Seseorang yang ingin belajar menulis, sebenarnya banyak cara yang harus dilakukan. Misal, mengikuti komunitas, diskusi maupun forum group di FB, internet, majalah maupun koran-koran dan berita-berita di televisi. Komunitas-komunitas atau group-group menulis, baik online maupun offline telah banyak terbentuk. Kita tinggal memanfaatkan dan bergantung dengan komunitas yang rutin mengadakan kegiatan menulis setiap bulannya.
Saya bergabung dengan jejaring yang mengatasnamakan dunia literasi, baca dan tulis. Bahkan, saya konfirmasi teman-teman yang banyak menulis status maupun catatan yang mengarah pada dunia tulis menulis. Kenal atau tidak kenal, itu urusan belakang, yang penting saya membaca karya mereka. Dan saya jadikan referensi dan pengetahuan untuk menulis. Untuk menambah kosakata dan ilmu tulis menulis. Hingga saya sempatkan untuk membeli buku untuk menambah pengetahuan dalam dunia menulis.
Akhir-akhir ini, saya sering berkunjung di toko buku. Entah kenapa? Dan sejak kapan saya suka membaca buku? Saya suka tidak lama menyukai buku. Barangkali baru kuliah semester 3 akhir--itupun dikurangi dua tahun masa membantu orangtua di rumah. Jadi hanya 4-5 tahun ini saya melihat buku seperti menemukan kawan yang menemani setiap saat, baik suka maupun duka. Ingin rasanya membeli tanpa memedulikan uang lagi ada atau tidak.
Pernah kemarin (21/11), sepulang dari Pulanglaban Kec. Tulungagung menjemput ‘teman dekat' untuk mengajukan judul skripsi di kampusnya, IAIN Tulungagung, saya menyempatkan diri untuk mengajak dia berkunjung di toko buku yang ada di Togamas.
Tanpa banyak pertimbangan, saya sodorkan ke kasir untuk membayarnya.
"Terus beli buku seperti itu kamu baca?" Kata seorang teman dengan sinis. Masalah dibaca atau tidak itu adalah masalah kesempatan dan waktu saja, jadi membeli buku tersebut adalah suatu kesempatan tersendiri terlepas dari kesediaan waktu luang nanti.
Saya hanya bawa beberapa uang rupiah waktu itu. Tanpa terasa uang saya habis tak tersisa. Herannya, saya tidak merasa takut ketika uang itu tak tersisa di saku. Memang, seharusnya uang itu tersisa sedikit di saku untuk simpanan--barangkali sepuluh ribu atau liam ribu--untuk jaga-jaga kalau di jalan ban motor bocor, atau di tengah jalan nanti ada sesuatu hal yang tak diharapkan. Itu jauh dari pikiran saya saat itu.
Selain itu, saya punya keinginan yang sampai sekarang belum terealisasi--meski koleksi buku sudah masuk kategori lebih kata cukup mendirikan TBM (Taman Baca Masyarakat).
Niat baik saya tersebut mendapat teguran saat sampai di rumah. Karena orangtua saya "bilang membaca buku membuat sakit mata, dan buku adalah hal yang ‘tak bermanfaat’".
Mungkin karena Ibu tidak suka membaca buku, sehingga ia merasa bahwa buku tidaklah seonggok kertas yang tak berguna. Hanyalah kumpulan kertas yang tak bisa dimakan atau apalah. Untuk kali ini, saya minta maaf pada Ibu, yang tak memedulikan apa kata orangtua saya, terutama ibu saya.
Sebenarnya larangan untuk membeli buku itu sudah sejak lama, saat saya berlangganan majalah Bola atau Soccer. Ketika saya membeli buku yang beliau rasa bukan buku pelajaran untuk anaknya. Memang ada betulnya apa yang dipikirkan beliau. Tetapi saya, memiliki pendapat yang berbeda dengan orang tua saya. Ya? Mungkin karena saya--waktu itu--masih meminta uang dari orangtua tersebut. Jadi, ya, uang yang di berikan dari orang tua tersebut seharusnya di tabung.
Ingat kata-kata bijak yang dulu sering sekali saya kutip “Buku apa pun yang Anda baca. Dengan siapa pun Anda berteman. Lima atau sepuluh tahun ke depan itu yang membentuk mu.” Kata-kata itu yang memberi suntikan energi untuk terus sering membaca, dan sekali saya luapkan ke goresan tinta atau keyboard di layar itu.
Karena lewat membaca itulah, saya banyak menemukan keseruan, ide, inspirasi dan sesuatu hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Selain itu, lewat tulisan ini pulalah--tak begitu berharap lebih--saya yakin, lima atau sepuluh tahun ke depan tulisan-tulisan yang saya catat maupun saya ketik ini pasti bermanfaat bagi saya nanti.
Tulisan ini saya masih acak-acakan, bisa dibilang gagap atau belepotan. Mungkin semua pernah mendengar iklan sebuah produk di televisi “Berani Kotor itu Baik”. Dari iklan tersebut saya tarik benang merahnya dan jadi pledoi positif untuk mengawali perjalanan menulis. Sehingga saya secara pribadi untuk belajar menulis walau belepotan, untuk mengasah kreatifitas untuk menjadi yang lebih baik.
Menulis itu tak ubahnya kita mencorat-coreti media daring, yang mudah dan murah asal memiliki jaringan internet.
Terlepas itu semua sebagai penulis “pemula”, tidak sedikit yang mengikuti mengikuti karakter penulisan tokoh yang diidolakan. Bukan maksud untuk menjadi plagiat. Tetapi lebih mencari-cari bentuk karakter yang ingin diciptakan sendiri.
Seperti yang dikatakan oleh William Zinsser “Jangan pernah lagu meniru penulis lain. Setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model. Pada akhirnya, Anda akan menemukan gaya sendiri dan menanggalkan kulit penulis yang Anda tiru”.
Saya rasa, tulisan ini tanpa konsep dan tak tersusun dengan rapi, kosa-katanya pun belibet. Ah, tulisan yang tak pantas saya saya publikasikan.
Tetapi bagi saya ini adalah tulisan dan sejarah dan kenangan nanti. Menulis adalah bekerja untuk keabadiaan. Jadi teringat dengan apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer. “Menulis adalah bekerja dan belajar untuk keabadiaan”. Sekarang saya belum merasakan dengan apa yang saya tulis ini, tetapi saya yakin dengan perkataan Pram tadi, apabila lima atau sepuluh tahun ke depan anakmu atau orang lain membacanya, baru bisa merasakan. Semoga orang yang ada setelah saya membaca tulisan gagap ini. []
Keterangan: tulisan tiga tahun lalu. 😂
Saya bergabung dengan jejaring yang mengatasnamakan dunia literasi, baca dan tulis. Bahkan, saya konfirmasi teman-teman yang banyak menulis status maupun catatan yang mengarah pada dunia tulis menulis. Kenal atau tidak kenal, itu urusan belakang, yang penting saya membaca karya mereka. Dan saya jadikan referensi dan pengetahuan untuk menulis. Untuk menambah kosakata dan ilmu tulis menulis. Hingga saya sempatkan untuk membeli buku untuk menambah pengetahuan dalam dunia menulis.
Akhir-akhir ini, saya sering berkunjung di toko buku. Entah kenapa? Dan sejak kapan saya suka membaca buku? Saya suka tidak lama menyukai buku. Barangkali baru kuliah semester 3 akhir--itupun dikurangi dua tahun masa membantu orangtua di rumah. Jadi hanya 4-5 tahun ini saya melihat buku seperti menemukan kawan yang menemani setiap saat, baik suka maupun duka. Ingin rasanya membeli tanpa memedulikan uang lagi ada atau tidak.
Pernah kemarin (21/11), sepulang dari Pulanglaban Kec. Tulungagung menjemput ‘teman dekat' untuk mengajukan judul skripsi di kampusnya, IAIN Tulungagung, saya menyempatkan diri untuk mengajak dia berkunjung di toko buku yang ada di Togamas.
"Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan.” Collin PowellTak lama saya menyusuri tumpukan buku yang didisplay di atas rak maupun di samping kiri kanan rak. Satu jam saya jelajahi semua sisi toko buku tersebut. Hingga menemukan buku yang saya cari. Ada tiga judul buku yang saya ambil mulai cerpen dan pemikiran tentang pendidikan. Saya membeli buku tersebut lantaran beberapa pertimbangan, yang di antaranya judulnya menarik dan sampulnya yang artistik. Selain itu testimoni atau endorsemen di balik sampul itu cukup menarik saya. Judul buku tersebut Sekolah dibubarkan. Lantas, mau apa? Karya Ivan Illich.
Tanpa banyak pertimbangan, saya sodorkan ke kasir untuk membayarnya.
"Terus beli buku seperti itu kamu baca?" Kata seorang teman dengan sinis. Masalah dibaca atau tidak itu adalah masalah kesempatan dan waktu saja, jadi membeli buku tersebut adalah suatu kesempatan tersendiri terlepas dari kesediaan waktu luang nanti.
Saya hanya bawa beberapa uang rupiah waktu itu. Tanpa terasa uang saya habis tak tersisa. Herannya, saya tidak merasa takut ketika uang itu tak tersisa di saku. Memang, seharusnya uang itu tersisa sedikit di saku untuk simpanan--barangkali sepuluh ribu atau liam ribu--untuk jaga-jaga kalau di jalan ban motor bocor, atau di tengah jalan nanti ada sesuatu hal yang tak diharapkan. Itu jauh dari pikiran saya saat itu.
Selain itu, saya punya keinginan yang sampai sekarang belum terealisasi--meski koleksi buku sudah masuk kategori lebih kata cukup mendirikan TBM (Taman Baca Masyarakat).
Niat baik saya tersebut mendapat teguran saat sampai di rumah. Karena orangtua saya "bilang membaca buku membuat sakit mata, dan buku adalah hal yang ‘tak bermanfaat’".
Mungkin karena Ibu tidak suka membaca buku, sehingga ia merasa bahwa buku tidaklah seonggok kertas yang tak berguna. Hanyalah kumpulan kertas yang tak bisa dimakan atau apalah. Untuk kali ini, saya minta maaf pada Ibu, yang tak memedulikan apa kata orangtua saya, terutama ibu saya.
Sebenarnya larangan untuk membeli buku itu sudah sejak lama, saat saya berlangganan majalah Bola atau Soccer. Ketika saya membeli buku yang beliau rasa bukan buku pelajaran untuk anaknya. Memang ada betulnya apa yang dipikirkan beliau. Tetapi saya, memiliki pendapat yang berbeda dengan orang tua saya. Ya? Mungkin karena saya--waktu itu--masih meminta uang dari orangtua tersebut. Jadi, ya, uang yang di berikan dari orang tua tersebut seharusnya di tabung.
Ingat kata-kata bijak yang dulu sering sekali saya kutip “Buku apa pun yang Anda baca. Dengan siapa pun Anda berteman. Lima atau sepuluh tahun ke depan itu yang membentuk mu.” Kata-kata itu yang memberi suntikan energi untuk terus sering membaca, dan sekali saya luapkan ke goresan tinta atau keyboard di layar itu.
Karena lewat membaca itulah, saya banyak menemukan keseruan, ide, inspirasi dan sesuatu hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Selain itu, lewat tulisan ini pulalah--tak begitu berharap lebih--saya yakin, lima atau sepuluh tahun ke depan tulisan-tulisan yang saya catat maupun saya ketik ini pasti bermanfaat bagi saya nanti.
Tulisan ini saya masih acak-acakan, bisa dibilang gagap atau belepotan. Mungkin semua pernah mendengar iklan sebuah produk di televisi “Berani Kotor itu Baik”. Dari iklan tersebut saya tarik benang merahnya dan jadi pledoi positif untuk mengawali perjalanan menulis. Sehingga saya secara pribadi untuk belajar menulis walau belepotan, untuk mengasah kreatifitas untuk menjadi yang lebih baik.
Menulis itu tak ubahnya kita mencorat-coreti media daring, yang mudah dan murah asal memiliki jaringan internet.
Terlepas itu semua sebagai penulis “pemula”, tidak sedikit yang mengikuti mengikuti karakter penulisan tokoh yang diidolakan. Bukan maksud untuk menjadi plagiat. Tetapi lebih mencari-cari bentuk karakter yang ingin diciptakan sendiri.
Seperti yang dikatakan oleh William Zinsser “Jangan pernah lagu meniru penulis lain. Setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model. Pada akhirnya, Anda akan menemukan gaya sendiri dan menanggalkan kulit penulis yang Anda tiru”.
Saya rasa, tulisan ini tanpa konsep dan tak tersusun dengan rapi, kosa-katanya pun belibet. Ah, tulisan yang tak pantas saya saya publikasikan.
Tetapi bagi saya ini adalah tulisan dan sejarah dan kenangan nanti. Menulis adalah bekerja untuk keabadiaan. Jadi teringat dengan apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer. “Menulis adalah bekerja dan belajar untuk keabadiaan”. Sekarang saya belum merasakan dengan apa yang saya tulis ini, tetapi saya yakin dengan perkataan Pram tadi, apabila lima atau sepuluh tahun ke depan anakmu atau orang lain membacanya, baru bisa merasakan. Semoga orang yang ada setelah saya membaca tulisan gagap ini. []
Keterangan: tulisan tiga tahun lalu. 😂
Wah tulisan 3 tahun lalu aja dah asyik gini mas. Mantep dah.
BalasHapusTulisan belepotan itu, Mas Jalil...
BalasHapussetuju! menulis berarti membuat sejarah. dulu juga saya sering diomelin kalau setiap selasa dan jumat membawa tabloid bola atau Go dirumah.
BalasHapusKok ada kemiripan ya? Diomelin... Hehehe
BalasHapusSemangat berkarya, Mas!
BalasHapusTerima kasih, Mas Rifqy. Belajar dari Mas Rifqy nih. Hehehe
BalasHapusSemangat menulis 😁💪
BalasHapusTerima kasih, Mbak Vera. Mari menulis... 😂
BalasHapusSemoga cita cita mendirikan Taman Baca Masyarakat bisa terkabul,amin.
BalasHapusAmin-Amin. Terima kasih, Mbak atas doanya..
BalasHapusmungkin generasi baby boomer emang asing sama buku
BalasHapusPosting Komentar