Siapa yang tidak kenal dengan sosok Ahmad R. Rif'an? Mudah ditebak. Seorang yang tidak mengenal nama Ahmad Rifa'i Rif'an, dapat dipastikan orang tersebut jarang berkunjung ke sebuah toko buku. Lewat buah kreatifitasnya, Fai—begitu sapaan akrabnya—dikenal banyak orang. Karya-karyanya menjadi banyak incaran para penggemar dan pembacanya.
Untuk memperoleh buku-bukunya, Anda tinggal pergi ke toko buku, dan karya-karya didisplay di rak terdepan. Buku-bukunya sebagian besar berlabel best seller, sehingga Anda tidak akan kesulitan menemukan karya Ahmad Rifa’i Rif’an.
Namun siapa sangka, orang yang sukses menulis 70 buku, awalnya tidak menaruh cita-cita dan tidak kenal kata penulis. Sejak kecil kata penulis bukan jadi jawaban ketika ditanya mengenai cita-cita kala masih sekolah . Baginya bercita-cita jadi ulama' adalah prioritas utamanya.
Latar belakang pendidikannya memang mempengaruhi cara berpikir ketika itu. Ia hidup di lingkungan religius, di Lamongan, Jawa Timur. Sewaktu kecil ia habiskan waktunya untuk belajar agama. Fai bercita-cita menjadi ulama’. Ekspektasi menjadi ulama sangat besar. Ia kemudian sekolah di lembaga Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah. Selain di lembaga pendidikan, pengetahuannya tentang Islam, ia dapat dari kiai-kiai yang didengar melalui ceramah kaset. Puluhan bahkan ratusan kaset ceramah agama, ia koleksi. Hal ini ia lakukan karena keinginannya menjadi mubalig sangat besar. Ia beranggapan bahwa menjadi ulama’ sangat berguna bagi sesama umat.
Namun ketika masuk menengah pertama di SMPN 1 Turi, cita-cita menjadi ulama’ berubah menjadi seorang guru. Baginya, guru adalah profesi yang sangat mulia dan bermanfaat bagi banyak orang. “Saya ingin menjadi bagian dari pembibitan orang-orang besar yang kelak lahir mengisi sejarah," katanya.
Seperti anak muda pada umumnya. Di mana bumi dipijak, di situ pola pikir berubah. Ketika masuk di SMA kota, cita-cita yang ia ingin pun lenyap. Cita-cita berganti. Semasa di SMAN 1 Lamongan, ia memiliki cita-cita menjadi seorang insinyur. Alasannya cukup logis. " Saya bercita-cita demikian, lantaran hasil belajar saya yang kuat adalah fisika, mekanika dan matematis. Saat SMA, saya berulang kali menjuarai olimpiade fisika mekanika tingkat daerah," tulisnya di buku tersebut.
Itu yang membuatnya memiliki cita-cita lain. Selepas lulus dari SMA, ia pun meneruskan di ITS Surabaya, ambil jurusan teknik di Mechanical Engineering.
Di bangku perkuliahan ITS itulah cikal-bakal kesuksesan dunia tulis-menulis bersemai. Pemuda kelahiran 3 Oktober 1987 ini, bermula terinspirasi dari dosennya yang sedang menempuh studi di Taiwan. Baginya, setiap postingan dari dosen ITS itu sangatlah inspiratif, mencerdaskan, penuh hikmah. Ia selalu menikmati sekali setiap tulisan-tulisannya. Tulisannya yang tentang cerita, pengalaman, ilmu, wawasan, serta apa saja beliau tulis, menjadi santapannya. Di awal tahun 2008, ia mulai menulis di blog.
Hasil dari inspirasi dari dosennya tersebut. Ia pun mengikuti jejak menulis dosen yang tidak disebutkan namanya itu. Dan, akhirnya ia membuat blog dari tutorial yang ditulis oleh dosen itu.
Nama blognya rifay.wordpress.com. Blog tersebut masih bisa diakses, tetapi isinya tinggal sinopsis beberapa buku saja. Judul buku yang pertama kali ia terbitkan “9 Rahasia Doa Lulus Ujian”. Sebagian besar buku yang dihasilkan memang hasil dari tulisan-tulisan di blognya, yang mendapat atensi dari pembaca setianya.
Sebagian besar tulisan saya ini hasil bacaan buku e-book mas Ahmad Rifa'i Rif’an berjudul Perjalanan Menulisku. Buku ini memang sengaja dibagikan oleh mas Fai di media sosial. Saya sendiri mendapatkan buku ini ketika berselancar di dunia Facebook. Dengan membagikan secara gratis. Supaya yang bagi yang membacanya dan yang membagikan pula mengalir kebaikan sebanyak mungkin bagi sesama—setidaknya terinspirasi untuk [belajar] menulis. “Kesuksesanmu bukanlah hasil jerih payahmu sendiri. ada banyak yang berperan dalam hidupmu sehingga perjalananmu sampai pada yang kau tuju.”
Membaca buku ini seperti mendengarkan seorang entrepreneur handal sedang berorasi di seminar-seminar nasional. Dari buku tersebut, saya mendapatkan pelajaran berharga. Pertama, telatenlah untuk menulis. Jangan ragu untuk mempublikasikan karyamu di media sosial seperti blog, wordpress, Kompasiana maupun di catatan Facebook sekalipun. Dengan setiap hari menulis di beragam media sosial siapa tahu ada yang membaca tulisan itu. share di WA, BBM, dan media yang lain untuk mengetahui komentar orang lain terhadap tulisan kita. Dengan begitu kita bisa memerbaiki apa kekurangannya. Siapa tahu ada tawaran dari penerbit yang membaca karya kita. Dan bisa membukukan tulisan yang kita kumpulkan di media tersebut seperti mas Ahmad Rifa’i Rif’an.
Ia juga sangat termotivasi untuk menulis setiap hari. “Saya tidak tahu tulisan yang saya posting di blog itu ada yang membaca atau tidak, tapi saya terus saja menulis hampir tiap hari.” Ungkapnya.
Kedua, ketika telah menerbitkan buku perdana, maka jangan ada kata puas. Sebagian besar dari penulis-penulis di luar sana ketika sedang gandrung-grandungnya menulis setelah ‘melahirkan’ bayi pertama, ia merasa senang dan lupa akan fasilitas yang diterimnaya. Maka hal demikian sangatlah tidak baik. Untuk itu, menulislah selalu. Siapa tahu buku yang telah kita terbitkan telah banyak, kita mau dan mampu belajar dalam bisnis perbukuan. Bisnis percetakan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh mas Ahmad Rifa’i Rif’an dan Asma Nadia. Kedua orang ini memang memiliki bisnis penerbitkan sendiri untuk menjual karya-karyanya. Tidak lagi menunggu di penerbit-penerbit lain. Mas Fai merintisan Penerbit Marsua Media. Usaha ini terbukti ampuh hingga saat ini.
Ketiga, meskipun memiliki penerbit pribadi, jangan lupa menewarkan ke penerbit mayor. Kendati kita telah mampu merintis bisnis di dunia penerbitan, kita juga mau untuk menerbitkan ke penerbit skala nasional. Siapa yang tahu nasibnya seperti buku favoritnya Lulusan SMAN 1 Lamongan ini, yakni Allah, Inilah Proposal Cintaku For Girls yang langsung cetak ulang hanya dalam hitungan hari. Juga buku Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk. masuk Top Ten buku terlaris di Gramedia se-Indonesia.
Meski telah menampaki kesuksesan seperti sekarang ini, Rifa’i Rif’an juga pernah ditolak bahkan naskahnya tidak diterbitkan. Artinya, sekaliber Ahmad Rifa’i Rif’an pun pernah mengalami hal yang tidak mengenalkan pula. Ditolak penerbit.
Keempat, Bersiaplah untuk menjadi public specking. Setelah buku Anda siap cetak, bersiaplah menjadi seorang pemateri atau pembicara di acara-acara bedah buku. Bagi mahasiswa atau seseorang yang setiap hari terbiasa dengan suasana diskusi tidak masalah jika berhadapan banyak orang. Akan tetapi beda dengan seseorang yang jarang berhadapan dengan masyarakat luas. Tentu berhadapan dengan orang banyak—usianya di atas kita, itu bukan persoalan mudah. Membutuhkan materi yang lengkap, mental dan penyampaian yang baik. Pemuda yang kini berusia yang ke-27 tahun, pernah merasakan grogi. Banget. Saya gemeteran di depan, keringetan, dan rasanya ingin segera melarikan diri. Di usia dua puluh tahun, ia pernah menjadi pembicara yang dihadiri oleh peserta bedah buku yang mayoritas usianya sama dengan orangtuanya bahkan tingkatan staf dari instansi atau perusahaan hadir dan ternyata tidak ketinggalan manajer sekalipun turut nimbrung di acara bedah buku tersebut.
Dan, saya pernah menulis bareng dengan mas Ahmad Rifa’i Rif’an dalam buku Sahabat Pena Nusantara berjudul Quantum Ramadhan (2015). Buku ini memang kongkownya penulis-penulis se-Nusantara. Meski saya belum pernah ikut acara bedah buku dan belum pernah melihat secara kasat kata. Membaca tulisan dan karyanya telah diwakili dari dakwah bil qolam-nya.
Senang bisa kenal penulis muda berbakat sepertinya (saya belum pernah ketemu secara langsung di acara-acara bedah bukunya). Dia seorang penulis muda yang juga sebagai engineer sekaligus entrepreurship. Membaca karya-karya menandakan kedalam ilmunya. Tulisannya bernas dan cocok untuk nikmati semua kalangan. Meski usianya masih di balok dua, namun ia telah produktif sekali. Tidak dimungkiri menerbitkan lebih dari 60 judul buku. Karya-karyanya yang best seller antara lain: Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk (Cetakan-14), Allah, Inilah Proposal Cintaku For Girls (Cet-15), Akhirnya Kita Menikah (Cet-6), The Perfect Muslimah (Cet-8), dan lain-lain.
Untuk itu, sebagaimana yang dituturkan oleh pemuda multitalenta ini sebaiknya jangan jadikan uang sebagai motivasi nulis. Karena itu niat yang dampaknya hanya dunia. Betapa bijaknya jika target nulis kita untuk menebar inspirasi kebaikan, karena itu yang nantinya terus mengalirkan pahala hingga kita di barzah.[]
Untuk memperoleh buku-bukunya, Anda tinggal pergi ke toko buku, dan karya-karya didisplay di rak terdepan. Buku-bukunya sebagian besar berlabel best seller, sehingga Anda tidak akan kesulitan menemukan karya Ahmad Rifa’i Rif’an.
Namun siapa sangka, orang yang sukses menulis 70 buku, awalnya tidak menaruh cita-cita dan tidak kenal kata penulis. Sejak kecil kata penulis bukan jadi jawaban ketika ditanya mengenai cita-cita kala masih sekolah . Baginya bercita-cita jadi ulama' adalah prioritas utamanya.
Latar belakang pendidikannya memang mempengaruhi cara berpikir ketika itu. Ia hidup di lingkungan religius, di Lamongan, Jawa Timur. Sewaktu kecil ia habiskan waktunya untuk belajar agama. Fai bercita-cita menjadi ulama’. Ekspektasi menjadi ulama sangat besar. Ia kemudian sekolah di lembaga Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah. Selain di lembaga pendidikan, pengetahuannya tentang Islam, ia dapat dari kiai-kiai yang didengar melalui ceramah kaset. Puluhan bahkan ratusan kaset ceramah agama, ia koleksi. Hal ini ia lakukan karena keinginannya menjadi mubalig sangat besar. Ia beranggapan bahwa menjadi ulama’ sangat berguna bagi sesama umat.
Namun ketika masuk menengah pertama di SMPN 1 Turi, cita-cita menjadi ulama’ berubah menjadi seorang guru. Baginya, guru adalah profesi yang sangat mulia dan bermanfaat bagi banyak orang. “Saya ingin menjadi bagian dari pembibitan orang-orang besar yang kelak lahir mengisi sejarah," katanya.
Seperti anak muda pada umumnya. Di mana bumi dipijak, di situ pola pikir berubah. Ketika masuk di SMA kota, cita-cita yang ia ingin pun lenyap. Cita-cita berganti. Semasa di SMAN 1 Lamongan, ia memiliki cita-cita menjadi seorang insinyur. Alasannya cukup logis. " Saya bercita-cita demikian, lantaran hasil belajar saya yang kuat adalah fisika, mekanika dan matematis. Saat SMA, saya berulang kali menjuarai olimpiade fisika mekanika tingkat daerah," tulisnya di buku tersebut.
Itu yang membuatnya memiliki cita-cita lain. Selepas lulus dari SMA, ia pun meneruskan di ITS Surabaya, ambil jurusan teknik di Mechanical Engineering.
Di bangku perkuliahan ITS itulah cikal-bakal kesuksesan dunia tulis-menulis bersemai. Pemuda kelahiran 3 Oktober 1987 ini, bermula terinspirasi dari dosennya yang sedang menempuh studi di Taiwan. Baginya, setiap postingan dari dosen ITS itu sangatlah inspiratif, mencerdaskan, penuh hikmah. Ia selalu menikmati sekali setiap tulisan-tulisannya. Tulisannya yang tentang cerita, pengalaman, ilmu, wawasan, serta apa saja beliau tulis, menjadi santapannya. Di awal tahun 2008, ia mulai menulis di blog.
Hasil dari inspirasi dari dosennya tersebut. Ia pun mengikuti jejak menulis dosen yang tidak disebutkan namanya itu. Dan, akhirnya ia membuat blog dari tutorial yang ditulis oleh dosen itu.
Nama blognya rifay.wordpress.com. Blog tersebut masih bisa diakses, tetapi isinya tinggal sinopsis beberapa buku saja. Judul buku yang pertama kali ia terbitkan “9 Rahasia Doa Lulus Ujian”. Sebagian besar buku yang dihasilkan memang hasil dari tulisan-tulisan di blognya, yang mendapat atensi dari pembaca setianya.
*/
“Kesuksesanmu bukanlah hasil jerih payahmu sendiri. ada banyak yang berperan dalam hidupmu sehingga perjalananmu sampai pada yang kau tuju." Ahmad Rif'an Rifa'i.
Sebagian besar tulisan saya ini hasil bacaan buku e-book mas Ahmad Rifa'i Rif’an berjudul Perjalanan Menulisku. Buku ini memang sengaja dibagikan oleh mas Fai di media sosial. Saya sendiri mendapatkan buku ini ketika berselancar di dunia Facebook. Dengan membagikan secara gratis. Supaya yang bagi yang membacanya dan yang membagikan pula mengalir kebaikan sebanyak mungkin bagi sesama—setidaknya terinspirasi untuk [belajar] menulis. “Kesuksesanmu bukanlah hasil jerih payahmu sendiri. ada banyak yang berperan dalam hidupmu sehingga perjalananmu sampai pada yang kau tuju.”
Membaca buku ini seperti mendengarkan seorang entrepreneur handal sedang berorasi di seminar-seminar nasional. Dari buku tersebut, saya mendapatkan pelajaran berharga. Pertama, telatenlah untuk menulis. Jangan ragu untuk mempublikasikan karyamu di media sosial seperti blog, wordpress, Kompasiana maupun di catatan Facebook sekalipun. Dengan setiap hari menulis di beragam media sosial siapa tahu ada yang membaca tulisan itu. share di WA, BBM, dan media yang lain untuk mengetahui komentar orang lain terhadap tulisan kita. Dengan begitu kita bisa memerbaiki apa kekurangannya. Siapa tahu ada tawaran dari penerbit yang membaca karya kita. Dan bisa membukukan tulisan yang kita kumpulkan di media tersebut seperti mas Ahmad Rifa’i Rif’an.
Ia juga sangat termotivasi untuk menulis setiap hari. “Saya tidak tahu tulisan yang saya posting di blog itu ada yang membaca atau tidak, tapi saya terus saja menulis hampir tiap hari.” Ungkapnya.
Kedua, ketika telah menerbitkan buku perdana, maka jangan ada kata puas. Sebagian besar dari penulis-penulis di luar sana ketika sedang gandrung-grandungnya menulis setelah ‘melahirkan’ bayi pertama, ia merasa senang dan lupa akan fasilitas yang diterimnaya. Maka hal demikian sangatlah tidak baik. Untuk itu, menulislah selalu. Siapa tahu buku yang telah kita terbitkan telah banyak, kita mau dan mampu belajar dalam bisnis perbukuan. Bisnis percetakan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh mas Ahmad Rifa’i Rif’an dan Asma Nadia. Kedua orang ini memang memiliki bisnis penerbitkan sendiri untuk menjual karya-karyanya. Tidak lagi menunggu di penerbit-penerbit lain. Mas Fai merintisan Penerbit Marsua Media. Usaha ini terbukti ampuh hingga saat ini.
Ketiga, meskipun memiliki penerbit pribadi, jangan lupa menewarkan ke penerbit mayor. Kendati kita telah mampu merintis bisnis di dunia penerbitan, kita juga mau untuk menerbitkan ke penerbit skala nasional. Siapa yang tahu nasibnya seperti buku favoritnya Lulusan SMAN 1 Lamongan ini, yakni Allah, Inilah Proposal Cintaku For Girls yang langsung cetak ulang hanya dalam hitungan hari. Juga buku Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk. masuk Top Ten buku terlaris di Gramedia se-Indonesia.
Meski telah menampaki kesuksesan seperti sekarang ini, Rifa’i Rif’an juga pernah ditolak bahkan naskahnya tidak diterbitkan. Artinya, sekaliber Ahmad Rifa’i Rif’an pun pernah mengalami hal yang tidak mengenalkan pula. Ditolak penerbit.
Keempat, Bersiaplah untuk menjadi public specking. Setelah buku Anda siap cetak, bersiaplah menjadi seorang pemateri atau pembicara di acara-acara bedah buku. Bagi mahasiswa atau seseorang yang setiap hari terbiasa dengan suasana diskusi tidak masalah jika berhadapan banyak orang. Akan tetapi beda dengan seseorang yang jarang berhadapan dengan masyarakat luas. Tentu berhadapan dengan orang banyak—usianya di atas kita, itu bukan persoalan mudah. Membutuhkan materi yang lengkap, mental dan penyampaian yang baik. Pemuda yang kini berusia yang ke-27 tahun, pernah merasakan grogi. Banget. Saya gemeteran di depan, keringetan, dan rasanya ingin segera melarikan diri. Di usia dua puluh tahun, ia pernah menjadi pembicara yang dihadiri oleh peserta bedah buku yang mayoritas usianya sama dengan orangtuanya bahkan tingkatan staf dari instansi atau perusahaan hadir dan ternyata tidak ketinggalan manajer sekalipun turut nimbrung di acara bedah buku tersebut.
Dan, saya pernah menulis bareng dengan mas Ahmad Rifa’i Rif’an dalam buku Sahabat Pena Nusantara berjudul Quantum Ramadhan (2015). Buku ini memang kongkownya penulis-penulis se-Nusantara. Meski saya belum pernah ikut acara bedah buku dan belum pernah melihat secara kasat kata. Membaca tulisan dan karyanya telah diwakili dari dakwah bil qolam-nya.
Senang bisa kenal penulis muda berbakat sepertinya (saya belum pernah ketemu secara langsung di acara-acara bedah bukunya). Dia seorang penulis muda yang juga sebagai engineer sekaligus entrepreurship. Membaca karya-karya menandakan kedalam ilmunya. Tulisannya bernas dan cocok untuk nikmati semua kalangan. Meski usianya masih di balok dua, namun ia telah produktif sekali. Tidak dimungkiri menerbitkan lebih dari 60 judul buku. Karya-karyanya yang best seller antara lain: Tuhan, Maaf, Kami sedang Sibuk (Cetakan-14), Allah, Inilah Proposal Cintaku For Girls (Cet-15), Akhirnya Kita Menikah (Cet-6), The Perfect Muslimah (Cet-8), dan lain-lain.
Untuk itu, sebagaimana yang dituturkan oleh pemuda multitalenta ini sebaiknya jangan jadikan uang sebagai motivasi nulis. Karena itu niat yang dampaknya hanya dunia. Betapa bijaknya jika target nulis kita untuk menebar inspirasi kebaikan, karena itu yang nantinya terus mengalirkan pahala hingga kita di barzah.[]

Sosok inspiratif.
BalasHapusBetul banget, Mbak. Menginspirasi sekali...
BalasHapusduh, pria keren, mengapa tidak jadi jodohku? hihihiihi..... BRW ultahe sama dg Adiba, semoga Adiba ntar sama kerennya
BalasHapusKerenan gua bun. Cuma gua gak kelihatan. Hahaha 🤣 wah bentar lagi syukuran donk bun...
BalasHapussaya ngga kenal Ahmad R. Rif’an .. haha ... ketahuan jarang banget ke toko buku. Buku terakhir yang saya baca .. adalah novel ..:D
BalasHapusHehehehe. Sama tahu dari karya Ahmad R. Rif'an baca buku temen. Hehehe. Sebelumnya juga nggak kenal mas. Hehehe
BalasHapusPosting Komentar