Membaca buku ini seperti mendengar tutur guru besar di hadapannya secara langsung. Buku ini mempresentasikan detail tentang guru yang patut dikenang dan berkesan para siswa-siwanya. Menjadi guru tidak sekadar manusia cerita di depan kelas. Menjadi guru harus bisa meneladani, menginspirasi dengan beraneka cara mendidik supaya mendapatkan hati di sisi peserta didiknya.
Buku tentang (menjadi) guru yang baik sebenarnya sudah cukup banyak. Namun sepanjang saya baca kebanyakan buku tersebut sebagian besar berkisah tentang aspek pembelajaran dan sangat jarang yang mengulas tentang metode pembelajaran yang menginspirasi. Bukan apa dan bagaimana menjadi guru yang inspiratif? Padahal, guru inspiratif memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan siswa.
Terminologi guru inspiratif, pada pengamatan dalam buku tersebut, diperkenalkan dan dipopulerkan secara luas oleh Rhenald khasali di pertengahan tahun 2007 dalam tulisan di harian Kompas, Edisi 29 Agustus 2002. (Hal. iv). Sebenarnya, banyak sekali guru-guru yang telah menginspirasi kita, tetapi ia tak sepopuler sekarang.
Guru adalah sosok yang rela mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengajar dan mendidik siswa. Sementara sebagian besar penghargaan dari sisi material, misalnya, sangat jauh dari harapan. Saya kira julukan “Pahlawan tanpa tanda jasa” tepat disematkan untuk guru-guru kita.
Sering kita mendengar pertanyaan bagaimana cara menjadi sosok guru yang dihormati? Jawabannya mudah: pasang muka sangar, persiapkan suara nyaring di kelas, kemudian ancam nilai buruk kepada siswa jika mereka tak menghormati Anda. Tentu, murid-murid akan segan dan mengikuti apa yang Anda katakan.
Lantas, apakah mereka, para peserta didik itu akan bener-bener menghormati? Ya. Dengan ikhlas? Belum tentu, dan saya yakin tidak. Bahkan bisa menjadi ancaman bagi para peserta didik. Ia merasa tidak nyaman dan senang diajar oleh guru tersebut, bisa jadi ogah-ogahan atau apatis dalam belajarnya.
Sejenak, mari kita letakkan antologi kitab administratif perangkat pembelajaran. Baik itu rencana pembelajaran (RPP), silabus, program semester (promes), maupun program tahunan (prota). Ketahuilah, sebagai pendidik, di luar ranah akademik ada area yang sifatnya universal, yakni suatu tempat pertalian relasi antara manusia dan manusia. Ingat, men is a social beings (Aristoteles).
Guru kurikulum adalah sosok guru yang sangat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum(hal.71). Namun celakanya, kini masih banyak tersubornasi oleh “guru kurikulum”, guru tipe ini, “guru yang habitual thinking”. Guru yang mengajar hanya untuk tuntutan kurikulum, lalu: selesai. Ia merasa berdosa apabila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum.
Menurut Rhenald Khasali, "99 persen guru yang ia ketemui sebagian besar adalah guru kurikulum. Berarti hanya ada satu persen saja guru inspiratif yang bukan hanya mengejar kurikulum. Melainkan guru hadap masalah. Guru yang mengetahui kesulitan-kesulitan dalam proses belajar mengajar (PBM) para siswanya kemudian ia mencarikan solusi yang begitu kreatif dan inovasi dengan pemikirannya.
“Guru yang bermutu memungkinkan siswanya untuk tidak hanya dapat mencapai standar nilai akademik secara nasional, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar selama hidup mereka.” Elaina B. Johnson.
Guru inspiratif bukanlah guru yang sekadar punya orientasi kurikulum, tetapi juga memiliki orientasi yang lebih dalam mengembangkan potensi dan kemampuan para siswanya. Guru inspiratif memiliki pandangan yang lebih komprehensif. Mereka mengajak murid untuk berfikir kreatif (maximum thinking), luwes, serta out box.
Kalau kita tarik di dunia kesehatan, sebagai bahan pembandingan. Jika seorang dokter akan mengobati harus melakukan diagnosis lebih dahulu sebelum melakukan pengobatan kepada pasiennya. Demikian juga guru, seyogjanya seorang guru juga melakukan diagnosis terhadap para siswanya. Karena siswa adalah makhluk yang rumit dengan karakteristik masing-masing. Jika ada sepuluh siswa dalam satu kelas, berarti ada sepuluh makhluk dengan tingkat keragaman siswa tersebut.
Menurut Gardner. “Tidak sedikit tokoh berprestasi yang hanya mengembangkan satu atau dua jenis kecerdasannya. Tentu ia akan mengkombinasikan beberapa kecerdasannya. Dan kenakalan-kenakalan menjadi semacam seruan minta tolong sekaligus sebagai indikator diagnoti." Sepadan dengan apa yang dikatakan Gardner, The Liang Gie menyebutkan “Karakteristik atau ciri-ciri siswa yang unggul ada tiga, yakni; gairah belajar yang mantap, semangat yang menyala dalam menuntut ilmu, dan rajin mengusahakan efisensi sepanjang waktu (The Liang Gie, 2002).
Baiklah, kita kembali pada guru inspiratif tadi. Guru inspiratif selalu membangkitkan motivasi belajar siswa. Sebab, muara inspirasi adalah bangkitnya motivasi. Dan motivasi, tentu akan mendorong siswa untuk semakin getol belajar. Jadi, jangan pernah segan menyisipkan kutipan-kutipan inspiratif, jangan enggan menyelipkan kalimat-kalimat motivasional setiap pembelajaran.
Menurut kata pepatah. “Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, maka--guru inspiratif akan menghasilkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan--aneka kebiasaan yang lama”. “Semakin banyak jumlah guru inspiratif--kemampuan untuk keluar dari krisispun lebih cepat. Hal ini disebabkan karena inspiratif tidak hanya menekankan kepada validitas internal yang bertumpu pada kurikulum, tetapi juga bagaimana kontekstualisasi dalam validitas eksternal yang berupa beraneka sikap dan pandangan serta jiwa yang kukuh dalam memandang dan menghadapi setiap persoalan dalam kehidupan yang komplek (Hal. 72). Guru inspiratif adalah guru yang mampu melahirkan siswa yang tangguh dan siap menghadapi aneka tantangan dan perubahan yang hebat sekalipun.
Sayangnya, eksistensi guru inspiraif tidak mendapat apresiasi di sistem sekolah, hanya guru kurikulum yang mendapat tempat di sekolah dewasa ini. Kita, dalam hidup, memang senantiasa dihadapkan pada berbagai opsi. Seperti halnya dua opsi menjadi seorang guru yang dihormati. Pertama, karena ditakuti. Kedua, karena dicintai. Pilih mana? “Tak seorang pun pernah dihormati karena apa yang dia terima, kehormatan adalah penghargaan bagi orang yang telah memberikan sesuatu yang berarti,” begitu Calvin Coolidge pernah berkata.
Judul : Menjadi Guru Inspiratif, Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa
Penulis : Ngainun Naim
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogjakarta
Edisi : Cetakan IV, September 2013
Tebel : xvi+289 Halaman
ISBN : 9786028300957
Peresensi : Muhammad Choirur Rokhim*
Buku tentang (menjadi) guru yang baik sebenarnya sudah cukup banyak. Namun sepanjang saya baca kebanyakan buku tersebut sebagian besar berkisah tentang aspek pembelajaran dan sangat jarang yang mengulas tentang metode pembelajaran yang menginspirasi. Bukan apa dan bagaimana menjadi guru yang inspiratif? Padahal, guru inspiratif memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan siswa.
Terminologi guru inspiratif, pada pengamatan dalam buku tersebut, diperkenalkan dan dipopulerkan secara luas oleh Rhenald khasali di pertengahan tahun 2007 dalam tulisan di harian Kompas, Edisi 29 Agustus 2002. (Hal. iv). Sebenarnya, banyak sekali guru-guru yang telah menginspirasi kita, tetapi ia tak sepopuler sekarang.
Guru adalah sosok yang rela mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengajar dan mendidik siswa. Sementara sebagian besar penghargaan dari sisi material, misalnya, sangat jauh dari harapan. Saya kira julukan “Pahlawan tanpa tanda jasa” tepat disematkan untuk guru-guru kita.
Sering kita mendengar pertanyaan bagaimana cara menjadi sosok guru yang dihormati? Jawabannya mudah: pasang muka sangar, persiapkan suara nyaring di kelas, kemudian ancam nilai buruk kepada siswa jika mereka tak menghormati Anda. Tentu, murid-murid akan segan dan mengikuti apa yang Anda katakan.
Lantas, apakah mereka, para peserta didik itu akan bener-bener menghormati? Ya. Dengan ikhlas? Belum tentu, dan saya yakin tidak. Bahkan bisa menjadi ancaman bagi para peserta didik. Ia merasa tidak nyaman dan senang diajar oleh guru tersebut, bisa jadi ogah-ogahan atau apatis dalam belajarnya.
Sejenak, mari kita letakkan antologi kitab administratif perangkat pembelajaran. Baik itu rencana pembelajaran (RPP), silabus, program semester (promes), maupun program tahunan (prota). Ketahuilah, sebagai pendidik, di luar ranah akademik ada area yang sifatnya universal, yakni suatu tempat pertalian relasi antara manusia dan manusia. Ingat, men is a social beings (Aristoteles).
Guru kurikulum adalah sosok guru yang sangat patuh kepada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransfer semua isi yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum(hal.71). Namun celakanya, kini masih banyak tersubornasi oleh “guru kurikulum”, guru tipe ini, “guru yang habitual thinking”. Guru yang mengajar hanya untuk tuntutan kurikulum, lalu: selesai. Ia merasa berdosa apabila tidak bisa mentransfer semua isi buku yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum.
Menurut Rhenald Khasali, "99 persen guru yang ia ketemui sebagian besar adalah guru kurikulum. Berarti hanya ada satu persen saja guru inspiratif yang bukan hanya mengejar kurikulum. Melainkan guru hadap masalah. Guru yang mengetahui kesulitan-kesulitan dalam proses belajar mengajar (PBM) para siswanya kemudian ia mencarikan solusi yang begitu kreatif dan inovasi dengan pemikirannya.
“Guru yang bermutu memungkinkan siswanya untuk tidak hanya dapat mencapai standar nilai akademik secara nasional, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar selama hidup mereka.” Elaina B. Johnson.
Guru inspiratif bukanlah guru yang sekadar punya orientasi kurikulum, tetapi juga memiliki orientasi yang lebih dalam mengembangkan potensi dan kemampuan para siswanya. Guru inspiratif memiliki pandangan yang lebih komprehensif. Mereka mengajak murid untuk berfikir kreatif (maximum thinking), luwes, serta out box.
Kalau kita tarik di dunia kesehatan, sebagai bahan pembandingan. Jika seorang dokter akan mengobati harus melakukan diagnosis lebih dahulu sebelum melakukan pengobatan kepada pasiennya. Demikian juga guru, seyogjanya seorang guru juga melakukan diagnosis terhadap para siswanya. Karena siswa adalah makhluk yang rumit dengan karakteristik masing-masing. Jika ada sepuluh siswa dalam satu kelas, berarti ada sepuluh makhluk dengan tingkat keragaman siswa tersebut.
Menurut Gardner. “Tidak sedikit tokoh berprestasi yang hanya mengembangkan satu atau dua jenis kecerdasannya. Tentu ia akan mengkombinasikan beberapa kecerdasannya. Dan kenakalan-kenakalan menjadi semacam seruan minta tolong sekaligus sebagai indikator diagnoti." Sepadan dengan apa yang dikatakan Gardner, The Liang Gie menyebutkan “Karakteristik atau ciri-ciri siswa yang unggul ada tiga, yakni; gairah belajar yang mantap, semangat yang menyala dalam menuntut ilmu, dan rajin mengusahakan efisensi sepanjang waktu (The Liang Gie, 2002).
Baiklah, kita kembali pada guru inspiratif tadi. Guru inspiratif selalu membangkitkan motivasi belajar siswa. Sebab, muara inspirasi adalah bangkitnya motivasi. Dan motivasi, tentu akan mendorong siswa untuk semakin getol belajar. Jadi, jangan pernah segan menyisipkan kutipan-kutipan inspiratif, jangan enggan menyelipkan kalimat-kalimat motivasional setiap pembelajaran.
Menurut kata pepatah. “Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, maka--guru inspiratif akan menghasilkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan--aneka kebiasaan yang lama”. “Semakin banyak jumlah guru inspiratif--kemampuan untuk keluar dari krisispun lebih cepat. Hal ini disebabkan karena inspiratif tidak hanya menekankan kepada validitas internal yang bertumpu pada kurikulum, tetapi juga bagaimana kontekstualisasi dalam validitas eksternal yang berupa beraneka sikap dan pandangan serta jiwa yang kukuh dalam memandang dan menghadapi setiap persoalan dalam kehidupan yang komplek (Hal. 72). Guru inspiratif adalah guru yang mampu melahirkan siswa yang tangguh dan siap menghadapi aneka tantangan dan perubahan yang hebat sekalipun.
Sayangnya, eksistensi guru inspiraif tidak mendapat apresiasi di sistem sekolah, hanya guru kurikulum yang mendapat tempat di sekolah dewasa ini. Kita, dalam hidup, memang senantiasa dihadapkan pada berbagai opsi. Seperti halnya dua opsi menjadi seorang guru yang dihormati. Pertama, karena ditakuti. Kedua, karena dicintai. Pilih mana? “Tak seorang pun pernah dihormati karena apa yang dia terima, kehormatan adalah penghargaan bagi orang yang telah memberikan sesuatu yang berarti,” begitu Calvin Coolidge pernah berkata.
Judul : Menjadi Guru Inspiratif, Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa
Penulis : Ngainun Naim
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogjakarta
Edisi : Cetakan IV, September 2013
Tebel : xvi+289 Halaman
ISBN : 9786028300957
Peresensi : Muhammad Choirur Rokhim*
Apa yang Mas penulis tulis sama seperti pesan dosen-dosen saya 😂 "Guru yang baik adalah yang menginspirasi" 😊
BalasHapusIya mbak. Dosen dan guru saya juga bilang guru yang baik adalah guru yang menginspirasi, bukan guru yang berlagak sok keras. Salam kenal mbak. Terima kasih atas kunjungan...
BalasHapusKurikulum 13 sebenarnya juga menghendaki guru tidak mjd guru kurikulum,
BalasHapusttp guru inspiratif, kreatif, inovatif, menyenangkan, dan sebagainya. Tetapi memang melalui pelatihan 2 - 5 hari tak semudah itu membalik kebiasaan seorang guru.
Iya bun. Terlepas dari apapun itu kurikulum yang dipakai, ya harusnya guru juga harus menjadi guru yang inspiratif dari perspektif lain... hehehe
BalasHapusTerima kasih tanggapannya bu...
Betul mas, setuju ...
BalasHapussama2 mas
Iya bu. Sama-sama belajar dan menginspirasi. Terima kasih banyak bu...
BalasHapusPosting Komentar