Sekali lagi, buku yang dikirim oleh Satria Dharma dengan judul A Full Year of Literacy merupakan sebuah perjalanan literasi yang mulai bergeliat. Sejak dicanangkan oleh Bu Risma, Walikota Surabaya, pada 2 Mei 2014 lalu merupakan tantangan tersendiri bagi Surabaya khususnya, dan bagi Indonesia secara umum. Sejak Surabaya mendeklarasikan dirinya sebagai Kota Literasi pertama yang ada di Indonesia. Tantangan besar sedang dipangku oleh Surabaya. Oleh karena itu, Satria Dharma berkesempatan untuk menandai seberapa besar progres, perkembangan serta geliat setiap kegiatan literasi ini.
Buku yang ditulis oleh salah satu penggagas IGI (Ikatan Guru Indonesia) ini banyak mengupas tentang, pendidikan serta literasi di berbagai tempat. Menurutnya, literasi adalah instrumen bagi warga untuk berproses menjadi sebuah bangsa yang berpengetahuan dan berperadaban. Oleh karena itu, banyak sekali tantangan ke depan yang akan dihadapi oleh bangsa kita, mengingat tradisi bangsa kita lebih dominan budaya oral serta budaya tonton yang semakin menggila. Sehingga, sejak tahun 2014 kemarin oleh Pak Satria Dharma ditandai sebagai tantangan tersendiri. Untuk itu, buku yang diterbitkan untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada pembaca khususnya, supaya ikut menandai sudah sampai mana dampak dari gelombang literasi tersebut.
Dalam kata pengantarnya beliau menuliskan, bahwa sejak tahun sebelumnya kesadaran literasi masyarakat sudah bangkit sehingga saya beri—sebelum buku ini—judul "The Rise Of Literacy". Lebih lanjut, beliau telah memperkirakan akan datangnya gelombang pemahaman masyarakat terhadap pentingnya literasi.
Tetapi yang lebih penting lagi jika pemahaman tersebut juga dimiliki pada tataran pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, untuk memberikan perhatian yang besar pada budaya literasi (membaca dan menulis) kepada semua lapisan, yang memiliki porsi ini adalah para siswa maupun mahasiswa. Satria Dharma pada halaman 7 dalam bukunya tersebut menilai, "penyebab utama dari rendahnya budaya literasi bangsa kita adalah rendahnya pemahaman para pemimpin kita terhadap pentingnya budaya membaca. Titik. Titik?
Apa betul demikian? Jika kita runut ke belakang, flash back sedikit tentang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sudah jamak bagi kita semua. Kita objektif saja dengan kebijakan yang dicetuskan oleh pemerintahan. Semua kebijakannya tidak ada yang menyinggung tentang pentingnya membangun budaya literasi? 'Apan' ganti pemerintah ganti pula kebijakan. Dan tak ada lagi yang menyentuh pada sub bab literasi. "Yang jelas tidak ada satu pun di antara para menteri pendidikan dan kepala daerah tersebut yang benar-benar melakukan kebijakan penting dan mendasar untuk mengatasi rendahnya budaya baca bangsa. Titik." Ujaran ini semacam sentimentil. Sekali lagi, Pak Satria Dharma menegaskan bahwa urusan budaya literasi, membaca dan menulis, jika siswa sudah bersekolah, budaya literasi sudah dan akan bertumbuh dengan sendirinya. Betulkan demikian? Betul atau tidaknya, kita harus obyektif saja dengan setiap peraturan kebijakan yang setiap tahun ganti-ganti tersebut. Semua tidak ada yang menyinggung tentang babakan literasi, dan itu fakta.
Padahal keterampilan literasi, sekali lagi membaca adalah komponen paling penting dalam berbahasa. Semakin tinggi keterampilan siswa dalam membaca, semakin besar kemampuannya untuk berkembang dalam bidang-bidang lain. Hal tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh ilmuwan Internasional. Glenn Doman dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read (1991:19), “... maka sangat penting anak kita memiliki kemampuan untuk membaca yang memadai bagi kebutuhannya pada masa depannya. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik.” Seharusnya kita sadar, membaca adalah “jantung(nya)” pendidikan. Begitupun juga menulis. Keterampilan menulis juga akan mengantarkan keberhasilan seorang pada tangga keberhasilan di lingkungan sekolah maupun di lingkungan sosial.
Untuk itu pemahaman masyarakat terhadap pentingnya memiliki budaya literasi perlu ditekankan. Melalui buku A Full Year of Literacy ini Satria Dharma menganjak para masyarakat membuka pemahaman, pengertian tentang penting berliterasi mulai dari tataran masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan perguruan tinggi, hingga tataran yang paling tinggi, yakni pemerintahan, supaya memperhatikan, bahwa ukuran standard keberhasilan sebuah negara adalah memiliki budaya literasi. Membaca menjadi sebuah tantangan yang tidak biasa-biasa saja. Memiliki tradisi membaca menjadi masalah urgent yang perlu menjadi perhatian utama dari semua lapisan. Karena, sekali lagi, membaca adalah perintah pertama yang di turunkan oleh Tuhan untuk para umatnya di dunia.
Buku yang ditulis secara sederhana tetapi tidak kehilangan kerenyahannya ini sangat pas lagi cocok, jika diberikan kepada para masyarakat luas. Karena beberapa alasan itu, Satria Dharma menerbitkan buku setiap tahun untuk di bagi-bagikan. Seperti yang sudah saya katakan di atas. Buku yang sudah ada di tangan para pembaca yang budiman ini, sebagai penanda atas tantangan-tantangan atas gelombang literasi, sebagaimana tantangan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang telah dicanangkannya.
Selama tahun 2015 lalu, Satria Dharma dengan tekun merekam dan menandai semua kegiatan maupun perkembangan literasi. Dia sangat yakin, bahwa literasi semakin ke depan semakin menampakkan hasil positif. Akan semakin banyak pihak yang peduli terhadap pentingnya berbudaya membaca sekalipun menulis. Dan, akhirnya, bukan hisapan jempol belaka, seperti yang ditulis di cover belakang bukunya, Satria Dharma bersama pihak-pihak yang terlibat, termasuk masyarakat, berkat pemahaman dari Mendikbud dan para dirjennya tentang pentingnya budaya baca ini, literasi mendapat porsi yang sangat besar dalam kebijakan Kemendikbud pada era ini. Ini adalah momen turunnya menara gading ke dunia nyata. Mari kita tandai tantangan literasi dan ikut menyukseskan semua kegiatan yang diterapakan oleh pemerintah, seperti membaca 15 menit setiap hari, sebelum pelajaran di mulai. Begitu! []
Judul Buku : A Full Year of Literacy
Penulis : Satria Dharma
Penerbit : Eureka Academia, Surabaya
Cetakan : Pertama, Desember 2015
Tebal : xii + 288 hlm
ISBN : 978-602-0931-25-8
Buku yang ditulis oleh salah satu penggagas IGI (Ikatan Guru Indonesia) ini banyak mengupas tentang, pendidikan serta literasi di berbagai tempat. Menurutnya, literasi adalah instrumen bagi warga untuk berproses menjadi sebuah bangsa yang berpengetahuan dan berperadaban. Oleh karena itu, banyak sekali tantangan ke depan yang akan dihadapi oleh bangsa kita, mengingat tradisi bangsa kita lebih dominan budaya oral serta budaya tonton yang semakin menggila. Sehingga, sejak tahun 2014 kemarin oleh Pak Satria Dharma ditandai sebagai tantangan tersendiri. Untuk itu, buku yang diterbitkan untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada pembaca khususnya, supaya ikut menandai sudah sampai mana dampak dari gelombang literasi tersebut.
Dalam kata pengantarnya beliau menuliskan, bahwa sejak tahun sebelumnya kesadaran literasi masyarakat sudah bangkit sehingga saya beri—sebelum buku ini—judul "The Rise Of Literacy". Lebih lanjut, beliau telah memperkirakan akan datangnya gelombang pemahaman masyarakat terhadap pentingnya literasi.
Tetapi yang lebih penting lagi jika pemahaman tersebut juga dimiliki pada tataran pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, untuk memberikan perhatian yang besar pada budaya literasi (membaca dan menulis) kepada semua lapisan, yang memiliki porsi ini adalah para siswa maupun mahasiswa. Satria Dharma pada halaman 7 dalam bukunya tersebut menilai, "penyebab utama dari rendahnya budaya literasi bangsa kita adalah rendahnya pemahaman para pemimpin kita terhadap pentingnya budaya membaca. Titik. Titik?
Apa betul demikian? Jika kita runut ke belakang, flash back sedikit tentang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sudah jamak bagi kita semua. Kita objektif saja dengan kebijakan yang dicetuskan oleh pemerintahan. Semua kebijakannya tidak ada yang menyinggung tentang pentingnya membangun budaya literasi? 'Apan' ganti pemerintah ganti pula kebijakan. Dan tak ada lagi yang menyentuh pada sub bab literasi. "Yang jelas tidak ada satu pun di antara para menteri pendidikan dan kepala daerah tersebut yang benar-benar melakukan kebijakan penting dan mendasar untuk mengatasi rendahnya budaya baca bangsa. Titik." Ujaran ini semacam sentimentil. Sekali lagi, Pak Satria Dharma menegaskan bahwa urusan budaya literasi, membaca dan menulis, jika siswa sudah bersekolah, budaya literasi sudah dan akan bertumbuh dengan sendirinya. Betulkan demikian? Betul atau tidaknya, kita harus obyektif saja dengan setiap peraturan kebijakan yang setiap tahun ganti-ganti tersebut. Semua tidak ada yang menyinggung tentang babakan literasi, dan itu fakta.
Padahal keterampilan literasi, sekali lagi membaca adalah komponen paling penting dalam berbahasa. Semakin tinggi keterampilan siswa dalam membaca, semakin besar kemampuannya untuk berkembang dalam bidang-bidang lain. Hal tersebut sebenarnya sudah disampaikan oleh ilmuwan Internasional. Glenn Doman dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read (1991:19), “... maka sangat penting anak kita memiliki kemampuan untuk membaca yang memadai bagi kebutuhannya pada masa depannya. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik.” Seharusnya kita sadar, membaca adalah “jantung(nya)” pendidikan. Begitupun juga menulis. Keterampilan menulis juga akan mengantarkan keberhasilan seorang pada tangga keberhasilan di lingkungan sekolah maupun di lingkungan sosial.
Untuk itu pemahaman masyarakat terhadap pentingnya memiliki budaya literasi perlu ditekankan. Melalui buku A Full Year of Literacy ini Satria Dharma menganjak para masyarakat membuka pemahaman, pengertian tentang penting berliterasi mulai dari tataran masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan perguruan tinggi, hingga tataran yang paling tinggi, yakni pemerintahan, supaya memperhatikan, bahwa ukuran standard keberhasilan sebuah negara adalah memiliki budaya literasi. Membaca menjadi sebuah tantangan yang tidak biasa-biasa saja. Memiliki tradisi membaca menjadi masalah urgent yang perlu menjadi perhatian utama dari semua lapisan. Karena, sekali lagi, membaca adalah perintah pertama yang di turunkan oleh Tuhan untuk para umatnya di dunia.
Buku yang ditulis secara sederhana tetapi tidak kehilangan kerenyahannya ini sangat pas lagi cocok, jika diberikan kepada para masyarakat luas. Karena beberapa alasan itu, Satria Dharma menerbitkan buku setiap tahun untuk di bagi-bagikan. Seperti yang sudah saya katakan di atas. Buku yang sudah ada di tangan para pembaca yang budiman ini, sebagai penanda atas tantangan-tantangan atas gelombang literasi, sebagaimana tantangan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang telah dicanangkannya.
Selama tahun 2015 lalu, Satria Dharma dengan tekun merekam dan menandai semua kegiatan maupun perkembangan literasi. Dia sangat yakin, bahwa literasi semakin ke depan semakin menampakkan hasil positif. Akan semakin banyak pihak yang peduli terhadap pentingnya berbudaya membaca sekalipun menulis. Dan, akhirnya, bukan hisapan jempol belaka, seperti yang ditulis di cover belakang bukunya, Satria Dharma bersama pihak-pihak yang terlibat, termasuk masyarakat, berkat pemahaman dari Mendikbud dan para dirjennya tentang pentingnya budaya baca ini, literasi mendapat porsi yang sangat besar dalam kebijakan Kemendikbud pada era ini. Ini adalah momen turunnya menara gading ke dunia nyata. Mari kita tandai tantangan literasi dan ikut menyukseskan semua kegiatan yang diterapakan oleh pemerintah, seperti membaca 15 menit setiap hari, sebelum pelajaran di mulai. Begitu! []
Judul Buku : A Full Year of Literacy
Penulis : Satria Dharma
Penerbit : Eureka Academia, Surabaya
Cetakan : Pertama, Desember 2015
Tebal : xii + 288 hlm
ISBN : 978-602-0931-25-8
Saudaraku, terimakasih atas infonya... saya ingin mendapatkan buku itu. Bagaimana ya caranya? ini nomor WA saya 081335069146
BalasHapus(david sudarko - kediri)
abang David Sudarko, buku tersebut kemarin saya dapat dari penulisnya langsung. Abang bisa kontak langsung dengan Pak Satria Dharma di FB-nya langsung. abang bisa inbox dan menanyakan...
BalasHapusOh begitu, baiklah terimakasih atas balasannya. Saya sudah lama menunggunya.
BalasHapusMaaf bang, saya lama merespon Abang. Karena lupa WordPress ini jadi mohon maaf ya..
BalasHapusNіcely, I aam suгprised you aⅼl left tһhe very extra best
BalasHapusone for me.? Daddy statеd with a teasing ѕmile.
?It?s that he dеѕρatched Jesus tо die ffߋr uѕ and give
us life perpetually and ever and that due to tһat ԝe
are going to be a household iin heaven for tens of millions of years.
That?s fairlу good isnt it?
Posting Komentar