Sebagai orang yang aktif dalam menggunakan media sosial (medsos) rasanya kurang afdol jika tidak melakukan survey terhadap organisasi tersebut. Misal, organisasi yang diinisiasi oleh seorang anak muda, Facebook, bernama ustad Mark Zuckerberg, ini seberapa besar dampak bagi khalayak ramai, khususnya para penggunanya. Tentunya, sangat beragam manfaat bagi masyarakat Indonesia khususnya, dan masyarakat global secara umum.
Dari sebuah wadah media sosial yang memiliki kartu anggota terbanyak ini memiliki tempat berbeda-beda bagi para membernya. Para anggota, dalam hal ini, pemilik akun Facebook, menggunakan fasilitas media sosial dengan sangat beragam. Ada yang digunakan untuk keperluan positif: marketing; berjualan produknya secara online, digunakan berkomunikasi dengan orang di luar sana; untuk mencari persahabatan dan pertemanan serta digunakan sebagai media untuk belajar; belajar mencari informasi hingga belajar menulis, tetapi ada juga yang memanfaatkan untuk keperluan yang mundharat, negatif.
Namun saya tidak akan berbicara tentang kemudharatan yang terjadi belakangan ini. Yang saya lihat adalah orang-orang yang dahulu memanfaatkan media sosial sebagai keluh kesah, sekarang hijrah mendalami kegiatan tulis-menulis--ngeblog--dari tulisan yang mereka baca. Saya juga tidak berbicara tentang berita hoaks, berita yang bodong maupun berita yang mengajak untuk memperkeruh suasana persatuan Indonesia.
Namun dalam konteks ini, izinkan saya untuk melirik aktivitas media sosial untuk keperluan positifnya, khususnya tentang belajar: literasi (baca-tulis). (Saya tidak akan mengejawantahkan hal-hal negatifnya, karena yang negatif, sampeyan semua sudah tahu pasti). Di dunia maya atau dumay, seseorang dengan mudah beradu opini, gagasan serta tukar ide tanpa harus berhadapan face to face. Tinggal kita pencet tuts-tuts di keyboard smartphone, android atau komputer sampeyan, gagasan tersebut sudah bisa diakses dan dibaca oleh semua orang, termasuk masyarakat dunia. Apabila gagasan tersebut dibungkus, dishare, dibagikan di media sosial, semacam Facebook, linimasa seperti Twitter, blog, kompasiana, wordpress, dan apapun namanya seseorang tinggal mendownload dan mempelajarinya. Simple kan!
Jika kita mencari seorang, saya sebut 'pejuang literasi media sosial', kita tidak akan kesulitan. Sekali lagi, saya sebagai "member" dunia maya, saya menjumpai para pejuang itu. Pejuang yang ikhlas menyebarkan informasi, tentang hal yang inspiratif, tentang pentingnya literasi secara gratis tidak akan kesulitan. Karena orang semacam itu tidak sedikit di dumay. Misal, tokoh yang luar biasa dengan prestasi menulisnya di media sosial, Prof. Imam Suprayogo merupakan penggerak sekaligus pejuang literasi di dumay. Karena dengan keistiqomahannya menulis di media sosial, beliau mendapat dua kali rekor MURI. Sebuah capaian yang sangat luar biasa, tentunya.
Prof. Imam Suprayogo memang memiliki spirit yang luar biasa di literasi. Dengan kemudahan ini, Prof. Imam Suprayogo tentu akan terus, ia jaga. Karena kesempatan untuk mencerahkan masyarakat, sebagai besar, lewat dumay rasanya tetap sasaran. Betapa tidak. Masyarakat sekarang sudah mempunyai alat komunikasi canggih, seperti handphone smartphone. Jika Prof. Imam menulis tentang ihwal hikmah atau kisah inspiratif, kemudian masyarakat membacanya, dan meresapi dan mengaplikasikan dalam dunia nyata, tentu nilai yang sangat luar biasa.
Selain itu, karena sering membaca tulisan dari Prof. Imam kemudian terinspirasi dan ikut menulis itulah nilai literasi terkoneksikan secara tidak langsung. Artinya, sebuah tampilan literasi yang dibungkus di media sosial, semacam dunia maya memiliki perhatian bagi para penggunanya. Tidak mustahil itu.
Jika kita menilik secara luas, media atau akun atas nama pribadi tidak sedikit yang melakukan pekerjaan intelektual semacam literasi ini. Saya kira ada gelombang eksodus yang dilakukan oleh seseorang dalam media menulis. Jika dahulu kita menulis itu hanya berjudi di media massa di koran-koran, sekarang sebagai besar penulis-penulis kawakan atau pemula lebih menulis di media sosial, lebih tepatnya di dumay. Sekali lagi, tidak berlebihan jika fenomena seperti ini menjadikan sebagai senjakala media cetak. Jika makin ke sana, makin luar biasa gelombang para penulis memanfaatkan teknologi informasi berbasis web. Jika dibanding di media cetak kesempatan lebih besar di media sosial diunggahnya, dibaca, dikomentari, dan dibantai. Ini yang membuat seseorang berpikir pendek dan instan.
Saya sebagai pengguna media sosial aktif, dan pembaca website taat, tentu terbantu dengan informasi yang disajikan. Selain informasi yang disajikan tepat--terkadang asbun--juga sangat cepat.
Sebagai penikmat website taat seperti Mojok.co, fandom.id, jombloo.co, yang digawangi oleh Puthut EA, Arman Dhani, Agus Mulyanto, Rusdi, Sirajuddin Hasbi, Eddward S. Kennedy merupakan punggawa beberapa sekaligus kontributor dalam media website yang lagi moncer satu tahun lebih belakangan ini. Media sosial yang sangat militan dalam mengabarkan informasi dengan gaya satire ini sangat bersemangat dalam hal literasi. Kemampuan mereka dalam hal menulis, mengolah data dan fakta sangatlah luar biasa. Sebagai dari merupakan wartawan yang sudah kawak dan malang melintang serta memiliki jam terbang yang sangat luar biasa. Jadi secara kualitas, kemampuan mereka tak bisa diragukan lagi.
Tidak sedikit masyarakat yang peduli serta memanfaatkan teknologi informasi, seperti Facebook, twitter. Tetapi twitter keterbatasan space sehingga kemudahan melakukan kerja literasi di facebook serta di dunia maya lainnya. Saya memiliki kolega, dulu seorang dosen saya, yang sangat begitu menginspiratif. Media yang digunakan beliau adalah dengan memanfatkan wall atau dinding facebook. Jika sebagai besar orang dimanfaatkan untuk berkeluh kesah, tetapi dosen yang satu ini, Dr. Ngainun Naim namanya memanfaatkan wall dinding facebook dengan tulisan berbasis status. Jika dalam wall facebook itu jika dihadapkan sebuah pertanyaan "Apa yang Anda pikirkan?" Secara tidak langsung, menulis berbasis status ini merupakan sebuah konsep serta metode yang kontemporer, meski tak terlalu kekinian, tetapi dengan metode seperti itu, kita mampu memanfaatkan teknologi informasi yang tepat guna lagi bermanfaat.
Jika melirik lebih ke dalam di dunia maya atau lebih populer disingkat dumay, geliat dan spirit literasi sangat luar biasa. Ini merupakan preseden yang baik bagi pertumbuhan budaya literasi di kalangan masyarakat. Kita akan dididik menjadi seorang yang selalu berpikir sebelum bertindak dan menulis sebelum menuangkan ide atau umpatan di dunia maya (dumay). Karena dunia maya merupakan fasilitas yang tak bertepi.[]
Dari sebuah wadah media sosial yang memiliki kartu anggota terbanyak ini memiliki tempat berbeda-beda bagi para membernya. Para anggota, dalam hal ini, pemilik akun Facebook, menggunakan fasilitas media sosial dengan sangat beragam. Ada yang digunakan untuk keperluan positif: marketing; berjualan produknya secara online, digunakan berkomunikasi dengan orang di luar sana; untuk mencari persahabatan dan pertemanan serta digunakan sebagai media untuk belajar; belajar mencari informasi hingga belajar menulis, tetapi ada juga yang memanfaatkan untuk keperluan yang mundharat, negatif.
Namun saya tidak akan berbicara tentang kemudharatan yang terjadi belakangan ini. Yang saya lihat adalah orang-orang yang dahulu memanfaatkan media sosial sebagai keluh kesah, sekarang hijrah mendalami kegiatan tulis-menulis--ngeblog--dari tulisan yang mereka baca. Saya juga tidak berbicara tentang berita hoaks, berita yang bodong maupun berita yang mengajak untuk memperkeruh suasana persatuan Indonesia.
Namun dalam konteks ini, izinkan saya untuk melirik aktivitas media sosial untuk keperluan positifnya, khususnya tentang belajar: literasi (baca-tulis). (Saya tidak akan mengejawantahkan hal-hal negatifnya, karena yang negatif, sampeyan semua sudah tahu pasti). Di dunia maya atau dumay, seseorang dengan mudah beradu opini, gagasan serta tukar ide tanpa harus berhadapan face to face. Tinggal kita pencet tuts-tuts di keyboard smartphone, android atau komputer sampeyan, gagasan tersebut sudah bisa diakses dan dibaca oleh semua orang, termasuk masyarakat dunia. Apabila gagasan tersebut dibungkus, dishare, dibagikan di media sosial, semacam Facebook, linimasa seperti Twitter, blog, kompasiana, wordpress, dan apapun namanya seseorang tinggal mendownload dan mempelajarinya. Simple kan!
Jika kita mencari seorang, saya sebut 'pejuang literasi media sosial', kita tidak akan kesulitan. Sekali lagi, saya sebagai "member" dunia maya, saya menjumpai para pejuang itu. Pejuang yang ikhlas menyebarkan informasi, tentang hal yang inspiratif, tentang pentingnya literasi secara gratis tidak akan kesulitan. Karena orang semacam itu tidak sedikit di dumay. Misal, tokoh yang luar biasa dengan prestasi menulisnya di media sosial, Prof. Imam Suprayogo merupakan penggerak sekaligus pejuang literasi di dumay. Karena dengan keistiqomahannya menulis di media sosial, beliau mendapat dua kali rekor MURI. Sebuah capaian yang sangat luar biasa, tentunya.
Prof. Imam Suprayogo memang memiliki spirit yang luar biasa di literasi. Dengan kemudahan ini, Prof. Imam Suprayogo tentu akan terus, ia jaga. Karena kesempatan untuk mencerahkan masyarakat, sebagai besar, lewat dumay rasanya tetap sasaran. Betapa tidak. Masyarakat sekarang sudah mempunyai alat komunikasi canggih, seperti handphone smartphone. Jika Prof. Imam menulis tentang ihwal hikmah atau kisah inspiratif, kemudian masyarakat membacanya, dan meresapi dan mengaplikasikan dalam dunia nyata, tentu nilai yang sangat luar biasa.
Selain itu, karena sering membaca tulisan dari Prof. Imam kemudian terinspirasi dan ikut menulis itulah nilai literasi terkoneksikan secara tidak langsung. Artinya, sebuah tampilan literasi yang dibungkus di media sosial, semacam dunia maya memiliki perhatian bagi para penggunanya. Tidak mustahil itu.
Jika kita menilik secara luas, media atau akun atas nama pribadi tidak sedikit yang melakukan pekerjaan intelektual semacam literasi ini. Saya kira ada gelombang eksodus yang dilakukan oleh seseorang dalam media menulis. Jika dahulu kita menulis itu hanya berjudi di media massa di koran-koran, sekarang sebagai besar penulis-penulis kawakan atau pemula lebih menulis di media sosial, lebih tepatnya di dumay. Sekali lagi, tidak berlebihan jika fenomena seperti ini menjadikan sebagai senjakala media cetak. Jika makin ke sana, makin luar biasa gelombang para penulis memanfaatkan teknologi informasi berbasis web. Jika dibanding di media cetak kesempatan lebih besar di media sosial diunggahnya, dibaca, dikomentari, dan dibantai. Ini yang membuat seseorang berpikir pendek dan instan.
Saya sebagai pengguna media sosial aktif, dan pembaca website taat, tentu terbantu dengan informasi yang disajikan. Selain informasi yang disajikan tepat--terkadang asbun--juga sangat cepat.
Sebagai penikmat website taat seperti Mojok.co, fandom.id, jombloo.co, yang digawangi oleh Puthut EA, Arman Dhani, Agus Mulyanto, Rusdi, Sirajuddin Hasbi, Eddward S. Kennedy merupakan punggawa beberapa sekaligus kontributor dalam media website yang lagi moncer satu tahun lebih belakangan ini. Media sosial yang sangat militan dalam mengabarkan informasi dengan gaya satire ini sangat bersemangat dalam hal literasi. Kemampuan mereka dalam hal menulis, mengolah data dan fakta sangatlah luar biasa. Sebagai dari merupakan wartawan yang sudah kawak dan malang melintang serta memiliki jam terbang yang sangat luar biasa. Jadi secara kualitas, kemampuan mereka tak bisa diragukan lagi.
Tidak sedikit masyarakat yang peduli serta memanfaatkan teknologi informasi, seperti Facebook, twitter. Tetapi twitter keterbatasan space sehingga kemudahan melakukan kerja literasi di facebook serta di dunia maya lainnya. Saya memiliki kolega, dulu seorang dosen saya, yang sangat begitu menginspiratif. Media yang digunakan beliau adalah dengan memanfatkan wall atau dinding facebook. Jika sebagai besar orang dimanfaatkan untuk berkeluh kesah, tetapi dosen yang satu ini, Dr. Ngainun Naim namanya memanfaatkan wall dinding facebook dengan tulisan berbasis status. Jika dalam wall facebook itu jika dihadapkan sebuah pertanyaan "Apa yang Anda pikirkan?" Secara tidak langsung, menulis berbasis status ini merupakan sebuah konsep serta metode yang kontemporer, meski tak terlalu kekinian, tetapi dengan metode seperti itu, kita mampu memanfaatkan teknologi informasi yang tepat guna lagi bermanfaat.
Jika melirik lebih ke dalam di dunia maya atau lebih populer disingkat dumay, geliat dan spirit literasi sangat luar biasa. Ini merupakan preseden yang baik bagi pertumbuhan budaya literasi di kalangan masyarakat. Kita akan dididik menjadi seorang yang selalu berpikir sebelum bertindak dan menulis sebelum menuangkan ide atau umpatan di dunia maya (dumay). Karena dunia maya merupakan fasilitas yang tak bertepi.[]
iyaaa saya juga suka nulis di fesbuk, di blog, apa pun kontennya
BalasHapusHarus itu. menulis di lini masa memang gratis, dan langsung dibaca para pengguna media sosial. Tapi sayang, tulisan saya mesti banyak yang hancur.... hiks
BalasHapusPosting Komentar