Saat berselancar di dunia maya beberapa hari yang lalu, saya menemukan gambar, yang menurutku menarik dan memiliki filosofis kuat. Gambar tersebut adalah sebuah kutipan sekaligus foto setengah badan dari seorang filosof besar Barat. Foto dan kutipan tersebut tidak lebih cara menghindari sebuah kritik.
Kutipan tersebut--barangkali--"fatwa" Mbah Aristoteles saat itu. Entah kenapa, gambar tersebut ada daya magis untuk saya download. Gambar itu saya ambil dari situs koran online, merdeka.com dan seketika itu juga, saya jadikan foto profil di akun Blackberry Massanger (BBM).
Tidak disangka, kutipan tersebut ternyata ada hubungan dengan saya. Selang beberapa hari saya jadikan DP, (lebih tepatnya siang tadi) saya mendapat kritikan dari seorang penyunting buku. Buku tersebut memang saya resume atau resensi sebagai aktivitas selepas membaca. Tulisan yang aku resimen itu akhirnya menuai kritik. Alhasil, adagium tersebut tepat untuk mengatasi sebuah kritik yang saya alami saat itu. Kutipannya begini, "Ada cara menghindari kritikan, tak melakukan apapun, tak berkata apapun, dan tak menjadi apapun." Melalui tulisan ini, saya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi apa-apa, hanya seorang yang ingin belajar menulis.
Secara sadar, sejatinya seorang itu tak mau dikritik. Kritik itu semacam belati yang menghunus tanpa ditusukkan langsung. Rasanya sangat terasa sakit. Biasanya pada banyak kasus, apabila sebuah kritik di tanggapi, masalah semakin runyam. Terjadi jual-beli argumen, diskusi bodong tidak terhindarkan, diskusi yang tidak menemukan ujung permasalahan. Ada sisi, yang menurut orang lain tidak sesuai dengan kenyataan. Atau, lebih singkatnya, ada celah yang tidak bisa diterima. Akhirnya perpecahan terjadi.
Kritik, sebuah kata sederhana namun penuh makna. Sejatinya kritik itu membangun. Namun ada kritik yang meretakan bangun yang dibangun. Tetapi ujung pangkalnya, kritik tersebut adalah sebuah intropeksi diri kita menjadi yang lebih baik lagi. Begitulah kritik itu. Kritik itu penting. Penting untuk membatasi ekspresi diri yang berlebihan. Inti dari sebuah kritik adalah instropeksi diri. Selain itu, dengan dikritik itu artinya ada orang yang peduli dan perhatian dengan perkembangan pola pikir yang kita alami.
Memang betul itu. Saya yang baru menulis resume, yang membahas buku tentang (per)jalan(an) mendapat kritik dari penyunting bukunya langsung, yang kebetulan teman sendiri. Ia adalah Misbahus Surur seorang penulis beberapa buku tentang sejarah Trenggalek. Ia memberi kritik pedas, sejujurnya saya sendiri yang menyarankan agar dikritik. Ia mengkritik berkaitan dengan pedoman menulis sekaligus rambu-rambu dalam meresensi dan kepenulisan. Dosen UIN Maliki Malang ini, setahu saya, memiliki prototipe yang keras dalam hal menulis. Tidak ada kata ampun baginya dalam urusan menulis. Singkat cerita, apabila ada yang diajari tentang menulis, pasti ia akan mengkritik habis-habisan. Tujuannya agar benar-benar tulisan yang dihasilkan bagus dan layak dinikmati publik.
Menulis, resensi atau resume sebuah buku, seharusnya memperhatikan beberapa kode etik. Maksudnya, harus memiliki kepedulian dan memiliki hati. "Sebagai penulis, ya, harus peduli terhadap penulis lain, dan beberapa ketentuan yang telah berlaku di dunia penulisan. Namanya resensi kan 'menjual' buku, penerbit dan lainnya. Jadi hal tersebut harus benar-benar diperhatikan," ungkapnya.
Ia menambahkan, "Menulis itu harus menggunakan hati. Apabila kita membiasakan menulis dengan hati, kita pasti berhati-hati dan memperhatikan beberapa ketentuan dalam kepenulisan. Tidak asal comot. Tidak asal pindah paragraf. Menulis itu mengutarakan apa yang kita alami dan keluh kesah apa yang kita rasakan secara pribadi bukan mengutip dari kalimat-kalimat dari buku," tegasnya.
Saya jadi teringat sebuah kata pengantar buku Dr. Ngainun Naim yang berjudul Islam dan Pluralisme Agama. Buku ini ditulis oleh seorang dosen IAIN Tulungagung, sebuah Perguruan Tinggi Negeri terbesar di Pesisir Selatan. Dosen yang memiliki hobi menulis setiap hari ini, dalam bukunya, menceritakan tentang tradisi intelektual yang produktif para intelektual-intelektual Indonesia punya.
Intelektual itu adalah Prof. Dr. H. M. Rasjidi yang memiliki perbedaan pandangan terhadap makalah yang ditulis oleh Drs. Nurcholish Madjid.
Di era 3 Januari 1970, ketika itu, Cak Nur--sapaan akrab Nurcholish Madjid--menulis makalah yang disarikan dalam sebuah forum di Gedung Pertemuan Islamic Research Center, tentang "Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Integrasi Umat". Tentang pentingnya sekularisme. Sontak, statement itu mendapat kritikan M. Rasjidi. Ia mengkritik dengan menulis buku. Buku yang dibuat tersebut adalah koreksi terhadap pemikiran Cak Nur terkait statement sekularisme tadi. M. Rasjidi menilai bahwa sekularisme tidak sesuai dengan kultur di negeri ini. Oleh karena, ia menulis dengan kekurangan-kekurangan dari perspektif Cak Nur, yang melalui pemikiran-pemikiran yang termaktub dalam karya buku. Bukan lantas M. Rasjidi melakukam aksi kekerasan apalagi perusakan. Tetapi, ia mengkritik dengan karya yang produktif lagi inspiratif.
Menurut Dr. Ngainun, seorang intelektual menulis sebuah topik atau ide yang kurang atau tidak disetujui oleh pemikiran orang lain, maka cara yang bijaknya adalah membuat buku untuk membantah dan menunjukkan beberapa kelemahan argumen yang digunakan. Masih menurut Ngainun Naim, cara semacam ini terbukti lebih arif, terhormat, dan menimbulkan penghormatan dari berbagai pihak, termasuk dari yang dikritik.
Dari buku yang ditulis oleh dosen, yang memiliki jargon, "ini catatanku, mana catatanmu?" di Facebook-nya itu, bisa diambil beberapa pelajaran penting dalam dunia tulis-menulis. Pertama, jangan terhanyut ketika dikritik. Seseorang yang ingin memiliki perubahan dalam dirinya lebih baik lagi, maka harus mau mendengarkan kritik orang lain. Kritik dari seseorang jangan dijadikan tembok penghalang kreativitas dalam berkarya. Seseorang yang memiliki daya kreativitas tinggi tidak akan layu ketika dikritik, meski 'kripikan atau speak-an itu pedas, sepedas cabe rawit merah'.
Kedua, jangan emosi dan tidak menulis lagi. Tidak sedikit orang yang dikritik, ujung-ujungnya ngomel-ngomel sendiri. Dihadapan kita, orang tersebut tunduk dan diam tidak berucap sepatah kata, namun ketika diluar, ia seperti bakul jamu yang kebanjiran pelanggan. Ngomel tidak ada habisnya. Yang lebih parah lagi, terpukul dan tidak mau memperbaiki dirinya sendiri. Misal dalam dunia tulis-menulis. Saya sendiri mendapat kritik 'tajam' setajam silet dari seorang senior, yang menghujam keras di jantung. Saya kemudian tidak berhenti sampai disini. Ini adalah awal(an) bukan akhir(an). Saya harus menunjukkan bahwa kritik adalah momen untuk mengevaluasi diriuntuk perbaikan masa depan.<
Dengan cara seperti itu berarti saya diperhatikan dan secara tidak langsung ia menginginkan perbaikan dalam diri saya. Dan itu harus. Kalau saja saya terbawa hati dan hanyut, tidak mau memperbaiki diri dan tak menulis lagi, maka saya kalah sebelum perang. Layu sebelum berkembang.
Saya sadar itu bukan cara ampuh--katakan mbah Aristoteles--untuk terus belajar. Saya hanya diam ketika dikritik, tetapi saya mengikuti apa yang diceritakan Pak Ngainun Naim dalam judul buku di atas. Sepertinya itu langkah yang arif untuk menyikapi kesalahan.
etiga, lawan kritik dengan tulisan. Dulu saya pernah dikritik oleh Wawan Susetya, juga sama tentang dunia tulis-menulis. Saat itu, selepas berkunjung dari rumah penulis produktif lebih dari 70 buku itu, ia kritik beberapa tulisan. Saya pun menulis di note Facebook dan ternyata ia membacanya. Note itu sederhana. Semacam surat terbuka buat Wawan Susetya.
Dan kali ini Misbahus Surur, penulis muda kelahiran Munjungan, Trenggalek adalah orang yang berpengaruh di dunia penulisan saya. Kritikan bukan kartu mati dalam proses. Melalui semacam surat terbuka untuk Misbahus Surur, saya tulis untuk mengingatkan pribadi saya sendiri, bahwa menulis itu harus memakai perasaan dan hati. Bukan bermaksud menyerang balik. Hehehe.[]
Kutipan tersebut--barangkali--"fatwa" Mbah Aristoteles saat itu. Entah kenapa, gambar tersebut ada daya magis untuk saya download. Gambar itu saya ambil dari situs koran online, merdeka.com dan seketika itu juga, saya jadikan foto profil di akun Blackberry Massanger (BBM).
Tidak disangka, kutipan tersebut ternyata ada hubungan dengan saya. Selang beberapa hari saya jadikan DP, (lebih tepatnya siang tadi) saya mendapat kritikan dari seorang penyunting buku. Buku tersebut memang saya resume atau resensi sebagai aktivitas selepas membaca. Tulisan yang aku resimen itu akhirnya menuai kritik. Alhasil, adagium tersebut tepat untuk mengatasi sebuah kritik yang saya alami saat itu. Kutipannya begini, "Ada cara menghindari kritikan, tak melakukan apapun, tak berkata apapun, dan tak menjadi apapun." Melalui tulisan ini, saya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi apa-apa, hanya seorang yang ingin belajar menulis.
Secara sadar, sejatinya seorang itu tak mau dikritik. Kritik itu semacam belati yang menghunus tanpa ditusukkan langsung. Rasanya sangat terasa sakit. Biasanya pada banyak kasus, apabila sebuah kritik di tanggapi, masalah semakin runyam. Terjadi jual-beli argumen, diskusi bodong tidak terhindarkan, diskusi yang tidak menemukan ujung permasalahan. Ada sisi, yang menurut orang lain tidak sesuai dengan kenyataan. Atau, lebih singkatnya, ada celah yang tidak bisa diterima. Akhirnya perpecahan terjadi.
Kritik, sebuah kata sederhana namun penuh makna. Sejatinya kritik itu membangun. Namun ada kritik yang meretakan bangun yang dibangun. Tetapi ujung pangkalnya, kritik tersebut adalah sebuah intropeksi diri kita menjadi yang lebih baik lagi. Begitulah kritik itu. Kritik itu penting. Penting untuk membatasi ekspresi diri yang berlebihan. Inti dari sebuah kritik adalah instropeksi diri. Selain itu, dengan dikritik itu artinya ada orang yang peduli dan perhatian dengan perkembangan pola pikir yang kita alami.
Memang betul itu. Saya yang baru menulis resume, yang membahas buku tentang (per)jalan(an) mendapat kritik dari penyunting bukunya langsung, yang kebetulan teman sendiri. Ia adalah Misbahus Surur seorang penulis beberapa buku tentang sejarah Trenggalek. Ia memberi kritik pedas, sejujurnya saya sendiri yang menyarankan agar dikritik. Ia mengkritik berkaitan dengan pedoman menulis sekaligus rambu-rambu dalam meresensi dan kepenulisan. Dosen UIN Maliki Malang ini, setahu saya, memiliki prototipe yang keras dalam hal menulis. Tidak ada kata ampun baginya dalam urusan menulis. Singkat cerita, apabila ada yang diajari tentang menulis, pasti ia akan mengkritik habis-habisan. Tujuannya agar benar-benar tulisan yang dihasilkan bagus dan layak dinikmati publik.
Menulis, resensi atau resume sebuah buku, seharusnya memperhatikan beberapa kode etik. Maksudnya, harus memiliki kepedulian dan memiliki hati. "Sebagai penulis, ya, harus peduli terhadap penulis lain, dan beberapa ketentuan yang telah berlaku di dunia penulisan. Namanya resensi kan 'menjual' buku, penerbit dan lainnya. Jadi hal tersebut harus benar-benar diperhatikan," ungkapnya.
Ia menambahkan, "Menulis itu harus menggunakan hati. Apabila kita membiasakan menulis dengan hati, kita pasti berhati-hati dan memperhatikan beberapa ketentuan dalam kepenulisan. Tidak asal comot. Tidak asal pindah paragraf. Menulis itu mengutarakan apa yang kita alami dan keluh kesah apa yang kita rasakan secara pribadi bukan mengutip dari kalimat-kalimat dari buku," tegasnya.
Saya jadi teringat sebuah kata pengantar buku Dr. Ngainun Naim yang berjudul Islam dan Pluralisme Agama. Buku ini ditulis oleh seorang dosen IAIN Tulungagung, sebuah Perguruan Tinggi Negeri terbesar di Pesisir Selatan. Dosen yang memiliki hobi menulis setiap hari ini, dalam bukunya, menceritakan tentang tradisi intelektual yang produktif para intelektual-intelektual Indonesia punya.
Intelektual itu adalah Prof. Dr. H. M. Rasjidi yang memiliki perbedaan pandangan terhadap makalah yang ditulis oleh Drs. Nurcholish Madjid.
Di era 3 Januari 1970, ketika itu, Cak Nur--sapaan akrab Nurcholish Madjid--menulis makalah yang disarikan dalam sebuah forum di Gedung Pertemuan Islamic Research Center, tentang "Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Integrasi Umat". Tentang pentingnya sekularisme. Sontak, statement itu mendapat kritikan M. Rasjidi. Ia mengkritik dengan menulis buku. Buku yang dibuat tersebut adalah koreksi terhadap pemikiran Cak Nur terkait statement sekularisme tadi. M. Rasjidi menilai bahwa sekularisme tidak sesuai dengan kultur di negeri ini. Oleh karena, ia menulis dengan kekurangan-kekurangan dari perspektif Cak Nur, yang melalui pemikiran-pemikiran yang termaktub dalam karya buku. Bukan lantas M. Rasjidi melakukam aksi kekerasan apalagi perusakan. Tetapi, ia mengkritik dengan karya yang produktif lagi inspiratif.
Menurut Dr. Ngainun, seorang intelektual menulis sebuah topik atau ide yang kurang atau tidak disetujui oleh pemikiran orang lain, maka cara yang bijaknya adalah membuat buku untuk membantah dan menunjukkan beberapa kelemahan argumen yang digunakan. Masih menurut Ngainun Naim, cara semacam ini terbukti lebih arif, terhormat, dan menimbulkan penghormatan dari berbagai pihak, termasuk dari yang dikritik.
Dari buku yang ditulis oleh dosen, yang memiliki jargon, "ini catatanku, mana catatanmu?" di Facebook-nya itu, bisa diambil beberapa pelajaran penting dalam dunia tulis-menulis. Pertama, jangan terhanyut ketika dikritik. Seseorang yang ingin memiliki perubahan dalam dirinya lebih baik lagi, maka harus mau mendengarkan kritik orang lain. Kritik dari seseorang jangan dijadikan tembok penghalang kreativitas dalam berkarya. Seseorang yang memiliki daya kreativitas tinggi tidak akan layu ketika dikritik, meski 'kripikan atau speak-an itu pedas, sepedas cabe rawit merah'.
Kedua, jangan emosi dan tidak menulis lagi. Tidak sedikit orang yang dikritik, ujung-ujungnya ngomel-ngomel sendiri. Dihadapan kita, orang tersebut tunduk dan diam tidak berucap sepatah kata, namun ketika diluar, ia seperti bakul jamu yang kebanjiran pelanggan. Ngomel tidak ada habisnya. Yang lebih parah lagi, terpukul dan tidak mau memperbaiki dirinya sendiri. Misal dalam dunia tulis-menulis. Saya sendiri mendapat kritik 'tajam' setajam silet dari seorang senior, yang menghujam keras di jantung. Saya kemudian tidak berhenti sampai disini. Ini adalah awal(an) bukan akhir(an). Saya harus menunjukkan bahwa kritik adalah momen untuk mengevaluasi diriuntuk perbaikan masa depan.<
Dengan cara seperti itu berarti saya diperhatikan dan secara tidak langsung ia menginginkan perbaikan dalam diri saya. Dan itu harus. Kalau saja saya terbawa hati dan hanyut, tidak mau memperbaiki diri dan tak menulis lagi, maka saya kalah sebelum perang. Layu sebelum berkembang.
Saya sadar itu bukan cara ampuh--katakan mbah Aristoteles--untuk terus belajar. Saya hanya diam ketika dikritik, tetapi saya mengikuti apa yang diceritakan Pak Ngainun Naim dalam judul buku di atas. Sepertinya itu langkah yang arif untuk menyikapi kesalahan.
etiga, lawan kritik dengan tulisan. Dulu saya pernah dikritik oleh Wawan Susetya, juga sama tentang dunia tulis-menulis. Saat itu, selepas berkunjung dari rumah penulis produktif lebih dari 70 buku itu, ia kritik beberapa tulisan. Saya pun menulis di note Facebook dan ternyata ia membacanya. Note itu sederhana. Semacam surat terbuka buat Wawan Susetya.
Dan kali ini Misbahus Surur, penulis muda kelahiran Munjungan, Trenggalek adalah orang yang berpengaruh di dunia penulisan saya. Kritikan bukan kartu mati dalam proses. Melalui semacam surat terbuka untuk Misbahus Surur, saya tulis untuk mengingatkan pribadi saya sendiri, bahwa menulis itu harus memakai perasaan dan hati. Bukan bermaksud menyerang balik. Hehehe.[]
Posting Komentar