Secara tidak sadar internet telah membuat pola pikir dan kemampuan belajar kita menjadi terbelah dan tidak konsen serta membagi informasi tidak fokus dan internet membatasi ruang gerak manusia.”
Dunia serasa selebar daun kelor, dunia terasa sempit untuk kita tempati lagi. Semua seakan sudah tersaji dihadapan kita. Raga tak usah beranjak dari pangkuan bumi, pesanan bisa datang dengan sendiri. Hadirnya internet mempermudah kita. Namun juga merubah tatanan kehidupan kita. Yang sebelumnya kita bisa aktif, lantaran adanya internet kita menjadi pasif, dan menjadi ketergantungan.
Saya bukan orang yang pesimis akan hadirnya internet. Berkat internet kita dengan mudah mengakses informasi secara cepat. Melalui aplikasi seluler, kita dengan sangat mudah berselancar ke dunia nan jauh disana. Bahkan ke alam yang manusia tidak bisa menembus dan mengakses. Sebelum internet ada, dahulu saya suka membaca buku dan lembaran yang tebal-tebal hingga ratusan halaman. Namun sekarang saya berjuang untuk fokus pada tulisan yang panjang. Namun semua harus terbagi dengan “tamu” yang fenomenal ini. Tercatat dalam pengamatan, sekarang orang-orang malah memburu zona free wifi itu berada.
Seorang blogger juga menyakini fenomena tersebut. Scott Karp mengakui bahwa dia telah berhenti membaca buku yang tebal-tebal. “Di perguruan tinggi, saya mengambil jurusan sastra dan dulu saya seorang yang gila baca,” demikian tuturnya. “Apa yang terjadi?” Setelah hadirnya wifi, dia menebak-nebak jawabannya: “Bagaimana jika kebiasaan saya membaca di Web telah merubah kebiasaan berfikir saya.” Pesan tersebut senada dengan seorang ahli penyakit di fakultas kedokteran University of Michigan, Friedman menjelaskan dalam buku The Shallow, “Saya tak lagi membaca War and Peace, setelah membaca tiga atau empat paragraf sudah terlalu banyak untuk diserap.” Begitu juga Philip Davis, seorang mahasiswa doktoral jurusan komunikasi di Cornell University mengatakan “Internet mungkin telah membuat saya menjadi seorang pembaca yang tidak sabaran, namun saya kira dalam banyak hal, internet telah membuat saya lebih cerdas. Karena memiliki lebih banyak koneksi pada dokumen, dan banyak teman.”
Kita tidak bisa lari dari gegap gempita zaman informasi yang semakin maju ini. Kita harus akui kontribusi terbesar dari internet terhadap perilaku seorang. Sebagian pihak mengingatkan kita supaya bersikap cerdas dan tajam di tengah gelombang yang ada. Disisi lain, menyarankan jangan biarkan diri kita tetap eksis dalam sehari-hari, dalam pekerjaan, dan dalam gaya hidup. Sementara, banyak sekali orang bisa berprestasi berkat bantuan internet. Bahkan konsep belajarnya pun tidak jauh dengan internet.
Kita amati, internet sudah menjajah, melanda, menguasai diri kita berbagai sisi kehidupan. Tidak bisa dimungkiri, sebagian besar telah membagi konsentrasi belajar dengan gadget yang ada disekitar. Bisa juga pikiran atau otak, bergerak untuk berfikir paralel untuk menangkap beberapa informasi yang berbeda. Secara tidak sadar, kita telah membagi konsentrasi dan fokus kita kepada dua benda sekaligus.
Anak-anak, siswa sekolah dan mahasiswa tak jarang mengerjakan tugas atau PR sambil mendengarkan musik dengan memutar MP3, membalas email, BBM, SMS, saat membaca buku. Fokus yang semestinya dihadapkan ke pekerjaanya, malah dibagi dengan alat komunikasi yang lain. Kalau kita cermat dan memiliki kecerdasan manajemen waktu, tentunya kita bisa membuka dan membalasnya seusai aktifitas belajar. Selain itu, banyak sekali orang diluar sana yang menjadi tidak sabaran. Contoh lain, ketika di perjalanan mendapat massege (sms), secara sepontan, ia harus membalas seketika itu. Padahal hal tersebut membahayakan keselamatan.
Dahulu sebelum internet bisa diakses melalui hape langsung, pikiran kita tenang, fokus tak terganggu oleh informasi-informasi lain. Belajar pun bisa konsen dan fokus. Sekarang proses pikiran ini menjadi paralel—harus membagi dengan informasi maupun alat, seperti bunyi hape. Pikiran linier telah terusik dan disingkirkan oleh hal yang tak terkait dan, sering kali tumpang tindih—lebih cepat, lebih baik.
Karena kebiasaan membaca berita maupun tulisan di Website, saya mengalami perubahan dalam berfikir. Saya khawatir akan menjadi orang yang berfikiran sangat dangkal. Saya hampir kehilangan kemapuan membaca dan menyerap tulisan atau artikel yang agak panjang. Sekarang saya sangat tidak sabar dengan tulisan panjang lebar dan bertele-tele. Untuk membaca buku yang agak tebal sulitnya bukan main. Ingin rasanya segera menutup dan mengakhirnya di tengah-tengah halaman. Tak bisa dimungkiri, medsos apabila digunakan hal negatif akan merugikan diri sendiri. Berbeda hasilnya, manakala dimanfaatkan dalam hal positif, pasti baik pula hasilnya.
Internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tapi juga mengorbankan kemampuan kita berpikir secara mendalam. Demikian kata Nicholas Carr dalam bukunya The Shallow, seorang Finalis Pulitzer Award 2011 ini menunjukkan bagaimana “alat-alat pikir”—alfabet, peta, barang cetakan, jam hingga komputer—yang telah kita gunakan selama berabad-abad bisa mengubah cara kerja otak kita.
Membaca buku cetak membuat kita dapat memfokuskan perhatian, mendorong aktifitas mendalam, kreatif dan produktif. Sebaliknya, internet memaksa kita menelan informasi secara instan, cepat, dan massal sehingga membuat pikiran kita mudah teralihkan. Kita menjadi terbiasa membaca serbakilat dan cepat menyaring informasi, tapi akibatnya kita juga kehilangan kapasitas kita untuk berkonsentrasi, merenung, dan berpikir mendalam. Saya rindu akan otak lama saya, yang tak tergantung kepada internet. Karena internet telah mendegradasi cara berpikir kita.(*)
Posting Komentar