Pondok pesantren Qomarul Hidayah (PPQH) II, Ahad (19/11) kemarin, melangsungkan acara bincang santai. Saya berkesempatan hadir mengikuti bincang santai bareng Rijal Mumazziq Z, penulis buku Kiai Kantong Bolong; refleksi kisah-kisah kepemimpinan bangsa dan Surabaya: Kota Pahlawan Santri dan Misbahus Surur, dosen UIN Malang. Kegiatan yang diadakan di Aula PPQH II Tugu, Trenggalek ini menarik perhatian kawula muda, santri pondok pesantren tersebut, Banom NU sekaligus para pemerhati sejarah lainnya.
Dengan tampilan khas santri, Rijal Mumazziq Z. bercerita seputar perjuangan santri dan Kiai NU melawan tentara Inggris di Surabaya. Sementara pada acara bincang santai itu mengusung tema Nasionalisme Relijius Kaum Santri, Meneguhkan Kecintaan Kepada NKRI. Gus Rijal--sapaan akrabnya--memakai atasan kemeja merah menyala, bawahan sarung putih serta kopiah hitam mengingatkan kita pada nasionalisme dan semangat perjuangan santri di Medan perang melawan tentara sekutu.
Kopiah, songkok atau peci sebenarnya simbol kebangsaan bukan keagamaan. Oleh karena itu, apabila rakyat Indonesia memakai songkok, kopiah atau peci itu adalah cerminan atau simbol kecintaan terhadap bangsa dan negara ini. Kita tahu para founding father telah lama memakai songkok sebagai simbol jati diri bangsa.
Sementara sarung sendiri tidak bisa jauh dari santri. Pagi, siang, sore dan malan, sarung menjadi ciri khas seorang santri. Ada sebuah guyonan khas santri, apabila seorang santri tidak memakai sarung maka santrinya belum kaffah. Kegunaan sarung sangat dinamis dan fleksibel. Selain sebagai atribut shalat. Meski tidak ada anjuran dari Nabi Muhammad SAW., beribadah memakai sarung, sarung telah menjadi kebudayaan khas santri.
Setelah adanya fatwa Resolusi Jihad dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 itu para santri dan warga Surabaya terbakar semangat juang melawan tentara sekutu. Kemudian para kiai dan para santri membentuk pasukan fisabilillah yang dipimpin oleh KH Maskur. Dua minggu setelah Resolusi Jihad tersebut terjadilah pertempuran 10 November 1945.
"Jadi jangan dikira yang bertempur melawan tentara Inggris berpakaian doreng seperti di film Rambo. Tapi (yang bertempur itu) mereka yang memakai sarung dan kopiah, dengan senjata seadanya itu adalah santri," ujar Gus Rijal.
Dengan selingan humor khas santri, Gus Rijal mengatakan, para kiai dan santri semangat menggelegar, dan darahnya yang mendidih menuju kota Surabaya.
Seperti yang diceritakan oleh Gus Rijal sebagai Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN)--sapaan akrabnya--para santri Jawa Timur berbondong-bondong menuju Kota Surabaya bertempur melawan tentara Inggris. Bagi santri sarung dan Kopiah ibarat benda pusaka yang pantang untuk ditinggalkan. Selain sarung dan kopiah senjata yang digunakan adalah bambu runcing. Dengan alat seadanya itu para santri dan warga Surabaya melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yang mencoba menjajah kembali Indonesia ini.
Di sela-sela menceritakan tentang bagaimana para kiai dan santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tangan tentara Inggris, Gus Rijal menyusupi joke-joke khas bahwa dahulu santri tadzim kepada kiainya. Kiai bilang mundur dalam medang perang adalah haram hukumnya. Maju adalah harga mati. Kemudian para santri mulai terdesak. Maka jalan yang dilakukan untuk menghormati kiainya adalah santri mengambil tindakan berjalan menyamping atau berjalan serong. Cerita ini disambut tawa oleh para santri di PP Qomarul Hidayah.
Sementara itu, Misbahus Surur memaparkan tentang kebhinekaan dan sifat toleransi yang menjadi karakter masyarakat Nusantara sejak Islam datang. Oleh karena Islam sekarang disisipi Islam garis keras, menampilkan wajah yang tidak toleran terhadap sesama. Itu tidak menggambarkan Islam yang baik.
Menutup bincang santai itu Gus Rijal mengatakan sebuah rumah sederhana bernama Indonesia lebih nyaman daripada sebuah nama yang lebih mewah bernama khilafah yang masih angan-angan.
Dengan tampilan khas santri, Rijal Mumazziq Z. bercerita seputar perjuangan santri dan Kiai NU melawan tentara Inggris di Surabaya. Sementara pada acara bincang santai itu mengusung tema Nasionalisme Relijius Kaum Santri, Meneguhkan Kecintaan Kepada NKRI. Gus Rijal--sapaan akrabnya--memakai atasan kemeja merah menyala, bawahan sarung putih serta kopiah hitam mengingatkan kita pada nasionalisme dan semangat perjuangan santri di Medan perang melawan tentara sekutu.
Kopiah, songkok atau peci sebenarnya simbol kebangsaan bukan keagamaan. Oleh karena itu, apabila rakyat Indonesia memakai songkok, kopiah atau peci itu adalah cerminan atau simbol kecintaan terhadap bangsa dan negara ini. Kita tahu para founding father telah lama memakai songkok sebagai simbol jati diri bangsa.
Sementara sarung sendiri tidak bisa jauh dari santri. Pagi, siang, sore dan malan, sarung menjadi ciri khas seorang santri. Ada sebuah guyonan khas santri, apabila seorang santri tidak memakai sarung maka santrinya belum kaffah. Kegunaan sarung sangat dinamis dan fleksibel. Selain sebagai atribut shalat. Meski tidak ada anjuran dari Nabi Muhammad SAW., beribadah memakai sarung, sarung telah menjadi kebudayaan khas santri.
Setelah adanya fatwa Resolusi Jihad dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 itu para santri dan warga Surabaya terbakar semangat juang melawan tentara sekutu. Kemudian para kiai dan para santri membentuk pasukan fisabilillah yang dipimpin oleh KH Maskur. Dua minggu setelah Resolusi Jihad tersebut terjadilah pertempuran 10 November 1945.
"Jadi jangan dikira yang bertempur melawan tentara Inggris berpakaian doreng seperti di film Rambo. Tapi (yang bertempur itu) mereka yang memakai sarung dan kopiah, dengan senjata seadanya itu adalah santri," ujar Gus Rijal.
Dengan selingan humor khas santri, Gus Rijal mengatakan, para kiai dan santri semangat menggelegar, dan darahnya yang mendidih menuju kota Surabaya.
Seperti yang diceritakan oleh Gus Rijal sebagai Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN)--sapaan akrabnya--para santri Jawa Timur berbondong-bondong menuju Kota Surabaya bertempur melawan tentara Inggris. Bagi santri sarung dan Kopiah ibarat benda pusaka yang pantang untuk ditinggalkan. Selain sarung dan kopiah senjata yang digunakan adalah bambu runcing. Dengan alat seadanya itu para santri dan warga Surabaya melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yang mencoba menjajah kembali Indonesia ini.
Di sela-sela menceritakan tentang bagaimana para kiai dan santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tangan tentara Inggris, Gus Rijal menyusupi joke-joke khas bahwa dahulu santri tadzim kepada kiainya. Kiai bilang mundur dalam medang perang adalah haram hukumnya. Maju adalah harga mati. Kemudian para santri mulai terdesak. Maka jalan yang dilakukan untuk menghormati kiainya adalah santri mengambil tindakan berjalan menyamping atau berjalan serong. Cerita ini disambut tawa oleh para santri di PP Qomarul Hidayah.
Sementara itu, Misbahus Surur memaparkan tentang kebhinekaan dan sifat toleransi yang menjadi karakter masyarakat Nusantara sejak Islam datang. Oleh karena Islam sekarang disisipi Islam garis keras, menampilkan wajah yang tidak toleran terhadap sesama. Itu tidak menggambarkan Islam yang baik.
Menutup bincang santai itu Gus Rijal mengatakan sebuah rumah sederhana bernama Indonesia lebih nyaman daripada sebuah nama yang lebih mewah bernama khilafah yang masih angan-angan.
Posting Komentar