“Menulis dan mulailah menulis, meski nggak ada ide di kepalamu. Ide akan hadir atau mengalir saat engkau mencoretkan pena di atas kertasmu," Abdul Hadi W.M
Seorang penulis ada kalanya mengalami stagnasi dalam menulis. Kadang seorang penulis “mati suri” menuangkan ide setelah sehari-harinya didera kesibukan. Meski melakukan ritual seperti sebelum-sebelumnya, tidak juga langsung mendapatkan inspirasi, yang kemudian menjadikan bahan cerita untuk ditulis. Jalan yang perlu dilakukan adalah merawat dan memenjarakan ide tersebut dengan menulis atau mencatat.
Memang betul, menulis itu gampang-gampang susah, seperti kata Arswendo Atmiwoloto. Gampang menulis bagi seseorang yang setiap hari menulis, susah bagi seorang penulis yang tidak biasa menulis.
Tidak dipungkiri sebagaian penulis tak mampu meneruskan tulisannya, padahal tulisannya sudah jadi dua-tiga paragraf. Sementara, sebagaian besar, para penulis itu kesulitan untuk mengawali paragraf utama. Yang lebih parahnya lagi, ketika teelah waktunya eksekusi dan berhadapan dengan media—kertas, laptop, atau buku catatan—ide itu hilang bak ditelan bumi, dan seakan terhadang tembok berlin, Jerman yang kokoh itu. Tak kunjung datang inspirasi, tidak membekas di dalam otak, sehingga untuk menulis satu kalimat pertama saja, susahnya minta ampun. Untuk mengembangkan gagasan dan imajinasi yang dimilikinya nggak ketulungan sulinya.
Lalu, dimanakah ide tersebut bersemayam? Sejatinya ide itu tidak bersembunyi. Ide tersebut hadir dan menguap dimana saja dan kapan saja. Tinggal bagaimana kita membungkus dan menuangkan ide tersebut supaya tak bersembunyi lagi. Ide hadir setiap saat. Ide berjalan mengekor setiap perjalanan kita dimana saja. Ide memang bagian dari catatan harian. Oleh karena itu, ide itu sebenarnya tidak bersembunyi tetapi ada dibalik kita sendiri dan ikut bersama kita di mana saja.
Tidak heran jika kita sedang dalam kamar mandi, kita sering mendapatkan ide-ide yang brilian. Ketika kita membaca buku—entah buku apa saja—kemudian kita mendapatkan bahan untuk mengembangkan tulisan. Saat perjalanan jauh, melintasi dan mendaki gunung, ide pasti muncul bersamaan dengan Anda. Hal tersebut juga pernah dirasakan oleh penulis buku For Color Girls, Ntozake Shange, “Saya selalu membawa catatan harian hampir setiap saat. Jika saya mendapatkan ilham untuk sebuah puisi, saya menulisnya di sana. Seolah puisi-puisi memang bagian catatan harian saya.
Dapat disimpulkan bahwasanya perempuan berkebangsaan Amerika ini menulis puisi, esai, cerpen atau yang lainnya, ketika dia berada di suatu tempat yang jauh. Dan ide tersebut ikut serta dalam lawatannya di mana saja. Oleh karena itu, ide itu harus diburu, ditangkap, lalu dipenjara dalam halaman-halaman kertas dengan menuliskannya. Sehingga ide tersebut tidak akan pergi dan sembunyi dibalik “ketiak” kegiatan kita.
Seperti pengalaman hidup kita, penghayatan religius, kekayaan intelektual, pengalaman beribadah (spiritual), penderitaan, kerinduan pada kekasih, kesepian, kejengkelan pada dunia sekitar, kepekaan sosial dan politik, pandangan kritis terhadap tradisi dan meodernisasi, dan apa saja yang bergejolak di dalam diri seorang penulis serta reaksi batinnya terhadap berbagai fenomena di lingkungan sekitarnya adalah lahan subur bagi lahirnya si jabang bayi bernama ide tersebut.
Tidak berlebihan kiranya penyair Abdul Hadi W.M pernah memberi saran kepada para penulis pemula, “Menulis dan mulailah menulis, meski nggak ada ide di kepalamu. Ide akan hadir atau mengalir saat engkau mencoretkan pena di atas kertasmu.” Hal tersebut juga diamini, Putu Wijaya “memperkosa” dirinya sendiri untuk menulis dan terus menulis. Dan, inilah cara paling jitu untuk menangkap ide. Nyatanya, sewaktu menulis, sebenarnya kamu sudah memenjarakan ide itu, dan sebelumnya telah memaksanya untuk “mau nggak mau” harus datang.
Setelah kang Putu memenjarakan ide, yang sebelumnya bersembunyi di balik “ketiak” ke-intelektual-nya, dengan memaksa “memperkosa” dirinya sendiri, kang Putu tahu persis, bahwa ide tersebut bertebaran di mana-mana. Ide begitu membanjiri setiap petak “sawah” diri seseorang. Yang diperlukan adalah “alat” kepekaan sang penulis untuk menangkap dan menggali setiap “petak” ide tersebut menjadikan isyarat-isyarat kreatif dengan kemampuan imajinasinya untuk merekayasa ide tersebut menjadi produk kreatif dan inovatif. Akan tetapi di kalangan penyair, seperti Putu Wijaya, isyarat itu biasanya disebut sebagai sentuhan puitis (peotical touch), sedangkan di kalangan penulis fiksi biasanya disebut sebagai sentuhan imaji (the touch of imagination).
Jadi ide itu tidak bersembunyi. Ide juga tidak akan hilang jika kita menangkapnya. Seperti yang dilakukan oleh Ahmad Tohari. Sastrawan yang satu ini benar-benar merawat dan menyimpan ide-ide itu. Bagi kang Tohari, sapaan akrabnya, “dia selalu mencatat ide yang melintas di hadapannya dalam buku catatan, sejenis dairy.” Tahukah kamu bahwa catatan-catatan ide beliau era 70-an baru akhir-akhir tahun belakangan ini beliau tulis ulang menjadi cerpen atau novel?
Ternyata ide sanggup hidup dengan durasi yang cukup lama, puluhan tahun, asal kita mau dan mampu mencatatnya. Sekali lagi, ide itu tidak bersembunyi, tetapi ide itu ada di mana saja. Seperti kata pepatah bijak bestari, “Pikiran sekuat apa pun nggak bakalan mampu mengalahkan catatan.” Oleh karena itu, dengan mencatat, kita seakan memenjarakan ide itu dan penting! Karena seperti yang dilakukan oleh Kang Tohari, ide mampu bertahap puluhan tahun, tetapi dengan satu syarat dicatat dan diikat dengan tulisan, seperti itu dawuh Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi yang paling jenius tersebut. []
Seorang penulis ada kalanya mengalami stagnasi dalam menulis. Kadang seorang penulis “mati suri” menuangkan ide setelah sehari-harinya didera kesibukan. Meski melakukan ritual seperti sebelum-sebelumnya, tidak juga langsung mendapatkan inspirasi, yang kemudian menjadikan bahan cerita untuk ditulis. Jalan yang perlu dilakukan adalah merawat dan memenjarakan ide tersebut dengan menulis atau mencatat.
Memang betul, menulis itu gampang-gampang susah, seperti kata Arswendo Atmiwoloto. Gampang menulis bagi seseorang yang setiap hari menulis, susah bagi seorang penulis yang tidak biasa menulis.
Tidak dipungkiri sebagaian penulis tak mampu meneruskan tulisannya, padahal tulisannya sudah jadi dua-tiga paragraf. Sementara, sebagaian besar, para penulis itu kesulitan untuk mengawali paragraf utama. Yang lebih parahnya lagi, ketika teelah waktunya eksekusi dan berhadapan dengan media—kertas, laptop, atau buku catatan—ide itu hilang bak ditelan bumi, dan seakan terhadang tembok berlin, Jerman yang kokoh itu. Tak kunjung datang inspirasi, tidak membekas di dalam otak, sehingga untuk menulis satu kalimat pertama saja, susahnya minta ampun. Untuk mengembangkan gagasan dan imajinasi yang dimilikinya nggak ketulungan sulinya.
Lalu, dimanakah ide tersebut bersemayam? Sejatinya ide itu tidak bersembunyi. Ide tersebut hadir dan menguap dimana saja dan kapan saja. Tinggal bagaimana kita membungkus dan menuangkan ide tersebut supaya tak bersembunyi lagi. Ide hadir setiap saat. Ide berjalan mengekor setiap perjalanan kita dimana saja. Ide memang bagian dari catatan harian. Oleh karena itu, ide itu sebenarnya tidak bersembunyi tetapi ada dibalik kita sendiri dan ikut bersama kita di mana saja.
Tidak heran jika kita sedang dalam kamar mandi, kita sering mendapatkan ide-ide yang brilian. Ketika kita membaca buku—entah buku apa saja—kemudian kita mendapatkan bahan untuk mengembangkan tulisan. Saat perjalanan jauh, melintasi dan mendaki gunung, ide pasti muncul bersamaan dengan Anda. Hal tersebut juga pernah dirasakan oleh penulis buku For Color Girls, Ntozake Shange, “Saya selalu membawa catatan harian hampir setiap saat. Jika saya mendapatkan ilham untuk sebuah puisi, saya menulisnya di sana. Seolah puisi-puisi memang bagian catatan harian saya.
Dapat disimpulkan bahwasanya perempuan berkebangsaan Amerika ini menulis puisi, esai, cerpen atau yang lainnya, ketika dia berada di suatu tempat yang jauh. Dan ide tersebut ikut serta dalam lawatannya di mana saja. Oleh karena itu, ide itu harus diburu, ditangkap, lalu dipenjara dalam halaman-halaman kertas dengan menuliskannya. Sehingga ide tersebut tidak akan pergi dan sembunyi dibalik “ketiak” kegiatan kita.
Seperti pengalaman hidup kita, penghayatan religius, kekayaan intelektual, pengalaman beribadah (spiritual), penderitaan, kerinduan pada kekasih, kesepian, kejengkelan pada dunia sekitar, kepekaan sosial dan politik, pandangan kritis terhadap tradisi dan meodernisasi, dan apa saja yang bergejolak di dalam diri seorang penulis serta reaksi batinnya terhadap berbagai fenomena di lingkungan sekitarnya adalah lahan subur bagi lahirnya si jabang bayi bernama ide tersebut.
Tidak berlebihan kiranya penyair Abdul Hadi W.M pernah memberi saran kepada para penulis pemula, “Menulis dan mulailah menulis, meski nggak ada ide di kepalamu. Ide akan hadir atau mengalir saat engkau mencoretkan pena di atas kertasmu.” Hal tersebut juga diamini, Putu Wijaya “memperkosa” dirinya sendiri untuk menulis dan terus menulis. Dan, inilah cara paling jitu untuk menangkap ide. Nyatanya, sewaktu menulis, sebenarnya kamu sudah memenjarakan ide itu, dan sebelumnya telah memaksanya untuk “mau nggak mau” harus datang.
Setelah kang Putu memenjarakan ide, yang sebelumnya bersembunyi di balik “ketiak” ke-intelektual-nya, dengan memaksa “memperkosa” dirinya sendiri, kang Putu tahu persis, bahwa ide tersebut bertebaran di mana-mana. Ide begitu membanjiri setiap petak “sawah” diri seseorang. Yang diperlukan adalah “alat” kepekaan sang penulis untuk menangkap dan menggali setiap “petak” ide tersebut menjadikan isyarat-isyarat kreatif dengan kemampuan imajinasinya untuk merekayasa ide tersebut menjadi produk kreatif dan inovatif. Akan tetapi di kalangan penyair, seperti Putu Wijaya, isyarat itu biasanya disebut sebagai sentuhan puitis (peotical touch), sedangkan di kalangan penulis fiksi biasanya disebut sebagai sentuhan imaji (the touch of imagination).
Jadi ide itu tidak bersembunyi. Ide juga tidak akan hilang jika kita menangkapnya. Seperti yang dilakukan oleh Ahmad Tohari. Sastrawan yang satu ini benar-benar merawat dan menyimpan ide-ide itu. Bagi kang Tohari, sapaan akrabnya, “dia selalu mencatat ide yang melintas di hadapannya dalam buku catatan, sejenis dairy.” Tahukah kamu bahwa catatan-catatan ide beliau era 70-an baru akhir-akhir tahun belakangan ini beliau tulis ulang menjadi cerpen atau novel?
Ternyata ide sanggup hidup dengan durasi yang cukup lama, puluhan tahun, asal kita mau dan mampu mencatatnya. Sekali lagi, ide itu tidak bersembunyi, tetapi ide itu ada di mana saja. Seperti kata pepatah bijak bestari, “Pikiran sekuat apa pun nggak bakalan mampu mengalahkan catatan.” Oleh karena itu, dengan mencatat, kita seakan memenjarakan ide itu dan penting! Karena seperti yang dilakukan oleh Kang Tohari, ide mampu bertahap puluhan tahun, tetapi dengan satu syarat dicatat dan diikat dengan tulisan, seperti itu dawuh Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi yang paling jenius tersebut. []
wow benar sekali. CATATAN itu PENTING. saya juga lebih suka menulis di buku konvensional ketimbang langsung mengetik di laptop. soal ide ada dimana-mana itu benar. dulu judul dan masalah skripsi saya temukan di dalam toilet dan di dalam kendaraan umum hehehe
BalasHapusKelas...,!!! Judul skripsi ditemukan tergelatak di dalam toilet. #the power of beraq. Hahaha
BalasHapushahahaha jangan remehkan "kesunyian" dalam toilet hehehe
BalasHapusHahahah... Imajinasi dan inspirasi sumbernya ada di toilet. Dan itu sudah banyak yang membuktikan
BalasHapusMenemukan ide di toilet itu emang paling nikmat, ya nggak, bang? Hehehe
BalasHapusNikmatnya luar biasa. Hehehehe..... #the power of beraq kalau kata temen.... Hehhe
BalasHapusNikmatnya luar biasa,,, hehehe. Kalau kata temen #the power og beraq. Hahahah 😅
BalasHapusPaling seseorang soalnya. Hihihi
BalasHapusSiapakah seseorang itu? Hehehe
BalasHapushehehehe benar skali nikmat mana lagi yg kita akan dustakan hehhehe
BalasHapusHahaha, bener tuh, bang. Hahaha #nikmat
BalasHapusHahahaha... Nikmat mana yang kau dustai?
BalasHapusPosting Komentar