Salah satu aktivitas masyarakat nelayan pesisir Prigi saat tidak musim ikan adalah membenahi perahunya. Memperbaiki perahu ini umumnya dilakukan saat padang bulan atau terang bulan. Memang saat terang bulan datang, tidak ada aktivitas melaut bagi masyarakat Prigi. Nah, untuk mengisi aktivitas saat tidak melaut, para nelayan membenahi perahu, yang dirasa perlu ada perbaikan.
Umumnya, memperbaiki perahu ini dilaksanakan pada pagi hari sampai siang atau sore hari. Biasanya waktu pagi hari masih semangat-semangatnya warga bekerja, selain energi warga masih banyak. Di sisi lain, kalau malam jelas nggak akan kelihatan apa yang kurang pada perahu itu. Kala malam sangat tepat untuk berlayar, saat musim ikan, menurut kalender musim ikan warga sekitar.
Sebelum diperbaiki, perahu biasanya berada di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Puluhan perahu yang dimiliki nelayan Prigi terparkir di pelabuhan nasional ini. Mulai perahu slerek (Por Seince), perahu Jonson (perahu khas Prigi), perahu pancing, perahu polokan, perahu jukung. Berbagai macam dan jenis perahu biasa bersandar di pelabuhan nasional yang berdiri pada tahun 2001.
Pagi hari, saya berkesempatan diminta untuk mengantar Pak Pur--cek toko tetangga sebelah--berprofesi sebagai nelayan. Ia rencananya akan memperbaiki (dandan: sebutan lokal) perahunya yang menurutnya mengalami kendalam. Lokasi untuk dandan perahu itu bukan di Pelabuhan Prigi, melainkan di Pancer di Pantai Cengkrong. Karena lokasi pelabuhan tempat bersandarnya perahu dan pancer (tempat memperbaiki perahu cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki), maka saya diminta untuk menjemput waktu sampai di pancer.
Pancer merupakan sungai dekat pantai, yang air/ sungainya bermuara di laut. Yang biasanya air laut dan air darat bercampur di sini. Orang menyebut campuran antara air laut dan air tawar dengan sebutan air payau. Di pancer Cengkrong ini menjadi pilihan utama untuk dandan perahu. Tempat yang dipilih untuk dandan perahu kali ini adalah pancer di pantai Cengkrong. Dipilihnya pancer di Pantai Cengkrong ini adalah tidak terlalu dalamnya pancer itu dan tidak ada ombak yang masuk dalam pancer. Tempat ini bisa dibilang sungai. Sungai dari daerah Desa Karanggandu yang mengalir di laut Cengkrong melewati jembatan Cengkrong, yang terkenal panjang itu.
Pak Pur tidak sendirian memperbaiki perahunya. Di pancer, Cengkrong banyak juga nelayan yang memperbaiki perahunya. Saat itu, Pak Pur tidak langsung memperbaiki perahunya. Ia hanya mecangkarnya yang kemudian mencari waktu yang pas untuk dandan. Ia pulang untuk melengkapi perlengkapan dandan perahu. Jadi kalau memang mau memperbaiki perahu harus dipersiapkan agar tidak bolak-balik pulang.
"Tadi aku lupa gak bawa slenger (penggerak mesin saat pertama kali dihidupkan)," tutur Pak Pur, "Untung pakai mesin besar bisa," tambahnya kepada saya.
Saat dari keluar dari pelabuhan, alat untuk penggerak mesin atau slenger lupa dibawa. Menurutnya ia teringat ketika sudah keluar dari pelabuhan. Itulah pentingnya melengkapi apapun peralatan baik sedang melaut maupun tidak sedang melaut atau sedang memperbaiki perahu. Selain tidak bolak-balik pulang, juga segera selesai dan melaut lagi.
Aktivitas Dandan
Seperti yang saya lihat tadi, banyak aktivitas yang dilakukan oleh nelayan setempat. Aktivitas yang dilakukan itu adalah aktivitas memperbaiki perahu. Perahu yang diperbaiki adalah perahu pancing dan perahu slerek. Mulai dari membenarkan cat yang mulai mengelupas dan mengecat ulang, membenahi kayu-kayu yang sudah rusak dan mesin yang sejak berlayar sudah rewel. Semua aktivitas itu biasa kita jumpai saat padang bulan.
Saat itu ada juga aktivitas bapak-bapak yang sedang mengumpulkan ide untuk tidak sekadar dandan tetapi malah merakit dan membuat perahu dengan ukuran seperti perahu pancing. Ada 5 atau 6 orang yang saling berbagi pengetahuan tentang pembuatan perahu. Perahu--mungkin model slerek--berukuran lebih kecil bila dibanding dengan ukuran lebih kecil bila dibanding dengan ukuran slerek yang sebenarnya.
Aktivitas ini sebagai media refleksi diri dan tukar pengalaman bagi nelayan. Sebab, selama melaut intensitas komunikasi mereka tak sedekat saat dandan perahu. Sebab, meski memiliki visi dan misi yang sama satu nelayan dan nelayan yang lain, tetapi intensitas komunikasi mereka tidak dekat. Mereka bisa tukar informasi tentang ilmu perperahuan atau perkapalan. Mereka juga bisa berbagi tips dan triks untuk menyelesaikan perbaikan perahu supaya cepat selesai.
Dari situ modal sosial juga tertanam. Mereka bisa saling bantu dengan satu sama yang lain. Yang satu bisa membantu ngecat seperti yang saya sampaikan di atas. Atau bisa membantu mendorong perahu supaya sesuai dengan tempat yang diinginkan si empunya perahu.
Dari aktivitas membenahi perahu itulah bisa diambil bahwa selama musim ikan datang masyarakat Prigi dan sekitarnya bisa membantu perekonomian keluarga. Meski seorang nelayan mereka bisa membuktikan bahwa dari ranah perairan pun mereka juga mampu menafkahi anak dan istrinya di rumah. Saat musim dandan seperti ini, mereka tetap bekerja sama dengan memasakkan dan membawakan di pancer, pantai Cengkrong atau pancer yang lain.
Kita bisa melihat bahwa saat padang bulan seperti ini aktivitas di pancer-pancer pantai sangat ramai. Keramaian ini karena banyak nelayan yang melakukan perbaikan perahu ataupun dandan yang lain tentang perkapalan. []
Umumnya, memperbaiki perahu ini dilaksanakan pada pagi hari sampai siang atau sore hari. Biasanya waktu pagi hari masih semangat-semangatnya warga bekerja, selain energi warga masih banyak. Di sisi lain, kalau malam jelas nggak akan kelihatan apa yang kurang pada perahu itu. Kala malam sangat tepat untuk berlayar, saat musim ikan, menurut kalender musim ikan warga sekitar.
Sebelum diperbaiki, perahu biasanya berada di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. Puluhan perahu yang dimiliki nelayan Prigi terparkir di pelabuhan nasional ini. Mulai perahu slerek (Por Seince), perahu Jonson (perahu khas Prigi), perahu pancing, perahu polokan, perahu jukung. Berbagai macam dan jenis perahu biasa bersandar di pelabuhan nasional yang berdiri pada tahun 2001.
Pagi hari, saya berkesempatan diminta untuk mengantar Pak Pur--cek toko tetangga sebelah--berprofesi sebagai nelayan. Ia rencananya akan memperbaiki (dandan: sebutan lokal) perahunya yang menurutnya mengalami kendalam. Lokasi untuk dandan perahu itu bukan di Pelabuhan Prigi, melainkan di Pancer di Pantai Cengkrong. Karena lokasi pelabuhan tempat bersandarnya perahu dan pancer (tempat memperbaiki perahu cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki), maka saya diminta untuk menjemput waktu sampai di pancer.
Pancer merupakan sungai dekat pantai, yang air/ sungainya bermuara di laut. Yang biasanya air laut dan air darat bercampur di sini. Orang menyebut campuran antara air laut dan air tawar dengan sebutan air payau. Di pancer Cengkrong ini menjadi pilihan utama untuk dandan perahu. Tempat yang dipilih untuk dandan perahu kali ini adalah pancer di pantai Cengkrong. Dipilihnya pancer di Pantai Cengkrong ini adalah tidak terlalu dalamnya pancer itu dan tidak ada ombak yang masuk dalam pancer. Tempat ini bisa dibilang sungai. Sungai dari daerah Desa Karanggandu yang mengalir di laut Cengkrong melewati jembatan Cengkrong, yang terkenal panjang itu.
Pak Pur tidak sendirian memperbaiki perahunya. Di pancer, Cengkrong banyak juga nelayan yang memperbaiki perahunya. Saat itu, Pak Pur tidak langsung memperbaiki perahunya. Ia hanya mecangkarnya yang kemudian mencari waktu yang pas untuk dandan. Ia pulang untuk melengkapi perlengkapan dandan perahu. Jadi kalau memang mau memperbaiki perahu harus dipersiapkan agar tidak bolak-balik pulang.
"Tadi aku lupa gak bawa slenger (penggerak mesin saat pertama kali dihidupkan)," tutur Pak Pur, "Untung pakai mesin besar bisa," tambahnya kepada saya.
Saat dari keluar dari pelabuhan, alat untuk penggerak mesin atau slenger lupa dibawa. Menurutnya ia teringat ketika sudah keluar dari pelabuhan. Itulah pentingnya melengkapi apapun peralatan baik sedang melaut maupun tidak sedang melaut atau sedang memperbaiki perahu. Selain tidak bolak-balik pulang, juga segera selesai dan melaut lagi.
Aktivitas Dandan
Seperti yang saya lihat tadi, banyak aktivitas yang dilakukan oleh nelayan setempat. Aktivitas yang dilakukan itu adalah aktivitas memperbaiki perahu. Perahu yang diperbaiki adalah perahu pancing dan perahu slerek. Mulai dari membenarkan cat yang mulai mengelupas dan mengecat ulang, membenahi kayu-kayu yang sudah rusak dan mesin yang sejak berlayar sudah rewel. Semua aktivitas itu biasa kita jumpai saat padang bulan.
Saat itu ada juga aktivitas bapak-bapak yang sedang mengumpulkan ide untuk tidak sekadar dandan tetapi malah merakit dan membuat perahu dengan ukuran seperti perahu pancing. Ada 5 atau 6 orang yang saling berbagi pengetahuan tentang pembuatan perahu. Perahu--mungkin model slerek--berukuran lebih kecil bila dibanding dengan ukuran lebih kecil bila dibanding dengan ukuran slerek yang sebenarnya.
Aktivitas ini sebagai media refleksi diri dan tukar pengalaman bagi nelayan. Sebab, selama melaut intensitas komunikasi mereka tak sedekat saat dandan perahu. Sebab, meski memiliki visi dan misi yang sama satu nelayan dan nelayan yang lain, tetapi intensitas komunikasi mereka tidak dekat. Mereka bisa tukar informasi tentang ilmu perperahuan atau perkapalan. Mereka juga bisa berbagi tips dan triks untuk menyelesaikan perbaikan perahu supaya cepat selesai.
Dari situ modal sosial juga tertanam. Mereka bisa saling bantu dengan satu sama yang lain. Yang satu bisa membantu ngecat seperti yang saya sampaikan di atas. Atau bisa membantu mendorong perahu supaya sesuai dengan tempat yang diinginkan si empunya perahu.
Dari aktivitas membenahi perahu itulah bisa diambil bahwa selama musim ikan datang masyarakat Prigi dan sekitarnya bisa membantu perekonomian keluarga. Meski seorang nelayan mereka bisa membuktikan bahwa dari ranah perairan pun mereka juga mampu menafkahi anak dan istrinya di rumah. Saat musim dandan seperti ini, mereka tetap bekerja sama dengan memasakkan dan membawakan di pancer, pantai Cengkrong atau pancer yang lain.
Kita bisa melihat bahwa saat padang bulan seperti ini aktivitas di pancer-pancer pantai sangat ramai. Keramaian ini karena banyak nelayan yang melakukan perbaikan perahu ataupun dandan yang lain tentang perkapalan. []
Walaupun saat padang bulan tapi aktivitasnya dilakukan pagi sampai sore saja ya mas. Klo malam nggak kelihatan :D
BalasHapusSudah tradisinya begitu jadi seperti sudah dijadwalkan pemeliharaan perahu2nya
He-he-he... Betul, Mbak... Kalau malam pas Padang Bulan dibuat acara kumpul sama keluarga...
BalasHapusTapi ada beberapa nelayan yang memanfaatkan malam dengan memancing... Terima kasih Mbak sudah mampir...
Posting Komentar