“Carilah ilmu dimana ilmu itu berada. Belajarlah dimana ilmu itu bersumber.”Mendengar kata sarjana bagi orang awam, tentu memiliki anggapan orang yang berilmu dan berpengetahuan yang luas. Sarjana telah menjadi tujuan utama bagi para anak muda di kota maupun orang desa. Banyak orang tua percaya, apabila anaknya dapat meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, maka anaknya akan dapat mengubah perekonomian keluarganya. Sehingga orang tua tersebut akan berbondong-bondong menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan di lembaga yang lebih tinggi lagi atau perguruan tinggi. Anggapan lain, jika orang tuanya hanya mampu menyelesaikan pendidikan di lembaga pendidikan di sekolah dasar, maka anaknya minimal lulus di atas orang tuanya.
Banyak sekali mahasiswa berangkat dari keluarga tidak mampu atau dari pelosok desa. Mereka memiliki harapan, kesejahteraan keluarganya tersematkan dipundak mahasiswa-mahasiswi yang menempuh di perguruan itu. Namun ada juga Sarjana yang berasal dari keluarga tidak mampu melupakan keluh kesah dari orang tua. Maksudnya, ia lebih tertarik meninggalkan hingar-bingar kehidupannya di desa dan menikmati kehidupannya di kota, yang kerasnya minta ampun. Ini dinamika para mahasiswa yang sedang menempuh study di beberapa perguruan di seluruh Nusantara.
Dari kalangan manapun, sarjana diharapkan mampu mengubah perekonomian keluarganya. Entah dari keluarga yang kurang mampu maupun dari kalangan yang berpunya, mampu mengembangkan investasi dari keluarganya. Ekspektasi yang sedemikian ini membuat sarjana maupun mahasiswa lupa akan fitrah, yang awalnya lahir di desa, kembali ke desa, membangun desa pun ogah-ogah-an. Sebagian besar, mereka melupakan fitrahnya bahwa kita ini dari desa, kembali ke desa, serta membangun desa.
***
Mahasiswa yang belajar atau berproses di kalangan pendidikan, sangat diharapkan perubahan dan partisipasinya untuk membangun lingkungan. Dengan ilmu dan pengetahuan yang didapat dari bangku perkuliahan, ia anggapan mampu untuk ikut terlibat pembangunan. Pendek kata, tahu banyak dari banyak hal. Tahu sedikit tahu dari banyak hal. Sehingga kepercayaan terhadap seorang mahasiswa atau sarjana dalam andil membangun desa sangatlah besar.
Dengan pengetahuan dan ilmu yang diterima di belantara bangku perkuliahan dan pengalaman selama menempuh pendidikan, sarjana memliki porsi lebih untuk membangun desa tempat tinggalnya. Minimal mampu memberikan angin segar dalam perubahan dan pembaharuan. Kita bisa lihat, Ridwan Kamil, ia adalah seorang sarjana dari Amerika. Walau ia telah menyelesaikan masa studynya di Universitas bergengsi di Amerika, karena darahnya Indonesia, ia kembali untuk membangun negerinya. Dan, ia berhasil mewujudkna itu. Meski di sektor lain ada hal yang perlu dibenahi.
Untuk itulah, apa gunanya kita belajar di lembaga formal ternama, kita tidak mau belajar untuk mengabdi di daerah, yang kita dahulu dilahirkan.
Padahal di desa, kita bisa belajar bersama-sama dengan profesi yang paling banyak, yakni petani. Meski kita dari segi pengalaman dan pengetahuan lebih, tetapi jangan sampai menutup sebelah mata dengan seorang petani. Kita tahu, kita makan dari hasil keringat seorang petani. Kita bisa menikmati sayur-mayur, lauk pauk dari vegetarian juga dari petani.
Alangkah baiknya, kita bisa belajar dan memperluas cakrawala keilmuwan kita dengan orang-orang yang membesarkan kita.
Namun kenyataannya, tidak banyak mahasiswa atau sarjana yang kelabakan mencari lapangan pekerjaan. Banyak sekali wisudawan atau wisudawati yang setiap hari menentengkan angklop coklat dengan baju mlipis (baca: rapi) di instansi-instansi setempat. Dan tidak banyak juga para sarjana itu mendapatkan kesempatan untuk magang di perusahaan tersebut. coba kita bayangkan, berapa perbandingan antara lulusan setiap tahun dengan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan itu. Barangkali perbandingannya 10: 1. Artinya, dari sepluh perusahaan, hanya menerima satu sarjana untuk mendapatkan kesempatan magang di instansi tersebut.
Oleh sebab itu, kita harus pandai membaca hal yang sedemikian. Kita yang lahir dari orang desa, dan dibesarkan di desa, termasuk saya, harusnya banyak belajar dari orang tempat tinggal kita itu. Misalnya, banyak masyarakat perdesaan memliki profesi petani, maka seorang sarjana dari salah satu perguruan tinggi mau belajar bersama dengan petani tersebut.
Mereka harusnya berkolaborasi. Membaurkan ilmu-ilmu yang dimilikinya. Misal, seorang lulusan dari perguruan tinggi dengan mindset yang modern dengan pengalaman dan ilmu yang dimiliki. Dan lulus dari fakultas pertanian pula atau lulusan managemen Dan petani yang memiliki ilmu ketelatenan dan ilmu tentang ilmu pertaniannya. Dengan ketelatenan yang dimiliki oleh petani, yang menggarap kebun, sawah maupun ladang. Maka, mereka ini adalah kolaborasi yang sangat luar biasa. Kolaborasi yang sangat dinantikan gebrakan terhadap perubahan perekonomian di lingkungan.
Orang desa dikenal dengan bekal ketelatenan. Dan orang desa membangun desa lewat apa yang ia perbuat. Seorang petani orang desa belajar langsung ke petani. Seorang peternak orang desa belajar dari peternak. Alangkah etisnya seorang sarjanawan atau sarjanawati setelah lulus belajar langsung ke si empunya peternakan atau petani langsung. Seperti kata-kata bijak seperti ini. “Carilah ilmu dimana ilmu itu berada. Belajarlah dimana ilmu itu bersumber.” Artinya, seorang sarjana pun tidak ada salahnya untuk belajar dengan seorang petani maupun peternak langsung dari orang desa yang telah lama belajar ilmu pertanian dan ilmu peternakan pula. Dengan belajar dengan orang yang sudah lama bergelut dengan ladangnya tentu mahasiswa bisa mengembangkan, bahkan juga bisa membuat inovasi yang baru tentang ilmu pertanian amaupun peternakan. Sehingga kata-kata sarjanawan akan menganggur dan berjalan-jalan dengan jaket kusut di pundaknya, seperti lagunya iwan fals.
Oleh karena itu, mahasiswa atau sarjana sangat sampai menutup rapat-rapat pemikiran kita untuk belajar dengan seorang petani. Mereka sudah selayaknya membuka lebar-lebar pemikiran dengan mau menggerakkan dan menyingsingkan lengan baju dan menyematkan almameter sebentar dan ikut membangun desa. Tidak harus menjadi perangkat desa sepenuhnya. Cukup dengan ikut menyuarakan dan menggerakan orang desa sadar bertani dan bekerja keras di bidang masing-masing itu sangat luar biasa. Allahualam Bishowab[]
Posting Komentar