"Mas sesok isuk, aku gugahen ya! Lek aku urung tangi, sampeyan wes tangi,” celoteh Rista, adik saya. (“Mas besok pagi, aku bangunin ya! Kalau aku belum bangun, terus sampeyan sudah bangun.")
Begitu kira-kiranya maksud kata-kata yang keluar dari mulut anak kecil itu.
Sudah tiga minggu ini Rista menginginkan sebuah kebebasan dari rutinitasnya. Tiga hari ini pula adik saya ini mengingatkan saya untuk dibangunkan agak pagi, hanya untuk menikmati udara segar kalau pagi dan berjalan-jalan di akhir pekan.
"Anak kecil merasa kebebasannya tersita oleh aktifitas yang sebenarnya tidak ia sukai.” Gumam hati saya.
Bagaimana tidak, Setiap hari ia harus berangkat pagi ke sekolah dengan menggendong buku teks dalam tasnya. Pulang sekolah ia langsung kembali dihadapkan oleh pekerjaan rumah (Pe eR) yang telah disiapkan oleh gurunya. Selepas selesai dengan sekelumit aktifitasnya, baru istirahat sebentar ia sudah beraktifitas lagi. Yakni belajar diniyah atau TPQ (Tempat Pembelajaran al-Quran). Dan itu terus sampai penuh satu minggu, kalau si anak tidak rewel atau sakit, rutinitas tersebut ia kerjakan semua.
Kebebasan untuk bermain pun sedikit tersita untuk berbagai kegiatan belajar. Fitrah anak yang sejatinya bermain, bukan akan menghafal angka-angka, huruf demi huruf. Namun bagi orangtua bahwa kalau tidak belajar sejak dini masa depannya tak memihak kepada mereka. Dalih orangtua selalu klasik, bahwa seorang anak sejak kecil harus belajar, agar besarnya pandai, dan dewasanya akan mudah mencari pekerjaan dengan gaji yang besar.
Namun pada kenyataannya, seperti pengalaman yang saya dapati ketika adik saya disuruh belajar. Apa yang ia kerjakan, ia malah nyelimur dan banyak alasan, ia malah bermain-main dengan benda yang dekat dengannya. Bukannya membuka buku kemudian mengerjakan apa yang seharusnya negikuti apa perinttah ibu, namun malah mengerjakan apa yang ia sukai saat itu.
Memang anak kecil adalah tempatnya bermain. Hari minggu menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan anak-anak seumuran Rista, 6-7 tahun. Bagaimanapun pendidikan kita telah menyita hak bermain anak. Bukan memberi ruang untuk bermain dengan yang ia sukai dan ia kuasai. Namun pendidikan kita ini menambah beban untuk anak-anak.
Saya jadi teringat oleh salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Tasya, penyanyi cilik ketika itu.
Perhatikan lirik yang ini “Simpanlah tas dan bukumu, lupakan keluh kesahmu”, apa yang dipikirkan Rista adalah gambaran bagaimana suasana keluh kesah selama ia menjalani rutinitasnya. A.T Mahmud secara cerdas memotret suasana seorang anak kecil dengan rutinitasnya yang disita karena belajar. Bagaimana keinginan anak untuk bermain digadaikan oleh kegiatan belajar. Sehingga lirik tersebut memberi saran dengan menyimpan tas dan buku sekolah.
Kenapa sekolah menjadi keluh kesah? Mungkin kita tidak menyadari itu. Sehingga begitu gembira ketika ada kesempatan untuk bebas dari kegiatan sekolah dan gembira karena terbebas dari teks-teks dalam buku. Oleh karena itu, apa yang dirasakan dari kebanyakan anak kecil itu sama. Yakni, merasa gembira ketika hari minggu datang. Hari minggu adalah hari yang tidak hanya orangtua saja yang merasa merdeka, tetapi juga anak-anak merasakan euforia. Kalau ibarat tahanan sipir, hari minggu adalah remisi untuk aktifitas yang membebaskan dari seluk-beluk sekolah.
Hal tersebutlah yang mendasari orangtua melakukan pemaksaan anak ketika masih kecil. Asumsi takut tidak mendapat pekerjaan yang layak dan bergaji besartersebut, anak menjadi korban ke-egois-an orangtuanya. Apalagi, jika cita-cita orangtua tidak tercapai ketika muda. Maka tidak dipungkiri, hasrat untuk memaksakan kehendak menjadikan anaknya dengan cita-citanya tersebut semakin besar. Hal ini seorang anak tidak berkembang dan tumbuh sesuai dengan kodratnya.
Saya jadi teringat dari kata Ki Hajar Dewantara terkait kodrat anak “Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri” (Pendidikan, hlm. 21).
Kembali kepada cerita Rista tadi, saya berkali-kali dipesan untuk menemaninya bermain ke pantai yang dekat dengan rumah kami. Oleh karena, pada kesempatan itu, saya sebagai kakak, ingin sekali memberi kebebasan kepada anak tersebut. Dan ia belajar dengan alam. Ia belajar dengan kesukaannya sendiri, tanpa harus dipaksa mengeja dan menghafal ini itu.
Belajar menghargai sebuah proses setiap perubahan alam dan sekitarnya. Semestinya, memang, rumahlah yang menjadi kelas bagi anak, sekolah adalah alam semesta dengan segala macam isinya, dan gurunya adalah apapun dan orangtua. Sehingga kebebasan seorang anak memiliki makna yang harus dimengerti oleh para orangtua, maupun gurunya pendidikan. Allahualam bishowab. []
Begitu kira-kiranya maksud kata-kata yang keluar dari mulut anak kecil itu.
Sudah tiga minggu ini Rista menginginkan sebuah kebebasan dari rutinitasnya. Tiga hari ini pula adik saya ini mengingatkan saya untuk dibangunkan agak pagi, hanya untuk menikmati udara segar kalau pagi dan berjalan-jalan di akhir pekan.
"Anak kecil merasa kebebasannya tersita oleh aktifitas yang sebenarnya tidak ia sukai.” Gumam hati saya.
Bagaimana tidak, Setiap hari ia harus berangkat pagi ke sekolah dengan menggendong buku teks dalam tasnya. Pulang sekolah ia langsung kembali dihadapkan oleh pekerjaan rumah (Pe eR) yang telah disiapkan oleh gurunya. Selepas selesai dengan sekelumit aktifitasnya, baru istirahat sebentar ia sudah beraktifitas lagi. Yakni belajar diniyah atau TPQ (Tempat Pembelajaran al-Quran). Dan itu terus sampai penuh satu minggu, kalau si anak tidak rewel atau sakit, rutinitas tersebut ia kerjakan semua.
Kebebasan untuk bermain pun sedikit tersita untuk berbagai kegiatan belajar. Fitrah anak yang sejatinya bermain, bukan akan menghafal angka-angka, huruf demi huruf. Namun bagi orangtua bahwa kalau tidak belajar sejak dini masa depannya tak memihak kepada mereka. Dalih orangtua selalu klasik, bahwa seorang anak sejak kecil harus belajar, agar besarnya pandai, dan dewasanya akan mudah mencari pekerjaan dengan gaji yang besar.
Namun pada kenyataannya, seperti pengalaman yang saya dapati ketika adik saya disuruh belajar. Apa yang ia kerjakan, ia malah nyelimur dan banyak alasan, ia malah bermain-main dengan benda yang dekat dengannya. Bukannya membuka buku kemudian mengerjakan apa yang seharusnya negikuti apa perinttah ibu, namun malah mengerjakan apa yang ia sukai saat itu.
Memang anak kecil adalah tempatnya bermain. Hari minggu menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan anak-anak seumuran Rista, 6-7 tahun. Bagaimanapun pendidikan kita telah menyita hak bermain anak. Bukan memberi ruang untuk bermain dengan yang ia sukai dan ia kuasai. Namun pendidikan kita ini menambah beban untuk anak-anak.
Saya jadi teringat oleh salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Tasya, penyanyi cilik ketika itu.
Libur Telah tibaLagu ini dinyanyikan, menurut saya adalah representasi bagaimana kegiatan yang menyita waktu anak untuk kegiatan bermainnya. Sehingga Masagus Abdullah Mahmud atau akrab dengan nama A.T. Mahmud ini secara tidak langsung menyimpan misteri tentang dunia pendidikan di Indonesia.
libur telah tiba
Hore, hore, hore
Simpanlah tas dan bukumu
Lupakan keluh kesahmu
Libur telah tiba
libur telah tiba
Hatiku gembira
Perhatikan lirik yang ini “Simpanlah tas dan bukumu, lupakan keluh kesahmu”, apa yang dipikirkan Rista adalah gambaran bagaimana suasana keluh kesah selama ia menjalani rutinitasnya. A.T Mahmud secara cerdas memotret suasana seorang anak kecil dengan rutinitasnya yang disita karena belajar. Bagaimana keinginan anak untuk bermain digadaikan oleh kegiatan belajar. Sehingga lirik tersebut memberi saran dengan menyimpan tas dan buku sekolah.
Kenapa sekolah menjadi keluh kesah? Mungkin kita tidak menyadari itu. Sehingga begitu gembira ketika ada kesempatan untuk bebas dari kegiatan sekolah dan gembira karena terbebas dari teks-teks dalam buku. Oleh karena itu, apa yang dirasakan dari kebanyakan anak kecil itu sama. Yakni, merasa gembira ketika hari minggu datang. Hari minggu adalah hari yang tidak hanya orangtua saja yang merasa merdeka, tetapi juga anak-anak merasakan euforia. Kalau ibarat tahanan sipir, hari minggu adalah remisi untuk aktifitas yang membebaskan dari seluk-beluk sekolah.
Hal tersebutlah yang mendasari orangtua melakukan pemaksaan anak ketika masih kecil. Asumsi takut tidak mendapat pekerjaan yang layak dan bergaji besartersebut, anak menjadi korban ke-egois-an orangtuanya. Apalagi, jika cita-cita orangtua tidak tercapai ketika muda. Maka tidak dipungkiri, hasrat untuk memaksakan kehendak menjadikan anaknya dengan cita-citanya tersebut semakin besar. Hal ini seorang anak tidak berkembang dan tumbuh sesuai dengan kodratnya.
Saya jadi teringat dari kata Ki Hajar Dewantara terkait kodrat anak “Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri” (Pendidikan, hlm. 21).
Kembali kepada cerita Rista tadi, saya berkali-kali dipesan untuk menemaninya bermain ke pantai yang dekat dengan rumah kami. Oleh karena, pada kesempatan itu, saya sebagai kakak, ingin sekali memberi kebebasan kepada anak tersebut. Dan ia belajar dengan alam. Ia belajar dengan kesukaannya sendiri, tanpa harus dipaksa mengeja dan menghafal ini itu.
Belajar menghargai sebuah proses setiap perubahan alam dan sekitarnya. Semestinya, memang, rumahlah yang menjadi kelas bagi anak, sekolah adalah alam semesta dengan segala macam isinya, dan gurunya adalah apapun dan orangtua. Sehingga kebebasan seorang anak memiliki makna yang harus dimengerti oleh para orangtua, maupun gurunya pendidikan. Allahualam bishowab. []
Posting Komentar