Pagi hari, saya mendengar percakapan samar-samar dari kejauhan yang dilakukan oleh seorang pedagang sayur keliling bersama ibu-ibu. Suara lirih di depan rumah itu terdengar dari balik rumah, yang mengobrolkan perihal harga-harga barang yang mulai naik, semakin ke sini mereka juga membicarakan tentang adegan-adegan menantang, yang ditayangkan oleh stasiun televisi tertentu.
Berbicara tentang tayangan televisi, kita juga tahu sendiri bahwa apa yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi begitu banyak problematika kehidupan, yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh masyarakat, terlebih anak-anak. Misal tentang perkelahian baik dalam sinetron maupun di acara-acara santai sekali pun.
Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh sebuah lembaga atau kita juga pernah dengar bahwa televisi adalah musuh bagi kita semua, selama informasi dan tayangan yang disungguhkan benar-benar mengandung nilai-nilai non edukatif.
Dalam perbincangan itu pedagang sayur keliling dan ibu-ibu bercerita tentang anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun sudah menirukan adegan yang ditayangkan salah satu televisi, yang adegan tersebut tidak untuk dirinya.
Kita menjumpai beberapa adegan yang tidak mendidik. Dalam acara-acara santai atau dalam lawakan, adegan kekerasan (meski berbalut komedi) tidak dibenarkan untuk dilakukan. Sebab secara tidak langsung hal tersebut juga akan membentuk karakter pada anak-anak di usia dini.
Satu atau dua tahun yang lalu kita--saat terbitnya tulisan ini--kita bisa melihat beberapa tayangan televisi dengan menggunakan alat peraga (sterofom) untuk media pengeroyokan ataupun melakukan kekerasan terhadap temannya. Sehingga secara tidak langsung pula mengakibatkan anak usia di bawah umur (balita) juga itu ikut memperagakan yang ia dikonsumsi lewat media elektronik seperti televisi tersebut.
Sungguh ironis memang jika anak usia muda (di usia di bawah 5 tahun) melihat adegan yang sebetulnya bukan nontonannya, kemudian ia peragakan dengan teman-temannya. Karena ia mengetahui tayangan di televisi, maka sangat dikhawatirkan akan mengalami perilaku upnormal yang seharusnya tidak ia kerjakan.
Misalnya, seperti contoh di atas, karena anak usia 5 sudah menyaksikan tayangan yang berbau kekerasan. Ia akan cepat merespon dan melakukan ketika bersama teman-teman sebayanya. Gawatnya lagi, ketika anak kecil merekam perilaku protagonis seorang pemain sinetron, ia akan merekam sisi jeleknya dari pemain sinetron tersebut, karena dalam tayangan sinetron, terutama sinetron di Indonesia karakter protagonis selalu menampilkan watak yang garang, dan suka marah, dan berperilaku yang jahat.
Kita mafhum dalam adat Jawa, khususnya di daerah tempat tinggal saya ini, pada anak usia satu sampai dua tahun, si anak selalu didengungkan atau ‘ngudang’ dengan rasa bangga disertai goyang-goyangan pada pangkuannya atau dalam gendongannya atau dalam ayun-ayunannya, dengan nada yang cukup tak ‘mendidik’, menurut saya, meski ada filosofi yang tersirat di dalamnya, 'kudangannya' itu mengandung makna tidak mendidik, seperti kudangan “eli-eli dek”. Hadeh....
Karena dalam masa perkembangan seorang anak memiliki kepekaan dalam tingkah lakunya, sehingga ia merekam tindakan yang ia lihat dengan kasat mata. Dari konsumsinya itu, ia mengalami perkembangan psikologisnya dan melakukan perilaku yang sifatnya anomali pada dirinya. Dalam perkembangan psikologisnya, ia akan mengalami perilaku yang agresif, sering berbicara keras dan 'kasar’.
Anak usia berkembang jelas masih perlu pendampingan dari orang tuanya. Karena hal seperti itu cepat sekali direkam dan ditelan oleh si Anak. Ia akan menirukan apa saja yang nampak di depannya. Sehingga akibatnya dalam lingkungan keluarga ia nampak begitu agresif. Selain itu ia juga suka marah atau begot. Saat marah ia akan teriak-teriak dan ia akan memberontak ketika kemauan yang diinginkan tak dipenuhi.
Ternyata anak dalam masa perkembangan, cepat sekali menirukan semua kegiatan yang ada di depannya tanpa kita sadari. Apalagi tayangan televisi yang penuh dengan adegan-adegan yang tidak mendidik. Maka kita sebagai orang tua harus sadar betul dengan perkembangan yang terjadi pada anak-anaknya. Sebab tanggung jawab kita semua sebagai orang tua dan tidak lepas dari pantauan kedua orang tua. Seyogyanya seorang ibu atau orang tua harus memfilter tingkah laku yang di dapat dari lingkungan luar.
Ketika anak bermain keluar, otomatis kita tidak bisa mengontrol secara langsung, karena kesibukan dan aktiftas lain orang tua, seperti kerja, masak, nyuci dll. Ini mengakibatkan pergaulan anak di luar sana tidak bisa kita ketahui. Oleh karena itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol perilaku anak.
Meski saya belum berrumah tangga tulisan ini menjadi sebuah pelajaran dan pengalaman untuk mendidik seorang anak sekaligus menjadi bekal utama mendidik. Seyoganya sebagai orang tua kita layak untuk terus aktif melihat perkembangan anak. Karena anak adalah aset kita para orang tua, aset bagi generasi penerus bangsa. Sebagai orang tua dari anak-anak itu kita harus siap memfilter adegan-adegan yang berada di depan wajah-wajah manisnya. Setidaknya orang tua harus aktif minimal beberapa jam di sekitar anak-anaknya. Begitu. []
Berbicara tentang tayangan televisi, kita juga tahu sendiri bahwa apa yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi begitu banyak problematika kehidupan, yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh masyarakat, terlebih anak-anak. Misal tentang perkelahian baik dalam sinetron maupun di acara-acara santai sekali pun.
Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh sebuah lembaga atau kita juga pernah dengar bahwa televisi adalah musuh bagi kita semua, selama informasi dan tayangan yang disungguhkan benar-benar mengandung nilai-nilai non edukatif.
Dalam perbincangan itu pedagang sayur keliling dan ibu-ibu bercerita tentang anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun sudah menirukan adegan yang ditayangkan salah satu televisi, yang adegan tersebut tidak untuk dirinya.
Kita menjumpai beberapa adegan yang tidak mendidik. Dalam acara-acara santai atau dalam lawakan, adegan kekerasan (meski berbalut komedi) tidak dibenarkan untuk dilakukan. Sebab secara tidak langsung hal tersebut juga akan membentuk karakter pada anak-anak di usia dini.
Satu atau dua tahun yang lalu kita--saat terbitnya tulisan ini--kita bisa melihat beberapa tayangan televisi dengan menggunakan alat peraga (sterofom) untuk media pengeroyokan ataupun melakukan kekerasan terhadap temannya. Sehingga secara tidak langsung pula mengakibatkan anak usia di bawah umur (balita) juga itu ikut memperagakan yang ia dikonsumsi lewat media elektronik seperti televisi tersebut.
Sungguh ironis memang jika anak usia muda (di usia di bawah 5 tahun) melihat adegan yang sebetulnya bukan nontonannya, kemudian ia peragakan dengan teman-temannya. Karena ia mengetahui tayangan di televisi, maka sangat dikhawatirkan akan mengalami perilaku upnormal yang seharusnya tidak ia kerjakan.
Misalnya, seperti contoh di atas, karena anak usia 5 sudah menyaksikan tayangan yang berbau kekerasan. Ia akan cepat merespon dan melakukan ketika bersama teman-teman sebayanya. Gawatnya lagi, ketika anak kecil merekam perilaku protagonis seorang pemain sinetron, ia akan merekam sisi jeleknya dari pemain sinetron tersebut, karena dalam tayangan sinetron, terutama sinetron di Indonesia karakter protagonis selalu menampilkan watak yang garang, dan suka marah, dan berperilaku yang jahat.
Kita mafhum dalam adat Jawa, khususnya di daerah tempat tinggal saya ini, pada anak usia satu sampai dua tahun, si anak selalu didengungkan atau ‘ngudang’ dengan rasa bangga disertai goyang-goyangan pada pangkuannya atau dalam gendongannya atau dalam ayun-ayunannya, dengan nada yang cukup tak ‘mendidik’, menurut saya, meski ada filosofi yang tersirat di dalamnya, 'kudangannya' itu mengandung makna tidak mendidik, seperti kudangan “eli-eli dek”. Hadeh....
Karena dalam masa perkembangan seorang anak memiliki kepekaan dalam tingkah lakunya, sehingga ia merekam tindakan yang ia lihat dengan kasat mata. Dari konsumsinya itu, ia mengalami perkembangan psikologisnya dan melakukan perilaku yang sifatnya anomali pada dirinya. Dalam perkembangan psikologisnya, ia akan mengalami perilaku yang agresif, sering berbicara keras dan 'kasar’.
Anak usia berkembang jelas masih perlu pendampingan dari orang tuanya. Karena hal seperti itu cepat sekali direkam dan ditelan oleh si Anak. Ia akan menirukan apa saja yang nampak di depannya. Sehingga akibatnya dalam lingkungan keluarga ia nampak begitu agresif. Selain itu ia juga suka marah atau begot. Saat marah ia akan teriak-teriak dan ia akan memberontak ketika kemauan yang diinginkan tak dipenuhi.
Ternyata anak dalam masa perkembangan, cepat sekali menirukan semua kegiatan yang ada di depannya tanpa kita sadari. Apalagi tayangan televisi yang penuh dengan adegan-adegan yang tidak mendidik. Maka kita sebagai orang tua harus sadar betul dengan perkembangan yang terjadi pada anak-anaknya. Sebab tanggung jawab kita semua sebagai orang tua dan tidak lepas dari pantauan kedua orang tua. Seyogyanya seorang ibu atau orang tua harus memfilter tingkah laku yang di dapat dari lingkungan luar.
Ketika anak bermain keluar, otomatis kita tidak bisa mengontrol secara langsung, karena kesibukan dan aktiftas lain orang tua, seperti kerja, masak, nyuci dll. Ini mengakibatkan pergaulan anak di luar sana tidak bisa kita ketahui. Oleh karena itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengontrol perilaku anak.
Meski saya belum berrumah tangga tulisan ini menjadi sebuah pelajaran dan pengalaman untuk mendidik seorang anak sekaligus menjadi bekal utama mendidik. Seyoganya sebagai orang tua kita layak untuk terus aktif melihat perkembangan anak. Karena anak adalah aset kita para orang tua, aset bagi generasi penerus bangsa. Sebagai orang tua dari anak-anak itu kita harus siap memfilter adegan-adegan yang berada di depan wajah-wajah manisnya. Setidaknya orang tua harus aktif minimal beberapa jam di sekitar anak-anaknya. Begitu. []
Masa depan anak tanggungjawab orang tua, so luangkan waktu sebanyak mungkin untuk anak.
BalasHapusTerima kasih Mas Adi Pradana sudah mampir. Betul mas, saya sepakat bila orang tua meluangkan waktu bagi anak-anaknya...
BalasHapusPosting Komentar