Perasaan sakit tidak diinginkan oleh semua orang di dunia ini. Sakit adalah keadaan dimana imun atau daya tahan tubuh menurun drastis. Sehingga kondisi seperti itu dipungkiri tidak mampu melakukan aktivitas apapun, tidak terkecuali aktivitas kecil. Sakit memang sangatlah mempengaruhi perkembangan kondisi badan dan fisik.
Kita bisa melihat sendiri bagaiamana perubahan diri kita ketika sedang sakit. Pasti sedikit banyak mengalami perubahan. Biasanya wajah menjadi pucat dan badan menjadi tidak berisi atau bahasa orang Jawa bilang dingkring. Dingkring di sini bukan arti bahasa Inggris yang artinya minum. Namun dingkring di sini memiliki arti badan yang tidak ada isinya, hanya sedikit berotot.
Seperti tradisi orang jawa normal dan mungkin masyarakat kontemporer. Orang sakit biasanya dibawa ke Rumah Sakit (RS) untuk diberi obat. Obatnya pun juga ada yang modern dan tradisional. Karena kita hidup di lingkungan jawa, mau tidak mau, tradisi obat tradisional pun juga tidak bisa dipisahkan. Walau kita hidup di lingkungan masyarakat yang sudah maju.
Berbicara tentang sakit, saya setelah beberapa blarakan di Tulungagung dan ingin ikut bedah film Samin Vs Semen yang (ketika itu) diadakan tanggal 3 Juni 2015 di aula IAIN Tulungagung. Untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak. Melihat bedah film saja tidak namun sakit malah yang saya nikmati.
Awalnya memang tidak dirasa. Namun setelah dua hari sakit tidak ada tanda perkembangan baik, akhirnya silaturahmi dengan dokter pun tidak bidang terelakkan. Padahal, menurut cerita, bukan saya sendiri yang mengatakan, saya biasanya sakit itu hanya jamu dan sambal. Itu yang memang biasa lakukan apabila kondisi lagi tidak enak. Namun hal ini berbeda. Sudah bersilaturahmi dengan doktet praktek namun kondisi tidak memberi sinyal yang baik untuk sembuh.
Akhirnya, besok paginya tanggal 7 Juni saya benar-bebar silaturahmi dengan dokter di Puskesmas terjadi. Konon, ini kali kedua saya bersilaturahmi di Puskesmas setelah dulu, waktu kecil yang katanya diinfus pun tidak ada ototnya. Infuspun kepala saya, ketika itu masih kecil. Tidak ingat usia berapa pertama kali saya diinfus. Akan tetapi infus tersebut akhirnya membuat saya harus bersilaturahmi beberapa hari ke depan. DB. Ya, gejala DB yang membuat saya harus menginap lima hari di Puskesmas, Watulimo.
Tulisan ini sebenarnya tidak ada yang istimewa. Namun tulisan sebagai pengingat dan sebagai refleksi diri saya sendiri. Sebagai manusia yang memiliki banyak kelemahan dan sering berkeluh kesah, saya secara pribadi setidaknya harus ingat kepada Sang Pencipta Kesehatan. Sehat adalah mahal harganya. Namun sakit tambah lagi mahal harganya.
Maksudnya, mahal di sini adalah sakit kita harus membayar biaya di tempat pengobatan. Bedakan dengan sehat. Kita tidak harus membayar uang apapun untuk orang lain yang menjadi rujukan berobat karena kita memang tidak sedang sakit. Bahkan sakit DB, seperti yang sakit derita ini adalah salah satu penyakit yang sulit penyembuhan. Artinya DB (Demam Berdarah) ini termasuk penyakit yang sedikit manja. Harus beberapa kali pengobatan yang intensif. Juga agak bandel pengobatan. Bandel karena sulit untuk penyembuhannya dan rada lama.
Konon, orang lain menyembuhkan penyakit ini. Trombosit yang setiap kali harus turun. Hal tersebut terbukti apabila hari dites berapa trombositnya ternyata besok masih turun. Obat yang harus saya telan: Buavita, Fu Fang, kapsul dari dokter dan lain sebagainya. Apa yang saya alami tentang penyakit DB ini sangat penting untuk saya sebagai refleksi dan instropeksi diri supaya menjaga kesehatan.
Kita bisa melihat sendiri bagaiamana perubahan diri kita ketika sedang sakit. Pasti sedikit banyak mengalami perubahan. Biasanya wajah menjadi pucat dan badan menjadi tidak berisi atau bahasa orang Jawa bilang dingkring. Dingkring di sini bukan arti bahasa Inggris yang artinya minum. Namun dingkring di sini memiliki arti badan yang tidak ada isinya, hanya sedikit berotot.
Seperti tradisi orang jawa normal dan mungkin masyarakat kontemporer. Orang sakit biasanya dibawa ke Rumah Sakit (RS) untuk diberi obat. Obatnya pun juga ada yang modern dan tradisional. Karena kita hidup di lingkungan jawa, mau tidak mau, tradisi obat tradisional pun juga tidak bisa dipisahkan. Walau kita hidup di lingkungan masyarakat yang sudah maju.
Berbicara tentang sakit, saya setelah beberapa blarakan di Tulungagung dan ingin ikut bedah film Samin Vs Semen yang (ketika itu) diadakan tanggal 3 Juni 2015 di aula IAIN Tulungagung. Untung tak dapat diraih malang pun tak dapat ditolak. Melihat bedah film saja tidak namun sakit malah yang saya nikmati.
Awalnya memang tidak dirasa. Namun setelah dua hari sakit tidak ada tanda perkembangan baik, akhirnya silaturahmi dengan dokter pun tidak bidang terelakkan. Padahal, menurut cerita, bukan saya sendiri yang mengatakan, saya biasanya sakit itu hanya jamu dan sambal. Itu yang memang biasa lakukan apabila kondisi lagi tidak enak. Namun hal ini berbeda. Sudah bersilaturahmi dengan doktet praktek namun kondisi tidak memberi sinyal yang baik untuk sembuh.
Akhirnya, besok paginya tanggal 7 Juni saya benar-bebar silaturahmi dengan dokter di Puskesmas terjadi. Konon, ini kali kedua saya bersilaturahmi di Puskesmas setelah dulu, waktu kecil yang katanya diinfus pun tidak ada ototnya. Infuspun kepala saya, ketika itu masih kecil. Tidak ingat usia berapa pertama kali saya diinfus. Akan tetapi infus tersebut akhirnya membuat saya harus bersilaturahmi beberapa hari ke depan. DB. Ya, gejala DB yang membuat saya harus menginap lima hari di Puskesmas, Watulimo.
Tulisan ini sebenarnya tidak ada yang istimewa. Namun tulisan sebagai pengingat dan sebagai refleksi diri saya sendiri. Sebagai manusia yang memiliki banyak kelemahan dan sering berkeluh kesah, saya secara pribadi setidaknya harus ingat kepada Sang Pencipta Kesehatan. Sehat adalah mahal harganya. Namun sakit tambah lagi mahal harganya.
Maksudnya, mahal di sini adalah sakit kita harus membayar biaya di tempat pengobatan. Bedakan dengan sehat. Kita tidak harus membayar uang apapun untuk orang lain yang menjadi rujukan berobat karena kita memang tidak sedang sakit. Bahkan sakit DB, seperti yang sakit derita ini adalah salah satu penyakit yang sulit penyembuhan. Artinya DB (Demam Berdarah) ini termasuk penyakit yang sedikit manja. Harus beberapa kali pengobatan yang intensif. Juga agak bandel pengobatan. Bandel karena sulit untuk penyembuhannya dan rada lama.
Konon, orang lain menyembuhkan penyakit ini. Trombosit yang setiap kali harus turun. Hal tersebut terbukti apabila hari dites berapa trombositnya ternyata besok masih turun. Obat yang harus saya telan: Buavita, Fu Fang, kapsul dari dokter dan lain sebagainya. Apa yang saya alami tentang penyakit DB ini sangat penting untuk saya sebagai refleksi dan instropeksi diri supaya menjaga kesehatan.
Posting Komentar