Setiap orangtua sudah pasti mengajarkan kebaikan kepada istri, anak-anaknya dan orang dekat di sekelilingnya. Perilaku maupun tindakan harus mencerminkan kedewasaan pada dirinya. Setiap ucapannya harus sejalan seiring dengan yang dilakukannya. Tindakannya juga selaras dengan usianya. Karena perbuatannya akan menggambarkan sosok yang patut dijadikan panutan dan teladan bagi keluarganya. Perilaku tersebut juga secara tidak langsung, maupun langsung penting untuk disampaikan. Artinya, memberikan contoh dengan langsung di depan mata para keluarga maupun orang terdekatnya maupun cerita yang inspiratif untuk dibagi kepada keluarga.
Ayah atau bapak memang harus memberikan contoh yang inspiratif dan bijak, karena ayah adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas keluarga dan anak-anaknya. Apabila ada kebahagiaan tentu orang sekitarnya juga akan merayakan kebahagiaan. Pun ketika tertimpa musibah, orang di dekatnya juga akan ikut sedih dan duka. Oleh karena itu, figur ayah adalah orang yang selalu mendapat tempat di hati keluarganya.
Berbicara tentang sosok ayah, saya memiliki cerita tentang ayah atau bapak saya sendiri. Cerita ini saya tulis karena ada pelajaran yang sangat luar biasa, meski dilain waktu dan kesempatan banyak pelajaran yang seharusnya saya petik. Suatu ketika--saat itu saya akan melakukan perjalanan ke Kediri—namun Tuhan berkehendak lain. Saya harus kembali pulang setelah melakukan perjalanan kira-kira setengah jam dari rumah. Karena Ibu Bapak tidak ada di rumah, saya pamit pada Nenek saya, kalau saya mau ke Kediri. Jam menunjukkan pukul lima sore. Jam segitu enaknya untuk bercengkrama dengan keluarga atau nonton televisi bareng, berhubung orang tua tidak, saya pun punya inisiatif untuk mendengarkan sarasehan terkait status kampus, tempat saya mengadukan nasib.
Setengah jam dari rumah, tepatnya due bawah pelengkuang atau gapura selamat datang di Gua Lawa, Watulimo, saya harus menghentikan perjalanan karena tabrakan dengan salah pengemudi kendaraan, sesama sepeda motor. Saya pun akhirnya berurusan dengan orang tadi. Tawar menawar terkait kerusakan dan bagaimana kondisi tubuh pun terjadi. Beberapa negoisasi namun gagal. Akhirnya, pihak ketiga atau orang yang memberi tawaran perdamaian pun menawar gagasannya, bagaimana kalau pihak yang saya tabrak--namun tidak nyalakan resting atau lampu kanan kiri--saya minta untuk memperbaiki motor saya.
Pendek kata, saya diajak atau dikasih tahu rumah si yang saya tabrak tadi. Beberapa menit, kami berdiskusi negoisasi dan menghasilkan kata mufakat. Bahwa pihak yang saya mintai ganti atas kerusakan kendaraan tadi akan berkunjung ke rumah, besok paginya. Untuk itu, saya pun pamit pulang dengan orang ketiga tadi, yang kebetulan masih teman.
Namun bukan kisah itu yang ingin saya ceritakan. Akan tetapi, bagaimana tanggapan orang tua ketika tahu anaknya kecelakaan, marah? Minta ganti rugi kepada si terdakwa? Atau memperbaiki sendiri motor tersebut? Ya, betul. Di sini saya mendapatkan pelajaran yang sangat luar biasa. Ucapannya sangat bernas dan indah, seindah bunga sakura di musim dingin. Yang mendinginkan suasana hati yang sedang panas.
Sampai di rumah, saya cerita tentang kejadian yang baru saja saya timpa. Ia pun bertanya, "tapi kamu tidak apa-apa kan?"
"Tidak, saya tidak apa-apa, besok pagi orang tadi akan kesini, akan genahne (memberi keterangan) terkait kendaraan," jawab saya.
Apa yang ia lakukan setelah itu, ia pun menelepon pihak tadi--kebetulan saya dikasih nomer telepon--dan bapak meminta maaf kalau anaknya telah kecelakaan dengannya dan meminta kendaraannya untuk bapak sendiri yang akan memperbaiki, satu lagi, bapak memberi tahu, kalau orang itu tidak usah repot-repot untuk mencari alamat rumah kami. Dan dipungkas teleponnya bilang, saya hanya ingin mencari peseduluran. Dan sekali lagi, meminta maaf kepada pihak orang tadi, lawan kecelakaan.
Dan, kami sekeluarga pun diberi petuah, jangan senang di atas penderita orang lain. Kita itu manusia, maka memanusiakan manusia itu lebih mulia. Dan ternyata tindakan bapak membukakan pintu hati dan pikiran saya atas peristiwa yang telah terjadi pada saya. Saya seakan mendapatkan "kurikulum tersembunyi" yang tidak diucapkan oleh guru-guru sekolah saya.
Namun, bukan ini saja pelajaran yang dapatkan, pelajaran datang ketika ia menemukan dompet di kamar mandi tempat ia bekerja. Setelah pulang kerja, dompet yang ditemukan itu diberitahukan saya. Dan saya lihat, isinya komplit: Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan uang tunai seratus ribu lebih.
Bapak tidak memiliki pikiran untuk mengambil uang itu dan membuang dompet serta identitas tersebut. Kalau menurut keterangan, si pemilik dompet itu adalah warga Kecamatan Pogalan, Desa Ngadirenggo, Trenggalek. Beberapa hari mencari informasi tentang alamat tersebut, saya pun juga ikut menyebarkan informasi di dunia maya; Facebook dan BBM. Beberapa komentar masuk.
Apa yang terjadi selepas saya posting di dunia maya tersebut. Ternyata bapak baru saja mengantarkan dompet beserta isinya tersebut kepada pemiliknya di rumahnya, di Ngadirenggo. Ia mengantarkan sendiri langsung ke rumahnya. Dan, Alhamdulillah, bapak dipersilahkan masuk dengan cara yang baik, begitu cerita bapak. Katanya identitas itu sudah lama dicari-cari bahkan sudah melayangkan kehilangan di instansi setempat. Tidak lama kemudian, bapak pulang dan akan diberi imbalan yang setimpal setelah mengembalikan identitas lengkap tersebut. Dan bapak bilang, berterimakasih atas jamuanya, dan tidak menerima imbalan tersebut. Dan bapak mengatakan "saya hanya ingin mencari peseduluran atau saudara saja. Mencari saudara seribu itu kurang tetapi mendapat musuh satu itu terlalu banyak. Oleh karena itu, pelajaran keteladanan dari bapak saya ini memang penting untuk saya kutip untuk menjadi pelajaran hidup menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.
Sebenarnya saya juga pernah menemukan uang dalam dompet yang isinya berwarna merah, namun saya tidak berani untuk mengambil uang tersebut, saya pun memanggil teman untuk mengambil dompet itu yang isinya--mungkin--jutaan. Kebetulan teman saya tadi sealamat dengan identitas yang ada di dompet tersebut. Sebenarnya pelajaran inilah saya selalu dibukakan pintu penyadaran untuk berhati-hati dan selalu ingat bahwa itu bukan hak kita. Bukan milik kita yang harus kita miliki. Ada banyak cerita tentang keteladanan pelajaran serupa, untuk memjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Bersambung...
Ayah atau bapak memang harus memberikan contoh yang inspiratif dan bijak, karena ayah adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas keluarga dan anak-anaknya. Apabila ada kebahagiaan tentu orang sekitarnya juga akan merayakan kebahagiaan. Pun ketika tertimpa musibah, orang di dekatnya juga akan ikut sedih dan duka. Oleh karena itu, figur ayah adalah orang yang selalu mendapat tempat di hati keluarganya.
Berbicara tentang sosok ayah, saya memiliki cerita tentang ayah atau bapak saya sendiri. Cerita ini saya tulis karena ada pelajaran yang sangat luar biasa, meski dilain waktu dan kesempatan banyak pelajaran yang seharusnya saya petik. Suatu ketika--saat itu saya akan melakukan perjalanan ke Kediri—namun Tuhan berkehendak lain. Saya harus kembali pulang setelah melakukan perjalanan kira-kira setengah jam dari rumah. Karena Ibu Bapak tidak ada di rumah, saya pamit pada Nenek saya, kalau saya mau ke Kediri. Jam menunjukkan pukul lima sore. Jam segitu enaknya untuk bercengkrama dengan keluarga atau nonton televisi bareng, berhubung orang tua tidak, saya pun punya inisiatif untuk mendengarkan sarasehan terkait status kampus, tempat saya mengadukan nasib.
Setengah jam dari rumah, tepatnya due bawah pelengkuang atau gapura selamat datang di Gua Lawa, Watulimo, saya harus menghentikan perjalanan karena tabrakan dengan salah pengemudi kendaraan, sesama sepeda motor. Saya pun akhirnya berurusan dengan orang tadi. Tawar menawar terkait kerusakan dan bagaimana kondisi tubuh pun terjadi. Beberapa negoisasi namun gagal. Akhirnya, pihak ketiga atau orang yang memberi tawaran perdamaian pun menawar gagasannya, bagaimana kalau pihak yang saya tabrak--namun tidak nyalakan resting atau lampu kanan kiri--saya minta untuk memperbaiki motor saya.
Pendek kata, saya diajak atau dikasih tahu rumah si yang saya tabrak tadi. Beberapa menit, kami berdiskusi negoisasi dan menghasilkan kata mufakat. Bahwa pihak yang saya mintai ganti atas kerusakan kendaraan tadi akan berkunjung ke rumah, besok paginya. Untuk itu, saya pun pamit pulang dengan orang ketiga tadi, yang kebetulan masih teman.
Namun bukan kisah itu yang ingin saya ceritakan. Akan tetapi, bagaimana tanggapan orang tua ketika tahu anaknya kecelakaan, marah? Minta ganti rugi kepada si terdakwa? Atau memperbaiki sendiri motor tersebut? Ya, betul. Di sini saya mendapatkan pelajaran yang sangat luar biasa. Ucapannya sangat bernas dan indah, seindah bunga sakura di musim dingin. Yang mendinginkan suasana hati yang sedang panas.
Sampai di rumah, saya cerita tentang kejadian yang baru saja saya timpa. Ia pun bertanya, "tapi kamu tidak apa-apa kan?"
"Tidak, saya tidak apa-apa, besok pagi orang tadi akan kesini, akan genahne (memberi keterangan) terkait kendaraan," jawab saya.
Apa yang ia lakukan setelah itu, ia pun menelepon pihak tadi--kebetulan saya dikasih nomer telepon--dan bapak meminta maaf kalau anaknya telah kecelakaan dengannya dan meminta kendaraannya untuk bapak sendiri yang akan memperbaiki, satu lagi, bapak memberi tahu, kalau orang itu tidak usah repot-repot untuk mencari alamat rumah kami. Dan dipungkas teleponnya bilang, saya hanya ingin mencari peseduluran. Dan sekali lagi, meminta maaf kepada pihak orang tadi, lawan kecelakaan.
Dan, kami sekeluarga pun diberi petuah, jangan senang di atas penderita orang lain. Kita itu manusia, maka memanusiakan manusia itu lebih mulia. Dan ternyata tindakan bapak membukakan pintu hati dan pikiran saya atas peristiwa yang telah terjadi pada saya. Saya seakan mendapatkan "kurikulum tersembunyi" yang tidak diucapkan oleh guru-guru sekolah saya.
Namun, bukan ini saja pelajaran yang dapatkan, pelajaran datang ketika ia menemukan dompet di kamar mandi tempat ia bekerja. Setelah pulang kerja, dompet yang ditemukan itu diberitahukan saya. Dan saya lihat, isinya komplit: Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan uang tunai seratus ribu lebih.
Bapak tidak memiliki pikiran untuk mengambil uang itu dan membuang dompet serta identitas tersebut. Kalau menurut keterangan, si pemilik dompet itu adalah warga Kecamatan Pogalan, Desa Ngadirenggo, Trenggalek. Beberapa hari mencari informasi tentang alamat tersebut, saya pun juga ikut menyebarkan informasi di dunia maya; Facebook dan BBM. Beberapa komentar masuk.
Apa yang terjadi selepas saya posting di dunia maya tersebut. Ternyata bapak baru saja mengantarkan dompet beserta isinya tersebut kepada pemiliknya di rumahnya, di Ngadirenggo. Ia mengantarkan sendiri langsung ke rumahnya. Dan, Alhamdulillah, bapak dipersilahkan masuk dengan cara yang baik, begitu cerita bapak. Katanya identitas itu sudah lama dicari-cari bahkan sudah melayangkan kehilangan di instansi setempat. Tidak lama kemudian, bapak pulang dan akan diberi imbalan yang setimpal setelah mengembalikan identitas lengkap tersebut. Dan bapak bilang, berterimakasih atas jamuanya, dan tidak menerima imbalan tersebut. Dan bapak mengatakan "saya hanya ingin mencari peseduluran atau saudara saja. Mencari saudara seribu itu kurang tetapi mendapat musuh satu itu terlalu banyak. Oleh karena itu, pelajaran keteladanan dari bapak saya ini memang penting untuk saya kutip untuk menjadi pelajaran hidup menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.
Sebenarnya saya juga pernah menemukan uang dalam dompet yang isinya berwarna merah, namun saya tidak berani untuk mengambil uang tersebut, saya pun memanggil teman untuk mengambil dompet itu yang isinya--mungkin--jutaan. Kebetulan teman saya tadi sealamat dengan identitas yang ada di dompet tersebut. Sebenarnya pelajaran inilah saya selalu dibukakan pintu penyadaran untuk berhati-hati dan selalu ingat bahwa itu bukan hak kita. Bukan milik kita yang harus kita miliki. Ada banyak cerita tentang keteladanan pelajaran serupa, untuk memjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Bersambung...
Bapakmu bijaksana banget,senangnya punya bapak yang perhatian.
BalasHapusIya Mbak, Terima Kasih ya kunjungannya di blog kami. Sebijaksana bapak-bapk di luar sana. Termasuk ayah/bapak Anda. Itulah secuil kebijkasanaan seorang bapak yang ia utarakan kepada saya...
BalasHapusPosting Komentar