Banyak orang bilang bahwa nikmatnya menjalani hidup yang hakiki di kala pagi hari adalah dengan duduk-duduk santai di teras sambil ditemani secangkir kopi dan cemilan khas sambil mendengarkan ocehan suara burung yang saling bersaut-sautan.
Suara burung ini bisa menentramkan dan menenangkan hati dan pikiran, secangkir kopi dan camilan membuat diri untuk tetap tenang sampai kopi tandas sampai tandas tak tersisa.
Begitulah hidup, selalu ada cara untuk menikmatinya. Begitupun seorang bapak yang usianya sekitar 60-an tahun menikmati hari-harinya. Ia adalah seorang penjaga Kamar Mandi. Pak Jay--begitu ia disapa--hari-harinya ia habiskan untuk membersihkan MCK dan sekitarnya. Sebab, rezekinya memang di situ, di mana ia melayani jasa (maaf) membuang hajat orang.
Kita tidak boleh meremehkan jasa orang-orang seperti pak Jay ini. Sebab, saat kita sedang membutuhkan fasilitas kamar mandi (MCK) untuk membuat air kecil atau BaB maka keamanan, kenyamanan dan kebersihan sangat kita butuhkan. Menurut saya, profesi seperti Pak Jay ini membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Sehingga tak banyak orang mau menjalani profesi seperti Pak Jay ini.
Namun ia tidak hanya spaneng, berkutat di antara kebersihan dan duduk menunggu pembayaran dari seseorang yang telah keluar dari bilik kamar mandi. Di sela-sela menjaga kotak infak, ia juga melakukan beberapa aktivitas yang produktif. Yakni, ini menarik, ketika ia merasa jenuh atau bosen menunggu tempat tersebut, ia memanfaatkan dengan membaca buku. Beberapa buku tertumpuk di atas, di dekat tempat kotak infak itu.
Ia adalah pria yang tinggal seorang diri. Ia sebatangkara di sebuah kecil di dekat kamar mandi itu. Meski hidup sendiri, tidak ada sanak saudara, ia tetap ingin bermanfaat bagi orang lain. "Saya ingin menjadi orang yang baik, dan tidak mau dianggap jadi orang lain tidak bermanfaat," ujar Pak Jay. (Maaf gambar pak Jay tidak sempat saya potret).
Dengan kerendahan hati dan keuletannya itu ia ingin yang terbaik dan berguna bagi masyarakat sekitar lingkungannya. Jelas, dari peristiwa Pak Jay ini saya bisa mengambil sari pati kehidupan. Meski usia sudah tidak muda lagi, sudah tidak sekolah lagi, ia tetap menjadi manusia yang berpengetahuan dan berwawasan yang luas. Ia ingin menjadi manusia yang beradab dengan bermanfaat bagi sesama itu.
Dari peristiwa itu pula, membuat saya untuk tergerak ikut urun rembuk, menjadi manusia berkualitas dengan menjamah buku-buku yang ada di rumah maupun di perpustakaan. Pak Jay memang salah satu manusia yang belum beruntung dalam takaran finansial. Namun, ia lebih beruntung dalam asupan pengetahuan-pengetahuan yang ia konsumsi lewat buku.
Karena dengan ia membaca buku, ia sama artinya membuka cakrawala dunia dan mengindahkan dunia. Sebab, buku merupakan alat untuk membuka pintu dunia. Dengan membacanya, Pak Jay membuka dan mendekatkan diri pada peradaban yang terbuka. []
Suara burung ini bisa menentramkan dan menenangkan hati dan pikiran, secangkir kopi dan camilan membuat diri untuk tetap tenang sampai kopi tandas sampai tandas tak tersisa.
Begitulah hidup, selalu ada cara untuk menikmatinya. Begitupun seorang bapak yang usianya sekitar 60-an tahun menikmati hari-harinya. Ia adalah seorang penjaga Kamar Mandi. Pak Jay--begitu ia disapa--hari-harinya ia habiskan untuk membersihkan MCK dan sekitarnya. Sebab, rezekinya memang di situ, di mana ia melayani jasa (maaf) membuang hajat orang.
Kita tidak boleh meremehkan jasa orang-orang seperti pak Jay ini. Sebab, saat kita sedang membutuhkan fasilitas kamar mandi (MCK) untuk membuat air kecil atau BaB maka keamanan, kenyamanan dan kebersihan sangat kita butuhkan. Menurut saya, profesi seperti Pak Jay ini membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Sehingga tak banyak orang mau menjalani profesi seperti Pak Jay ini.
Namun ia tidak hanya spaneng, berkutat di antara kebersihan dan duduk menunggu pembayaran dari seseorang yang telah keluar dari bilik kamar mandi. Di sela-sela menjaga kotak infak, ia juga melakukan beberapa aktivitas yang produktif. Yakni, ini menarik, ketika ia merasa jenuh atau bosen menunggu tempat tersebut, ia memanfaatkan dengan membaca buku. Beberapa buku tertumpuk di atas, di dekat tempat kotak infak itu.
Ia adalah pria yang tinggal seorang diri. Ia sebatangkara di sebuah kecil di dekat kamar mandi itu. Meski hidup sendiri, tidak ada sanak saudara, ia tetap ingin bermanfaat bagi orang lain. "Saya ingin menjadi orang yang baik, dan tidak mau dianggap jadi orang lain tidak bermanfaat," ujar Pak Jay. (Maaf gambar pak Jay tidak sempat saya potret).
Dengan kerendahan hati dan keuletannya itu ia ingin yang terbaik dan berguna bagi masyarakat sekitar lingkungannya. Jelas, dari peristiwa Pak Jay ini saya bisa mengambil sari pati kehidupan. Meski usia sudah tidak muda lagi, sudah tidak sekolah lagi, ia tetap menjadi manusia yang berpengetahuan dan berwawasan yang luas. Ia ingin menjadi manusia yang beradab dengan bermanfaat bagi sesama itu.
Dari peristiwa itu pula, membuat saya untuk tergerak ikut urun rembuk, menjadi manusia berkualitas dengan menjamah buku-buku yang ada di rumah maupun di perpustakaan. Pak Jay memang salah satu manusia yang belum beruntung dalam takaran finansial. Namun, ia lebih beruntung dalam asupan pengetahuan-pengetahuan yang ia konsumsi lewat buku.
Karena dengan ia membaca buku, ia sama artinya membuka cakrawala dunia dan mengindahkan dunia. Sebab, buku merupakan alat untuk membuka pintu dunia. Dengan membacanya, Pak Jay membuka dan mendekatkan diri pada peradaban yang terbuka. []
Posting Komentar