Bukan, ini bukan soal makanan, apalagi di bulan puasa, ngomongin makanan, pamali hukumnya. Nah yang paling "seram" lagi, belum bedhug adzan Maghrib udah buka duluan, jadi lain nih ceritanya. (hehe). Sebelumnya gue mau jujur dulu nih, ini blog/tulisan pertama di blog gue, di mana dasarnya gue nggak sedikitpun punya basic menulis. Lalu terpaksa? Tidak.. Tulisan Ini tentang suara hati, yang sayang jika hilang oleh uap-an rasa kantuk bulan puasa. (ciyee, suara hati). Ya, suara hati, yang selama ini nggak pernah gue perduliin. Oiya, disini kalian bakalan nemu ke-absurd-an bahasa. Karena emang dasarnya gue itu nggak suka baca yang bahasanya tinggi-tinggi kayak absurd itu tadi. Hehehew. Eits. Itu hanya contoh.
Ke-absurd-an itu mulai dari kosakata nggak jelas, bahasa yang nggak ada baku-bakunya sama sekali, tanda baca yang acakadut (baca: kacau) sampai dengan bahasa slank yang gue pakai, mungkin bakalan campur aduk antara: aku, saya, gue, ane dan lain-lain. Yang penting nggak campur sama es campur. Iiihh, tambah jadi auss nih gue. Oups.
Maklum, gue bukan anak kuliahan, gue nggak nerusin kuliah, soalnya memang tidak ada satu pun kampus di Tulungagung yang se-level sama gue, lebih halusnya nggak ada kampus yang ongkos masuk sama bulanannya pas sama level uang saku gue yang pas-pasan, terserah deh loe mau nafsirinnya kayak gimana? Hehe. Pernah dulu waktu masih STM, iye gue Stm, masalah?,Wkwkwk.. Balik lagi di benang merah, dulu sebelum lulus dari STM gue pernah ikutan “Bidik Misi” jalur keluarga tidak mampu, eh, kata guru gue, "Cat tembok gue terlalu kinclong untuk ukuran orang nggak mampu." Eettdah.. Coba bayangkan, gimana rasanya? Cita citata mah bilang, "Sakitnya tuh di sini!"
Yah, kenapa gue jadi curhat gini yak? Hihihi, sorry–sorry, biar afdol aja, kalau nggak kenal siapa gue kan berasa kurang, kayak sayur tanpa daun, yaiyalah. Sebagai penutup perkenalan, kalian bisa panggil gue Wiro, FYI: Wiro aja, nggak pakek sableng, catet!
Tanggal 18 Juni, hari pertama puasa di tahun 2015 masehi, mulai deh keanehan-keanehan terjadi, salah satunya yang nggak pernah absen nih, harga bahan pokok makin meningkat. Alias mahal mendadak, ini nggak sebanding dengan kondisi masyarakat Indonesia menengah kebawah yang nggak ngalamin kaya mendadak. Menurut gue harusnya ke mendadakan itu bisa bareng, jadi enak, apa-apa mahal, semua orang punya duit, kan enak soalnya sebanding, ya nggak? Ngimpi. -_-
Kenyataannya, ya itu tadi, kita sebagai warga cuma bisa pasrah, pasrah dengan harga yang mendadak melambung, pasrah dengan kondisi bahwa, kebutuhan kita juga mendadak banyak banget, kayak emak gue, tiba-tiba butuh duit buat nyemir rambut, potong kuku, arisan, loh? Itu kebutuhan apa emang hobi ya? Haha. Ya pokoknya gitu deh. Tingginya angka pengangguran dan permintaan yang tinggi, bisa jadi penyebab daya beli masyarakat Indonesia meningkat.
Menurut ekonom dari Institute for development and inance (INDEF) Enny Sri hartati mengatakan kenaikan angka pengangguran mencapai 5,81 persen pada februari 2015, yang artinya tingkat pengangguran terbuka itu naik 0,11 persen dibanding februari 2014. Dimana angkatan kerja pada bulan februari 2015 sebanyak 128,3 juta, sementara yang bekerja cuma 120,8 juta orang. Ironis nggak, tuh? Kalau kata bang haji, ini sungguh terlalu!
Sebenarnya bab-nya mau gue tambah lagi dari yang harga melambung tadi, tapi ah kayaknya gue 'males' deh. Gue rasa cukup deh untuk saat mbahas masalah carut-marutnya negeri yang kaya dan indah ini. Tapi masyarakat harus mati di negeri gemah limpah loh jinawi. Ibarat kata anak ayam mati di lumbung padi. Sabar Wir, sabar.
Puasa, konon bulan puasa, di mana genderuwo, kuntilanak, kalong wewe, dan berbagai spesies sejenisnya di penjara oleh Allah SWT, alias para setan di belenggu seperti yang ada pada HR.Bukhori No 1898 dan Muslim 1079 yang bunyinya Dari Abu Hurairoh Ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: “Apabila bulan Ramadhan datang,maka pintu-pintu surga akan di bukakan dan pintu-pintu neraka akan di tutup serta setan-setan akan di belenggu," ya walaupun ada sedikit perbedaan pendapat tentang hadist tersebut tersebut oleh kalangan Ulama'. Wallahu a'lam Bishawab.
Tapi intinya adalah, puasa itu kesempatan kita buat beramal sebanyak-banyaknya, karena amal yang kita lakukan di dalamnya bakalan di lipat gandakan, Insya Allah. Makanya, ada yang bilang kalau beribadah di bulan ini gampang banget, ya. Ya, itu tadi gara-garanya, dedemit di penjara semua, hehehew.
Seperti yang Ustadz Yazid al-Busthomi, Lc bilang dalam bukunya “Cerdas Intelektual dan Spiritual dengan Mukjizat Puasa” (Divapress: 65), "Bahwa selain mendapat pahala, puasa juga dapat memberikan ketentraman jiwa yang diberikan oleh Allah SWT, juga di jauhkan dari berbagai masalah (Amin), sekalipun konteksnya puasa sunah." Gimana gan, luar biasa kan? Yaiyalah, masak yaiya kali'. Hehew.
“Shalatlah sebelum habis waktu, Bertaubatlah sebelum maut menjemputmu.” kurang lebih seperti itulah kata-kata yang gue lihat di dinding masjid dekat tempat kerja. Lihat slogan yang telah jadi ciri khas untuk menasehati itu, gue seolah langsung seperti terkena tamparan, ke inget dosa-dosa yang udah numpuk, hmmh. Numpuk bukan karena dosa yang gue lakuin aja, tapi lebih ke dosa yang gue ulangin terus menerus, secara, gue dulu pernah niat pengen tobat, eh kumat lagi.
Tomat, alias Tobat maksiat, ini nih yang jadi "momok" besar buat kita, khususnya anak-anak muda kayak gue, padahal udah tua ini <ketawa-setan>, umumnya buat seluruh umat. Karena dosa yang menumpuk menyebabkan hati yang mati, kalau udah mati? Ya selesai, sulit banget di hidupin lagi. Namun yang terpenting menurut gue adalah, loe masih idup sekarang. Udah waktunya loe untuk segera mungkin untuk bertobat, bukan lagi tobatnya mas tomat. Eh, maaf loh, ya. Ini bukan anak orang. Oups, salah, nama buah denk.
Dosa apapun yang loe lakuin, mau segede gajah, seluas langit, sebanyak buih di laut pasifik (lebay) kalau kita masih hidup, Insya Allah ampunan Allah masih luas banget, seperti yang ada pada QS. Az-Zumar [39]: 53, loe baca sendiri dah ayatnya, intinya ayat tersebut menunjukan kalau Allah SWT itu maha pengampun, dan kita dilarang putus asa sama rahmatNya. Tetap berusaha dan belajar untuk bermuhasabah, biar kita di jauhin dari si Tomat itu tadi, lebih lebih benci sama yang namanya Tomat, inget, bukan makanan, tapi Taubat Maksiat.
Hehe, Akhirul kalam, gue sebagai penulis amatiran tingkat "dewa 19", yang udah bubar (halah) mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa ya, khususnya buat seluruh umat muslim di Tulungagung, tau kagak loe? Ini kota kecil gue di daerah Jawa Timur, hehe, dan umumnya buat seluruh muslim Indonesia dan Dunia, yang ngerti bahasa gue. Semoga ini lebih baik dari ibadah kita di bulan puasa sebelumnya. Amin.
Hehe, maafin kalau ada salah-salah di tulisan gue, ya, karena Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, dan Andra and The Backbone (kata bang soleh solihun), Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warrahmatullah wabarrakatuh.
* Oleh Wira Ari Wibawa* Pegawai suruhan di Togamas, Tulungagung.
Posting Komentar