Bulan puasa tidak terasa telah masuk minggu pertama. Gerbang menuju kemenangan pun hampir datang. Bagi yang mengisi bulan puasa dengan aktivitas ibadah, maka serasa nikmat adanya. Karena, bulan puasa merupakan bulan suci yang penuh dengan berkah dan kemuliaan.
Di bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan ini, merupakan bulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya bagi orang mukmin di dunia. Bulan di mana mereka diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Sebuah kewajiban dan rutinitas yang selalu menimbulkan efek positif, tidak hanya bagi kehidupan pribadi, tetapi juga bagi kehidupan sosial.
Sementara bagi yang jauh (merantau) semakin dekat, yang dekat semakin merapat. Di bulan ini pula moment berkumpul bersama keluarga sangat 'pas'. Dan, bahagianya, bisa berkesempatan untuk melakukan aktivitas bersama sanak family.
Seperti lazim diketahui, ada banyak perubahan yang terjadi pada saat bulan Ramadan tiba. Jika kita amati, banyak intansi pemerintah di bulan Ramadhan mengurangi durasi waktu produksinya atau waktu pelayanannya. Sehingga pegawainya bisa pulang lebih awal. Misal, kantor pelayanan publik. Di hari biasa, kantor ini melayani masyarakat penuh mulai pagi hingga siang menjelang sore. Dan lembaga pendidikan, yang biasanya pulang jam 1 atau jam 2, selama bulan puasa dikurangi jam belajarnya dengan pulang agak siang. Sementara, bagi petani pun juga seperti itu. Yang biasanya pulang agak sore karena menunggu tanamannya harus mengawali pulangnya karena harus berbuka puasa.
Ada banyak aktivitas ruhiyah yang umat Muslim lakukan pada saat Ramadan. Dari iktikaf di masjid, salat tarawih, tadarus Alquran, dan aktivitas lain yang bermanfaat dan mendatangkan pahala.
Dan ada hal tidak boleh ditinggalkan di bulan puasa, selain ibadah puasa dan beberapa ritual ibadah yang lain, adalah puas(a) menulis. Bagi saya atau beberapa orang penulis pemula di luar sana--yang sedang belajar menulis- sekali pun sedang menjalankan ibadah puasa tidak diwajibkan untuk "ibadah" puas(a) menulis.
Dalam hal ini, ada dua makna dari kata puas(a) menulis tersebut. Pertama, puas. Seorang penulis atau sedang menulis "sangat dilarang" untuk cepat puas. Pasalnya, apabila seseorang melakukan kegiatan diliputi dengan perasaan cepat puas, maka hasilnya pun juga tak seberapa. Artinya, hasilnya tidak maksimal. Puas di sini saya artikan sebagai kegiatan bahagia dalam menulis sehingga ia tidak menulis lagi. Begitu juga dalam hal menulis, apabila menulis ditunggangi perasaan puas(a) maka tidak akan berhasil meraih kesuksesan. Karena kesuksesan diraih dari hasil yang tidak gampang puas dan putus asa. Yang terus menulis meningkatkan jam terbang dengan terus menulis, menulis dan menulis. Meskipun kita sedang melakukan ibadah puasa, maka kita "dilarang" puas(a) dalam hal menulis. Puas merupakan potensi besar untuk menghancurkan komitmen tersebut.
Oleh karena itu, komitmen dalam menulis sangat perlu. Bahwa kesuksesan itu dipengaruhi oleh diri kita sendiri. Bukan rekan sejawat. Bukan pemimpin. Bukan orang lain. Ya, keberhasilan atas dasar kita usaha kecil kita sendiri. Dalam buku The Power of 10-10-10 yang ditulis oleh Suzy Welch sebagaimana dikutip oleh Radinal Mukhtar Harahap dalam bukunya yang berjudul Menulis itu Asyik lho! (tahun tidak diketahui: 96, "Untuk meraih kepuasan, kita harus terus berkembang." Artinya, tidak ada kata puas untuk Suzy Welch, dan penulis lainnya.
"Semakin sering orang menulis dan sering pula orang memikirkan (membaca) tulisannya, semakin bagus jualah karyanya." Dean Koontz
Kedua: puasa. Puasa sendiri--dalam bahasa Al-Qur'an disebut sha-wa-ma--memiliki makna "menahan", "berhenti", "tidak bergerak". Yang oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam buku Kembali ke Jati Diri: Ramadhan dan Tradisi Pulang Kampung dalam Masyarakat Muslim Urban (2013: xiii), "Dengan demikian, Untuk konteks masa kini dan mendatang, berpuasa secara esensial bermakna "menahan dan mengendalikan diri".
Oleh sebab itu, puasa diartikan kegiatan menahan atau berhenti, maka dilarang dalam hal menulis. Maka dalam konteks menulis tidak ada kata puas(a), ya ada teruslah menulis. Baik itu sedang mengalami kebuntuan ataupun ide kurang matang. Karena tradisi untuk membudayakan menulis sangat penting. Maka, saya sepakat dengan slogan motivasi menulis itu. Menulis, menulis, dan menulis. Teruslah menulis apabila Anda berhenti menulis itu sama artinya Anda mengulangi dari nol.
Saya ulangi sekali lagi, meskipun kita sedang menjalankan ibadah puasa, maka kita "dilarang" puasa menulis. Karena, apabila kita puasa atau berhenti menulis kita akan menjumpai kesulitan dan ketumpulan dalam mengekspresikan ide dan gagasan. Untuk mengatasi berbagai ketumpulan atau kebuntuan ide atau bahan tulisan, cara yang ampuh adalah banyaklah membaca. Iqra': Bacalah! Karena pasangan kembar "siam" tapi beda adalah membaca. Sebab, menulis itu wajib. Apabila kita telah terbiasa menulis kemudian berhenti atau puas(a), sebagaimana ibadah wajib yang lain, maka dalam benak kita ada hal yang mengganjal. Oleh karena itu, tunaikanlah menulis itu sebagaimana puasa. ("-")
Tm, 24/6/'15
Di bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan ini, merupakan bulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya bagi orang mukmin di dunia. Bulan di mana mereka diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Sebuah kewajiban dan rutinitas yang selalu menimbulkan efek positif, tidak hanya bagi kehidupan pribadi, tetapi juga bagi kehidupan sosial.
Sementara bagi yang jauh (merantau) semakin dekat, yang dekat semakin merapat. Di bulan ini pula moment berkumpul bersama keluarga sangat 'pas'. Dan, bahagianya, bisa berkesempatan untuk melakukan aktivitas bersama sanak family.
Seperti lazim diketahui, ada banyak perubahan yang terjadi pada saat bulan Ramadan tiba. Jika kita amati, banyak intansi pemerintah di bulan Ramadhan mengurangi durasi waktu produksinya atau waktu pelayanannya. Sehingga pegawainya bisa pulang lebih awal. Misal, kantor pelayanan publik. Di hari biasa, kantor ini melayani masyarakat penuh mulai pagi hingga siang menjelang sore. Dan lembaga pendidikan, yang biasanya pulang jam 1 atau jam 2, selama bulan puasa dikurangi jam belajarnya dengan pulang agak siang. Sementara, bagi petani pun juga seperti itu. Yang biasanya pulang agak sore karena menunggu tanamannya harus mengawali pulangnya karena harus berbuka puasa.
Ada banyak aktivitas ruhiyah yang umat Muslim lakukan pada saat Ramadan. Dari iktikaf di masjid, salat tarawih, tadarus Alquran, dan aktivitas lain yang bermanfaat dan mendatangkan pahala.
Dan ada hal tidak boleh ditinggalkan di bulan puasa, selain ibadah puasa dan beberapa ritual ibadah yang lain, adalah puas(a) menulis. Bagi saya atau beberapa orang penulis pemula di luar sana--yang sedang belajar menulis- sekali pun sedang menjalankan ibadah puasa tidak diwajibkan untuk "ibadah" puas(a) menulis.
Dalam hal ini, ada dua makna dari kata puas(a) menulis tersebut. Pertama, puas. Seorang penulis atau sedang menulis "sangat dilarang" untuk cepat puas. Pasalnya, apabila seseorang melakukan kegiatan diliputi dengan perasaan cepat puas, maka hasilnya pun juga tak seberapa. Artinya, hasilnya tidak maksimal. Puas di sini saya artikan sebagai kegiatan bahagia dalam menulis sehingga ia tidak menulis lagi. Begitu juga dalam hal menulis, apabila menulis ditunggangi perasaan puas(a) maka tidak akan berhasil meraih kesuksesan. Karena kesuksesan diraih dari hasil yang tidak gampang puas dan putus asa. Yang terus menulis meningkatkan jam terbang dengan terus menulis, menulis dan menulis. Meskipun kita sedang melakukan ibadah puasa, maka kita "dilarang" puas(a) dalam hal menulis. Puas merupakan potensi besar untuk menghancurkan komitmen tersebut.
Oleh karena itu, komitmen dalam menulis sangat perlu. Bahwa kesuksesan itu dipengaruhi oleh diri kita sendiri. Bukan rekan sejawat. Bukan pemimpin. Bukan orang lain. Ya, keberhasilan atas dasar kita usaha kecil kita sendiri. Dalam buku The Power of 10-10-10 yang ditulis oleh Suzy Welch sebagaimana dikutip oleh Radinal Mukhtar Harahap dalam bukunya yang berjudul Menulis itu Asyik lho! (tahun tidak diketahui: 96, "Untuk meraih kepuasan, kita harus terus berkembang." Artinya, tidak ada kata puas untuk Suzy Welch, dan penulis lainnya.
"Semakin sering orang menulis dan sering pula orang memikirkan (membaca) tulisannya, semakin bagus jualah karyanya." Dean Koontz
Kedua: puasa. Puasa sendiri--dalam bahasa Al-Qur'an disebut sha-wa-ma--memiliki makna "menahan", "berhenti", "tidak bergerak". Yang oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam buku Kembali ke Jati Diri: Ramadhan dan Tradisi Pulang Kampung dalam Masyarakat Muslim Urban (2013: xiii), "Dengan demikian, Untuk konteks masa kini dan mendatang, berpuasa secara esensial bermakna "menahan dan mengendalikan diri".
Oleh sebab itu, puasa diartikan kegiatan menahan atau berhenti, maka dilarang dalam hal menulis. Maka dalam konteks menulis tidak ada kata puas(a), ya ada teruslah menulis. Baik itu sedang mengalami kebuntuan ataupun ide kurang matang. Karena tradisi untuk membudayakan menulis sangat penting. Maka, saya sepakat dengan slogan motivasi menulis itu. Menulis, menulis, dan menulis. Teruslah menulis apabila Anda berhenti menulis itu sama artinya Anda mengulangi dari nol.
Saya ulangi sekali lagi, meskipun kita sedang menjalankan ibadah puasa, maka kita "dilarang" puasa menulis. Karena, apabila kita puasa atau berhenti menulis kita akan menjumpai kesulitan dan ketumpulan dalam mengekspresikan ide dan gagasan. Untuk mengatasi berbagai ketumpulan atau kebuntuan ide atau bahan tulisan, cara yang ampuh adalah banyaklah membaca. Iqra': Bacalah! Karena pasangan kembar "siam" tapi beda adalah membaca. Sebab, menulis itu wajib. Apabila kita telah terbiasa menulis kemudian berhenti atau puas(a), sebagaimana ibadah wajib yang lain, maka dalam benak kita ada hal yang mengganjal. Oleh karena itu, tunaikanlah menulis itu sebagaimana puasa. ("-")
Tm, 24/6/'15
Posting Komentar