Alkisah, seorang pengrajin anak panah zaman India kuno memiliki kios di salah satu ruas jalandengan mesin jahitnya desanya. Suatu hari, arak-arakan keluarga raja melintas ketika sang pengrajin sedang bertekun memoles anak panahnya. Prosesi agung raja berlalu dan tidak sekali pun si pembuat anak panah melihatnya.
Dattatreya, seorang musafir, bertanya kepada pengrajin anak panah, "Apakah Anda melihat arak-arakan tadi?
"Arak-arakan apa?" pengrajin balik bertanya.
Dengan kejadian itu, seorang musafir tidak mengulurkan tanya lagi kepada pengrajin. Ia hanya diam saja tanpa seucap kata sekali pun. Tanpa ada angin dan hujan, Dattatreya bersimpuh merebahkan diri di hadapan pengrajin.
"Engkaulah Guru sejati saya," ujar si musafir.
Menikmati secuil kisah di atas dari buku yang ditulis oleh J. Sumardianta, yang berjudul Guru Gokil Murid Unyu (2013), seperti terdamprat akan seorang pengrajin anak panah. Kita yang biasa terbias oleh tontonan di luar sana atau kurang fokus dengan apa yang kita kerjakan, dengan cerita di atas, kita adalah orang lemah di mata pengrajin itu.
Sumardianta--atau dikenal dengan sebutan Pak Guru--mengibaratkan pikiran-pikiran manusia bagaikan anak-anak panah. Kita semestinya terfokusnya dengan apa yang kita geluti, seperti dalam kisah si pengrajin. Tak peduli gunung merapi meletus. Ambil kesibukan dengan rombongan bangsawan maupun kepresidenan lewat. Di tengah kesunyian dan keheningan pengrajin menemukan aktivitas yang paling intens.
Disadari atau tidak, kerja atau semangat intens dan fokus ala pengrajin anak panah, diam-diam dihidupi Andreas Maryoto dalam kerja profesional sebagai penulis. Barangkali tidak banyak yang mengenal sepak terjang sosok Andreas Maryoto ini. Namanya tidak sementereng AS Laksana, Aguk Irawan MN, atau Dwi 'Dee' Lestari dan seabrek para pekerja jurnalistik nasional lain.
Namun sosok Andreas Maryoto ini membuat saya terkagum tentang kisah menulisnya. Betapa tidak, buku Jejak Pangan, seperti dikutip oleh J. Sumardianta, karya Andreas Maryoto, memantulkan ketekunan penulisnya. Lahir dari wilayah geografis pegunungan, Wonosobo, pedalaman Jawa Tengah yang amat agraris. Maryoto begitu cinta dengan wilayahnya, yang keseluruhannya berlandscape pegunungan, ketika kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), dalam minatnya tidak lebih dari yang berbau agraris. Dan, sebagai alumnus Universitas Gajah Mada, yang menggeluti kepenulisan, wartawan Kompas ini cinta berat (gandrung kapilangu) pada agrarian society.
Ia mendapat tugas dari media yang membesarkannya. Ia ditugaskan di awal karirnya sebagai jurnalis di lumbung beras Pantura, Indramayu, Jawa Barat. Sebagai seorang jurnalis, dan mencintai prosesi di dunia tulis-menulis, Maryoto melaksanakan tugasnya dengan totalitas tanpa batas, totalitas penuh kesungguhan. Dua dunia yang dicintainya, hatinya terlanjur berurat-akar antara jurnalis dan di ranah pertanian. Dua dunia yang digandrunginya itu pula, Maryoto senantiasa memoles ulang "rumah" yang membuatnya betah dan krasan di dunianya itu. "Rumah" yang banyak sekali literatur tentang bacaan pertanian. Karya Jejak Pangan bukan hanya sekilas bacaan yang mengindahkan norma dan akal budi. Menurut pak guru, buku Jejak Pangan karya Andreas Maryoto pun perkara mengasah perasaan dan merawat nurani.
Hal demikian juga berlaku pada sosok Kiai penuh kharisma. Siapa yang tidak kenal dengan sosok ayah dari KH. Mustofa Bisri Rembang, KH. Bisri Mustofa. Gus Bisri sebagaimana penuturan Dr. Ngainun Naim dalam bukunya yang berjudul Menipu Setan (bukan syaiton di KTP yang lagi ngetren sekarang itu).
Bagaimana KH. Bisri Mustofa mampu menghasilkan karya tulisan dan buku sedemikian banyak? Dan ke-produktif-annya diyakini oleh semua anak-anaknya, sahabat-sahabatnya, serta para murid-muridnya yang menjadikan buku mbah Bisri Mustofa sebagai rujukannya. Gus Bisri--sapaan akrab KH. Bisri Mustofa--ternyata memiliki "falsafah" tentang menulis yang unik dan menarik untuk kita renungkan. Dunia menulis bagi mbah Bisri Mustofa memang dunia yang sangat penting bagi hidupnya. Bahkan, sisa hidupnya--masa senjanya--ia lakukan untuk menulis buku maupun kitab.
Seperti yang dituturkan oleh Dr. Ngainun Naim, pernah suatu ketika beliau berbincang-bincang dengan Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta tentang dunia tulis-menulis. Dalam percakapannya, Kiai Maksum bertanya kepada Gus Bisri terkait kiat dan strategi dalam dunia menulis? Sementara, Kiai Ali Maksum yang alim pun sering mengalami kegagalan maupun kebuntuan di tengah jalannya kepenulisan. Jawaban Mbah Bisri cukup membuat kita semua--apabila mendengarkan--ikut memutar otak ke arah falsafah hidup menulis Mbah Bisri.
Dalam percakapannya, Mbah Bisri memberi sedikit pengertian bagaimana strateginya dalam menghasilkan karya tersebut. Bagi KH. Bisri Mustofa, menulis itu beliau ibaratkan seperti orang atau tukang jahit. Demikian nasehatnya.
"Lha soalnya sampeyan menulis lillahi ta'ala sih! Kalau saya menulis dengan niat nyambut gawe. Etos saya dalam menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu. Kalaupun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus bekerja. Soalnya bila dia berhenti menjahit, periuknya bisa ngguling. Saya juga begitu...."
Kita bisa melihat, bagaimana seorang tukang jahit itu beroperasi dengan mesin jahitnya, meskipun ada pelanggan datang ataupun berkomentar, ia pun tetap mengindahkan pekerjaannya tanpa pengecualian tidak melayani pelanggannya. Mbah Bisri Mustofa memiliki falsafah tentang menulis, seperti tukang jahit sedang beroperasi dengan mesin jahitnya. Jadi, hal inilah yang membuat Mbah Bisri sedemikian produktif dalam menulis dan berkarya.
Dengan filosofi tukang jahit, mbah Bisri tetap istiqomah dalam menulis. Selain itu, ia juga pandai membaca fenomena alam semesta. Dan juga tetap menumbuhkan semangat dalam menghasilkan karya tulisan tersebut dengan tetap tekun dan istiqomah. Meski di luar sana banyak aktivitas atau berseliweran, ia tetap berpegang teguh kepada tulisan yang ia kerjakan tersebut. Sebagai ulama yang kedalaman ke-ilmu-annya, ia terus menumbuhkan semangat menulis.
Sebagaimana dituturkan oleh Mustofa Bisri--anak Gus Bisri--beliau mampu menghasilkan karya sedemikian banyak karena ia selalu menulis dimana saja: di rumah, dalam perjalanan, di dalam mobil serta di tempat yang memungkinkan untuk menulis. Sebagai ulama yang kedalaman ilmunya yang luasnya, ide dari Mbah Bisri seakan tidak ada habisnya dan menulisnya seolah tiada hentinya.
Potret semangat dan filosofi Mbah Bisri Mustofa inilah yang patut kita teladani. Semangat terus belajar dan berkarya, menuliskan serpihan-serpihan pemikirannya itu sangat penting bagi siapapun itu. Semangat menulis Mbah Bisri yang mengacu para filosofi itu tadi, telah lebih dari 276 karangan-karangannya dihasilkan. Karya-karyanya telah disebarluaskan dan semuanya telah dijual oleh penerbit.
"Seandainya para kiai berkenaan menuangkan gagasan, ide, dan pemikirannya dalam bentuk karya tulis, tentu persebaran ide dan pemikiran mereka semakin luas. Dakwah melalui tulisan semakin penting di tengah dinamika perkembangan zaman yang semakin kompleks sekarang ini." Kata Dr. Ngainun Naim. Saya kira di bidang apapun penting menumbuhkan budaya menulis itu. Mulai dari: pendidikan, teknologi, kesehatan, budaya, politik, sosial dan semua bidang ilmu pengetahuan sangatlah penting untuk menumbuhkan kembangkan budaya tulis-menulis. Di tengah budaya di Indonesia yang sedemikian rupa, budaya literasi (baca-tulis) penting sekali.
Teladan Andreas Maryoto dan Mbah Bisri Mustofa patut kita tiru. Semangat dalam menulis, meski ada banyak berseliweran di sekitarnya, namun mereka tidak bergeming olehnya. Sebuah kisah yang patut kita teladani. Marilah kita meneladani beliau yang telah menghasilkan karya. Meski banyak kesibukan yang sangat tinggi, kesempatan menulis pun sangat sedikit, serta dari sisi lingkungan juga kurang mendukung. Namun, beliau-beliau mampu menghasilkan karya yang mampu kita nikmati sedemikian rupa. Dan kita bisa belajar dari orang-orang tersebut salah satu caranya adalah tekun dan intens serta istiqomah dalam belajar. []
Dattatreya, seorang musafir, bertanya kepada pengrajin anak panah, "Apakah Anda melihat arak-arakan tadi?
"Arak-arakan apa?" pengrajin balik bertanya.
Dengan kejadian itu, seorang musafir tidak mengulurkan tanya lagi kepada pengrajin. Ia hanya diam saja tanpa seucap kata sekali pun. Tanpa ada angin dan hujan, Dattatreya bersimpuh merebahkan diri di hadapan pengrajin.
"Engkaulah Guru sejati saya," ujar si musafir.
Menikmati secuil kisah di atas dari buku yang ditulis oleh J. Sumardianta, yang berjudul Guru Gokil Murid Unyu (2013), seperti terdamprat akan seorang pengrajin anak panah. Kita yang biasa terbias oleh tontonan di luar sana atau kurang fokus dengan apa yang kita kerjakan, dengan cerita di atas, kita adalah orang lemah di mata pengrajin itu.
Sumardianta--atau dikenal dengan sebutan Pak Guru--mengibaratkan pikiran-pikiran manusia bagaikan anak-anak panah. Kita semestinya terfokusnya dengan apa yang kita geluti, seperti dalam kisah si pengrajin. Tak peduli gunung merapi meletus. Ambil kesibukan dengan rombongan bangsawan maupun kepresidenan lewat. Di tengah kesunyian dan keheningan pengrajin menemukan aktivitas yang paling intens.
Disadari atau tidak, kerja atau semangat intens dan fokus ala pengrajin anak panah, diam-diam dihidupi Andreas Maryoto dalam kerja profesional sebagai penulis. Barangkali tidak banyak yang mengenal sepak terjang sosok Andreas Maryoto ini. Namanya tidak sementereng AS Laksana, Aguk Irawan MN, atau Dwi 'Dee' Lestari dan seabrek para pekerja jurnalistik nasional lain.
Namun sosok Andreas Maryoto ini membuat saya terkagum tentang kisah menulisnya. Betapa tidak, buku Jejak Pangan, seperti dikutip oleh J. Sumardianta, karya Andreas Maryoto, memantulkan ketekunan penulisnya. Lahir dari wilayah geografis pegunungan, Wonosobo, pedalaman Jawa Tengah yang amat agraris. Maryoto begitu cinta dengan wilayahnya, yang keseluruhannya berlandscape pegunungan, ketika kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), dalam minatnya tidak lebih dari yang berbau agraris. Dan, sebagai alumnus Universitas Gajah Mada, yang menggeluti kepenulisan, wartawan Kompas ini cinta berat (gandrung kapilangu) pada agrarian society.
Ia mendapat tugas dari media yang membesarkannya. Ia ditugaskan di awal karirnya sebagai jurnalis di lumbung beras Pantura, Indramayu, Jawa Barat. Sebagai seorang jurnalis, dan mencintai prosesi di dunia tulis-menulis, Maryoto melaksanakan tugasnya dengan totalitas tanpa batas, totalitas penuh kesungguhan. Dua dunia yang dicintainya, hatinya terlanjur berurat-akar antara jurnalis dan di ranah pertanian. Dua dunia yang digandrunginya itu pula, Maryoto senantiasa memoles ulang "rumah" yang membuatnya betah dan krasan di dunianya itu. "Rumah" yang banyak sekali literatur tentang bacaan pertanian. Karya Jejak Pangan bukan hanya sekilas bacaan yang mengindahkan norma dan akal budi. Menurut pak guru, buku Jejak Pangan karya Andreas Maryoto pun perkara mengasah perasaan dan merawat nurani.
Hal demikian juga berlaku pada sosok Kiai penuh kharisma. Siapa yang tidak kenal dengan sosok ayah dari KH. Mustofa Bisri Rembang, KH. Bisri Mustofa. Gus Bisri sebagaimana penuturan Dr. Ngainun Naim dalam bukunya yang berjudul Menipu Setan (bukan syaiton di KTP yang lagi ngetren sekarang itu).
Bagaimana KH. Bisri Mustofa mampu menghasilkan karya tulisan dan buku sedemikian banyak? Dan ke-produktif-annya diyakini oleh semua anak-anaknya, sahabat-sahabatnya, serta para murid-muridnya yang menjadikan buku mbah Bisri Mustofa sebagai rujukannya. Gus Bisri--sapaan akrab KH. Bisri Mustofa--ternyata memiliki "falsafah" tentang menulis yang unik dan menarik untuk kita renungkan. Dunia menulis bagi mbah Bisri Mustofa memang dunia yang sangat penting bagi hidupnya. Bahkan, sisa hidupnya--masa senjanya--ia lakukan untuk menulis buku maupun kitab.
Seperti yang dituturkan oleh Dr. Ngainun Naim, pernah suatu ketika beliau berbincang-bincang dengan Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta tentang dunia tulis-menulis. Dalam percakapannya, Kiai Maksum bertanya kepada Gus Bisri terkait kiat dan strategi dalam dunia menulis? Sementara, Kiai Ali Maksum yang alim pun sering mengalami kegagalan maupun kebuntuan di tengah jalannya kepenulisan. Jawaban Mbah Bisri cukup membuat kita semua--apabila mendengarkan--ikut memutar otak ke arah falsafah hidup menulis Mbah Bisri.
Dalam percakapannya, Mbah Bisri memberi sedikit pengertian bagaimana strateginya dalam menghasilkan karya tersebut. Bagi KH. Bisri Mustofa, menulis itu beliau ibaratkan seperti orang atau tukang jahit. Demikian nasehatnya.
"Lha soalnya sampeyan menulis lillahi ta'ala sih! Kalau saya menulis dengan niat nyambut gawe. Etos saya dalam menulis sama dengan penjahit. Lihatlah penjahit itu. Kalaupun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus bekerja. Soalnya bila dia berhenti menjahit, periuknya bisa ngguling. Saya juga begitu...."
Kita bisa melihat, bagaimana seorang tukang jahit itu beroperasi dengan mesin jahitnya, meskipun ada pelanggan datang ataupun berkomentar, ia pun tetap mengindahkan pekerjaannya tanpa pengecualian tidak melayani pelanggannya. Mbah Bisri Mustofa memiliki falsafah tentang menulis, seperti tukang jahit sedang beroperasi dengan mesin jahitnya. Jadi, hal inilah yang membuat Mbah Bisri sedemikian produktif dalam menulis dan berkarya.
Dengan filosofi tukang jahit, mbah Bisri tetap istiqomah dalam menulis. Selain itu, ia juga pandai membaca fenomena alam semesta. Dan juga tetap menumbuhkan semangat dalam menghasilkan karya tulisan tersebut dengan tetap tekun dan istiqomah. Meski di luar sana banyak aktivitas atau berseliweran, ia tetap berpegang teguh kepada tulisan yang ia kerjakan tersebut. Sebagai ulama yang kedalaman ke-ilmu-annya, ia terus menumbuhkan semangat menulis.
Sebagaimana dituturkan oleh Mustofa Bisri--anak Gus Bisri--beliau mampu menghasilkan karya sedemikian banyak karena ia selalu menulis dimana saja: di rumah, dalam perjalanan, di dalam mobil serta di tempat yang memungkinkan untuk menulis. Sebagai ulama yang kedalaman ilmunya yang luasnya, ide dari Mbah Bisri seakan tidak ada habisnya dan menulisnya seolah tiada hentinya.
Potret semangat dan filosofi Mbah Bisri Mustofa inilah yang patut kita teladani. Semangat terus belajar dan berkarya, menuliskan serpihan-serpihan pemikirannya itu sangat penting bagi siapapun itu. Semangat menulis Mbah Bisri yang mengacu para filosofi itu tadi, telah lebih dari 276 karangan-karangannya dihasilkan. Karya-karyanya telah disebarluaskan dan semuanya telah dijual oleh penerbit.
"Seandainya para kiai berkenaan menuangkan gagasan, ide, dan pemikirannya dalam bentuk karya tulis, tentu persebaran ide dan pemikiran mereka semakin luas. Dakwah melalui tulisan semakin penting di tengah dinamika perkembangan zaman yang semakin kompleks sekarang ini." Kata Dr. Ngainun Naim. Saya kira di bidang apapun penting menumbuhkan budaya menulis itu. Mulai dari: pendidikan, teknologi, kesehatan, budaya, politik, sosial dan semua bidang ilmu pengetahuan sangatlah penting untuk menumbuhkan kembangkan budaya tulis-menulis. Di tengah budaya di Indonesia yang sedemikian rupa, budaya literasi (baca-tulis) penting sekali.
Teladan Andreas Maryoto dan Mbah Bisri Mustofa patut kita tiru. Semangat dalam menulis, meski ada banyak berseliweran di sekitarnya, namun mereka tidak bergeming olehnya. Sebuah kisah yang patut kita teladani. Marilah kita meneladani beliau yang telah menghasilkan karya. Meski banyak kesibukan yang sangat tinggi, kesempatan menulis pun sangat sedikit, serta dari sisi lingkungan juga kurang mendukung. Namun, beliau-beliau mampu menghasilkan karya yang mampu kita nikmati sedemikian rupa. Dan kita bisa belajar dari orang-orang tersebut salah satu caranya adalah tekun dan intens serta istiqomah dalam belajar. []
Kereeeen mas. Sangat bermanfaat. Thanks
BalasHapusTerima kasih Pak Fauzi atas kunjungan dan apreasinya. Semoga bermanfaat pak..
BalasHapusMateng! Tulisan bergizi.
BalasHapusTerima kasih mas atas apresiasinya. Semoga bermanfaat. Terima kasih juga kunjungannya. Salam kenal, Mas.
BalasHapusSama-sama mas, rokhim. Salam kenal kembali mas.
BalasHapusIya mas. Siaap...
BalasHapusPosting Komentar