itu, tidak ada kendala untuk memulai menulis. Lewat berbagi inspirasi itu, saya menitipkan pesan kepada mereka, jangan berhenti untuk belajarmembaca dan menulisdalam hidup ini. Banyak yang bilang bahwa, semakin tinggi melek literasi sebuah negara, semakin maju dan berkembang negara itu.
Kesempatan kemarin (16/12), saya mendapat kehormatan untuk berbagi inspirasi tentang literasi bersama siswa-siswi SMP dan SMA Muhammadiyah se-Trenggalek. Kehormatan tersebut menjadi kesempatan yang menyenangkan sekaligus media belajar, setelah dua tahun lalu testimoni di acara bedah buku antologi teman-teman di acara ngabuburead literasi. Kali ini saya mengisi materi tentang literasibaca dan tulis yang diselenggarakan di MTs Muhammadiyah Gandusari.
Kesempatan ini sangat menyenangkan. Sebab, dunia yang saya geluti beberapa tahun ini bermanfaat kepada siswa-siswa, baik SMP maupun SMA. Namun, sebelum mendapat kehormatan tersebut, saya sempat ragu untuk menerima tawaran dari salah satu teman, Trigussalah satu penulis dan blogger termoncer di Trenggalek. Sebab, ada beberapa kendala . Pertama, laptop sedang rusak dan diopname di bengkel laptop. Kedua, kondisi fisik dan keadaan saya juga kurang fit. Saya sempat berpikir panjang untuk menerima dan mengiyakan tawaran itu.
Karena ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk menginspirasi kepada adik-adik saya tentang pentingnya literasi, maka iyakan setelah tawaran itu dialamatkan ke saya untuk kedua kalinya. Saya meng-iya-kan tawaran itu dengan konsekuensi harus berbicara apa di depan dengan keterbatasan isi materi. Hanya ngomong ngalor ngidul tanpa batas. Alhamdulillah, kendala dan keterbatasan materi itu bisa saya lalui dengan pinjam laptop dan kondisi tubuh mulai berangsur pulih, meski tidak seratus persen.
Waktu itu saya berangkat lebih awal dari jadwal yang diberikan pada panitia. Ini saya lakukan untuk istirahat setelah perjalanan satu jam dan untuk mengisi acara juga kurang satu jam. Sampai di sana, siswa-siswi baru selesai materi dan akan melakasanakan sholat Magrib. Ada jeda setengah jam untuk istirahat siswa-siswi sebelum lanjut materi lain, yakni materi literasi itu.
Bagi saya sendiri ini luar biasa. Karena apa? Baru kali ini mengisiberhadapan dengan orang laintidak ada rasa grogi atau gemeter. Barangkali ini materi yang pas bagi saya untuk berbagi inspirasi dan pengetahuan tentang literasi. Atau kali ini saya berhadapan dengan anak-anak sekolah menengah ya? Pokoknya, saat itu saya senang sekali bisa berbagi inspirasi kepada audiens.
Saat itu panitia menentukan tema “Literasi Remaja Jaman Now". Sebuah tema yang kontekstual, kekinian dan komprehensif terhadap perkembangan saat ini. Waktu menyiapkan materi, saya sempat berpikir, akan saya berikan materi apa?
"Jangan kasih materi yang berat-berat, kang," tambah Kang Taufik, "Ajak cerita-cerita tentang literasi dan motivasi supaya mereka memiliki kemauan untuk menulis."
Tanggung jawab saya besar. Saya tidak berbagi tentang teori menulis yang jlimet. Saat itu, saya hanya ingin mengenalkan dan membangkitkan semangat membaca dan menulis bagi mereka. Salah satu tip yang saya sampaikan adalah kemudahan untuk melakukan kegiatan menulis sangat mudah sekali. media dan fasilitas sangat mendukung sekali untuk menulis. Tidak ada hambatan soal menulis, namun hambatan datang dari diri kita sendiri. Kemauan dan semangat harus dipupuk dan kita bangun.
Media Jaman Now
Pada materi itu saya menitikberatkan kepada media yang konseptual. Melalui smartphone, kita bisa menulis. Sebab, kita tidak perlu menulis kemudian mengirimkan ke media cetak untuk dibaca pembaca. Sekarang, melalui media sosial saja sudah bisa dibaca oleh khalayak.
Selain itu, tulisan yang ditulis di media-media itu terdokumentasi secara surel dan langsung dikonsumsi publik. Aplikasi atau fasilitas itu bisa kita download di playstore untuk berkarya. Misal, meski bukan media baruaplikasi online, seperti Wordpress[dot]com, blogspot[dot]com, Medium, Wattpad—langsung bisa tulis di gadget kita. Melalui media itu, mereka bisa menulis dan melatih menulis setiap hari atau menuliskan langsung ketika inspirasi itu datang secara tiba-tiba.
Sebagai generasi melenial atau lebih akrab disebut anak muda jaman now mereka jelas telah melek teknologi. Berkembangnya teknologi bukan hanya digunakan untuk media untuk mengeluh, curhat murahan di media sosial. Tapi, melalui media sosial itu, mereka kudu harus memiliki dan mendokumentasikan karya yang lahir dari imajinasi dari mereka sendiri.
Jadi memiliki gadget kalau bisa jangan hanya dijadikan alat untuk mengumbar hal-hal yang tidak baik, tetapi kita juga harus memanfaatkan dalam hal nilai positifmenulis atau membuat vlog atau yang lain.
Pada kesempatan itu pula, saya bertanya kepada mereka sudah pernah menulis? Jawaban mereka terbagi duaada yang sudah pernah dan ada yang belum. Lalu saya bertanya lagi, apa yang ditulisnya? Mereka menjawab, ada yang menulis cerpen, puisi dan artikel. Mendengar kata itu, saya sangat senang. Ternyata kemauan menulis sudah tumbuh di dalam diri mereka masing-masing.
Kemudian, saya bertanya, dalam satu hari, berapa jam tangan kita tidak bisa jauh dari yang namanya gadget? Pertanyaan ini yang membuat mereka semua jadi kikuk. Saya sendiri bilang, bahwa saya tidak bisa jauh dari yang namanya smartphone. Ini saya lakukan untuk menulis di telepon genggam dan walkingblog untuk menyapa teman-teman di luar sana.
Di sisi pengalaman saya di dunia literasi hanya seumur jagung. Banyak hal suka duka selama saya berproses. Mulai bertemu dengan kolega penulis-penulis buku dengan label best seller sampai dientahi (dikritik), ditolak di media cetak dan media sosial telah saya lalui. Sampai akhirnya saya terlempar di media cetakhanya sekali muncul di media cetak, yang akhirnya beralih di dunia eletronik untuk terus belajar eksis di dunia literasi. Menulis selain sebagai menambah teman, juga mempermudah di dunia pendidikan; menyelesaikan tugas sekolah atau kuliah; makalah, skripsi, tesis, desertasi atau yang lain.
Oleh karena itu, tidak ada kendala untuk memulai menulis. Lewat berbagi inspirasi itu, saya menitipkan pesan kepada mereka, jangan berhenti untuk belajarmembaca dan menulisdalam hidup ini. Banyak yang bilang bahwa, semakin tinggi melek literasi sebuah negara, semakin maju dan berkembang negara itu.
Wah selamat ya mas, bisa dapet kesempatan buat berbagi semangat untuk menulis.
BalasHapusIya Mas Terima kasih banyak ya. Satu bulan ini saya mengalami down buat nulis. Biasanya saya nulis di berbagai media sosial, seperti di nggalek.co atau di minumkopi. com. Tapi bulan ini drop. Doanya ya Mss
BalasHapusSaya juga mas, bulan ini terasa berat banget buat nulis. Termasuk nulis tentang lagu yang dah jadi hobi.
BalasHapusTetep semangat ya mas.
Iya Mas Terima kasih buat komen dan supportnya.
BalasHapusMantap mas Rokhim. Tetap menginspirasi ya!
BalasHapusTerima kasih, Mas. Semoga terus menginspirasi...
BalasHapusbagus kim.
BalasHapuslanjutkannn.
Posting Komentar