Banyak peristiwa dan hal yang menarik, yang dapat kita jadikan teladan atau pijakan. Pijakan untuk berperilaku yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Peristiwa atau kejadian yang menarik untuk dijadikan kenangan atau refleksi. Pelajaran untuk diri itu bisa berasal dari mana saja: diri sendiri, orang tua maupun orang lain di sekitar kita; bisa juga tokoh-tokoh maupun buku bacaan; tentang kearifan ulama, kegigihan seorang pengusaha, atau tokoh-tokoh inspiratif yang lain. Semua bisa kita ambil hikmahnya. Selama tindakannya itu positif, tidak mengandung SARA.
Hikmah pun juga bisa kita dapatkan dari mana saja, tidak terkecuali di perjalanan. Berbicara tentang perjalanan dan peristiwa, saya pada (5/5/'15) mengalami kecelakaan. Kecelakaan di daerah Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur. Awalnya, saya akan berangkat ke Kediri, untuk menghadiri kupas tuntas klarifikasi statuta Universitas. Seperti menjadi karakter kebanyakan manusia, kita cenderung lebih memperhatikan penderitaan ketimbang kebahagiaan, something wrong lebih mengalihkan something right. Dalam bahasa bisnis media massa: bad news is good news.
Di tengah perjalanan menuju ke Kediri, saya tabrakan. Tabrakan ini terjadi dari arah yang sama. Dari arah Selatan. Akan tetapi, ceritanya berbeda, setelah pengguna jalan itu belok, menotong jalan tanpa menunjukkan isyarat belok. Jadilah, kami bertiga tumburan (tabrakan), saya dan anak (Triyono namanya) dan bapaknya.
Beberapa menit setelah kecelakaan, kami berdiskusi alot. Beberapa kali menemui jalan buntu. Hampir tidak ada kata sepakat, karena satu sama yang lain merasa benar, dan yang lain tidak ada yang kalah--termasuk saya juga nggak mau ngalah--karena merasa benar juga. Selang beberapa jam kami memutuskan untuk menyelesaikan secara kekeluargaan; saya kemudian diajak ke rumah mereka berdua, yang rumahnya di Gemaharjo, dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP).
Setelah sampai di rumahnya, saya Krisnu, teman yang menenaniku, sekaligus penengah, dan disambut kakak korban (lupa namanya). Kami berlima di rumah itu melakukan diskusi kecil. Keluarga ini sedikit mengeluarkan kesan sikap keras kepala atau kolot karena menunjukkan fisiknya--terutama kakaknya--yang tidak tahu kronologis kejadiannya. Walhasil, Triyono, pihak yang saya tabrak tadi mau berkunjung ke rumah dengan kesan "menantang".
Setelah diskusi tidak ada kata sepakat dan Triyono akan bersilaturahmi ke rumah, kemudian saya pamit undur diri untuk pulang. Dalam perjalanan pulang saya bergumam, "Bapak orangnya juga keras, pasti ia akan ikut keras apabila orang (kakak Triyono) tadi ke rumah." Namun, setelah sesampainya di rumah, saya lapor kalau habis kecelakaan. Dan pihak yang saya tabrak, saya tuntut untuk mengganti kerusakan. Karena, bagaimana pun saya masih minta orang tua. Maka dari itu, saya menuntut Triyono itu untuk mengganti pada motor saya. Apa yang ada di pikiran saya tadi berbeda dengan yang saya lihat dan dengar. Bahkan berbeda 180 %.
Ayah saya langsung berkata, "kalau tidak terjadi apa-apa dan orangnya tidak kenapa-kenapa, selesaikan secara kekeluargaan saja. Jangan senang di atas penderitaan orang lain. Rasa kemanusiaannya tidak ada." Selang beberapa menit, Bapak meminta untuk menelponkan Triyono dan meminta maaf kalau anaknya kecelakaan dengan pihak keluarga sana.
Hikmah pun juga bisa kita dapatkan dari mana saja, tidak terkecuali di perjalanan. Berbicara tentang perjalanan dan peristiwa, saya pada (5/5/'15) mengalami kecelakaan. Kecelakaan di daerah Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur. Awalnya, saya akan berangkat ke Kediri, untuk menghadiri kupas tuntas klarifikasi statuta Universitas. Seperti menjadi karakter kebanyakan manusia, kita cenderung lebih memperhatikan penderitaan ketimbang kebahagiaan, something wrong lebih mengalihkan something right. Dalam bahasa bisnis media massa: bad news is good news.
Di tengah perjalanan menuju ke Kediri, saya tabrakan. Tabrakan ini terjadi dari arah yang sama. Dari arah Selatan. Akan tetapi, ceritanya berbeda, setelah pengguna jalan itu belok, menotong jalan tanpa menunjukkan isyarat belok. Jadilah, kami bertiga tumburan (tabrakan), saya dan anak (Triyono namanya) dan bapaknya.
Beberapa menit setelah kecelakaan, kami berdiskusi alot. Beberapa kali menemui jalan buntu. Hampir tidak ada kata sepakat, karena satu sama yang lain merasa benar, dan yang lain tidak ada yang kalah--termasuk saya juga nggak mau ngalah--karena merasa benar juga. Selang beberapa jam kami memutuskan untuk menyelesaikan secara kekeluargaan; saya kemudian diajak ke rumah mereka berdua, yang rumahnya di Gemaharjo, dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP).
Setelah sampai di rumahnya, saya Krisnu, teman yang menenaniku, sekaligus penengah, dan disambut kakak korban (lupa namanya). Kami berlima di rumah itu melakukan diskusi kecil. Keluarga ini sedikit mengeluarkan kesan sikap keras kepala atau kolot karena menunjukkan fisiknya--terutama kakaknya--yang tidak tahu kronologis kejadiannya. Walhasil, Triyono, pihak yang saya tabrak tadi mau berkunjung ke rumah dengan kesan "menantang".
Setelah diskusi tidak ada kata sepakat dan Triyono akan bersilaturahmi ke rumah, kemudian saya pamit undur diri untuk pulang. Dalam perjalanan pulang saya bergumam, "Bapak orangnya juga keras, pasti ia akan ikut keras apabila orang (kakak Triyono) tadi ke rumah." Namun, setelah sesampainya di rumah, saya lapor kalau habis kecelakaan. Dan pihak yang saya tabrak, saya tuntut untuk mengganti kerusakan. Karena, bagaimana pun saya masih minta orang tua. Maka dari itu, saya menuntut Triyono itu untuk mengganti pada motor saya. Apa yang ada di pikiran saya tadi berbeda dengan yang saya lihat dan dengar. Bahkan berbeda 180 %.
Ayah saya langsung berkata, "kalau tidak terjadi apa-apa dan orangnya tidak kenapa-kenapa, selesaikan secara kekeluargaan saja. Jangan senang di atas penderitaan orang lain. Rasa kemanusiaannya tidak ada." Selang beberapa menit, Bapak meminta untuk menelponkan Triyono dan meminta maaf kalau anaknya kecelakaan dengan pihak keluarga sana.
Saya jadi teringat dengan tulisan Prof. Imam Suprayogo yang berjudul Ayahku Sekaligus Sebagai Guruku. Saya menarik pelajaran dari Prof Imam ini dengan mengutip peristiwa semasa kecilnya tentang pelajaran dari seorang ayahandanya. Pada saat berjalan kaki dan mengajak saya, maka di tengah perjalanan ada saja pelajaran penting yang diberikan. MIsalnya, jika dalam perjalanan itu mengetahui air menggenang di selokan karena tersumbat, ayah sengaja berhenti dan mengalirkan air dimaksud. Apa yang dilakukan itu tanpa dikomentari. Dalam kesempatan berikutnya, tatkala melihat air yang menggenang lagi, ayah masih melakukan hal yang sama. Akan tetapi, pada saat berikutnya, tatakala ketemu lagi air menggenang, ayah sudah pura-pura tidak melihat.
Dan, jika saya tidak peduli, yakni membiarkan air yang menggenang itu, maka ayah segera memberikan penilaian, bahwa saya disebut belum lulus. Dikatakan bahwa, sudah dua kali diberi contoh, tetapi saya belum paham dan belum bisa meniru. Mendapat penilaian itu, saya segera melakukan sebagaimana yang dikerjakan oleh ayah dimaksud.
Berikutnya, ayah menjelaskan bahwa air yang menggenang terlalu lama, akan berbau dan juga dijadikan sarang nyamuk. Akibat buruk air yang menggenang terlalu lama juga digunakan untuk menjelaskan fenomena lain yang lebih luas, yaitu misalnya terkait harta kekayaan. Bahwa, tidak saja air, bahkan harta kekayaan pun jika disimpan dan tidak dimanfaatkan, apalagi tidak dikeluarkan zakatnya, infaq atau shadaqoh, maka juga akan melahirkan penyakit. Dijelaskan bahwa penyakit yang dimaksudkan itu bisa saja berupa iri, dengki, hasut, dan atau juga kebencian oleh karena dianggap bakhil dan sejenisnya.
Dalam bukunya Jalaluddin Rakhmat yang berjudul Tafsir Kebahagiaan (2010) mengatakan "keberuntungan dan kemalangan, anugerah dan musibah, dan keniscayaan hidup. Namun, derita bahagia adalah sikap dan ada dalam hati. Artinya, tak ada kita katakan, orang yang tertimpa kemalangan dan musibah pasti menderita." Musibah atau persoalan kehidupan ini tergantung sudut pandang yang menjalani. Namun, penafsiran atas realitas itu, meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat, tak tunggal: ketakutan atau harapan, kebahagiaan atau musibah/ penderitaan, tergantung sudut pandang. Maka, Jalaluddin Rakhmat memberi saran, ubahlah sudut pandang Anda sendiri agar setiap musibah tak menjadi derita.
Dan salah cara yang tepat adalah memaafkan orang lain, dengan melihat dari sudut (engle) yang berbeda. "Sebab, kebaikan maaf ternyata justru berpulang kepada diri kita, yakni mengobati rasa sakit. Saya yakin, orang yang mudah memaafkan adalah orang yang hidupnya bahagia. Sebab, memaafkan tidak lahir kecuali dari hati yang bahagia." (Jalaluddin Rakhmat, 2010: 83)
Sudut pandang Ayah saya inilah yang mengajarkan dari sudut yang sempit, yang orang lain "tidak sempat" berpikir ke arah itu. Dari keputusan itulah, Ayah telah memberi pelajaran memanusiakan manusia, menghargai manusia dari sifat manusiawinya. Meminjam istilah Prof. Imam Suprayogo, Ayah saya adalah guru kehidupan yang mengajari saya tentang realitas kehidupan atau secara mikrokosmos. Yang menurutnya (ayah), tidak merugikan orang lain atau tidak senang di atas penderitaan orang lain. Sudut pandang Ayah ini yang membuka mata saya lebar-selebarnya tentang arti nilai kekeluargaan dan sosial. []
Dan, jika saya tidak peduli, yakni membiarkan air yang menggenang itu, maka ayah segera memberikan penilaian, bahwa saya disebut belum lulus. Dikatakan bahwa, sudah dua kali diberi contoh, tetapi saya belum paham dan belum bisa meniru. Mendapat penilaian itu, saya segera melakukan sebagaimana yang dikerjakan oleh ayah dimaksud.
Berikutnya, ayah menjelaskan bahwa air yang menggenang terlalu lama, akan berbau dan juga dijadikan sarang nyamuk. Akibat buruk air yang menggenang terlalu lama juga digunakan untuk menjelaskan fenomena lain yang lebih luas, yaitu misalnya terkait harta kekayaan. Bahwa, tidak saja air, bahkan harta kekayaan pun jika disimpan dan tidak dimanfaatkan, apalagi tidak dikeluarkan zakatnya, infaq atau shadaqoh, maka juga akan melahirkan penyakit. Dijelaskan bahwa penyakit yang dimaksudkan itu bisa saja berupa iri, dengki, hasut, dan atau juga kebencian oleh karena dianggap bakhil dan sejenisnya.
Dalam bukunya Jalaluddin Rakhmat yang berjudul Tafsir Kebahagiaan (2010) mengatakan "keberuntungan dan kemalangan, anugerah dan musibah, dan keniscayaan hidup. Namun, derita bahagia adalah sikap dan ada dalam hati. Artinya, tak ada kita katakan, orang yang tertimpa kemalangan dan musibah pasti menderita." Musibah atau persoalan kehidupan ini tergantung sudut pandang yang menjalani. Namun, penafsiran atas realitas itu, meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat, tak tunggal: ketakutan atau harapan, kebahagiaan atau musibah/ penderitaan, tergantung sudut pandang. Maka, Jalaluddin Rakhmat memberi saran, ubahlah sudut pandang Anda sendiri agar setiap musibah tak menjadi derita.
Dan salah cara yang tepat adalah memaafkan orang lain, dengan melihat dari sudut (engle) yang berbeda. "Sebab, kebaikan maaf ternyata justru berpulang kepada diri kita, yakni mengobati rasa sakit. Saya yakin, orang yang mudah memaafkan adalah orang yang hidupnya bahagia. Sebab, memaafkan tidak lahir kecuali dari hati yang bahagia." (Jalaluddin Rakhmat, 2010: 83)
Sudut pandang Ayah saya inilah yang mengajarkan dari sudut yang sempit, yang orang lain "tidak sempat" berpikir ke arah itu. Dari keputusan itulah, Ayah telah memberi pelajaran memanusiakan manusia, menghargai manusia dari sifat manusiawinya. Meminjam istilah Prof. Imam Suprayogo, Ayah saya adalah guru kehidupan yang mengajari saya tentang realitas kehidupan atau secara mikrokosmos. Yang menurutnya (ayah), tidak merugikan orang lain atau tidak senang di atas penderitaan orang lain. Sudut pandang Ayah ini yang membuka mata saya lebar-selebarnya tentang arti nilai kekeluargaan dan sosial. []
Posting Komentar