Museum Kepresidenan Republik Indonesia dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada jasa-jasa presiden-presiden Indonesia. Penghargaan terhadap dedikasinya membangun bangsa Indonesia ini, maka museum merupakan tempat yang tepat untuk merawat kenangan, kesukaan, kebiasaan dan bahkan pemikiran-pemikirannya. Nah, sekarang ada berapa presiden Indonesia hingga saat ini? Coba hitung? Museum ini dibangun pada tahun 2012, atas prakarsa mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diresmikan pada 18 Oktober 2014. Selain sebagai tanda perhargaan, museum ini sebagai salah satu tempat edukasi baru bagi masyarakat di Kota Bogor dan sekitarnya.
Jika dilihat dari segi keberadaanya, Museum Kepresidenan ini nampak familiar. Tak banyak yang mengetahui keberadaannya. Namun sekarang sudah mulai ramai oleh pengunjung dari berbagai daerah. Saya berkesempatan berkunjung di museum Kepresidenan pada 30 Maret 2017. Waktu itu saya menghadiri acara ADRI, di salah satu kampus yang berada di Kota Bogor, yakni kampus Universitas Pakuan, Bogor.
Karena dalam rentetan acara di kampus tersebutadalah mengunjungi museum maka ini adalah kesempatan yang istimewa tentunya bagi saya. Waktu itu, saya tidak sendiri menikmati setiap keindahan, kebesaran dan kemegahan dari setiap bangunan yang didesain sebegitu megah dan futuristik itu. Saya bersama puluhan undangan ADRI (Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia) melihat bangunan 3 lantai itu. Setiap rombongan berkesempatan melihat setiap sudut ruangan museum itu, yang berlokasinya di Jl. Ir. H Juanda No.3, Paledang, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat.
Pintu masuk museum melalui pintu masuk Istana Kepresidenan. Seperti halnya masuk ke Istana Presiden (pada saat open house). Sebelum masuk ada pemeriksaan barang oleh petugas kalau tidak salah sebut oleh Paspamres. Antrian di sini lumayan panjang tetapi cepat dan tertib. Keriuhan para rombongan terlihat di penjagaan masuk ini. Screening selesai kami berjalan menuju lobby museum. Sampai di lobby, tas, jaket dan beberapa barang bawaan jangan lupa dititipkan di petugas penitipan barang.
Bagi saya kunjungan ini adalah kunjungan yang istimewa. Sebab, saya baru pertama kali bisa melihat kenangan dan koleksi dari generasi pemimpin bangsa ini. Saya juga mengunjungi museum Kepresidenan Bogor secara langsung. Dengan bangunan modern dan arsitektur megah, saya pun menyempatkan diri untuk berswafoto. Mengabadikan diri dalam suatu perjalanan dan mengenal hal-hal baru adalah sebuah keharusan yang haqiqi.
Di museum ada guide yang menerangkan dan menjelaskan tentang museum ini. Sementara, museum Kepresidenan RI ini terdiri dari 3 lantai utama yakni "Galeri Kebangsaan". “Galeri Kepresidenan“ di lantai kedua, dan lantai ketiga berupa taman terbuka. Pada Galeri Kebangsaan atau ruang lobbi terdapat patung Garuda, tulisan-tulisan Proklamasi, Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945, Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya. Selain itu di sebelah kiri kami masuk, di lorong ini terdapat pula Peta Digital yang menggambarkan perkembangan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari mulai presiden pertama sampai dengan keenam. Di latar gambar presiden, yang backdrop berwarna merah ini saya sempat berfoto, mengabadikan momen istimewa ini.
O iya, ada juga peta digital yang isinya mengenai batas negara RI, jumlah pulau baik yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni serta informasi lain tentang negara RI. Dari penjelasan mbak pemandu, saya baru tahu bahwa batas paling barat dari NKRI bukanlah Pulau We melainkan Pulau Benggala yang masih masuk di Propinsi NAD. Sedangkan batas timurnya adalah Pulau Papua. Di Batas utara ada Pulau Rodo di propinsi Maluku Utara. sedangkan batas selatan Pulau Endana di Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Kemudian kami bergerak ke dalam. Dalam ruangan terbuka. Di ruangan ini kami bisa melihat dan berfoto di depan patung-patung presiden RI mulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, yang didirikan dengan tampang gagah dan perkasa. Patung-patung ini dibentuk sesuai dengan ciri khas masing-masing presiden saat berpidato. Seperti patung BJ Habibie yang tiap kali berpidato seperti memberikan penjelasan kepada audience. Hal ini sesuai dengan karakter BJ Habibie sebagai seorang pengajar/guru kepada mahasiswanya. Demikian pula dengan gaya Megawati Sukarno Putri yang tiap kali berpidato selalu membakar semangat audience-nya teriakan "merdeka".
Namun pada galeri kebangsaan ini, jika kita sedikit jeli, maka kita akan menemukan "kejanggalan" dalam pahatan teks proklamasi. Yang jelas terlihat berbeda adalah ejaannya yang masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan. Tapi coba perhatikan sekali lagi dengan lebih seksama. Ternyata penulisan tahun yang harusnya ditulis tahun 1945 ditulis dengan '05 sesuai dengan teks asli proklamasi yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Penulisan '05 ini mengikuti tahun Jepang. Mengapa harus tahun Jepang?! ya, karena PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dibentuk oleh Jepang. Nah, apabila Anda berkunjung ke sana, cobalah bertanya kepada guide untuk memperjelas angka tersebut.
Beranjak masuk ke dalam ada sebuah podiium yang biasanya digunakan oleh presiden untuk berpidato lengkap dengan teks UUD '45. Di lantai ini pula pengunjung bisa berfoto selfie di podium layaknya presiden yang sedang dilantik. Tak mau kalah dengan yang lain, saya juga melakukan seperti halnya presiden Soekarno. Saya bergaya seperti presiden Sukarno, yang mengepalkan tangan ke atas, dengan jari telunjuk menunjuk ke atas. Sebuah ekspresi yang begitu gahar untuk seorang pemimpin bangsa atau pemimpin dunia.
Masuk di lantai 2 yang merupakan Galeri Kepresidenan. Di lantai ini pengunjung tidak diperbolehkan berfoto ataupun mendokumentasikan diri dari setiap koleksi para mantan presiden. Ada banyak koleksi dari presiden-presiden kita yang dipajang dalam kaca; mulai dari pakaian, lencana hingga ke ballpoint untuk tanda tangan disimpan di galeri ini. Tiap mantan presiden dibuatkan ruangan terpisah untuk menyimpan koleksi barangnya.
Yang paling menyita perhatian dan ingatan saya adalah ruang galeri presiden Soekarno, di mana jas putih milik beliau. Saya jadi membayangkan saat Presiden Soekarno memberikan orasi di lapangan terbuka dengan memakai jas putih itu. Begitu gagah dan rapinya Presiden Soekarno ini apabila mengenakan baju khasnya tersebut di medan podium saat membakar semangat proklamasi kepada rakyatnya.
Lanjut di ruang galeri Presiden soeharto hal yang menarik perhatian saya adalah video saat Soeharto berinteraksi dengan rakyat. Presiden Soeharto memang terkenal dekat dengan rakyat kecil, utamanya petani. Di situ saya bisa melihat bagaimana Soeharto berinteraksi dengan petani, peternak dan juga nelayan di acara Klompencapir (yang lahir sebelum tahun 80 pasti ingat apa itu Klompencapir).
Tak banyak waktu yang bisa saya rasakan di setiap sudut dari galeri presiden ini. berjalan lagi di ruang galeri Presiden BJ Habibie terlihat berbeda dengan yang lainnya karena di sudut ruangan dipajang beberapa tipe pesawat yang dibuat Beliau, salah satunya N250.
Lanjut ke ruangan Presiden KH. Abdurrahman Wahid. Di koleksi itu nampak songkok yang biasa dipakai Gus Dur, tongkat dan beberapa buku karangannya. Songkok itu merepresentasikan bahwa ia dari kalangan pesantren. Dengan gayanya yang nyantai dan humanis dan selalu dekat dengan rakyat sangatlah kental ketara dari koleksi ini. Saya menangkap sebuah kesan bahwa pemimpin negara tidak melulu memakai pakaian formal.
Lalu ruangan Presiden Megawati Soekarno Putri. Hanya ada teko dan tempat minum teh dari keramik yang menurut saya cantik. Presiden Megawati Soekarno Putri merupakan presiden tercantik pertama di Indonesia. Ia merupakan anak dari Presiden pertama Indonesia. Koleksi-koleksi yang ditampilkan di galeri kepresidenan itu juga sangat komplit. Sehingga saya bisa membayangkan bahwa sosoknya juga sangatlah ramah dan dekat dengan rakyat.
Koleksi Presiden SBY sepertinya alat komunikasi SBY dengan ajudannya. Di semua galeri juga dipajang lencana dari masing-masing presiden. Semua koleksi lencana yang ada di musem itu adalah lencana asli, kecuali lencana-lencana milik Presiden Soeharto yang replika. Selain koleksi barang yang biasa digunakan presiden, juga ditampilkan beberapa video pada saat presiden berinteraksi dengan rakyat, juga foto-foto presiden bersama dengan tokoh penting dunia, serta koleksi buku karya presiden, buku-buku koleksi para presiden, dan berbagai buku yang terkait dengan para presiden.
Nah, di ruangan lain atau bilik lain menampilkan gambar pada pigura foto presiden pertama sampai foto ke 6. Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Ada satu papan yang masih kosong, yang seyogyanya ini adalah tempat untuk presiden berikutnya, yakni Joko Widodo. Ia adalah presiden ke-7. Di ruangan inilah yang menarik perhatian saya untuk berfoto pada papan kosong itu seakan berhak menjadi presiden ke-7.
Nah, apabila Anda tertarik dengan berbagai macam cinderamata dari Museum Kepresidenan, saat Anda keluar dari galeri tersebut, dan lokasinya bersebelahan dengan lobbi ada bangunan yang menjual cenderamata yang menjual berbagai macam koleksi. Harganya pun juag bervariasi mulai Rp 10.000 ribu untuk stiker Istana Kepresidenan, topi Rp 50.000, Kaos Rp 75.000 – Rp 85.000, hingga jam tangan khusus dan jaket istana Rp 200.000. Sedangkan miniatur-miniatur tugu kujang dan Istana Bogor, dijual mulai Rp 200.000 hingga Rp 400.000 yang berukuran mencapai tinggi 30 centimeter.
Sementara jam kunjungan dibatasi. Hari Selasa s.d Jum’at Pukul 09.00 s.d 15.00 WIB. Hari Sabtu s.d Minggu pukul 09.00 s.d 13.00 WIB. Sementara Hari Senin dan Hari Libur Nasional (TUTUP).
Jika dilihat dari segi keberadaanya, Museum Kepresidenan ini nampak familiar. Tak banyak yang mengetahui keberadaannya. Namun sekarang sudah mulai ramai oleh pengunjung dari berbagai daerah. Saya berkesempatan berkunjung di museum Kepresidenan pada 30 Maret 2017. Waktu itu saya menghadiri acara ADRI, di salah satu kampus yang berada di Kota Bogor, yakni kampus Universitas Pakuan, Bogor.
Karena dalam rentetan acara di kampus tersebutadalah mengunjungi museum maka ini adalah kesempatan yang istimewa tentunya bagi saya. Waktu itu, saya tidak sendiri menikmati setiap keindahan, kebesaran dan kemegahan dari setiap bangunan yang didesain sebegitu megah dan futuristik itu. Saya bersama puluhan undangan ADRI (Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia) melihat bangunan 3 lantai itu. Setiap rombongan berkesempatan melihat setiap sudut ruangan museum itu, yang berlokasinya di Jl. Ir. H Juanda No.3, Paledang, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat.
Pintu masuk museum melalui pintu masuk Istana Kepresidenan. Seperti halnya masuk ke Istana Presiden (pada saat open house). Sebelum masuk ada pemeriksaan barang oleh petugas kalau tidak salah sebut oleh Paspamres. Antrian di sini lumayan panjang tetapi cepat dan tertib. Keriuhan para rombongan terlihat di penjagaan masuk ini. Screening selesai kami berjalan menuju lobby museum. Sampai di lobby, tas, jaket dan beberapa barang bawaan jangan lupa dititipkan di petugas penitipan barang.
Bagi saya kunjungan ini adalah kunjungan yang istimewa. Sebab, saya baru pertama kali bisa melihat kenangan dan koleksi dari generasi pemimpin bangsa ini. Saya juga mengunjungi museum Kepresidenan Bogor secara langsung. Dengan bangunan modern dan arsitektur megah, saya pun menyempatkan diri untuk berswafoto. Mengabadikan diri dalam suatu perjalanan dan mengenal hal-hal baru adalah sebuah keharusan yang haqiqi.
Di museum ada guide yang menerangkan dan menjelaskan tentang museum ini. Sementara, museum Kepresidenan RI ini terdiri dari 3 lantai utama yakni "Galeri Kebangsaan". “Galeri Kepresidenan“ di lantai kedua, dan lantai ketiga berupa taman terbuka. Pada Galeri Kebangsaan atau ruang lobbi terdapat patung Garuda, tulisan-tulisan Proklamasi, Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945, Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya. Selain itu di sebelah kiri kami masuk, di lorong ini terdapat pula Peta Digital yang menggambarkan perkembangan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari mulai presiden pertama sampai dengan keenam. Di latar gambar presiden, yang backdrop berwarna merah ini saya sempat berfoto, mengabadikan momen istimewa ini.
O iya, ada juga peta digital yang isinya mengenai batas negara RI, jumlah pulau baik yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni serta informasi lain tentang negara RI. Dari penjelasan mbak pemandu, saya baru tahu bahwa batas paling barat dari NKRI bukanlah Pulau We melainkan Pulau Benggala yang masih masuk di Propinsi NAD. Sedangkan batas timurnya adalah Pulau Papua. Di Batas utara ada Pulau Rodo di propinsi Maluku Utara. sedangkan batas selatan Pulau Endana di Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Kemudian kami bergerak ke dalam. Dalam ruangan terbuka. Di ruangan ini kami bisa melihat dan berfoto di depan patung-patung presiden RI mulai dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, yang didirikan dengan tampang gagah dan perkasa. Patung-patung ini dibentuk sesuai dengan ciri khas masing-masing presiden saat berpidato. Seperti patung BJ Habibie yang tiap kali berpidato seperti memberikan penjelasan kepada audience. Hal ini sesuai dengan karakter BJ Habibie sebagai seorang pengajar/guru kepada mahasiswanya. Demikian pula dengan gaya Megawati Sukarno Putri yang tiap kali berpidato selalu membakar semangat audience-nya teriakan "merdeka".
Namun pada galeri kebangsaan ini, jika kita sedikit jeli, maka kita akan menemukan "kejanggalan" dalam pahatan teks proklamasi. Yang jelas terlihat berbeda adalah ejaannya yang masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan. Tapi coba perhatikan sekali lagi dengan lebih seksama. Ternyata penulisan tahun yang harusnya ditulis tahun 1945 ditulis dengan '05 sesuai dengan teks asli proklamasi yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Penulisan '05 ini mengikuti tahun Jepang. Mengapa harus tahun Jepang?! ya, karena PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dibentuk oleh Jepang. Nah, apabila Anda berkunjung ke sana, cobalah bertanya kepada guide untuk memperjelas angka tersebut.
Beranjak masuk ke dalam ada sebuah podiium yang biasanya digunakan oleh presiden untuk berpidato lengkap dengan teks UUD '45. Di lantai ini pula pengunjung bisa berfoto selfie di podium layaknya presiden yang sedang dilantik. Tak mau kalah dengan yang lain, saya juga melakukan seperti halnya presiden Soekarno. Saya bergaya seperti presiden Sukarno, yang mengepalkan tangan ke atas, dengan jari telunjuk menunjuk ke atas. Sebuah ekspresi yang begitu gahar untuk seorang pemimpin bangsa atau pemimpin dunia.
Masuk di lantai 2 yang merupakan Galeri Kepresidenan. Di lantai ini pengunjung tidak diperbolehkan berfoto ataupun mendokumentasikan diri dari setiap koleksi para mantan presiden. Ada banyak koleksi dari presiden-presiden kita yang dipajang dalam kaca; mulai dari pakaian, lencana hingga ke ballpoint untuk tanda tangan disimpan di galeri ini. Tiap mantan presiden dibuatkan ruangan terpisah untuk menyimpan koleksi barangnya.
Yang paling menyita perhatian dan ingatan saya adalah ruang galeri presiden Soekarno, di mana jas putih milik beliau. Saya jadi membayangkan saat Presiden Soekarno memberikan orasi di lapangan terbuka dengan memakai jas putih itu. Begitu gagah dan rapinya Presiden Soekarno ini apabila mengenakan baju khasnya tersebut di medan podium saat membakar semangat proklamasi kepada rakyatnya.
Lanjut di ruang galeri Presiden soeharto hal yang menarik perhatian saya adalah video saat Soeharto berinteraksi dengan rakyat. Presiden Soeharto memang terkenal dekat dengan rakyat kecil, utamanya petani. Di situ saya bisa melihat bagaimana Soeharto berinteraksi dengan petani, peternak dan juga nelayan di acara Klompencapir (yang lahir sebelum tahun 80 pasti ingat apa itu Klompencapir).
Tak banyak waktu yang bisa saya rasakan di setiap sudut dari galeri presiden ini. berjalan lagi di ruang galeri Presiden BJ Habibie terlihat berbeda dengan yang lainnya karena di sudut ruangan dipajang beberapa tipe pesawat yang dibuat Beliau, salah satunya N250.
Lanjut ke ruangan Presiden KH. Abdurrahman Wahid. Di koleksi itu nampak songkok yang biasa dipakai Gus Dur, tongkat dan beberapa buku karangannya. Songkok itu merepresentasikan bahwa ia dari kalangan pesantren. Dengan gayanya yang nyantai dan humanis dan selalu dekat dengan rakyat sangatlah kental ketara dari koleksi ini. Saya menangkap sebuah kesan bahwa pemimpin negara tidak melulu memakai pakaian formal.
Lalu ruangan Presiden Megawati Soekarno Putri. Hanya ada teko dan tempat minum teh dari keramik yang menurut saya cantik. Presiden Megawati Soekarno Putri merupakan presiden tercantik pertama di Indonesia. Ia merupakan anak dari Presiden pertama Indonesia. Koleksi-koleksi yang ditampilkan di galeri kepresidenan itu juga sangat komplit. Sehingga saya bisa membayangkan bahwa sosoknya juga sangatlah ramah dan dekat dengan rakyat.
Koleksi Presiden SBY sepertinya alat komunikasi SBY dengan ajudannya. Di semua galeri juga dipajang lencana dari masing-masing presiden. Semua koleksi lencana yang ada di musem itu adalah lencana asli, kecuali lencana-lencana milik Presiden Soeharto yang replika. Selain koleksi barang yang biasa digunakan presiden, juga ditampilkan beberapa video pada saat presiden berinteraksi dengan rakyat, juga foto-foto presiden bersama dengan tokoh penting dunia, serta koleksi buku karya presiden, buku-buku koleksi para presiden, dan berbagai buku yang terkait dengan para presiden.
Nah, di ruangan lain atau bilik lain menampilkan gambar pada pigura foto presiden pertama sampai foto ke 6. Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Ada satu papan yang masih kosong, yang seyogyanya ini adalah tempat untuk presiden berikutnya, yakni Joko Widodo. Ia adalah presiden ke-7. Di ruangan inilah yang menarik perhatian saya untuk berfoto pada papan kosong itu seakan berhak menjadi presiden ke-7.
Nah, apabila Anda tertarik dengan berbagai macam cinderamata dari Museum Kepresidenan, saat Anda keluar dari galeri tersebut, dan lokasinya bersebelahan dengan lobbi ada bangunan yang menjual cenderamata yang menjual berbagai macam koleksi. Harganya pun juag bervariasi mulai Rp 10.000 ribu untuk stiker Istana Kepresidenan, topi Rp 50.000, Kaos Rp 75.000 – Rp 85.000, hingga jam tangan khusus dan jaket istana Rp 200.000. Sedangkan miniatur-miniatur tugu kujang dan Istana Bogor, dijual mulai Rp 200.000 hingga Rp 400.000 yang berukuran mencapai tinggi 30 centimeter.
Sementara jam kunjungan dibatasi. Hari Selasa s.d Jum’at Pukul 09.00 s.d 15.00 WIB. Hari Sabtu s.d Minggu pukul 09.00 s.d 13.00 WIB. Sementara Hari Senin dan Hari Libur Nasional (TUTUP).
wah...rasanya ingin juga berkunjung ke tempat ini
BalasHapusKeren loh tempatnya buat edukasi. Foto-foto masih kurang itu. Salam kenal ya. Terima kasih atas kunjungan di blog ini...
BalasHapussalam kenal kembali. trims infonya yang menarik
BalasHapusIya sama-sama. Museum presiden memang tempat yang menarik untuk dikunjungi...
BalasHapusWah koleksi museumnya lengkap banget ya
BalasHapusWah..koleksi museumnya lengkap banget ya?
BalasHapusLengkap banget mas. Ini adalah salah satu kunjungan saya waktu merantau kemarin. Dan masih banyak lagi jalan-jalan yang belum tertuliskan...
BalasHapusLengkap sekali, Mas....
BalasHapusPosting Komentar