Menulis adalah kehidupan itu sendiri, karena dalam proses kreatif sepanjang hidup, ia tak boleh padam dari kamu, jika kamu ingin hidup yang lebih hidup maka banyaklah menulis. Semakin banyak kamu menulis, kamu akan semakin merasa semakin hidup, sebab tiap tinta yang membentuk huruf itu seperti tiap darah yang mengalir ke seluruh tubuhmu, ia ruang dan waktunya sangatlah berarti. Semakin banyak kamu menulis, kamu juga akan banyak mengetahui mimpi-mimpimu, kekuatanmu, ketakutanmu, pemikiranmu, harapanmu, dan tujuan hidupmu itu sendiri.
Begitu kata Aguk Irawan MN di kata-akhir dalam sebuah buku berjudul Jurus Maut Menulis Buku The Best Seller (2008) silam. Dan itu dibuktikan benar oleh Aguk Irawan MN. Kreativitasnya dalam menulis semakin "menggila" bahkan hampir setiap bulan bukunya lahir dari "rahim" kreatifnya. Akan tetapi,--maaf--saya tidak menemukan profilnya yang spesifik di internet (tidak terekspos) sehingga, saya tidak tahu berapa buku dan prestasi apa saja yang pernah dipecahkan namun yang jelas bukunya the best seller semua.
Untuk menulis the best seller tersebut Aguk Irawan MN memiliki jurus dan modal yang ampuh. Beberapa modal ampuh tersebut di antaranya, pertama, yang harus dilakukan adalah kita harus mengetahui Siapakah Penulis Itu? Jika kita ditanya siapakah penulis itu? Maka jawabannya adalah kita. Kitalah penulis itu (semua orang). Setiap orang sesungguhnya memiliki bakat dan potensi menjadi penulis. Hanya saja karena setiap orang tidak mampu menyadari bakat alami kepenulisannya, dan hanya menjadi seorang pembaca saja.
Percaya atau tidak, kita semua terlahir sebagai penulis. Sebuah jauh dalam diri setiap manusia, terdapat jiwa, emosi dan nalar dan sifat uniknya: kegemaran kita dalam bercerita, mengamati dan mencatat dalam memori menjadikan dan mengindikasi bahwa setiap manusia adalah seorang penulis.
Kedua, setelah tahu siapakah penulis itu? Maka penting bagi kita untuk memiliki Mental. Mental adalah modal utama menjadi seorang penulis. Saya kira bukan hanya seorang penulis saja, semua profesi: wiraswasta, pengacara (loyyer), politisi, polisi, tentara, penjual atau pengusaha, pendidik (teacher), dan lain sebagainya, sangat membutuhkan mental. DI mana mental menempati urutan pertama dalam mencapai tujuan. Memiliki mentalitas yang kuat perlu adanya. Tanpa didukung mentalitas yang baik--seorang penulis paling berbakat sekali pun--akan menemui kegagalan. Mental-mental yang harus dimiliki seorang penulis di antaranya: sikap percaya diri, gemar belajar, sportif; memiliki kepribadian yang terbuka, jeli dan peka di dalam melihat sesuatu, tidak mudah berpuas diri, serta penuh penghargaan pada karya tulis siapa pun.
Ketiga, Gemar Membaca. Perlu diingat, sebesar apa pun keinginan untuk menjadi seorang penulis, yakinlah itu tidak akan pernah berhasil, manakala tidak suka membaca. Karena membaca adalah bagian dari proses kepenulisan itu sendiri. Dan konon, seseorang mampu menciptakan sebuah karya, tanpa terlebih dahulu berkenalan dengan karya orang lain. Karena apa yang dibaca itulah yang kamu tulis. Dan apa yang ditulis sesungguhnya apa yang dibaca. Tidak mustahil kiranya, penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Entah, membaca buku-buku ilmiah, karangan fiksi, berita-berita, membaca lingkungan, alam, manusia, dan semua yang ada di belantara semesta ini.
Keempat, Pengamat. Selain menjadi seorang pembaca dan memiliki kebiasaan dan kecintaan terhadap bacaan dan membaca buku yang baik, seorang penulis penting juga menjadi seorang pengamat yang jeli. Maksudnya, seorang penulis tidak pernah mengabaikan dan melewatkan hal-hal apa pun yang menarik. Biasanya seorang penulis fiksi umumnya seorang pengamat yang baik. Misalnya, Andrea Hirata mengamati fenomena alam dan lingkungan kota kelahirannya, Bangka Belitung sehingga menjadi novel yang fenomenal.
Kelima, Pekerja Keras. Maksud pekerja keras inu adalah tidak gampang putus asa! Misal, penulis besar Hemmingway, jika mentok dan tidak punya ide untuk menulis maka ia menulis apa saja. Sehingga seorang penulis tidak gampang putus asa dan terus belajar sekali pun tidak menjumpai inspirasi. Dan pekerja keras tidak akan menunggu inspirasi datang akan tetapi menjemput inspirasi tersebut menjadi karya yang baik. Itulah seorang pekerja keras.
Keenam, Memulai Kapanpun dan Di Manapun. Menulis bisa dimulai kapanpun dan di manapun kita berada. Biasanya inspirasi datang secara tiba-tiba, tanpa diundang dan disadari. Menulis pun bisa dilakukan di tempat-tempat umum. Seperti halte bus, menunggu bus, hingga naik bus, atau duduk santai di kamar tidur sembari menatap cermin pun bisa menulis.
Apalagi sekarang dimudahkan dengan beberapa fasilitas teknologi yang semakin canggih, misal, adanya blog seluler, facebook, twitter, dan media sosial yang lain yang didesain khusus untuk para pemikir yang pikirannya positif. Yang memanfaatkan fasilitas teknologi tersebut untuk kepentingan positif, seperti menulis status yang baik pula.
Seorang tokoh akan dikenang perjalanan hidupnya dan kreatifnya dengan menapaki kepenulisan. Sejarah telah mencatat, proses kreatifnya mampu memberi obor dari kegelapan (dari tidak tahu menjadi tahu) hingga zaman sekarang yang terang benderang ini. Demikianlah modal utama dalam menulis. Modal yang dilakukan oleh Aguk Irawan MN dalam mengasah kreativitas menulisnya.
Karena menulis mengekalkan namanya. Menulis adalah kebiasaan orang-orang besar. Karena itulah, menulislah dengan beberapa modal di atas. Ingatlah, bahwa tulisanmu akan menunjukkanmu, lagi dan lagi cara untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengatakan sesuatu yang lebih banyak, lebih tak bertempat dan berwaktu, sekarang, besok dan selamanya! Dan menulis adalah pekerjaan untuk mengabadi. []
Oleh Muhammad Choirur Rokhim
Judul Buku : Jurus Maut Menulis Buku The Best Seller
Penulis : Aguk Irawan MN
Penerbit : Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Terbit : I, April 2008
Tebal : xii + 176 halaman
ISBN : 978-979-15833-2-9
Tm, 17/6/'15
Begitu kata Aguk Irawan MN di kata-akhir dalam sebuah buku berjudul Jurus Maut Menulis Buku The Best Seller (2008) silam. Dan itu dibuktikan benar oleh Aguk Irawan MN. Kreativitasnya dalam menulis semakin "menggila" bahkan hampir setiap bulan bukunya lahir dari "rahim" kreatifnya. Akan tetapi,--maaf--saya tidak menemukan profilnya yang spesifik di internet (tidak terekspos) sehingga, saya tidak tahu berapa buku dan prestasi apa saja yang pernah dipecahkan namun yang jelas bukunya the best seller semua.
Untuk menulis the best seller tersebut Aguk Irawan MN memiliki jurus dan modal yang ampuh. Beberapa modal ampuh tersebut di antaranya, pertama, yang harus dilakukan adalah kita harus mengetahui Siapakah Penulis Itu? Jika kita ditanya siapakah penulis itu? Maka jawabannya adalah kita. Kitalah penulis itu (semua orang). Setiap orang sesungguhnya memiliki bakat dan potensi menjadi penulis. Hanya saja karena setiap orang tidak mampu menyadari bakat alami kepenulisannya, dan hanya menjadi seorang pembaca saja.
Percaya atau tidak, kita semua terlahir sebagai penulis. Sebuah jauh dalam diri setiap manusia, terdapat jiwa, emosi dan nalar dan sifat uniknya: kegemaran kita dalam bercerita, mengamati dan mencatat dalam memori menjadikan dan mengindikasi bahwa setiap manusia adalah seorang penulis.
Kedua, setelah tahu siapakah penulis itu? Maka penting bagi kita untuk memiliki Mental. Mental adalah modal utama menjadi seorang penulis. Saya kira bukan hanya seorang penulis saja, semua profesi: wiraswasta, pengacara (loyyer), politisi, polisi, tentara, penjual atau pengusaha, pendidik (teacher), dan lain sebagainya, sangat membutuhkan mental. DI mana mental menempati urutan pertama dalam mencapai tujuan. Memiliki mentalitas yang kuat perlu adanya. Tanpa didukung mentalitas yang baik--seorang penulis paling berbakat sekali pun--akan menemui kegagalan. Mental-mental yang harus dimiliki seorang penulis di antaranya: sikap percaya diri, gemar belajar, sportif; memiliki kepribadian yang terbuka, jeli dan peka di dalam melihat sesuatu, tidak mudah berpuas diri, serta penuh penghargaan pada karya tulis siapa pun.
Ketiga, Gemar Membaca. Perlu diingat, sebesar apa pun keinginan untuk menjadi seorang penulis, yakinlah itu tidak akan pernah berhasil, manakala tidak suka membaca. Karena membaca adalah bagian dari proses kepenulisan itu sendiri. Dan konon, seseorang mampu menciptakan sebuah karya, tanpa terlebih dahulu berkenalan dengan karya orang lain. Karena apa yang dibaca itulah yang kamu tulis. Dan apa yang ditulis sesungguhnya apa yang dibaca. Tidak mustahil kiranya, penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. Entah, membaca buku-buku ilmiah, karangan fiksi, berita-berita, membaca lingkungan, alam, manusia, dan semua yang ada di belantara semesta ini.
Keempat, Pengamat. Selain menjadi seorang pembaca dan memiliki kebiasaan dan kecintaan terhadap bacaan dan membaca buku yang baik, seorang penulis penting juga menjadi seorang pengamat yang jeli. Maksudnya, seorang penulis tidak pernah mengabaikan dan melewatkan hal-hal apa pun yang menarik. Biasanya seorang penulis fiksi umumnya seorang pengamat yang baik. Misalnya, Andrea Hirata mengamati fenomena alam dan lingkungan kota kelahirannya, Bangka Belitung sehingga menjadi novel yang fenomenal.
Kelima, Pekerja Keras. Maksud pekerja keras inu adalah tidak gampang putus asa! Misal, penulis besar Hemmingway, jika mentok dan tidak punya ide untuk menulis maka ia menulis apa saja. Sehingga seorang penulis tidak gampang putus asa dan terus belajar sekali pun tidak menjumpai inspirasi. Dan pekerja keras tidak akan menunggu inspirasi datang akan tetapi menjemput inspirasi tersebut menjadi karya yang baik. Itulah seorang pekerja keras.
Keenam, Memulai Kapanpun dan Di Manapun. Menulis bisa dimulai kapanpun dan di manapun kita berada. Biasanya inspirasi datang secara tiba-tiba, tanpa diundang dan disadari. Menulis pun bisa dilakukan di tempat-tempat umum. Seperti halte bus, menunggu bus, hingga naik bus, atau duduk santai di kamar tidur sembari menatap cermin pun bisa menulis.
Apalagi sekarang dimudahkan dengan beberapa fasilitas teknologi yang semakin canggih, misal, adanya blog seluler, facebook, twitter, dan media sosial yang lain yang didesain khusus untuk para pemikir yang pikirannya positif. Yang memanfaatkan fasilitas teknologi tersebut untuk kepentingan positif, seperti menulis status yang baik pula.
Seorang tokoh akan dikenang perjalanan hidupnya dan kreatifnya dengan menapaki kepenulisan. Sejarah telah mencatat, proses kreatifnya mampu memberi obor dari kegelapan (dari tidak tahu menjadi tahu) hingga zaman sekarang yang terang benderang ini. Demikianlah modal utama dalam menulis. Modal yang dilakukan oleh Aguk Irawan MN dalam mengasah kreativitas menulisnya.
Karena menulis mengekalkan namanya. Menulis adalah kebiasaan orang-orang besar. Karena itulah, menulislah dengan beberapa modal di atas. Ingatlah, bahwa tulisanmu akan menunjukkanmu, lagi dan lagi cara untuk melihat, mendengar, merasakan, dan mengatakan sesuatu yang lebih banyak, lebih tak bertempat dan berwaktu, sekarang, besok dan selamanya! Dan menulis adalah pekerjaan untuk mengabadi. []
Oleh Muhammad Choirur Rokhim
Judul Buku : Jurus Maut Menulis Buku The Best Seller
Penulis : Aguk Irawan MN
Penerbit : Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Terbit : I, April 2008
Tebal : xii + 176 halaman
ISBN : 978-979-15833-2-9
Tm, 17/6/'15
Posting Komentar