Manusia sejak lahir telah memiliki tujuan dan pesan yang ingin disampaikan di dunia. Perkara pesan tersebut nyata atau masih semu itu hanya waktu yang akan menjawab. Manusia memiliki pesan yang tersirat maupun tersurat (tulisan). Oleh karena itu, orang setelahnya akan mendapat hidayah dari orang sebelumnya. Hal itu, layak kita apresiasi menjadi lebih baik, dan menggapai eksistensi yang abadi.
Setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang tentu memiliki muatan Historivasi, histori dan motivasi. Barangkali, Anda pernah mendengar kata-kata bijak dari seorang Ustad dari Bojonegoro, yakni Anwar Zaid. “Mengapa seorang bayi ketika lahir tangannya mengepal?”
Ya, mengepal. Menurutnya, “Seorang anak manusia tersebut memiliki keinginan untuk menguasai dunia.” Tentu dengan kapasitas yang ia miliki, dengan gelar khalifah di hadapan Allah. Manusia memiliki kepemimpinan terhadap apa yang dipimpinnya (bumi). Bagaimana seseorang menyampaikan pesan tersebut sehingga menjadi pesan moral yang layak diaktualisasi dan menjadi idealitas yang abadi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata inspirasi yaitu ilham. Artinya apabila seseorang membaca atau berketemu dengan orang lain. Tentu apa yang ia ketahui dan ia sukai, ia akan terilhami olehnya.
Berdirinya sebuah bangsa tidak lepas akan keberadaan orang-orang besar di dalamnya. Seperti yang dikatakan oleh penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, “Kunci untuk memajukan negara (Indonesia) ada pada manusianya." Sehingga setiap manusia memiliki tanggung jawab yang berat dipundaknya membangun bangsanya ke depan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh para pahlawannya.
Manusia-Manusia Hebat
Manusia-manusia yang telah berhasil menorehkan tinta emasnya dalam hidupnya, kita layak meneladani laka-likunya. Sejarah Indonesia memiliki halaman-halaman tentang tokoh-tokoh dan tradisi keintelektualan, layak kita belajar di halaman-halaman kehidupannya.
Seperti kata Ngainun Naim, penulis buku The Power of Reading “Karena kesuksesan tidak datang begitu saja dalam sejekap. Untuk meraih keberhasilan, dibutuhkan kerja keras, ketabahan, tahan banting dan segenap niai-nilai perjuangan lainnya. Dengan segenap prasyarat tersebut, keberhasilan akan menjadi lebih memiliki makna dan daya tahan lama daripada kesuksesan dari hasil warisan.”
Indonesia memiliki orang-orang besar pada jamannya. Sehingga didiklah anak-anak kita ajarkan sesuai pada jamannya. Lewat sebuah “goresan pena” ini banyak pesan yang ingin saya sampai kepada saya pada khususnya, dan kita semua pada umumnya. Karena sebuah perjuangan dan inspirasi tidak terlepas dari pengalaman empiris kita secara artikulatif. Setiap tokoh yang saya sampaikan ini tentu banyak yang bermuatan positif dan motivasi.
Dari artikel yang ditulis pada 21 September 2013, oleh Rahmat Petuguran, dosen sastra di Unnes (Universitas Negeri Semarang). Indonesia layak mengapresiasi tokoh proklamator ini. Indonesia memiliki teladan yang baik soal membaca. Moh Hatta, sang proklamator, adalah salah satunya. Hatta kerap mendapat sebutan “manusia buku” lantaran kegemarannya yang edan-edanan membaca. Sejak usia 17 tahun ia mulai membelanjakan uangnya untuk beli buku. Tak heran jika di akhir hayatnya ia mewariskan tak kurang dari 10 ribu judul buku.
Bagi Hatta, membaca tak sekadar mencerap. Membaca adalah berkomunikasi dengan pemikiran yang entah dari mana sumbernya. Membaca memungkinkannya berdialog, berdiskusi, berdebat dengan penulis. Baginya membaca adalah keasyikan. Melalui membaca ia merasa bebas, berada di mana.
“I’d volunteer to go to prison, as long as there are books. Because with books I am free,” katanya.
Tidak banyak yang tahu, gara-gara Indonesia, Amerika kalah perang di Vietnam. Siapa yang sangka kekalahan Amerika perang melawan Vietnam, gara-gara “anak bangsa”. Agung Pribadi dalam bukunya Gara-Gara IndONEsia, mengatakan beberapa pemimpin perang Vietnam Vietcong mengatakan membaca pokok-pokok perang gerilya, kenapa ia tidak berpatokan dengan strategi perangnya Mao Tse Tung, seorang ahli perang gerilya?
Menurutnya, iklim di vietnam dan Indonesia sama, yakni tropis, masyrakat dan hutannya pun sama. Oleh karena, pemimpin Vietcong membaca strategi perang gerilya buku karya A. H. Nasution. Nasution merupakan salah satu dari tiga Jenderal Besar Bintang Lima di Indonesia.
Sementara itu, Dahlan Iskan, beliau membuat mobil listrik dengan Ricky Nelson. Barangkali, tidak banyak yang mengenal sosok Ricky Nelson. Beliau adalah pemuda asal Sumantera. Beliau adalah pembuat mobil murah, mobil Sapu Jagat dan Gendis, mobil mirip Lamborgini anak negeri. Pemuda ini sejak muda telah tinggal di Jepang. Di Jepang beliau sudah mempatenkan ratusan bahkan ribuan temuan pembangkit listrik kincir angin dan lainnya. Namun karena kecintaannya dengan Indonesia, beliau akhirnya memutuskan pulang dan tidak kembali untuk membangun tanah kelahirannya.
Padahal, pihak negara Jepang memanggilnya kembali untuk membuat dan mengembangkan temuan-temuannya tersebut dan dibayar yang kiranya Indonesia tidak mampu menggajinya.
Karena sangking cintanya kepada negeri tumpah darahnya, ia tetap tinggal di bumi pertiwi ini. Dan mengembangkan temuannya dengan pemuda-pemudi Nusantara. Bahkan, ia mau “turun gunung” ke pelosok-pelosok desa menebar motivasi dan inspirasi kepada masyarakat.
Hidup penuh dinamika dan lika-liku. Kesengsaraan, ketegaran, kesenangan, kesedihan, beratnya perjuangan, dan keberhasilan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupannya. Sketsa hidup seorang tokoh-tokoh sekaligus guru inspiratif ini menarik kita jadikan teladan dan direfleksikan secara luas bagi kalangan muda karena memberikan deskrisikan tentang bagaimana menjalani hidup dengan semangat perubahan.
Betapa hidup memang penuh warna dan tantangan. Ketegaran dan kerja keras akan mampu menundukkan segala rintangan yang menghadang. Tokoh-tokoh di atas bahkan masih banyak yang lain adalah contoh yang layak untuk di inspirasi dan diteladani. Dan menjadi energi baru untuk perbaikan bangsa Indonesia dan “menjahit” kembali luka lama untuk perubahan yang abadi.[]
Setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang tentu memiliki muatan Historivasi, histori dan motivasi. Barangkali, Anda pernah mendengar kata-kata bijak dari seorang Ustad dari Bojonegoro, yakni Anwar Zaid. “Mengapa seorang bayi ketika lahir tangannya mengepal?”
Ya, mengepal. Menurutnya, “Seorang anak manusia tersebut memiliki keinginan untuk menguasai dunia.” Tentu dengan kapasitas yang ia miliki, dengan gelar khalifah di hadapan Allah. Manusia memiliki kepemimpinan terhadap apa yang dipimpinnya (bumi). Bagaimana seseorang menyampaikan pesan tersebut sehingga menjadi pesan moral yang layak diaktualisasi dan menjadi idealitas yang abadi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata inspirasi yaitu ilham. Artinya apabila seseorang membaca atau berketemu dengan orang lain. Tentu apa yang ia ketahui dan ia sukai, ia akan terilhami olehnya.
Berdirinya sebuah bangsa tidak lepas akan keberadaan orang-orang besar di dalamnya. Seperti yang dikatakan oleh penggagas Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, “Kunci untuk memajukan negara (Indonesia) ada pada manusianya." Sehingga setiap manusia memiliki tanggung jawab yang berat dipundaknya membangun bangsanya ke depan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh para pahlawannya.
Manusia-Manusia Hebat
Manusia-manusia yang telah berhasil menorehkan tinta emasnya dalam hidupnya, kita layak meneladani laka-likunya. Sejarah Indonesia memiliki halaman-halaman tentang tokoh-tokoh dan tradisi keintelektualan, layak kita belajar di halaman-halaman kehidupannya.
Seperti kata Ngainun Naim, penulis buku The Power of Reading “Karena kesuksesan tidak datang begitu saja dalam sejekap. Untuk meraih keberhasilan, dibutuhkan kerja keras, ketabahan, tahan banting dan segenap niai-nilai perjuangan lainnya. Dengan segenap prasyarat tersebut, keberhasilan akan menjadi lebih memiliki makna dan daya tahan lama daripada kesuksesan dari hasil warisan.”
Indonesia memiliki orang-orang besar pada jamannya. Sehingga didiklah anak-anak kita ajarkan sesuai pada jamannya. Lewat sebuah “goresan pena” ini banyak pesan yang ingin saya sampai kepada saya pada khususnya, dan kita semua pada umumnya. Karena sebuah perjuangan dan inspirasi tidak terlepas dari pengalaman empiris kita secara artikulatif. Setiap tokoh yang saya sampaikan ini tentu banyak yang bermuatan positif dan motivasi.
Dari artikel yang ditulis pada 21 September 2013, oleh Rahmat Petuguran, dosen sastra di Unnes (Universitas Negeri Semarang). Indonesia layak mengapresiasi tokoh proklamator ini. Indonesia memiliki teladan yang baik soal membaca. Moh Hatta, sang proklamator, adalah salah satunya. Hatta kerap mendapat sebutan “manusia buku” lantaran kegemarannya yang edan-edanan membaca. Sejak usia 17 tahun ia mulai membelanjakan uangnya untuk beli buku. Tak heran jika di akhir hayatnya ia mewariskan tak kurang dari 10 ribu judul buku.
Bagi Hatta, membaca tak sekadar mencerap. Membaca adalah berkomunikasi dengan pemikiran yang entah dari mana sumbernya. Membaca memungkinkannya berdialog, berdiskusi, berdebat dengan penulis. Baginya membaca adalah keasyikan. Melalui membaca ia merasa bebas, berada di mana.
“I’d volunteer to go to prison, as long as there are books. Because with books I am free,” katanya.
Tidak banyak yang tahu, gara-gara Indonesia, Amerika kalah perang di Vietnam. Siapa yang sangka kekalahan Amerika perang melawan Vietnam, gara-gara “anak bangsa”. Agung Pribadi dalam bukunya Gara-Gara IndONEsia, mengatakan beberapa pemimpin perang Vietnam Vietcong mengatakan membaca pokok-pokok perang gerilya, kenapa ia tidak berpatokan dengan strategi perangnya Mao Tse Tung, seorang ahli perang gerilya?
Menurutnya, iklim di vietnam dan Indonesia sama, yakni tropis, masyrakat dan hutannya pun sama. Oleh karena, pemimpin Vietcong membaca strategi perang gerilya buku karya A. H. Nasution. Nasution merupakan salah satu dari tiga Jenderal Besar Bintang Lima di Indonesia.
Sementara itu, Dahlan Iskan, beliau membuat mobil listrik dengan Ricky Nelson. Barangkali, tidak banyak yang mengenal sosok Ricky Nelson. Beliau adalah pemuda asal Sumantera. Beliau adalah pembuat mobil murah, mobil Sapu Jagat dan Gendis, mobil mirip Lamborgini anak negeri. Pemuda ini sejak muda telah tinggal di Jepang. Di Jepang beliau sudah mempatenkan ratusan bahkan ribuan temuan pembangkit listrik kincir angin dan lainnya. Namun karena kecintaannya dengan Indonesia, beliau akhirnya memutuskan pulang dan tidak kembali untuk membangun tanah kelahirannya.
Padahal, pihak negara Jepang memanggilnya kembali untuk membuat dan mengembangkan temuan-temuannya tersebut dan dibayar yang kiranya Indonesia tidak mampu menggajinya.
Karena sangking cintanya kepada negeri tumpah darahnya, ia tetap tinggal di bumi pertiwi ini. Dan mengembangkan temuannya dengan pemuda-pemudi Nusantara. Bahkan, ia mau “turun gunung” ke pelosok-pelosok desa menebar motivasi dan inspirasi kepada masyarakat.
Hidup penuh dinamika dan lika-liku. Kesengsaraan, ketegaran, kesenangan, kesedihan, beratnya perjuangan, dan keberhasilan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupannya. Sketsa hidup seorang tokoh-tokoh sekaligus guru inspiratif ini menarik kita jadikan teladan dan direfleksikan secara luas bagi kalangan muda karena memberikan deskrisikan tentang bagaimana menjalani hidup dengan semangat perubahan.
Betapa hidup memang penuh warna dan tantangan. Ketegaran dan kerja keras akan mampu menundukkan segala rintangan yang menghadang. Tokoh-tokoh di atas bahkan masih banyak yang lain adalah contoh yang layak untuk di inspirasi dan diteladani. Dan menjadi energi baru untuk perbaikan bangsa Indonesia dan “menjahit” kembali luka lama untuk perubahan yang abadi.[]
namanya jugab hidup, selalu bergerak yang artinya selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Sudah menjadi cirinya
BalasHapusPosting Komentar