"Kalau kita tidak menulis satu halaman pun selama bertahun-tahun, maka tidak perlu heran kalau kita tak pernah maju dalam ilmu." Muhammad bin Jarir al-Thabari
Kutipan al-Thabari tersebut saya rasa sangat fundamental. Ya, melalui dunia menulis kita bisa meniti dua kehidupan sekaligus. Dua kemajuan tersebuat adalah kemajuan dalam hidup dan kemajuan dalam peradaban. Sederhananya begini, orang yang menulis itu mengalami peningkatan dari segi
Sebab menulis adalah salah satu pekerjaan yang produktif dalam membangun suatu peradaban.
Menulis satu halaman saja tidak mau, mana bisa maju? Mungkin pertanyaan tersebut sedikit mengerdilkan kita dan (atau) kemampuan yang kita miliki.
Pasti kita bisa melakukan pertanyaan di atas. Namun untuk melakukannya kita benar-benar terjepit oleh waktu. Atau waktu yang kita miliki tidak pas.
Setiap hentakkan yang luar biasa bisa dieksplor, maka rasanya sangat lega dan menjadi kebanggan tersendiri. Asal rasa yang menggelayut dalam diri bisa dihilangkan, diredam, ditepis dengan sikap optimis dan kerja keras maka tantangan yamg ada di depan pun bisa dihadapi.
Sebab, menulis bukan perkara gampang. Menulis memang tergantung kita sendiri. Saat perasaaan dihantui berbagai masalah pikiran maupun pekerjaan untuk menyelesaikan tulisan itupun juga terkendala. Menulis 'kan seharusnya dilakukan dengan kesanggupan diri, pikiran dan tindakan.
Jika ditelaah, menulis merupakan pekerjaan yang membosankan. Bila dikerjakan dengan perasaan yang tidak mendukung, maupun tidak dipersiapkan dengan matang tak sedikit tulisan tak jadi atau tak selesai.
Apalagi ketika menulis dan kita share, kita publikasikan ke khalayak umum. Lalu tulisan kita dikomentari oleh para pembaca dan mendapat apresiasi oleh khalayak, rasa bangga, rasa senang dan semangat yang luar biasa tumbuh. Keinginan untuk menulis lagi pun datang. Selain itu, keberanian menulis lagi pun menggelora.
Sehingga secara sadar, apresiasi dari para pembaca tersebut menjadi motivasi, menggelorakan semangat untuk giat lagi menulis dan menulis.
Respon positif tersebut merupakan suntikan energi yang pantas dituangkan dalam karya yang produktif. Jika seseorang mengabadikan dirinya di dunia tulis-menulis, maka energi tersebut sangat tepat direcomended di alas buku bergaris maupun laptop. Menulis, menulis dan menulis.
Tetapi ketika melempar ke media sosial yang jadi konsumsi masyarakat, tak sedikit yang mengkritik tulisan yang kita diciptakan. Sebab, menulis itu soal keberanian.
Saya sendiri merasakan perasaan doble, antara senang dan pegal. Namun, meski demikian, alangkah baik dan indahtulisan tersebut mendapat kritikan. Entah kritik yang sifatnya membangun maupun kritik yang pada dasarnya ingin menjatuhkan.
Lantaran menulis memang soal keberanian. Maka, syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah menyajikan tulisan yang memiliki daya pikat, tajam dan memukau supaya sang pembaca, tidak ragu untuk menentukan pilihan untuk dibaca. Kemudian penulis tersebut akan berhasil memenangikompetisi dan percaturan dalam ranah emosionalnya.
Ibarat seorang koki atau juru masak, tak ada pilihan lainuntuk tidak memasak. Dengan resep yang sudah diracik sedemikian enakdan atas dasar keberaniannya pula juru masak tersebut dituntut bisa menghidangkan menu masakan dengan citrarasamemikat kuat dan nikmat untuk menjaret para penikmat kuliner.
Seorang penulis pun demikian, juga tak kalah dengan resep-resep yang dibuatnya.Seorang penulis dituntut menghidangkan citarasa sebuah tulisan yang memiliki kuat pada gagasan, daya pikat yang kuat. Dari kekuatan yang dimiliki dengan menu yang nikmat itu para dahaga pembaca buku mampu memikat para penikmat buku.
Karena pembaca yang setia tidak akan meninggalkan tulisannya, selagi tulisan tersebut ada daya tarik dan daya pikat yang luar biasa. Seperti yang dikatakan Edward de Bono, “Sang pemenang itu adalah juru masak yang dengan bahan dan bumbu yang sama dengan orang lain, tetapi dia bisa menyajikan makanan terbaik.”
Berpijak dari ungkapan de Bono tersebut, tidak bisa tidak, harus bisa belajar memahami racikannya yang luar biasa, seperti gagasan yang menarik dan informasi yang fresh. Menulis dengan baik adalah keinginan sejak lama tebtang tulisan, yang kubiarkan dilirik oleh pembaca maupun siempunya buku.
Namun, ada satu tantangan yang biasanya menjadi penghalang seorang untuk menulis, tidak laintidak bukan adalah “waktu”. Ya, waktu yang biasanya menjadi penghambat seorang untuk produktif soal menulis, sehingga pekerjaan menulis pun jadi terbengkalai.
Sebenarnya tidak sedikit yang mengalami tersebut. Dan sulitnya menyisihkan waktunya untuk menulis pun menjadi masalah yang harus kita tanggapi secara bijak.
Soal waktu. Ya, soal kesibukan yang biasanya selalu menjadi alasan untuk menulis. Memang, jika kita cermati, kesibukan kita kian hari biasanya bukan kian berkurang melainkan kian meningkat tajam. Waktu seolah habis untuk beraktivitas dan tidak menyisakan sedikit pun kesempatan untuk menulis.
Benarkah?
Soal waktu pada tulisan ini mengingatkan saya kepada tulisan dari Ngainun Naim yang tulis oleh Edy Zaqeus dalam bukunya yang monumental, Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller, Cet. III (Jakarta: Fivestar, 2008). Pada buku tersebut, Edy membagi orang sibuk menjadi beberapa tipe.
Pertama, tipe orang-orang yang sibuk total. Mereka hampir mustahil mengalokasikan waktu memadai untuk beraktivitas di luar urusan keseharian mereka. Memang kesibukan yang laur biasa menjadikan orang tersebut menajdi terjepit untuk melakukan aktifitas di luar urusan rutinitasnya.
Kedua, tipe orang yang sibuk, tetapi masih punya sedikit waktu luang, yang biasanya dihabiskan untuk rekreasi bersama keluarga atau menjalankan hobinya. Biasanya tipe orang kedua ini lebih memanfaatkan mencari suasana maupun aktifitas yang baru, sehingga aktifitas yang sebelum telah menyita waktunya dengan orang terdekatnya telah dihabiskan oleh pekerjaannya. Sewaktu waktu luar ia manfaatkan untuk keluarganya.
Ketiga, tipe orang sibuk yang masih punya sedikit waktu luang, namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Banyak sekali orang pada tipe ketiga ini, mungkin asumsinya, setelah melakukan aktifitas yang melelahkan ia punya keinginan untuk dibuat istirahat dan untuk menenangkan dirinya setelah melakukan rutinitas.
Mereka yang termasuk kategori ketiga ini yang memiliki peluang untuk menulis. Karena itu, kata Edy, ”kita harus mampu menjadikan segala medan, waktu, dan orang sebagai stimulatir proses kreatif. Yang dibutuhkan kemudian adalah menetapkan waktu khusus, katakanlah 1-2 jam setiap harinya, untuk fokus menyusun bahan dan menuliskannya”.
Menulis memang soal keberanian, menulis setidaknya bisa memanejemen waktu sebaik mungkin dan harus melawannya dari gangguan-gangguan yang menghalangi sikap kurang produktif tersebut.
Keberanian meluangkan waktu dan keberanian dalam menuangkan gagasan adalah dua unsur utama, bekerja dalam keabadian. Siapa yang mampu memanajemen waktu yang akan menemui hasilnya. Jika kita menjadikan menulis sebagai bagian tidak terpisah dari hidup kita, maka kita akan berani melakukan langkah inovatif untuk kualitas hidup kita. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memiliki waktu.[]
Kutipan al-Thabari tersebut saya rasa sangat fundamental. Ya, melalui dunia menulis kita bisa meniti dua kehidupan sekaligus. Dua kemajuan tersebuat adalah kemajuan dalam hidup dan kemajuan dalam peradaban. Sederhananya begini, orang yang menulis itu mengalami peningkatan dari segi
Sebab menulis adalah salah satu pekerjaan yang produktif dalam membangun suatu peradaban.
Menulis satu halaman saja tidak mau, mana bisa maju? Mungkin pertanyaan tersebut sedikit mengerdilkan kita dan (atau) kemampuan yang kita miliki.
Pasti kita bisa melakukan pertanyaan di atas. Namun untuk melakukannya kita benar-benar terjepit oleh waktu. Atau waktu yang kita miliki tidak pas.
Setiap hentakkan yang luar biasa bisa dieksplor, maka rasanya sangat lega dan menjadi kebanggan tersendiri. Asal rasa yang menggelayut dalam diri bisa dihilangkan, diredam, ditepis dengan sikap optimis dan kerja keras maka tantangan yamg ada di depan pun bisa dihadapi.
Sebab, menulis bukan perkara gampang. Menulis memang tergantung kita sendiri. Saat perasaaan dihantui berbagai masalah pikiran maupun pekerjaan untuk menyelesaikan tulisan itupun juga terkendala. Menulis 'kan seharusnya dilakukan dengan kesanggupan diri, pikiran dan tindakan.
Jika ditelaah, menulis merupakan pekerjaan yang membosankan. Bila dikerjakan dengan perasaan yang tidak mendukung, maupun tidak dipersiapkan dengan matang tak sedikit tulisan tak jadi atau tak selesai.
Apalagi ketika menulis dan kita share, kita publikasikan ke khalayak umum. Lalu tulisan kita dikomentari oleh para pembaca dan mendapat apresiasi oleh khalayak, rasa bangga, rasa senang dan semangat yang luar biasa tumbuh. Keinginan untuk menulis lagi pun datang. Selain itu, keberanian menulis lagi pun menggelora.
Sehingga secara sadar, apresiasi dari para pembaca tersebut menjadi motivasi, menggelorakan semangat untuk giat lagi menulis dan menulis.
Respon positif tersebut merupakan suntikan energi yang pantas dituangkan dalam karya yang produktif. Jika seseorang mengabadikan dirinya di dunia tulis-menulis, maka energi tersebut sangat tepat direcomended di alas buku bergaris maupun laptop. Menulis, menulis dan menulis.
Tetapi ketika melempar ke media sosial yang jadi konsumsi masyarakat, tak sedikit yang mengkritik tulisan yang kita diciptakan. Sebab, menulis itu soal keberanian.
Saya sendiri merasakan perasaan doble, antara senang dan pegal. Namun, meski demikian, alangkah baik dan indahtulisan tersebut mendapat kritikan. Entah kritik yang sifatnya membangun maupun kritik yang pada dasarnya ingin menjatuhkan.
Lantaran menulis memang soal keberanian. Maka, syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah menyajikan tulisan yang memiliki daya pikat, tajam dan memukau supaya sang pembaca, tidak ragu untuk menentukan pilihan untuk dibaca. Kemudian penulis tersebut akan berhasil memenangikompetisi dan percaturan dalam ranah emosionalnya.
Ibarat seorang koki atau juru masak, tak ada pilihan lainuntuk tidak memasak. Dengan resep yang sudah diracik sedemikian enakdan atas dasar keberaniannya pula juru masak tersebut dituntut bisa menghidangkan menu masakan dengan citrarasamemikat kuat dan nikmat untuk menjaret para penikmat kuliner.
Seorang penulis pun demikian, juga tak kalah dengan resep-resep yang dibuatnya.Seorang penulis dituntut menghidangkan citarasa sebuah tulisan yang memiliki kuat pada gagasan, daya pikat yang kuat. Dari kekuatan yang dimiliki dengan menu yang nikmat itu para dahaga pembaca buku mampu memikat para penikmat buku.
Karena pembaca yang setia tidak akan meninggalkan tulisannya, selagi tulisan tersebut ada daya tarik dan daya pikat yang luar biasa. Seperti yang dikatakan Edward de Bono, “Sang pemenang itu adalah juru masak yang dengan bahan dan bumbu yang sama dengan orang lain, tetapi dia bisa menyajikan makanan terbaik.”
Berpijak dari ungkapan de Bono tersebut, tidak bisa tidak, harus bisa belajar memahami racikannya yang luar biasa, seperti gagasan yang menarik dan informasi yang fresh. Menulis dengan baik adalah keinginan sejak lama tebtang tulisan, yang kubiarkan dilirik oleh pembaca maupun siempunya buku.
Namun, ada satu tantangan yang biasanya menjadi penghalang seorang untuk menulis, tidak laintidak bukan adalah “waktu”. Ya, waktu yang biasanya menjadi penghambat seorang untuk produktif soal menulis, sehingga pekerjaan menulis pun jadi terbengkalai.
Sebenarnya tidak sedikit yang mengalami tersebut. Dan sulitnya menyisihkan waktunya untuk menulis pun menjadi masalah yang harus kita tanggapi secara bijak.
Soal waktu. Ya, soal kesibukan yang biasanya selalu menjadi alasan untuk menulis. Memang, jika kita cermati, kesibukan kita kian hari biasanya bukan kian berkurang melainkan kian meningkat tajam. Waktu seolah habis untuk beraktivitas dan tidak menyisakan sedikit pun kesempatan untuk menulis.
Benarkah?
Soal waktu pada tulisan ini mengingatkan saya kepada tulisan dari Ngainun Naim yang tulis oleh Edy Zaqeus dalam bukunya yang monumental, Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller, Cet. III (Jakarta: Fivestar, 2008). Pada buku tersebut, Edy membagi orang sibuk menjadi beberapa tipe.
Pertama, tipe orang-orang yang sibuk total. Mereka hampir mustahil mengalokasikan waktu memadai untuk beraktivitas di luar urusan keseharian mereka. Memang kesibukan yang laur biasa menjadikan orang tersebut menajdi terjepit untuk melakukan aktifitas di luar urusan rutinitasnya.
Kedua, tipe orang yang sibuk, tetapi masih punya sedikit waktu luang, yang biasanya dihabiskan untuk rekreasi bersama keluarga atau menjalankan hobinya. Biasanya tipe orang kedua ini lebih memanfaatkan mencari suasana maupun aktifitas yang baru, sehingga aktifitas yang sebelum telah menyita waktunya dengan orang terdekatnya telah dihabiskan oleh pekerjaannya. Sewaktu waktu luar ia manfaatkan untuk keluarganya.
Ketiga, tipe orang sibuk yang masih punya sedikit waktu luang, namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Banyak sekali orang pada tipe ketiga ini, mungkin asumsinya, setelah melakukan aktifitas yang melelahkan ia punya keinginan untuk dibuat istirahat dan untuk menenangkan dirinya setelah melakukan rutinitas.
Mereka yang termasuk kategori ketiga ini yang memiliki peluang untuk menulis. Karena itu, kata Edy, ”kita harus mampu menjadikan segala medan, waktu, dan orang sebagai stimulatir proses kreatif. Yang dibutuhkan kemudian adalah menetapkan waktu khusus, katakanlah 1-2 jam setiap harinya, untuk fokus menyusun bahan dan menuliskannya”.
Menulis memang soal keberanian, menulis setidaknya bisa memanejemen waktu sebaik mungkin dan harus melawannya dari gangguan-gangguan yang menghalangi sikap kurang produktif tersebut.
Keberanian meluangkan waktu dan keberanian dalam menuangkan gagasan adalah dua unsur utama, bekerja dalam keabadian. Siapa yang mampu memanajemen waktu yang akan menemui hasilnya. Jika kita menjadikan menulis sebagai bagian tidak terpisah dari hidup kita, maka kita akan berani melakukan langkah inovatif untuk kualitas hidup kita. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memiliki waktu.[]
Bravo!
BalasHapusMas Rokhim, ada kata-kata yang typo. Coba baca ulang di tipe-tipe orang sibuk (tipe pertama dan kedua).
Iya mas nulisnya pakai hape, jadi mohon maaf belum bisa ngedit...
BalasHapusSetuju mas, menulis adalah soal keberanian. Berani terus mas untuk menulis.
BalasHapusBtw, pada paragraf 7, mungkin typo ya mas, "menjaret" mungkin maksudnya menjerat ya? Mf ...
Iya bun. Mohon maaf tulisannya ngikutin otomatis teks... Nulisnya pakai hape jadi belum bisa nulis baik...
BalasHapusOh gitu , iya gpp,
BalasHapusIya bun. Mohon maaf banyak tulisan berantakan...
BalasHapusBiasa mas, sama sy jg sering typo2 kalau nulis
BalasHapusidem komentar sayaa....
BalasHapusisi okee, tapi salah ketiknya kok banyak...yang paling fatal pemakaian "di" ...banyak yang salah ya bro...
😥😥😥 anu bun. Belum sempet edit. Nulisnya pakai auto teks. Pakai hape. Mohon maaf... 😭
BalasHapusIya bun. Nulisnya pakai hape.... Laptopnya lagi perawatan kayaknya kena motherboarnya... jadi kepayahan saya. Hari ini tadi pengennya gak post
BalasHapusSekarang udah agak mendingan ya Bun. Hehehe...
BalasHapusSiiiap, Mas. Sekarang udah agak mendingan ya??
BalasHapusMasih belum mas Rokhim. 😁
BalasHapusBaik, Mas. Terima kasih evaluasinya... nanti sa edit lagi...
BalasHapusSiiiap Mas
BalasHapusPosting Komentar